CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Izin Berlibur


__ADS_3

Apa yang harus aku lakukan sekarang?.


Sepanjang hari fikiran Natasya tak fokus pada pekerjaan. Sejak menerima pemberitahuan jika dirinya terpilih menjadi karyawan beruntung yang mendapat paket liburan gratis, gadis tersebut justru merasa terbebani.


Bagaimana ini, Ibu pasti akan melarang jika aku pergi dengan Tuan Ernest. Eh, tapikan kita pergi berlibur juga bersama-sama dan bukan hanya kami berdua saja 'kan?.


Natasya mengusap kening yang sedari tadi terasa pening. Jika keberangkatannya kelas pasti akan tergajal izin dari sang Ibu, lalu bagaimana ceritanya jika dirinya menolak hadiah liburan gratis tersebut?.


Apa mungkin gajiku akan dipotong kalau aku menolak ikut liburan. Atau jangan-jangan Tuan Ernest akan langsung memecatku, jika mendengarku tidak ikut?.


"Heh, memang kau ini siapa, Natasya. Kau fikir, dirimu ini orang penting sampai membuat Tuan Ernest murka karna ketidak sertaanmu?." Natasya bermonolog.


Gadis itu merapikan meja kerja selepas memeriksa waktu. Senja mulai menjelang dan waktu kerja hampir habis. Sampai detik ini pun dirinya masih belum menentukan keputusan. Untuk ikut atau tidaknya dalam liburan gratis dari perusahaan.


"Hai."


Natasya yang masih merapikan beberapa map berisi proposal di atas meja, mendongak saat seseorang hadir dan menyapanya.


"Tuan Langit," jawab Natasya seraya menundukan kepala saat Langit mendekati meja kerjanya.


"Kau belum pulang?." Pria tampan dengan stelan jas lengkap berwarna abu tersebut bertanya. Ia tersenyum pada Natasya yang juga sedang membalas senyumnya.


"Sebentar lagi, Tuan." Memang begitulah adanya. Setelah meja kerjanya rapi, Natasya pun melirik ke arah pintu ruang kerja Ernest yang masih tertutup rapat, dan sama sekali tak ada suara atau pun pergerakan dari dalam.


"Pulanglah. Bukankah jam kerjamu sudah habis." Langit bersuara begitu mendapati pandangan Natasya tertuju pada pintu ruangan sang Tuan.


"Tapi, bagaimana dengan Tuan Ernest?." Ragu Natasya menjawab.


"Tidak perlu dikhawatirkan. Di sini masih ada aku."


Sang gadis mengangguk patuh. Ia pun pamit pada Lagit dan mulai melangkah dan memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar bangunan.


Sementara itu di dalam ruangan Ernest sedang berusaha mencari dokumen berisikan data diri Natasya ketika melamar kerja. Wajahnya terlihat berbinar mana kala menemukan sebaris angka di atas kertas yang merupakan nomor ponsel dari Natasya. Maklumlah, selama bekerja Ernest memang tak ingin meminta nomor ponsel pribadi Natasya secara langsung. Dirinya hanya akan berkomunikasi pada Natasya melalui interkom atau memakai perantara Langit. Selebihnya Ernest akan berbicara layaknya Sekretaris dan Atasan. Terkesan tak dekat sebab Ernest dan Natasya sama-sama membatasi diri. Akan tetapi dalam akhir-akhir ini, seperti ada perbedaan dalam cara bicara dan perlakuan sang pria pada Sekretarisnya. Entah perubahan dalam bentuk apa, namun Natasya mengakui jika Ernest mulai banyak bicara dan lebih condong padanya.


💗💗💗💗💗


Di dalam kamar, langkah Natasya maju mundur saat memegang amplop berisi tiket liburan miliknya. Rencananya malam dirinya akan menunjukan pada sang Ibu sekaligus meminta izin.


Tapi bagaimana jika ibu melarang dan malah memarahiku?.


Nyali Natasya kembali ciut. Membayangka wajah murka sang Ibu, membuatnya tak sanggup.


Jika aku tidak ikut, lalu bagaimana dengan Tuan Ernest, eh maksudnya pekerjaanku?.


Natasya langsung membekap mulut. Kenapa fikirannya justru tertuju pada Ernest?.


Saat bingung antara ingin membuka pintu dan menyapa sang Ibu atau tidak, ponsel miliknya yang tergeletak di ranjang justru berdering, yang mana membuat ia berjingkat karna terkejut.


"Siapa Sih?." Natasya menggerutu. Meski malas, ia pun mendekati ranjang dengan langkah menghentak.

__ADS_1


Bibir mungilnya mengerucut, pun dengan sepasang alisnya yang berpaut begitu mendapati sebuah nomor tanpa nama, menghubunginya.


Angkat, tidak.


Satu panggilan terlewat. Natasya sendiri tak berminat untuk menyentuh ponsel pribadinya. Ia kembali membulatkan tekad untuk menemui sang Ibu. Baru saja berbalik badan, ponselnya kembali berdering.


"Ya, Tuhan. Kau ini sebenarnya siapa sih?. Menyebalkan!." Dengan gigi mengertak, Natasya menyentuh ponsel dan menjawab panggilan telepon.


"Hei, kau ini si--"


"Selamat Malam, Natasya?."


Begitu suara bariton yang tak lagi asing di telinga Natasya terdengar, gadis itu sontak menghentikan ucapan. Sang gadis menelan salivanya susah payah. Tidak, ia kenal dengan sang pemilik suara yang menghubunginya. Tapi untuk apa pria itu menghubunginya saat di luar jam kerja seperti ini?.


"Se-selamat Ma-malam, Tuan."


Haduh, mampus aku.


"Maaf sudah menghubungimu saat malam seperti ini."


Natasya terdiam namun dalam benak tersimpan satu pertanyaan, untuk apa Ernest menghubunginya saat malam seperti ini dan untuk kepentingan apa?.


"Ti-tidak apa, Tuan. Saya yakin jika Tuan pun tidak akan sembarangan menghubungi jika tak memiliki alasan pasti."


Natasya bisa mendengar helaan nafas dari sang lawan bicara.


"Em, untuk masalah liburan, bagaimana. Apa kau akan ikut berpartisipasi atau ..."


"Em, baiklah. Lagi pula aku mengabarkan padamu pun secara mendadak. Aku memaklumi."


"Baik, Tua."


Beberapa saat setelahnya selepasas memberi salam, panggilan pun terputus. Natasya terpaku. Hal inilah yang tak ia inginkan. Terasa gamang saat ingin menentukan pilihan. Akan tetapi, bukankah lebih baik jika dirinya menemui sang Ibu lebih dulu dan mengatakan semuanya.


Gadis yang malam ini memakai piyama bermotif animasi jepang itu, lekas keluar dari kamar dan berlari menuju kamar Ibunya.


Begitu pintu kamarnya terbuka secara tiba-tiba, Anastasya nyaris menjerit karna terkesiap.


"Tasya, berhenti mengejutkan Ibu!." Anastasya menggeram. Ia menatap wajah sang putri dengan tajam.


"Maaf," lirih Natasya sembari memasang wajah penuh sesal.


"Ada apa, kau habis berlari?." Pandangan Anastasya berubah lembut. Ia dekati sang putri yang sepertinya terkejut dengan ucapannya yang terdengar cukup kasar. "Kenapa, ada apa?. Ayo katakan pada Ibu," sambung Anastasya. Perempuan itu menggiring sang putri untuk duduk dan berbicara di sampingnya.


Bagaimana ini.


Natasya menyembunyikan amplop di belakang tubuh agar tak terlihat oleh Ibunya. Akan tetapi Anastasya yang tersadar jika putrinya sedang menyembunyikan sesuatu, lekas melipat ke dua tangan di dada dan kembali menatap lekat ke arah wajah sang putri.


"Ada apa, ayo katakan pada Ibu?. Ibu tau jika kau sedang menyembunyikan sesuatu. Cepat, ulurkan ke dua tanganmu. Ibu ingin melihat seauatu yang kau sembunyikan di balik punggung."

__ADS_1


Natasya tertunduk. Dirinya ketahuan. Ragu-ragu ia mengulurkan tangan, hingga amplop berisi tiket liburan sudah terpampang nyata dari pandangan sang Ibu.


"Apa ini?." Anastasya bertanya. Tangannya pun bergerak untuk meraih dan membuka amplop yang sempat berusaha disembunyikan oleh sang putri.


"I-itu paket liburan gratis milikku, Ibu." Natasya masih menunduk dengan memainkan kesepuluh jemarinya yang berada di pangkuan.


Anastasya mengernyit.


Tiket liburan?.


"Kau membeli tiket, kau ingin berlibur?."


"Bu-bukan, bukan aku yang membeli tapi itu paket liburan gratis milikku dari perusahaan." Natasya menjelaskan meski dalam kondisi takut.


"Paket liburan gratis dari perusahaan?."


Natasya menjawab dengan anggukkan.


Anastasya terdiam. Ia terlihat syok. Bukan tiket liburan yang menjadi masalah, tetapi perusahaan yang sudah memberikan paket tersebutlah yang menjadi masalah.


"Pada pesta malam itu memang perusahaan mengadakan undian bagi para karyawan yang beruntung, dan aku menjadi salah satunya. Namun karna aku pulang lebih dulu, maka pada hari setelahnya aku baru mengetahuinya." Putri dari pasangan Kenan dan Anastasya itu menjelaskan secara perlahan. Berusaha sebisa mungkin untuk memberi pengertian pada sang Ibu agar tak terjadi salah faham.


"Tuan Ernest lah yang memberikan tiket tersebut padaku tadi pagi, Ibu. Beliau juga sempat menghubungi dan menanyakan tentang keikutsertaanku. Akan tetapi aku masih belum member jawaban mengingat aku sendiri masih belum meminta izin pada Ibu." Natasya menghela nafas dalam dan kembali menundukkan pandangan. Tak ayal apa yang dilakukan sang putri membuat Anastasya tersentuh.


Meski sudah dewasa namun Natasya tetaplah putri kecilnya yang penurut. Ia tak senakal para gadis kebanyakan yang gemar curi-curi kesempatan untuk kabur dari rumah dan bersenang-senang diluaran. Natasya patuh. Ia gadis rumahan yang tak banyak bergaul dengan orang sembarangan dan pada saat ini ketika putrinya tersebut seakan menunjukan permohonan. Maka Anastasya tak akan mampu untuk menolak.


"Liburan ke kota mana?."


Mendengar pertanyaan sang Ibu sontak membuat Natasya mengangkat wajah.


"Di pulau xx, Ibu."


"Berapa hari?." Anastasya kembali bertanya.


"Ti-tiga hari, Ibu." Selama itu, maka dipastikan jika izin dari sang Ibu tidak akan pernah didapat, dan Natasya meyakini akan hal itu.


"Pergilah. Ibu mengizinkan. Asal kau tetap berhati-hati dan menjaga kepercayaan yang Ibu berikan."


Natasya terperangah. Tidak, apa dirinya sedang tak salah dengar. Ibu mengizinkannya.


"Ibu," lirih Natasya.


"Pergilah. Ibu tau, kau sudah dewasa dan sudah sepantasya mencari jati diri dan berkumpul dengan orang-orang disekitarmu."


Lagi, Natasya terperangah. Benarkah yang ia dengar?. Tapi ibunya bahkan sudah mengucapnya dua kali.


Natasya lekas memeluk tubuh sang Ibu.


"Ibu, terimakasih."

__ADS_1


Anastasya mengangguk. Ia usap puncak kepala sang putri dan memeluk tubuh gadis itu lebih erat. Mungkin, sudah sepatutnya Natasya mulai mencari kebahagiaannya sendiri. Entah itu bersama rekan kerja atau orang lain yang membuat dirinya nyaman.


Tbc


__ADS_2