CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Oleh - Oleh


__ADS_3

"Ibu, aku pulang!." Lengkingan suara Natasya bergema di ruang kerja Anastasya. Wajah putrinya itu terlihat berseri selepas beberapa hari berlibur. Anastasya mengernyit, mengamati penampilan sang putri dari kepala sampai kaki. Bisa dipastikan jika gadis itu langsung singgah ke koto bunga dan tak lebih dulu pulang ke rumah.


"Ibu, aku rindu," rengek Natasya yang berlari lalu memeluk tubuh Ibunya.


"Oh, benarkah," goda Anaatasya yang mana membuat bibir sang putri mengerucut.


"Huh, kenapa bicara begitu, Ibu tidak percaya padaku?." Masih dengan wajah ditekuk, tangan Natasya terus bergelayut di tubuh dan memeluk Ibunya.


Anastasya tergelak. Ia usah lembut bahu sang putri kemudian berkata, "Ya, Ibu sangat percaya jika gadis cantik kesayangan ini merindukan Ibu."


"Ye." Natasya berseru senang. Gadis berkulit putih itu menjauhkan diri dan memilih duduk di kursi yang berada di hadapan sang Ibu.


"Tasya, kau tidak langsung pulang?."


Gadis itu menggeleng.


"Karna terlalu rindu pada Ibu maka aku memutuskan untuk langsung datang kemari. Barang-barangku juga ada di bawah." Natasya menyapu pandang ke sekeliling. Ah, ia cukup rindu dengan ruangan ini. Sebelum bekerja pada Ernest, setiap hari di tempat inilah dirinya akan bekerja, membantu sang Ibu juga karyawan lain yang bekerja di Natasya Flowers. "Ibu, aku rindu dengan ruangan ini." Akhirnya kalimat itu keluar jua dari bibir Natasya.


"Kenapa, apa kau sudah bosan dengan pekerjaan barumu?." Oh, bukan baru, lebih tepatnya. Akan tetapi jika dibanding mengurus toko bunga, maka menjadi Sekretaris Ernest adalah pekerjaan baru baginya.


"Ah, Ibu ini. Bukan begitu maksudku." Memang, ia akui. Selama bekerja dirinya hanya memiliki akhir pekan untuk bisa bersantai di rumah. Akan tetapi rasa lelah yang kerap melanda membuatnya hanya menghabiskan waktu libur hanya di dalam rumah dan ia tak mempunyai waktu sekadar untuk menyambangi toko bunga dan menyapa para pekerja. "Aku mencintai pekerjaanku yang sekarang juga selalu rindu pada toko bunga Ibu," sambung Natasya.


"Ibu kira kau sudah mulai bosan." Anastasya tergelak, seperti sedang menggoda sang putri.


Natasya diam, tiba-tiba ia teringat akan buah tangan yang diberikan Ernest untuk Ibunya.


"Ibu, tunggu sebentar. Aku akan kembali setelah mengambil sesuatu di bawah." Natasya lekas berlari ke luar ruangan bahkan sebelum Anastasya sempat berbicara. Di tempatnya, perempuan itu geleng kepala akibat ulah sang putri yang masih seperti anak-anak.


"Ibu rasa hanya usiamu saja yang bertambah tapi kedewasaanmu, sepertinya bertumbuh cukup lambat." Anastasya terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Begitulah seorang anak. Sebertambah apa pun usianya, dia tetaplah putri kecil milik orang tuanya.


Suara hentakkan kaki semakin mendekat. Anastasya meyakini jika langkah tersebut adalah milik putrinya. Perempuan itu mengulum senyum sembari menerka sang putri akan datang membawa apa.


"Aku lupa, mungkin Tasya mengambil cake dan minuman hangat di bawah," gumam Anastasya. Seperti aktifitas rutin mereka di toko saat sore hari. Ibu dan anak itu akan duduk di ruang kerja dan menikmati secangkir teh dan sepotong cake disela pembicaraan hangat.


"Ibu." Pintu ruangan kembali terbuka. Wajah sang putri muncul namun perempuan itu mengernyit saat sesuatu di tangan sang putri menyita perhatiannya.

__ADS_1


"Tasya, apa yang kau bawa?." Ada beberapa paper bag di tangan sang putri. Tapi Anastasya yakin jika putrinya tak sedang membawa kue.


"Oleh-oleh."


"Oleh-oleh." Anastasya membeo. Sementara pandangannya tetap tertuju pada paper bag di tangan sang putri.


"Ya," jawab Natasya. Ia mendekati sang Ibu dan berdiri di hadapannya. Beberapa paper bag yang di pegang ia pindahkan ke tangan sang Ibu. "Ini dari Tuan Ernest untuk Ibu. Tas dan beberapa pakaian. Tuan Ernest bilang, selain untuk Ibu beliau juga membelikan untuk Ibunya." Senyum di bibir Natasya terukir, akan tetapi wajah Anastasya tiba-tiba memucat. Paper bag yang sudah berada di tangan justru terjatuh dengan sendirinya. Natasya terkesiap, ia punggut benda-benda yang berjatuhan di lantai dengan fikiran yang tak menentu.


💗💗💗💗💗


Sebagai seorang Ibu, tentu Zara bisa merasakan adanya perbedaan dalam diri putranya baik dalam hal positif atau pun negatif. Pernah patah hati, pernah dikecawakan dan pernah dikhianati. Beberapa proses hidup yang dialami Ernest belum lama ini, membuat Zara mampu membaca suasana hati sang buah hati belakangan ini.


Wajah garang dan ekspresi datar itu, kini mulai banyak tersenyum. Mulut yang beberapa bulan ini tak banyak bicara, mendadak cerewet. Begitu pun wajah, aura suram nam mendung itu, perlahan mulai berseri dan bersinar secerah mentari. Zara sempat menduga-duga, hal besar apa yang membuat putranya seakan kembali pada masa-masa sebelum di sakiti oleh Sandara.


Jangan-jangan?.


"Hai Boy," sapa Zara. Sore ini ketika melihat putranya duduk seorang diri di ruang kerja, dirinya ikut bergabung. Sepertinya dia perlu mengintrogasi sang putra, mengenai perubahan positif yang dialami pemuda itu akhir-akhir ini.


"Hai, Ibu," jawab Ernest dengan bibir tersenyum.


Zara memuji Ernest dalam hati. Meski rambut gondrong yang Ernest miliki membuatnya sedikit berantakan namu percayalah, ketampanan Ernest tetap tak kalah dari saudara kembarnya, Erich.


Untuk beberapa saat Zara memancing Ernest dengan pembicaraan lain. Tentang pekerjaan, bisnis baru yang akan dikembangkan, dan setelah pria itu mulai bosan, barulah Zara mengukit tentang Natasya.


"Baru semalam Ibu melihat Sekretaris barumu dari dekat. Dia Cantik sekali ya," ucap Zara seperti sengaja memancing sang putra untuk ikut menyuarakan isi fikirannya.


"Ya, Natasya memang cantik." Meski terdengar lirih namun Zara bisa mendengar. Saat perempuan itu melirik, sang putra seperti salah tingkah dan cepat-cepat mengalihkan pandangan. Zara tentu tergelak dalam hati. Duh, lucunya melihat putranya malu-malu seperti ini.


"Kalian berdua sudah terlihat akrab."


Ernest terlihat menghela nafas.


"Seperti layaknya atasan dan Sekretaris, keakraban itu penting, Ibu. Terlebih jika sudah menyangkut tentang pekerjaan. Kedekatan yang terjalin diantara kami memang suatu tuntutan agar hubungan kerja di antara kami selalu terjaga."


Ya, Zara mengangguk sebagai isyarat membenarkan.

__ADS_1


"Ya, hubungan yang terjalin di antara atasan dan pekerjanya itu memang penting, dan Ibu pun tau akan hal itu." Tapi bukan itu yang menjadi masalah Zara kini. "Seperti halnya Sandara dulu, apa Sekretaris barumu didapat melewati seleksi?." Seperti yang di tau oleh sebagian orang, Sandara dulu menjabat sebagai Sekretaris pribadi Ernest sama sekali tak menggunakan jalur seleksi. Ernest yang terlanjut buncin kala itu sengaja meminta Sandara untuk mendampingi meski gadis tersebut tak memiliki pengalaman kerja yang mumpuni.


"Tentu dia melewati banyak tes, hingga terpilih menjadi Sekretaris. Dia memang cerdas dan pintar membawa diri. Apa Ibu tau, Emely lah yang menawarkan pekerjaan itu padanya. Natasya adalah teman Emely." Di luar dugaan, Zara sempat mengira jika Ernest akan marah jika sudah membahas Sandara, tapi sekarang?. Rupanya Ernest benar-benar berubah. Ernest sudah kembali. Tapi apa tadi?.


Emely?


"Emely?."


"Iya, Emely."


"Memang dia Teman Emely, tapi kenapa Ibu tidak pernah melihatnya?." Dari sekian banyak teman dari putri bungsunya, sepertinya Zara tak pernah melihat Natasya. Apa mungkin jika gadis itu teman kuliah putrinya?.


"Bukan. Dia memang teman Emely tapi belum pernah datang ke rumah. Dia juga sudah selesai kuliah dan bukan lagi menjadi mahasiswi seperti Emely." Ernest menjelaskan.


"Lalu?."


"Apa Ibu ingat saat Kak Erich berlibur ke rumah saat bulan madu?." Ucapan Ernest sontak membuat Zara membuka ingatan beberapa bulan lalu ketika Erich dan Isabel datang berkunjung.


Aku tidak ingat.


"Entahlah, tapi apa hubungannya?."


"Permintaan Erich lah yang membuat Emely dipertemukan dengan Natasya. hampir setiap hari Erich menyuruh adik untuk membeli bunga sebagai hadiah untuk Istrinya. Emely lah yang kalang kabut mencarikan bunga sesuai dengan keinginan Erich." Ernest menjeda ucapan sementara Zara fokus mendengarkan. "Lewat seorang teman akhirnya adik menemukan sebuah toko bunga, yang rupanya milik keluarga Natasya. Mereka akhirnya berteman karna seringnya Emely membeli bunga di toko Natasya."


Saliva Zara seperti tercekat.


Apa, toko bunga?.


"Ma-maksudmu, Natasya punya to-toko bunga?."


"Ya, bukan Natasya sih tapi lebih tepatnya, Ibunya. Apa Ibu tau, wajah Natasya dan Ibunya begitu mirip. Bak pinang dibelah dua. Mereka sama-sama cantik."


Zara menelan salivanya susah payah.


Apa?. Mirip Anastasya dan toko bunga?.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2