
Terselip kebahagian dari sudut hati tersembuyi Erich saat mendengar penuturan dari bibir Isabel jika gadis itu akan menerima bantuan yang sempat ia tawarkan tempo hari. Sesekali pria yang duduk di kursi penumpang bersisian dengan Isabel itu mengulas senyum tipis. Tak ingin tertangkap oleh sang supir juga gadis di sampingnya, Erich pun mengeser pandangan, berpura-pura menatap jalanan guna menutupi perasaan senangnya.
ck, dasar lebay. Erich membatin sekaligus memaki diri.
"Setelah keputusan yang kau tentukan, aku rasa kau harus lebih lama lagi untuk tinggal di rumahku." Bukankah begitu, fikir Erich. Secara tidak mungkin rencana itu akan berjalan tanpa adanya Isabel di antara dirinya.
"Benar, tapi... Apakah anda akan mengizinkan? Atau bagaimana jika saya mencari kontrakan saja?"
Erich mendengus, terdengar tidak suka dengan usulan Isabel.
"Itu sama dengan mengantar nyawamu sendiri ke dalam mulut singa," ketus Erich.
Isabel menelan ludah. Ah, benar juga.
"Maaf, bukan maksud saya seperti itu, hanya saja...."
"Takut merepotkanku? Seperti itu 'kan yang ingin kau katakan?"
Gadis itu mengangguk lemas.
"Isabel Isabel. Apa tawaran yang kuberikan tak serius menurut pendapatmu? Ketahuilah Isabel. Aku tidak pernah setengah-setengah atau pun bermain-main akan keputusan yang sudah kuambil. Sama halnya denganmu, jika aku tawarkan bantuan dan kau menerimanya, maka dari titik permulaan sampai ujung penghabisan, akulah yang bertanggung jawab termasuk memastikan keselamatanmu."
Isabel seperti tertohok. Ucapan yang keluar dari bibir Erich terdengar pedas, membuat bulir bening dari sudut matanya ikut menetes.
"Maaf," sesal Erich begitu mengetahui jika gadis di sampingnya itu tengah menangis. Pria itu lekas merogoh sapu tangan yang tersimpan dalam saku jas nya. "Pakai ini untuk mengusap air matamu," titah Erich. Meski ragu Isabel pun menerima sapu tangan itu lantas menyeka air matanya yang terjun bebas tanpa komando.
"Maaf, jangan menangis. Kau tidak malu jika sopir yang membawa kita sampai melihatmu?"
__ADS_1
Sontak Isabel mengangkat wajah dan melirik sang sopir yang pandangannya terfokus ke arah jalanan tanpa perduli pada tuannya di kursi penumpang. Sial, Isabel terkecoh rupanya.
Erich tergelak lirih, sementara Isabel tersenyum kecut, tak menyangka jika pria dingin ini pun bisa bertindak spontan untuk mencairkan suasana.
💗💗💗💗💗
Kamar tamu yang Isabel tempati bukan lagi berfungsi menjadi kamar tamu tetapi lebih mirip seperti kamar milik gadis itu sendiri. Erich bukan hanya mengurus pakaian dan kebutuhan penting milik perempuan pada umumnya, tetapi juga melengkapinya dengan laptop dan berbagai fasilitas lain agar sang gadis betah berlama-lama menghabiskan waktu di ruangan itu.
Isabel memang tak diperbolehkan untuk beraktifitas di dalam rumah, hingga sebagian besar waktu sang gadis akan ia habiskan di dalam kamar. Bosan? Tentu saja. Akan tetapi semua yang terjadi pun pastinya demi keselamatan dan juga kebaikannya.
Kasus penusukan tempo hari pun masih menjadi momok menakutlan baginya. Beruntung ibu dari Erich beserta Retno dan bibi pelayan selalu menghibur dan menenangkannya. Hingga trauma yang sempat merundung jiwa, berangsur menghilang dengan sendirinya.
Sementara itu di suatu ruangan duduk melingkar para pria rupawan berbadan tegap yang tengah membahas masalah serius perihal masalah Isabel juga keluarganya.
Untuk antisipasi kali ini Erich tak akan bertindak gegabah dan bertindak seorang diri. Menurut penuturan Isabel kediamannya dijaga ketat oleh beberapa pengawal juga antek-antek ibu tirinya yang tersebar di beberapa bagian.
Sebagai permulaan, Erich tak akan membawa banyak pasukan. Ia hanya akan datang bertandang, dengan itikat baik dengan membawa Isabel bersamanya. Namun jika hal tersebut justru mendapat respon negativ dari Arum, maka mau tidak mau ia pun akan mengunakan dengan cara kekerasan.
💗💗💗💗💗
Erich menyesap kopi dalam cangkirnya hingga menyisakan ampas. Di ruang kerja pria dengan pakaian santai berwarna putih tipis yang membentuk dada bidangnya itu tengah berjibaku dengan pekerjaanya seperti hari biasa.
Lelah tak lagi dirasa, rutinitas melelahkan ini memang menjadi kewajibannya. Lagi pula Erich pun tak menganggapnya sebagai sebuah beban, ia justru sudah terbiasa dan menikmatinya sebagai teman malam.
"Boleh aku masuk."
Suara dari luar spontan membuat Erich menjawa, "Ya, silahkan."
__ADS_1
Pintu terbuka Ernest muncul dengan senyum lebarnya. Gigi rapinya yang putih bersih seakan mengkilap saat tersorot lampu ruangan.
"Malam seperti ini dan kau masih bekerja?" Ernest berjalan santai kemudian menghempaskan bobot tubuh di sebuah kursi putar yang letaknya berseberangan dengan kursi Erich hanya ada meja kerja sebagai pembatas.
"Tentu," jawab Erich singkat yang mana membuat saudara kembarnya itu berdecak, tidak suka.
"Dengarlah, kau perlu beristirahat. Wajahmu bisa keriput jika terbiasa begadang seperti ini." Ernest memperingatkan. Pria itu tahu benar akan kebiasaan sang saudara kembar yang gemar sekali menghabiskan malamnya yang seharusnya digunakan untuk beristirahat dengan bekerja. Ernest pun tau aktifitas tersebut sebenarnya sebagai bentuk pelampiasan dari rasa kesepian yang bertahun ini mendera. Jauh dari keluarga dan tak memiliki kekasih, membuat Ernest menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja. Bukan hanya saat berada di kantor, begitu pulang ke rumah aktifitas tersebut masih berlanjut. Hingga saat dironya benar-benar merasakan kantuk yang teramat sangat, barulah pria itu merebahkan diri di atas ranjang kemudian membiarkan kedua matanya terpejam hingga terlelap dalam.
"Kau sendiri kenapa tidak tidur dan malah menyusulku?" Erich merasakan aura berbeda pada diri Ernest malam ini. Semenjak kedatangannya beberapa hari lalu, pria yang terbilang ceria dan iseng itu terlihat lebih kalem dan pendiam. Sungguh tak seperti biasanya.
"Apa ada masalah yang terjadi?" Erich kembali melempar tanya saat Ernest tak kunjung menjawab pertanyaan yang sempat ia lontarkan.
"San minta untuk segera dinikahi." Ernest tampak menghela nafas sementara tatapannya kosong.
"Lalu? Apa kau berniat menolak keinginannya?"
"Entahlah," jawab Ernest gamang.
"Kenapa? Toh kalian sudah terlalu lama berpacaran. Jadi apa salahnya jika diresmikan. Bukankah wajar, jika seorang perempuan menginginkan kepastikan sebagai bentuk keseriusan." Erich mengalihkan fokusnya dari layar laptop yang sedari tadi dipandangi. Pria tampan itu menatap wajah saudara kembarnya lekat. Dapat dilihat penampilan Ernest yang berbeda, tak rapi bahkan terkesan acak-acakan. Jambang yang selalu tercukur bersih, kini mulai tumbul sedikit lebat. Belum lagi dengan rambutnya yang tampak memanjang.
"Akhir-akhir ini, San cukup banyak berubah."
"Maksudmu?" Berubah yang semacam apa, begitu fikir Erich. Sebab yang selama ini Erich tau, Sandara tergolong gadis pendiam dan penurit. Penampilannya juga tak neko-neko seperti gadis kebanyakan.
"Aku tidak bisa mengatakannya secara spesifik, tetapi semakin bertambah lama hubungan kami, aku semakin banyak menemukan perubahan pada diri San yang jujur membuatku ragu untuk menikahinya."
Wow, Erich dibuat luar biasa terkejut dengan pengakuan Ernest. Bukankah selama ini hubungan mereka baik-baik saja atau justru Ernest-lah yang menutupinya?.
__ADS_1
Tbc.