CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Kepulangan Erich


__ADS_3

Seulas senyum terbit dari sudut bibir pria un tampan yang baru saja turun dari kendaraan mewahnya. Menatap lekat kearah bangunan tiga lantai yang selalu menjadi tempatnya untuk pulang.


"Kakak." Lengkingan suara seorang gadis itu membuat lamunan Erich buyar dan spontan mengalihkan pandangan kearah seseorang yang sudah berdiri ditengah pintu dengan merentangkan kedua tangan.


"Emely," gumam Erich kemudian menghampiri gadis itu seraya merentangkan tangannya jua.


Tak sabaran Emely berlari hingga menubruk tubuh tegap Erich lantas mendekapnya erat.


"Aku rindu. Kenapa kakak jarang sekali pulang," Rajuk gadis tersebut masih dengan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Erich.


Pria itu menghela nafas. Memang sudah beberapa bulan ini dirinya tak pulang. Bukan hanya kesibukan saja yang menjadi alasan, namun ada hal lain yang membuat Erich enggan pulang sekitar setahun tetakhir ini.


"Maaf." Erich mengusap puncak kepala sang adik bungsu penuh sayang. "Kakak begitu sibuk akhir-akhir ini." Erich beralasan.


"Bohong!" Emely menarik wajah agar bisa menatap langsung wajah sang kakak. Bibir gadis itu mengerucut, yang mana membuat Erich gemas hingga melayangkan cubitan pada kedua pipi gembil sang adik.


"Kau tetap tak berubah ya. Kekanakan." Erich terkekeh dan kembali membawa tubuh sang adik dalam dekapan.


Emely menggerutu tak jelas, Erich hanya bisa tersenyum. Seperti layaknya seorang kakak, Erich begitu menyayangi Emely. Bahkan tetap memperlakukannya layaknya gadis kecil meski Emely sendiri sudah dewasa.


"Untuk apa berpelukan di sini." Suara perempuan mengejutkan adik kakak yang tengah berpelukan. "Erich, kau bahkan melupakan ibu." Perempuan yang tak lain ialah Zara itu sedikit tergopoh berjalan mendekati putranya.


Erich memukul pelan pelipis. Ia lupa. Hingga spontan melepaskan sang adik dalam pelukan.


"Maaf ibu." Erich kini berganti mencium tangan sang ibu. Zara pun mencium kedua pipi sang putra sulung dan mendekapnya erat. Mereka saling melepas rindu setelah beberapa bulan tak bertemu.


"Erich, ibu rindu." Zara membingkai wajah sang putra yang tinggi menjulang di hadapan. Sepasang mata paruh baya itu berkaca-kaca, menahan rasa haru.


"Erich bahkan sejutakali lebih merindukan ibu."


"Gombal." Zara mencubit gemas lengan kekar sang putra hingga pria muda itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aw, ampun ibu." Keduanya tergelak dan kembali saling berpelukan.


"Kenapa hanya Kak Erich yang dipeluk, aku kan juga anak ibu." Emely yang merasa tersisih, tak terima. Gadis itu pura-pura cemberut, meski sebenarnya hanya berniat menggoda.


Ketiganya tergelak. Menyadari jika masih berada di halaman, Zara pun membawa putra dan putrinya untuk memasuki rumah.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Erich benar-benar merindukan setiap sudut ruangan yang ada di kediaman mewah ini. Rumah yang sering ia tinggalkan sekaligus rumah yang selalu menjafi tempatnya berpulang.


Zara membawa langkahnya ke meja makan. Perempuan yang masih terlihat awet muda itu lekas membuat hidangan lezat yang menjadi makana favorit putra putrinya. Dengan bantuan seorang pelayan, Zara begitu lihai meracik semua bahan bahkan memasaknya. Tubuh ramping nan terawat perempuan itu terlihat lincah. Usianya bahkan hampir kepala lima, namun staminanya cukup aktif dan segar.


Erich tak melepaskan pandangan dari sosok perempuan yang sudah mengandung dan melahirkannya.


Sungguh, sedari kecil Erich memang menyimpan keterkaguman pada Ibunya sendiri. Ibu yang sering ia sebut sebagai peri.


"Ibu bahkan masih terlihat seperti gadis," puji Erich. Emely pun tak menyanggah seolah membenarkan. Sementara yang dipuji hanya bisa tergelak seraya menggelengkan kepala. Begitulah sosok putra sulungnya. Meski diluar tampak dingin, namun dalam keluarga Erich merupakan pribadi yang hangat dan penyanyang.


"Berhenti menggoda Ibu. Simpan rayuanmu itu untuk seorang gadis yang kelak akan kau bawa ke rumah ini." Tentu bukan asal bicara. Zara pastinya memiliki maksud tersendiri dalam kalimat yang ia ucap.


Erich terdiam. Terlihat jika pria muda itu menghela nafas dalam.


Emely melirik kearah ibu dan kakaknya. Sadar jika situasi berubah canggung.


"Kenapa? Apa masih belum move on juga dari Sandara?"


"Emely.." Erich dan Zara menegur bersamaan dengan dibarengi tatapan tajam.


Emely sontak membekap mulutnya, mamun ia tergelak lirih yang sebisa mungkin ia tahan agar tak ketahuan.


"Ayo, habiskan makanan kalian," titah Zara lembut pada dua buah hatinya. Sementara kakak beradik itu pun juga begitu bersemangat menghabiskan kudapan yang disajikan oleh ibu mereka.

__ADS_1


Selepas menghabiskan makanan, Ibu dan anak itu melanjutnya dengan obrolan hangat. Berbagi cerita ini dan itu. Baik hal remeh temeh ataupun pembicaraan serius. Emely yang masih duduk dibangku kuliah, tak segan untuk bertukar pendapat dengan sang kakak atau sesekali meminta pengarahan mengenai dunia bisnis yang menjadi jurusan pendidikannya kini.


Erich menyadari jika Emely pun mewarisi kepintaran sang Ayah di dalam dunia bisnis sama seperti kedua kakaknya. Hanya saja baik Arka atau pun Zara, membebaskan sang putri untuk memilih fakultas yang sesuai dengan keinginanannya. Sama sekali tak ada paksaan mengingat dia satu-satunya anak perempuan dalam keluarga Arkana Surya Atmadja.


Derap langkah terdengar. Obrolan ketiganya sontak terhenti saat sepasang insan hadir diantara mereka.


"Hai Brother," sapa seorang pria yang langsung memeluk tubuh Erich. "Aku langsung pulang saat ibu memberi kabar jika kau pulang." Pria yang tak lain adalah Ernest itu pun memeluk tubuh Erich. Ia pun tak segan memukul bahu saudara kembarnya dan diiringi gelak tawa.


Erich hanya tersenyum tipis. Pria itu sadar jika Ernest memang lebih heboh dari pada dirinya yang pendiam.


"Kau pasti tak melupakannya 'kan?" Ernest menarik lembut tangan seorang gadis yang datang bersamanya. Gadis itu mengulas senyum lembut, hingga posisi tubuhnya yang semula berada di belakang Ernest, kini sejajar.


Glek.


Erich menelan ludah kasar. Tentu dia tak akan lupa pada sosok gadis yang bahkan kini jemarinya berada dalam gengaman Ernest.


"Erich, apa kabar. Senang melihatmu pulang," sapa gadis yang tak lain adalah Sandara. Kekasih dari Ernest.


Erich hanya memberi senyum tipis, bahkan sangat tipis dan nyaris tak terlihat. Ada gemuruh di dalam dada yang tak mampu Erich ungkapkan dengan kata-kata. Apakah ia tak suka dengan kedekatan sepasang kekasih itu? Tentu saja tidak. Akan tetapi Erich tak mampu berpura biasa-biasa saja dipertemukan kembali pada sosok gadis yang nyatanya pernah menorehkan luka di dalam dadanya.


Tetap


Like


Komen


Vote


Terimakasih


Karna dukunganmu adalah semangatku untuk terus update😘😘

__ADS_1


__ADS_2