CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pertemuan Zara Dan Anastasya


__ADS_3

Searah jarum jam yang terus berputar, seiring berjalannya waktu yang membuat Natasya beserta sang Ibu menyudahi aksi belanja mereka. Berkeliling tanpa sadar membuat Ibu dan anak tersebut kelelahan. Rasa dahaga mulai merambat, dan Natasya lekas menarik sang Ibu untuk menuju suatu tempat.


"Kita kemana?." Anastasya yang membawa serta beberapa paper bag di tangan, bertanya pada sang putri.


"Ibu haus 'kan?." Sang Ibu pun mengangguk. "Nah, di tempat ini banyak minuman beraneka rasa, dan pastinya ada alpukat kocok kesukaan kita." Natasya tersenyum senang saat menggandeng tangan sang Ibu untuk memasuki tempat. Tentunya sebuah tempat yang sudah disepakati antara dirinya dan Zara untuk bertemu.


Tapi, kenapa aku jadi gemetar seperti ini?.


Natasya melirik sekilas pada sang Ibu yang terlihat senang saat mengikuti langkahnya. Muncul ketakutan tersendiri dalam sang gadis, tentang seperti apa reaksi Ibunya nanti ketika bertemu dengan Zara. Sontak Natasya menelan ludah, bulir keringat dingin tiba-toba muncul di telapak tangan dan kening.


Rasa cemas yang tiba-tiba menyergap, sontak membuat langkah Natasya terhenti. Sang Ibu yang sedari tadi mengekori langkah sang putri, mengerutkan kening dan ikut menghentikan langkah.


"Kenapa?. Duh, lihatlah, di sini dingin tetapi tubuhmu berkeringat." Anastasya mengusap peluh di kening sang putri yang terperanjat akibat gerakan tangannya dalam menyeka keringat dengan lembaran tisu. Tanpa disadari, Natasya termenubg beberapa saat sebelum kesadarannya kembali datang karna gerakan tangan sang Ibu di tubuhnya.


"Em, aku hanya merasa sedikit gerah." Sekelebat, Natasya menemukan sosok Zara sudah duduk di sebuah kursi dengan posisi memunggungi, namun meski dari arah belakang gadis tersebut bisa mengenali jika perempuan bergaun peach itu adalah Ibunda dari atasannya, Nyonya Zara Atmadja.


"Nak, kita duduk di mana?."


Pertanyaan sang Ibu sontak membuat sel otak Natasya bekerja ekstra cepat. Lewat gerakan tangan, ia meminta pada sang Ibu untuk menuju sebuah meja yang letaknya berada di sudut ruangan, atau lebih tepatnya berada di samping meja yang di tempati oleh Zara.


Bagaimana ini?.


Natasya tak henti merapal doa. Semua Doa tentang kebaikan ia sebut. Berharap jika Zara menyadari kedatangan mereka dan lekas memainkan sedikit Drama yang sudah direncanakan.


Tapi bagaimana jika gagal?.


Sudut hati Natasya berteriak. Ia bukan takut bila Ibunya tak menyadari keberadaan Zara, tapi yang ia takuti ialah reaksi Ibunya nanti.

__ADS_1


*Apa Ibu akan marah dan langsung pergi?.


Duh, bagaimana inin*.


Fikiran Natasya kian kacau. Langkahnya semakin berat, berbanding terbalik dengan sang Ibu yang justru melenggang lepas tanpa beban.


Natasya menelan ludah saat posisi mereka dan tempat duduk Zara semakin dekat. Lantunan doa terus bergema dalam hati. Tubuhnya justru melemah pun dengan langkahnya yang berubah gontai.


"Awww...."


Natasya berteriak saat ia nyaris terjatuh dan menubruk seseorang. Disamping rasa keterkejutan, ia menatap sosok pemilik tubuh yang ia tubruk.


Ya tuhan.


Natasya lunglai, adegan yang sudah dirancang matang, gagal. Bukan Anastasya yang menubruk Zara, tapi kenapa malah dirinya?.


Baru saja Natasya menyesali diri, suara sang Ibu sudah menyapa indra pendengaran. Rupanya saat berniat menolong dirinya, sang Ibu dan Zara saling tatap, dan terjadilah sesuatu yang sesuai dengan inginnya.


"Kak Anastasya," lirih Zara. Ia ragu menyebut namun begitu lekat menatap sepasang bola mata perempuan yang pernah menjadi madunya.


"Za-zara." Kini giliran Anastasya. Tak perlu dipertanyakan lagi seperti apa ekspresi perempuan itu kini. Terkejut, bingung, dan tak percaya, bercampur menjadi satu. Tubuhnya menegang, begitu pun dengan sorot mata yang tak berpindah dari wajah Zara.


Sementara Zara, nyali perempuan itu mulai menciut. Reaksi Anastasya mulai membuatnya ketakutan. Berulang kali ia menelan ludah kasar dan melirik pada Natasya yang sepertinya juga ketakutan, sama seperti dirinya.


Dunia seperti berhenti berputar. Sesak dalam dada merayapi dua anak manusia yang dulu pernah dinikahi oleh satu pria yang sama.


Tanpa diminta, bulir bening perlahan meleleh dari sudut mata kedua perempuan yang dulunya memiliki hubungan yang sangat dekat sebelum....

__ADS_1


Ah, Zara tak sanggup lagi, hal seperti inilah yang ia takutkan. Disaat Anastasya tak menerima kehadirannya dan menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu yang seharusnya dikubur dalam. Menuruti insting, Zara menundukkan kepala dan berbalik badan. Biarlah ia mundur, biarlah ia pergi dengan membawa lara hati. Andai tau berakhir seperti ini, tentu sedari awal dirinya akan menolak mentah saat Anastasya memohon padanya untuk mau menikah dengan Arka meski perempuan tersebut mengancam untuk bunuh diri sekalipun.


"Tunggu."


Suara yang datang sontak membuat langkah Zara terhenti. Jantungnya berdegub kencang. Dan dibeberapa detik kemudian, perempuan tersebut berbalik badan.


"Za-zara." Selepas berucap, tanpa diduga, Anastasya lekas mendekat kemudian mendekap tubuh Zara sebelum menangis di bahunya. Dua perempuan itu saling berpelukan meski Zara sendiri masih tak percaya akan apa yang dialaminya.


Tak ada kata yang terucap. Baik Anastasya atau pun Zara, mereka diam, namun saling menangis dalam pelukan masing-masing. Natasya, gadis yang berdiri terpaku dan sempat menahan nafas akibat ketakutan, kini menghela nafas lega. Seperti ikatan batin, putri dari Anastasya itu pun ikut merasakan haru yang tiba-tiba melingkupi keadaan sekitar. Sepasang matanya berkaca-kaca, menatap dua perempuan yang terpisah lama, kembali dipertemukan lewat sebuah rencana. Setidaknya apa yang sempat ia khawatirkan, tak menjadi kenyataan.


Kejadian tersebut rupanya cukup menyita perhatian pengunjung lain. Ada yang menatap heran, ada juga yang melempar pandangan penuh tanya kemudian menyenggol teman di sampingnya. Akan tetapi setelah benerapa saat, para pengunjung abai. Mereka kembali pada dunianya masing-masing.


"Zara, bagaimana kabarmu?."


Natasya tersadar dari lamunan saat suara sang Ibu ia dengar. Kedua perempuan di hadapannya sudah mengurai pelukan, dan gadis itu bisa melihat sepasang mata mereka yang basah karena tangis. Natasya mengerjap, jika hubungan mereka sebelumnya tidaklah dekat, mana mungkin mereka dipertemukan dalam suasana yang penuh haru seperti ini?.


Natasya memberi ruang. Ia sengaja menjauh. Zara, Ibunda dari atasannya itu menjawab pertanyaan Ibunya dengan intonasi suara yang sama.


Anastasya kemudian membawa Zara untuk duduk. Melihat reaksi Zara yang terlampau sendih dan tak bisa menahan tangis ketika bertemu dengannya, membuat Anastasya mengusap bahu mantan madunya itu dan meminta pada seorang pelayan cafe sebotol air.


"Zara, tenanglah. Ayo, minum," titah Anastasya lembut seraya mengulurkan sebotol air yang kemasannya sudah terbuka.


"Terimakasih, Kak." Tangan Zara yang masih gemetar membuat Anastasya ikut membantu Zara untuk minum. Dunia seperti kembali pada dua puluh tahunan silam. Saat Anastasya dan Zara dipertemukan untuk pertama kali sebelum keduanya terjerat dalam rumah tangga pelik yang sejatinya sudah diatur oleh sang pemilik hidup.


Ibu, sepertinya kau berhutang banyak penjelasan padaku. Natasya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2