CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Penjelasan Anastasya


__ADS_3

"Ada apa, tidak seperti hari biasa, sore ini kenapa kau terlihat sangat bahagia?." Dalam posisi saling berhadapan, Arka menatap wajah cantik sang istri yang kini tengah membantunya melepas simpul dasi yang melingkar di leher. Bukan tanpa alasan Arka bertanya demikian, sebab beberapa hari ke belakang wajah sang istri terlihat muram dan mengurangi porsi bicara. Zara menjadi pemurung dan pendiam akhir-akhir ini. Tapi sekarang, ada yang berbeda. Wajah sayu itu kini mulai cerah dan berbinar, seperti ada hembusan kebahagiaan yang berputar di sekelilingnya.


"Aku hanya sedang senang saja." Lepas dasi, Zara membantu Arka melepas jas kemudian menumpuknya ke keranjang pakaian kotor.


"Wah, kiranya apa yang membuatmu senang. Suamimu ini jadi penasaran?."


Pandangan Zara tertuju pada dada bidang sang suami, ia usap pelan dan lembut seraya melepas satu persatu kacing kemeja dari tempatnya.


"Aku bertemu seseorang, sudah sangat lama kami tak pernah berjumpa dan beberapa jam lalu kami dipertemukan. Seperti sebuah keajaiban, Sayang. Sampai sekarang rasanya masih seperti mimpi." Zara mengulum senyum sementara Arka menampakkan ekspresi terkejut dan penasaran secara bersamaan.


"Benarkah, memang siapa yang sudah kau temui?." Arka bertanya sementara kedua tangannya menangkup kedua sisi pipi sang istri yang masih kenyal dan selembut kapas. Perlakuan sang pria pada istrinya memang tak pernah berubah, lembut dan penuh kasih sayang.


"Coba tebak?." Zara menggoda sementara Arka semakin penasaran. Posisi keduanya yang saling berhadapan dan mendekap, mempermudah mereka untuk terus bermanja.


Mau tak mau Arka mulai berfikir. Menebak tentang seseorang yang baru saja ditemui sang istri.


Apa mungkin Zara bertemu dengan Sandy?. Jika benar, lalu kenapa ekspresi wajahnya sesenang ini?.


"Apa kau baru bertemu dengan S a n d y ?."


Mendengar nama yang disebut sang suami membuat Zara merengut. Wajahnya berubah masam, nampak sekali rasa ketidaksukaannya pada sosok pria yang namanya baru saja disebutkan.


Zara berdecak kemudian menjawab, "Kenapa bisa Sandy. Kenapa malah nama orang itu yang ada difikiranmu, Sayang?."


Arka tergelak dan semakin menenggelamkan wajah sang istri ke dalam dekapan.

__ADS_1


"Maaf, bukan maksuku, sayang."


Sandy, Arka merutuki diri yang justru menyebut satu nama pria yang baru-baru ini kembali muncul dan berniat menghancurkan keluarganya. Memang hal tersebut bukan dilakukan oleh Sandy, namun didalangi oleh putrinya sendiri, Sandara.


Kira-kira seperti apa kabar gadis itu sekarang?.


Selepas kejadian dan pemutusan pertunangan oleh Ernest, kabar Sandara tak lagi terdengar. Sakit hati dan kekecewaan dari seluruh keluarga, membuat Sandara tak lagi diperdulikan. Biarlah gadis itu memakan buah dari hasil perbuatannya sendiri.


"Lalu siapa yang kau temui?." Arka memejamkan mata, memeluk erat tubuh sang istri dan sesekali menciumi setiap helaian rambut sang istri yang menguar aroma vanila segar.


"Kak Anastasya."


Sepasang mata Arka yang semula terpejam, spontan terbuka. Tubuhnya pun membatu. Ucapan Rangga pada malam itu kembali ia ingat.


"Anastasya." Tanpa sadar Arka menggumam satu nama tersebut dengan posisi masih memeluk tubuh sang istri. Dirinya seperti linglung. Dengan satu kali gerakan dirinya berusaha melepas pelukan. Menatap wajah sang istri untuk meminta kejelasan.


"Kau bertemu dengan siapa?." Seperti tak percaya, Arka bahkan menatap lekat sang istri dan meminta pada perempuan tersebut untuk mengulang jawaban.


"Aku bertemu Kak Anastasya." Takut-takut Zara berucap. Melihat ekspresi wajah Arka yang berubah, mendadak tubuhnya pun ikut gemetar.


"Ya Tuhan," gumam Arka yang kemudian membawa tubuh sang istri kembali dalam pelukan. Arka memejamkan mata pun dengan Zara. Akan tetapi bulir bening sekita meluncur bebas dari sudut mata Zara. Perempuan itu menangis. Entah perasaan apa yang sedang bersarang dalam dirinya. Senangkah atau justru sedih akibat reaksi Arka yang ia anggap masih menyimpan sebagian rasanya untuk Anastasya.


💗💗💗💗💗


Perasaan yang terus mengganjal dalam diri Natasya begitu melihat kedekatan yang terjalin di antara Ibunya dan Zara, tak ayal mendulang tanda tanya besar. Kiranya sedekat apa mereka hidup di masa lalu. Rasa penasaran terus mengganjal dan saat ini ia tak akan membiarka sang Ibu lepas dari gengamannya.

__ADS_1


"Pas," gumam Natasya yang melihat sosok Ibunya sedang berada di dapur. Entah apa yang sedang perempuan itu kerjakan namun Natasya berpikir jika sekaranglah waktu yang tepat untuk meminta penjelasan dari sang Ibu.


"Ehem." Natasya berdehem. Kedatangannya yang tiba-tiva pun membuat tubuh Anastasya terperanjat.


"Tasya, ada apa. Mau minum juga?." Anastasya berbalik badan dan mengangkat segelas teh hangat yang beberapa saat lalu ia seduh.


"Tidak, aku tidak ingon minum tapi aku ingin mendengar penjelasan dari Ibu."


"Tentang?." Anastasya mengerutkan kening. Menatap sang putri seolah meminta penjelasan.


"Tentang Ibu dan Nyonya Zara. Jika dilihat, hubungan kalian sangatlah dekat, tetapi kenapa selama ini tak sedikitpun Ibu membicarakan hal tersebut padaku?." Natasya masih menutupi tentang kerja samanya dengan Zara. Bila Ibunya tak curiga maka ia pun tak akan buka suara.


Natasya menatap wajah sang Ibu begitu lekat. Pada saat hanya mendengarkan cerita Zara, tentu dirinya tak sepenuhnya percaya. Akan tetapi setelah melihat sendiri seberapa dekat kedua perempuan itu, seharusnya memang ia butuh penjelasan langsung dari pelakunya.


Anastasya terlihat menghela nafas dalam. Ia menaruh kembali dan meninggalkan segelas teh yang ia seduh di atas meja dan membawa tubuh sang putri untuk duduk di kursi meja makan bersamanya.


"Mungkin ada saatnya seseorang berniat melupakan kejadian di masa lalu meski tak sepenuhnya." Anastasya menggengam tangan sang putri. Mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan. "Seperti halnya Ibu. Bukan berniat melupakan tetapi setelah menikah dengan Ayahmu, Ibu berniat untuk menutup kisah masa lalu dan membangun masa depan yang indah bersamanya." Anastasya menangkap raut tak percaya putrinya.


"Natasya, kau masih sangat muda untuk bisa mengerti semuanya. Maaf, mungkin untuk sekarang Ibu masih belum siap untuk menjelaskannya. Tapi, Ibu berjanji, suatu saat jika Ibu sudah merasa mampu, maka Ibu akan menjelaskan semuanya padamu." Jalan hidup yang sudah Anastasya lewati begitu curam dan berliku. Menyakitkan bahkan meninggalkan rasa trauma mendalam. Dan tentang Rangga, sungguh ia masih belum mampu menjelaskannya pada Anastasya.


Dirinya yang dulu kotor, dihamili kemudian ditinggalkan oleh Ayah janin, hingga ditolong oleh Arka, sungguh Anastasya tak sanggup menceritakan kehidupan kelamnya di masa lalu pada sang putri.


Aku takut, aku takut jika putriku akan berbalik membenciku bila mengetahui masa laluku yang sebenarnya. Anastasya, gadis miskin kotor, juga menyedihkan yang hidup dari belas kasih orang lain. Tidak, putriku. Jika kau tau yang sebenarnya, Ibu takut kau akan berbalik membenci Ibu.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2