
Sepeninggal Arka dari perusahaan, Ernest mulai berfikir kiranya seperti apa ucapan yang pantas ia sampaikan pada Natasya perihal undangan ulang tahun Emely di kediamannya. Hah, andai sang Ayah membawa serta selembar undangan, mungkin ia tak kan sepusing ini untuk merangkai kata.
Sebelum jam kerja usai, Ernest bergerak cepat untuk menemui Natasya. Ya, jika tidak dibicarakan sekarang, lalu mau kapan lagi. Terlebih lusa ulang tahun Emely akan berlangsung.
"Tidak, sepertinya bukan aku yang akan keluar tapi dialah yang akan masuk," gumam Ernest kemudian menekan tombol sambungan interkom dan meminta Natasya untuk masuk ke ruangan.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?." Gadis itu mengulas senyum tipis begitu memasuki ruangan dan menghadap sang Tuan.
"Em, Tidak. Hanya saja, lusa aku ingin mengundangmu untuk makan malam di rumah."
"Makan malam?." Natasya mengulang ucapan Ernest.
"Ya, Emely lusa berulang tahun. Bukankah Emely adalah temanmu?." Natasya mengangguk. "Nah, maka dari itu kami mengundangmu. Seperti tahun sebelumnya, kami akan makan malam dan mengundang orang terdekat untuk merayakan pertambahan usia Emely."
Natasya masih terdiam. Sungguh ia pun masih bingung. Undangan makan malam ke kediaman keluarga Atmadja, Ah yang benar saja?.
"Kenapa diam, kau berniat menolak?."
"Bu-bukan, Tuan. Bukan begitu, saya hanya sedang heran saja."
"Heran kenapa," tanya Ernest dengan kening mengernyit.
"Kenapa ya?." Natasya seperti orang ling lung. Dia masih kebingungan antara ingin menolak atau menerima undangan tersebut. Akan tetapi jika dirinya menolak, bukankah terdengar tidak sopan terlebih yang mengundang adalah atasannya sendiri?.
Duh bagaimana ini?.
"Em Dan satu lagi, bawa serta keluargamu. Kami mengundangmu juga keluargamu untuk makan malam. Orang tuaku berharap jika orang tuamu turut hadir."
Natasya sontak menelan salivanya berat. Membawa serta orang tua, itu berarti Ibunya juga harus datang dan ....
Wajah Natasya sontak memucat. Jika membawa sang Ibu ke kediaman keluarga Atmadja, bukan itu artinya jika dirinya sedang mempertemukan Ibunya dengan mantan suami dan madunya?. Natasya bahkan tak yakin jika sang Ibu mau menghadirinya.
"Bagaimana, Natasya?."
Gadis yang disebut namanya, terkesiap. Ia tersadar dari lamunan dan menatap pada sang Tuan.
"Akan saya usahakan, Tuan. Akan tetapi saya juga tidak berani berjanji untuk datang."
__ADS_1
"Tapi aku berharap kalian datang. Kau tau, ini bukan hanya undangan dariku tapi juga dari orang tuaku. Mereka pun sangat berharap jika kau mau datang dengan orang tuamu."
Natasya hanya mengangguk.
"Terimakasih. Sekarang pulanglah. Beristirahat, dan jaga kesehatanmu." Ernest tau, Natasya sudah bekerja keras, bukan hanya hari ini tetapi semenjak bergabung bersama Atmadja Gruop beberapa bulan ini.
"Terimakasih, Tuan. Saya permisi." Natasya undur diri. Menundukan kepala dan berbalik badan selepas Ernest mengangguki.
Hah, sudah beres. Kuharap Natasya bisa datang agar Ayah tak memarahiku.
💗💗💗💗💗
"Duh, bagaimana ini?." Di kamarnya. Natasya bergumam. Duduknya tak tenang selepas Zara menghubunginya. Bukan hanya Ernest, rupanya Zara pun mengundangnya secara khusus dan sampai memohon agar dirinya datang dengan membawa serta orang tua.
"Tapi masalahnya sekarang, Ibu mau datang atau tidak?." Sang gadis menghela nafas dalam. Ia bahkan tak punya keberanian untuk menyampaikan undangan tersebut pada Ibunya. Jangan berbicara, mengetuk pintu kamar sang Ibu saja ia tak berani untuk malam ini.
"Tuhan, tolong beri aku kekuatan plus keberanian." Ya, Natasya sepertinya butuh stok keberanian berlebih untuk bicara dengan Ibunya.
"Tasya, kau di dalam?. Buka pintunya, Nak."
Natasya memejamkan mata dengan bibir meng-aduh. Baru saja ia berniat menambah stok keberanian, sang Ibu justru datang sendiri ke kamar tanpa perlu ia panggil.
"Kenapa mengunci diri di kamar?. Ayo turun, sudah waktunya makan malam. Ibu juga sudah memasak makanan kesukaanmu," titah sang Ibu yang membuat putrinya terharu.
Ah, Ibu. Kau memang yang terbaik dalam hidupku.
Anastasya menarik lembut tangan sang putri, berniat untuk membawanya keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Akan tetapi sang putri mencegah.
"Ibu, tunggu sebentar," tahan Natasya. Ia meminta pada sang Ibu untuk berhenti sejenak.
"Tasya, ada apa?. Ayo makan malam."
"Tunggu sebentar, Ibu. Aku ingin bicara." Lagi, Natasya menahan langkah sang Ibu.
"Bicara tentang apa?."
Natasya seperti ragu untuk mengucap. Berulang kali ia melirik ke arah sang Ibu dengan wajah takut.
__ADS_1
"Em, begini Bu. Tuan Ernest mengundang kita makan malam di rumahnya, untuk merayakan pertambahan usia adiknya." Natasya tertunduk, ia tak berani menatap mata sang Ibu.
Anastasya bergeming. Mulutnya belum mengucap sepatah kata pun, masih bungkam hingga membuat nyali sang putri kian menciut.
"Ibu," lirih Natasya masih dengan wajah tertunduk.
"Tuan Ernest atasanmu?."
Natasya menganggukkan kepala.
"Apa dia putra dari Arkana Surya Atmadja dan Zara?."
Lagi, Natasya menganggukkan kepala. Sementara itu Anastasya terdiam. Binir bungkan namun fikir melanglang buana.
"Bukan hanya Tuan Ernest yang mengundang, tetapi juga Tuan Arka beserta Nona Zara. Mereka mengundang kita, Ibu. Bagaimana, apa Ibu bersedia untuk hadir?." Hah, Natasya sudah bisa membaca jika hal seperti inilah yang akan terjadi. Sang Ibu kemungkinan tak akan datang dan juga melarangnya dengan atau tanpa alasan.
"Katakan pada atasanmu, jika kita akan datang."
Mendengar jawaban sang Ibu sontak membuat Natasya mengangkat wajah. Benarkah, atau ia salah dengar?.
"Ki-kita akan datang?."
Sang Ibu menjawab dengan anggukkan.
"Dan Ibu juga akan ikut?."
Lagi, Anastasya mengangguk kemudian berkata, "Tentu saja."
Natasya tak mampu menutupi rasa haru. Tanpa aba-aba ia memeluk tubuh sang Ibu dan mengucap kata 'Terimakasih'. Bukan hanya kesediaan sang Ibu saja yang membuatnya senang, akan tetapi lebih pada kelapangan hati sang Ibu untuk kembali bertemu dengan orang-orang di masa lalunya.
Natasya sadar, kelak yang akan ibunya lalui cukup berat ketika harus bertemu dan bertatap mata dengan orang yang dulu sangatlah dekat. Paatinya akan ada perang batin yang bergejolak di dalam dada, antara ingin berdamai dengan keadaan atau sekadar berpura-pura.
"Apa Ibu yakin?. Jika Ibu tidak bisa, biar aku saja yang datang."
Anastasya menggelengkan kepala.
"Kau fikir Ibu akan melepaskan anak kesayangan Ibu pergi seorang diri sementara mereka juga mengundang Ibu?. Itu tidak pantas, putriku. Kita akan pergi bersama, datang bersama dan pulang pun bersama." Begitulah Anastasya dalam meyakinkan sang putri. Padahal, dalam hati pun ia tertekan. Bagaimana tidak, acara makan malam dengan mengundang orang terdekat. Apakah orang terdekat yang dimaksud juga termasuk Rangga?.
__ADS_1
Anastasya menghela nafas dalam. Jika untuk bertemu Arka dan Zara, mungkin ia masih sangup. Akan tetapi jika untuk bertemu dengan Rangga, sepertinya ia belum sanggup.
Tbc