CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pengakuan Sandara


__ADS_3

Dunia seakan berhenti berputar. Tubuh Sandara membeku. Wajahnya mendadak pucat pasi seperti tak teraliri darah saat beberapa pasang mata menatap tajam ke arahnya.


"Sandara, apa yang sudah kau lakukan di tempat ini?" Arka setengah berteriak melempar tanya yang seakan begitu mengintimidasi bagi seorang Sandara yang kedapatan memasuki ruangan yang tak sembarang orang bisa memasukinya.


"A- aku, aku .. aku hanya sedang, aku hanya sedang ingin mencari udara segar, ta-tapi aku tersesat dan malam masuk ke ruangan ini." Meski tergagap namun Sandara benar-benar bisa memasang wajah setenang mungkin seakan-akan dirinya memang sedang tersesat.


"Bohong," hardik Arka cepat. Pria itu tentu tak percaya begitu saja akan ucapan Sandara.


"Benar Paman, aku sedang tidak berbohong. Rumah ini begitu luas dan aku kesulitan mencari jalan keluar, hingga tanpa sadar aku memasuki ruangan ini tapi percayalah, setelah sadar jika ini ruang pribadi Erich maka aku cepat-cepat keluar dan bertemu dengan kalian." Tak mampu lagi mengendalikan diri, Sandara terlihat beberapa kali menelan salivanya susah payah. Sepasang matanya bisa melihat dengan jelas jika Ernest pun berdiri di hadapan namun tak sedikit pun membelanya. Wajah pria itu justru terlihat datar dengan pandangan sulit diartikan. Sementara di sisi lain Erich dan Zara juga menatap tajam padanya. Demi apa pun, dirinya benar-benar tertangkap basah saat ini.


"Apa yang kau ambil?" Tanya Arka lagi-lagi mengintimidasi dengan meninggikan nada bicara.


"Tidak ada," jawab Sandara dengan menggelengkan kepala kuat.


"Katakan apa yang sudah kau ambil!"


Ucapan lantang Arka sontak membuat Sandara terkesiap hingga menjatuhkan sepasang cincin curian yang semula dalam gengaman tangan itu ke lantai.


Sandara syok, begitu pun lainya begitu mendapati cincin pernikahan Erich tergeletak mengenaskan di lantai. Arka menghela nafas dalam, tak mengira jika gadis pilihan putranya memiliki sikap serendahan ini.


Berdiri diam, Ernest dengan mata berkaca menatap sang kekasih dengan padangan penuh luka. Tak pernah menyangka juga menduga jika gadis yang teramat ia cinta tega menghancurkan kepercayaannya.


"Ti-tidak, ini tidak seperti yang kalian kira. Aku tidak tau kenapa cincin itu ada bersamaku dan.."


"Stop!"


Sandara tercekat, bibirnya di bungkam paksa oleh sentakan Arka yang seolah bisa menyebabkan gempa yang mampu meruntuhkan bangunan kokoh disekelilingnya.


"Hentikan omong kosongmu itu. Aku sama sekali tak ingin mendengarnya."


Sandara mulai tertunduk. Jika berhadapan dengan Arka, dirinya sama sekali tak berkutik. Pria rupawan itu memiliki kharisma luar biasa yang mampu membungkam lawan bicara.


"Ernest," panggil Arka pada putranya.


"Ya, Ayah."

__ADS_1


"Kau sudah melihat dengan mata kepalamu sendiri seperti apa kepribadian gadis yang kau cintai. Dari semua bukti yang ada, apa semua masih kurang jelas? Kau masih meragukan kebenarannya?" Pandangan Arka beralih pada sang putra. Memperingatkan Ernest agar bisa membuka lebar mata dan menjernihkan akal fikiran yang sempat tertutup cinta.


Ruang pribadi Erich yang dibiarkan terbuka, seluruh tempat penyimpanan yang tak terkuci serta sepasang cincin pernikahan yang sengaja dibiarkan tanpa pengamanan, sejatinya bukanlah kelalaian para pelayan kediaman Erich. Semua sudah terencana rapi oleh Arka selepas Sam membeberkan beberapa fakta yang membuat pria itu meradang.


Tak ingin dikalahkan oleh akal bulus Sandara, Arka pun memasang umpan. Sengaja membiarkan ruangan paling penting di dalam rumah putranya yang pria itu yakini akan dimasuki oleh gadis tersebut untuk melancarkan aksi. Dan sesuai dengan pemikiran, hal tersebut benar-benar terjadi. Maka tak butuh waktu lama bagi Arka untuk mengambil keputusan jika Sandara tak layak menjadi calon menantunya.


Ernest tak menjawab, ia hanya bisa menatap nanar wajah Sandara sebagai ungkapan kekecewaan.


💗💗💗💗💗


Ruang tamu yang biasanya lengang, kini berubah mencekam. Seorang gadis menundukan kepala dalam. Duduk seperti pesakitan yang siap menghadapi meja pengadilan.


Arka yang memasang wajah paling garang, duduk tepat berada di hadapan Sandara yang sama sekali tak berkutik di tempatnya.


"Sandara, coba sebutkan nama lengkapmu?"


Hah?


Sandara kebingungan, bola matanya bergerak liar.


"Namaku hanya Sandara, Paman. Aku tidak punya nama panjang atau nama keluarga di belakang namaku."


Sandara tercekat. Wajahnya semakin pias.


"Sandara Aditya Wongso. Bukankah itu nama lengkapmu?"


Tubuh Sandara tersentak. Seiring kepalanya yang kembali menunduk dalam.


"Hem, benarkah itu nama lengkapmu, Sandara?" Arka mengulangnya sekali lagi.


"Bu-bukan. Itu bukan nama lengkapku. Aku tidak punya nama lengkap seperti yang Paman katakan itu," elak Sandara yang mana membuat Arka semakin murka.


"Sandara Aditya Wongso, cucu dari Erlangga Wongso sekaligus putri dari pasangan Sandy dan Andara Adity Wongso, bukankan itu dirimu, Sandara? Kau masih berfikir untuk menyangkalnya?"


Glek. Tubuh Sandara melemas. Identitasnya aslinya sudah diketahui.

__ADS_1


"Katakan, kau masih berfikir untuk menyangkalnya! Nama Sandara bahkan hasil gabungan nama dari orangtuamu, bukan? Sandy dan Andara. Sungguh keterlaluan." Arka menggebrak meja saat Sandara sama sekali tak bereaksi.


"Aku memang tak memiliki urusan denganmu, tapi aku memiliki masalah pribadi dengan Ayahmu. Dari semua kebetulan-kebetulan yang ada, aku jadi mengaitkan masalah saat ini dengan dendam orang tua padaku di masalalu. Mungkinkah semuanya saling berkaitan?" Arka sekedar menebak namun jika dikaitkan dengan bukti-bukti yang ada, bisa saja jika tebakan Arka menjadi sebuah kebenaran. "Atau jangan-jangan kau mendekati putraku hanya untuk membalaskan dendam orang tuamu?"


"Tidak," jawab Sandara lirih namun masih bisa di dengar Arka dan beberapa orang lainnya.


"Tidak? Maksudmu?"


"Itu bukan namaku juga keluargaku. Aku tak punya orang tua atau pun sanak saudara. Aku hidup sebatang kara dan.."


Brak..


Arka kembali menggebrak meja lebih keras dari pada sebelumnya.


"Omong kosong!" Bentak Arka. "Baik, tidak ada cara lain. Mungkin dengan membongkarnya, barulah kau mau mengakuinya." Arka menepuk kedua telapak tangan dan Sam muncul dengan membawa map di tangan. Suasana ruangan kian memanas. Zara beserta ketiga putranya duduk berbaris dengan tangan saling menggengam. Ernest yang berada tepat di sisi kanan Zara, dikuatkan oleh Erich yang juga duduk di sampingnya. Semua saling menguatkan. Berusaha tegar dengan adanya masalah besar yang datang beberapa jam sebelum pernikahan Erich digelar.


"Sam, dia tetap tak mengaku. Cepat, berikan bukti itu padaku."


"Baik, Tuan." Sam sigap membuka map yang dibawa. Beberapa lembar foto dan kertas-kertas ia keluarkan dan lamgsung pada Arka.


Begitu lembaran itu diterima, Arka lantas melemparkannya ke atas meja, tepat di hadapan Sandara.


Pyar.


Foto dirinya saat wisuda dan beberapa kertas lain menyangkut indentitasnya terjatuh mengenaskan di meja. Sandara mati kutu. Tak mampu mengelak apa lagi menyangkal.


"Apa bukti-bukti yang ada masih kurang, Sandara? Kau masih berniat untuk menyangkalnya?"


Sandara menegakkan kepala. Giginya saling bergesekan. Ia bahkan tak segan membalas tatapan nyalang Arka yang sedari tadi seakan menjatuhkan harga dirinya.


"Ya, Aku adalah Sandara Aditya Wongso, cucu dari Erlangga Wongso sekaligus putri dari pasangan Sandy dan Andara Adity Wongso. Benar, aku mendekati putramu Ernest bahkan memacarinya hanya untuk menuntut balas. Membalaskan dendam Andara Adisty Wongso pada istrimu, Zara. Jika kau mengira aku melakukan hal senekat ini karna dendam Sandy, Ayahku maka anda salah besar. Kau tau kenapa aku justru membalas demdam ibuku?" Sandara tersenyum miring, ia tatap Zara yang masih syok saat mendengar pengakuannya.


"Rupanya Sandy masih belum bisa move on dari seorang Zara. Ibuku hanyalah tempat pelampiasan. Dia hanya dijadikan sapi perah. Dijadikan alat hanya untuk menghasilkan anak. Ibu seperti istri di atas kertas. Berstatus istri namun tak pernah dicintai. Bertahun berjuang namun tak pernah dihargai. Ayahku hanya mengingat nama Zara, Zara dan Zara. Ibuku bahkan sampai muak mendengarnya. Disaat tertidur pun ia mengingau, menyebut nama Zara. Hati wanita mana yang baik-baik saja saat dalam keadaan tak sadar pun masih mengingat nama wanita lain dan bukan Istrinya. Dan itu semua karena dirimu, Zara!" Sandara menunjuk Zara dengan tatapan nyalang. Tak sampai disitu saja, gadis itu bangkit, berjalan cepat ke arah Zara kemudian mengerahkan kedua tangan yang akan digunakan untuk mencekik Zara.


"San, berhenti!"

__ADS_1


"Awww..." Kekacauan tak mampu terelakan lagi. Sandara seperti kesetanan. kewarasaannya seakan hilang begitu melihat wajah cantik Zara yang sudah seperti lawan baginya.


Tbc.


__ADS_2