CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Seperti Sebuah Keluarga


__ADS_3

"Boleh aku bergabung?."


Ucapan Rangga kali ini benar-benar menyadarkan Anastasya atas lamunannya.


"Te-tentu." Tergagap Anastasya menjawab. Ia terpaku di tempat. Sementara Natasya mempersilahkan Rangga untuk bergabung dengan Ibunya di meja makan.


Meski nampak kecanggungan dari gerak tubuh Rangga namun pria dewasa itu berusaha memaksimalkan diri dengan tak ingin menolak atau menyia-nyiakan kesempatan yang sejatinya sudah diberikan oleh putri dari mantan kekasihnya itu sendiri.


Rangga masih merasa apa yang dialaminya saat ini adalah mimpi. Ia memilih duduk berhadapan dengan Anastasya sementara Natasya duduk di samping Ibunya.


"Tuan, silahkan dinikmati. O ya, semua yang terhidang di meja makan ini adalah hasil masakan Ibuku." Natasya menjelaskan dengan antusias. Ia terlihat lebih ceria dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya.


"Wah, benarkah?. Pasti rasanya enak," puji Rangga meski belum mencicipinya. Anastasya sendiri hanya diam. Bingung, perempuan itu kesulitan hendak berbuat apa.


"Tentu saja, masakan Ibuku pasti yang terenak, Tuan." Pandangan Natasya kini berpindah pada Ibunya. "Ibu, ayo ambilkan nasi dan pelengkapnya kepada Tuan Rangga, seperti yang Ibu lakukan kepadaku."


"Se-sebentar," jawab Anastasya masih tergagap. Ia sampai menggaruk tengkuknya yang tak gatal akibat rasa cemas serta kebingungan yang melanda. Saat putrinya berdehem, ia sigap meraih sebuah piring, menambahkan nasi dan pelengkap kemudian memberikannya pada Rangga.


"Ma-mari, Tuan," titah Anastasya pada Rangga yang terlihat berkaca-kaca saat menerima sepiring nasi darinya.


Interaksi dan ekspresi dan mantan sepasang jekasih itu nyatanya tak luput dari penglihatan Natasya. Di sini bukan hanya dua insan itu yang merasakan perang batin namun juga dirinya. Tatapan mata serta gestur tubuh dari Rangga tak mampu menutupi jika pria itu memang masih memiliki rasa pada Anastasya.


Makan malam ini pun gadis itu yang merancang. Berkat penjelasan panjang lebar Ernest, fikirannya seperti terbuka lebar. Benar, selama ini Ibunya sudah berjuang dan berhasil membesarkannya sepeninggal sang Ayah, dan saat ini bukankah Ibunya juga berhak bahagia meski bukan dengan Ayahnya?.

__ADS_1


Natasya mungkin hanya akan membuka jalan sampai titik ini, selebihnya biar kedua insan itulah yang menentukan. Andai Rangga masih menginginkan Anastasya, pasti ia akan berjuang, dan begitu pun sebaliknya.


"Natasya, kau juga harus makan yang banyak." Ucapan Rangga menyadarkan Natasya dari lamunan. Gadis itu pun mengangguk dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut.


"Tasya, kau juga. Makan yang banyak." Kali ini ucapan Rangga ditujukan untuk Anastasya. Natasya mengulum senyum. Ia baru tau jika 'Tasya' mungkin adalah panggilan sayang dari Tuan Rangga untuk Ibunya.


Tapi Tasya juga panggilan sayang untukku dari mendiang Ayah.


Lagi, rasa bahagia itu msnguap menjadi kesedihan.


Anastasya hanya mengangguk samar sebagai jawaban. Tidak, dihadapan sang putri ia tak boleh memperlihatkan interaksinya secara berlebihan dengan Rangga.


Mereka kembali menikmati makan malam. Diantara ketiganya, Rangga lah yang terlihat makan paling lahap. Tak ada malu-malu, ia terlihat santai dan menganggap jika sedang makan malam dengan keluarganya sendiri. Bersama Istri dan juga putrinya, semoga saja.


"Ibu, Lauk Tuan Rangga habis, ayo tambahkan lagi," titah Natasya begitu mengetahui baik lauk atau pun sayur di piring Rangga sudah habis dan hanya menyisakan nasi.


Di tempatnya, Rangga hanya diam. Tak menolak dan justru senang saat makan malam kali ini mendapatkan pelayanan penuh dari Anastasya. Seperti saat mereka masih bersama dulu.


Entahlah, Natasya siap jika harus menerima kemarahan sang Ibu sepulang Rangga nanti namun saat ini ia ingin berupaya semaksimalnya untuk mendekatkan Ibu dan Rangga kembali meski ia pun tak bisa berharap banyak.


💗💗💗💗💗


Selepas menikmati makan malam rupanya Rangga tak langsung pulang. Natasya dengan antusias menghidangkan beberapa jenis kue kering hasil buatannya, dan Rangga cukup terkejut akan hal itu.

__ADS_1


"Wah kau rupanya pandai membuat kue," puji Rangga disaat mencicipi salah satu dari kue yang disuguhkan Natasya.


"Aku juga belajar dari Ibu, Tuan," jawab Natasya seraya melirik ke arah sang Ibu, sementara yang dilirik melotot sebab tak pernah mengajari putrinya membuat kue.


Rangga yang mendapati pelototan Anastasya untuk putrinya, tergelak samar. Ya Tuhan, andai keajaiban datang dan memposisikan dirinya sebagai kepala kekuarga di rumah ini, pastinya ia tak akan pernah menolak.


"Ya, aku pun berfikir seperti itu. Ibumu mewariskan banyak hal padamu. Keahliannya memasak, kecerdasan, prilaku, sertaa wajah. Kalian nyaris tak bisa dibedakan. Wajahmu begitu mirip dengan Ibumu saat belum menikah dulu." Getir, hal itulah yang Rangga rasakan saat mengingat Anastasya dulu. Berulang kali ia menghela nafas dalam untuk menetralkan perasaan yang tak karuan. Antara ingin marah dan membenci dirinya sendiri.


"Sungguh malam ini aku merasa sangat senang saat mendapat jamuan dari kalian." Makanan yang enak serta bisa bertemu seseorang yang ia cintai. Oh, bolehkan ia berharap jika setiap hari berada dalam situasi seperti ini?.


"Justru kami lah yang merasa senang sebab Tuan sudah sudi untuk menerima undangan makan malam dari kami."


Ucapan Natasya rupanya membuat Ibunya terkesiap. Undangan makan malam, jadi Natasya yang sudah mengundang Rangga?. Anastasya tak habis pikir, kenapa putrinya membuat acara tersembunyi seperti ini terlebih tanpa meminta persetujuan lebih dulu darinya.


Anastasya lebih banyak diam sementara Natadya terlihat cukup akrab dengan Rangga. Mereka juga sempat membahas masalah pekerjaan dan juga Ernest. Ada pun Rangga sedikit menceritakan tentang Ibunya yang kini memilih tinggal di negara XX sepeninggal suaminya.


Ibu, perempuan yang bahkan dulu membenci Anastasya dari ujung kaki sampai puncak kepala. Perempuan yang pada saat sakit dulu mengiba padanya, memohon untuk dimaafkan kesalahannya. Oh, rupanya perempuan itu masih hidup dan justru suaminya yang sombong itulah yang meninggal lebih dulu. Takdir memang tak bisa ditebak. Secara tidak langsung Rangga seperti ingin memperkenalkan kedua orang tuanya pada Natasya. Ya, bukankah harapan itu selalu ada.


Selepas memeriksa arloji di pergelangan tangan, Anastasya meminta putrinya untuk beristirahat. Gadis itu tak mampu menolak. Berpamitan pada Rangga dan mengucap banyak terima kasih sebelum meninggalkan ruangan.


"Anda juga Tuan Rangga, maaf bukan berniat untuk mengusir namun sekarang hari sudah semakin malam."


"O, tidak masalah, Anastasya. Aku juga berniat untuk pulang." Pria itu bangkit dan membawa serta paper bag berisikan kue kering pemberian Natasya. Ya tuhan gadis itu sungguh manis sekali.

__ADS_1


"Anastasya, terimakasih atas waktu serta makanan yang sudah kalian persiapkan. Andai aku bisa berdiri, menjadi kepala keluarga diantara kalian, sungguh aku tak keberatan. Anastasya, aku permisi." Rangga menundukan kepala sebelum berlalu pergi. Meninggalkan Anastasya yang berdiri lunglai saat ucapan Rangga sukses membuat hatinya porak poranda.


Tbc.


__ADS_2