CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tak Baik-Baik Saja


__ADS_3

Hadapi beratnya hidup dengan berpegang teguh pada pendirian juga diiringi dengan kesabaran. Isabel dengan kehati-hatian membersihkan setiap sudut ruang kerja tuannya. Meski setiap malam, sebelum pulang ia akan membersihkan ruangan Erich, namun pada pagi harinya pun ia akan membersihkan ulang ruang itu kembali sekaligus memastikan jika hasil kerjanya sempurna tanpa cela.


Isabel menuju pantry selepas dari ruang kerja Erich. Dengan secangkir kopi, mungkin saja bisa mengusir rasa lelah selepas bekerja.


Jemari lentik itu dengan lihai mulai meracik kopi. Kopi racikan yang sama seperti yang Erich minum selama ini.


Ck, aku bahkan mulai menyukai kopi favorit tuan Erich. ups..


Isabel tergelak dalam hati. Kenapa fikirannya justru tertuju pada Erich.


Beberapa jam berlalu. Isabel masih bersantai di ruang kuhusus OG. Ada rasa penasaran menyelinap, kenapa hingga saat ini Erich belum minta dibuatkan secangkir kopi? Ini tidak biasa. Diwaktu seperti saat ini biasanya Erich sudahmenghabiskan dua cangkir kopi buatannya. Tapi hari ini, kenapa berbeda.


Ah, mungkin saja tuan Erich bosan. Em, atau kopi racikanku yang sudah tak lagi nikmat?


Isabel termanggu. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Hendak bertanya pada Starla, tetapi untuk apa. Ia bahkan hanya seorang OG yang pastinya hanya dianggap serpihan debu oleh pria seperti Erich.


Hingga waktu kerja berakhir, secangkir kopi yang berharap dipesan Erich pun nyatanya tak ia buat. Sungguh, hari ini sepertinya Erich benar-benar tak menginginkan kopi buatannya. Ada sedikit rasa kecewa yang gadis itu rasakan. Ia hanya mampu menatap pintu ruang CEO yang sedari tadi tertutup rapat. Isabel melangkah gontai memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar dan pulang.


Huh, karna kopi aku bahkan selalu mengingatmu tuan Erich.


💗💗💗💗💗


Isabel masih menunggu angkutan umum saat ponsel yang tersimpan di dalam tasnya berdering. Nampaknya sebuah panggilan dari Ratih membuat gadis itu dengan cepat mengangkatnya.


"Iya bi, ada apa?"

__ADS_1


" ........."


"Hem, sekarang?"


" ......."


"Baiklah, aku akan sampai beberapa menit lagi." Bertepatan dengan terputusnya panggilan, sebuah taksi melintas di hadapannya. Sontak Isabel pun melambaikan tangan sebagai isyarat. Sang Sopir yang sudah faham lantas berhenti dan membawa Isabel menuju alamat yang penumpangnya itu sebutkan.


Tak butuh waktu lama hingga Isabel turun di depan rumah berukuran mungil di dalam sebuah gank. Di sini kediaman Retno berada.


Perempuan paruh baya itu tergopoh menyambut, membuka pintu rumah dengan di temani oleh Ratih yang berdiri di sampingnya. Retno dan Ratih adalah kakak beradik kandung. Ratih sendiri adalah pelayan di keluarga Isabel, sementara Retno bekerja sebagai OG di pada perusahaan keluarga Erich.


Isabel tersenyum senang lantas menyalami kedua paruh baya itu. Retno terlihat lebih sehat dan juga segar. Bahkan cara berjalannya pun terlihat normal. Mungkin kondisi tubuhnya sudah membaik seperti sedia kala dan itulah yang mungkin menjadi alasan kenapa Isabel diminta untuk datang.


"Mari masuk nona." Retno yang begitu sumringah menarik lembut tangan Isabel dan membawanya untuk duduk di sebuah kursi.


"Bibi, tidak usah repot-repot." Isabel dibuat tidak nyaman.


"Bagaimana pekerjaan nona? Em menyenangkan?" Retno yang duduk di kursi berbeda dengan Isabel, serius bertanya.


"Seperti biasa bibi dan beruntungnya hari demi hari Abel seperti mendapat kemudahan untuk beradaptasi dengan orang-orang diperusahan," jawab Isabel sedikit menjabarkan.


"Syukurlah, bibi merasa senang." Paruh baya itu tersenyum. Tetapi kenapa justru Isabel yang dilanda kekhawatiran.


Ratih muncul dengan nampan berisi 3 cangkir teh hangat dengan kepulan asap tipis yang meliuk di atas permukaannya.

__ADS_1


"Teh-nya nona. Cocok untuk penghangat badan saat cuaca dingin seperti ini."


Hem, aroma melati tercium samar. Ratih mengangsur secangkir teh pada Isabel dan Retno juga dirinya sendiri. Ketiganya berbincang seraya menikmati secangkir teh melati yang begitu hangat menyentuh tenggorokan saat diteguk.


"Begini nona, menurut Mba yu Retno, kesehatannya kini sudah membaik bahkan sudah pulih. Jadi seperti kesepakan diawal jika Mba yu Retno sembuh maka ia pun akan kembali bekerja seperti semula."


Isabel terdiam. Meski tak diucap secara spesifik namun Isabel fahamJika secara tidak langsung Retno meminta kembali pekerjaan yang sempat paruh baya itu titipkan padanya.


"Em bibi ingin kembali bekerja? Sudah merasa lebih baik?"


Retno mengangguk.


Isabel tergelak.


"Maka dengan senang hati Isabel menyerahkan kembali wewenang yang dulu sempat bibi titipkan. Terimakasih banyak atas pelajaran yang sudah Isabel dapat. Tentu berkat bibi, Aku bisa mendapat banyak ilmu dan juga teman baru. Terimakasih." Tentu semua terucap tulus dari lubuk hati terdalam Isabel.


Berkat Retno ia bisa mengenal sosok Erich, yang nyatanya mengilai kopi buatannya. Mungkin hanya itulah nilai plusnya bagi Erich padanya. Hingga setelah ini pun, gadis itu tak yakin jika akan seseorang yang akan memintanya untuk membuat kopi yang seperti tuannya inginkan itu lagi.


"Justru bibi-lah yang seharusnya berterimakasih. Jika bukan nona yang pasang badan untuk menggantikan bibi saat itu, mungkin kini bibi sudah tak punya pekerjaan lagi. Bibi pasti sudah dipecat."


Ingatan Isabel kembali tertuju pada hari pertama ia memasuki gedung pencakar langit itu sebagai OG pada saat itu sebagai pengganti Retno untuk sementara waktu. Sejujurnya tak mudah, mengingat Retno harus memohon pada atasan untuk mengizinkan Isabel bekerja meski saat itu minim pengalaman, terlebih dikhususkan untuk membersihkan ruang CEO yang selalu menuntut kesempurnaan.


Benar saja. Di hari pertama Seorang Manager sudah menegurnya, bahkan dihari kedua justru sang CEO sendiri yang memakinya.


Isabel menghela nafas. Perjuangannya harus terhenti di sini. Meski sejujurnya ia masih ingin terus melangkah.

__ADS_1


Seseorang muncul dari balik pintu depan, ketiganya terdiam sesaat. Rupanya anak dari Retno pulang selepas bermain dari salah satu rumah teman sebayanya.


Pembicaraan pun kembali berlanjut. Namun sepertinya sudah tak semenarik diawal bagi Isabel. Entah apa yang tengah gadis itu fikirkan saat ini, namun satu yang pasti ia sedang tak baik-baik saja malam ini.


__ADS_2