
Praja Diwangka akhirnya bisa bernafas lega saat kasus yang melibatkan Istri ke duanya telah usai di meja persidangan. Arum dijerat dengan pasal berlapis dan mendapatkan hukuman Sepuluh tahun penjara dipotong masa tahanan. Sementara Larasati mendapat keringanan mengingat dirinya hanya terseret dalam beberapa tindakan kriminal yang diskenario oleh sang ibu tanpa mengikut sertakan dirinya untuk masuk lebih jauh ke dalamnya.
Rumah Praja yang sempat menjadi rebutan beberapa pihak, diserahkan kembali setelah menimang dan berlandaskan pada bukti-bukti yang ada. Sementara sebuah rumah dan aset lain yang semula diberikan pada Arum semasa menikah, sudah menjadi hak milik perempuan tersebut.
Palu sudah diketuk. Vonis hakim pun sudah ditentukan. Praja dan Isabel bisa bernafas lega dan bisa menjalani kembali hidupnya tanpa adanya Arum dan Larasati seperti hari-hari sebelumnya.
Di kursi pesakitan Larasati menundukan kepala. Air matanya mengalir namun sebisa mungkin ia menahan suaranya untuk tak keluar. Arum sendiri tak nampak datang dipersidangan terakhir. Ketamakan dan Ambisi membuat Arum tak bisa menerima kenyataan hingga mengamuk dan menyakiti diri sendiri di dalam sel. Arum depresi, hingga para tim kepolisian mengirimnya ke rumah sakit jiwa untuk proses kesembuhan yang sayangnya justru membuat kejiawaan Arum kian memburuk.
Erich membawa Isabel dan Praja untuk keluar dari ruang sidang. Dari sudut mata Isabel masih bisa melihat saat Larasati berjalan diapit falam pengawasan petugas. Saat mereka berpapasan, Larasati meminta izin kepada petugas untuk berbicara dengan Isabel sejenak.
"Isabel, Ayah juga Erich, aku minta maaf. Atas semua kejahatan yang aku dan ibuku lakukan, aku mohon berikanlah kami maaf. Kami menyesal." Gadis itu terisak. Bulir bening kembali mengalir dari sudut mata gadis berkemeja putih tersebut. Wajah cantik nan angkuh yang beberapa tahun selalu dipamerkan, kini berganti dengan wajah pucat nan sembab yang membutuhkan belas kasihan.
Praja melengos sementara Erich tak merespon, hanya Isabel yang tersenyum seraya menganggukan kepala sebelum Larasati dibawa paksa oleh para petugas agar lekas berjalan dan menaiki mobil tahanan. Gadis itu tak berontak, dengan langkah lemah ia menaiki mobil tahanan dengan diapit dua petugas wanita.
Dari kejauhan Isabel menatap mobil tahanan yang mulai bergerak menjauhi gedung pengadilan. Meski di satu sisi ia lega namu di sisi lain ia merasa bersalah. Kebebasan yang terenggut membuat masa muda Larasati pasti akan dihabiskan di dalam sel tahanan. Mengikis harapan dan indahnya pernikahan yang mungkin pernah gadis itu idamkan.
Isabel menghela nafas dalam. Sebagai gadis yang memiliki usia tak beda jauh dari saudara tirinya, gadis itu faham sesedih apa perasaan Larasati saat ini. Bukan hanya tentang hidup, tetapi mimpinya juga seakan musnah seiring jeruji besi yang mengukung pergerakannya. Tetapi apa mau dikata. Hukum tabur tuai pasti berlaku. Siapa menanam, dialah yang menuai hasil. Baik itu baik atau pun keburukan.
"Sayang." Isabel tersentak saat satu tangan Erich mengusap bahunya. Kesadarannya terkumpul selepas lamunannya akan Larasati.
"Ya," jawab Isabel seraya mendongak. Postur tubuh Erich yang menjulang membuat gadis itu sedikit kesusahan saat harus menatap wajah sang kekasih jika tidak memakai sepatu ber hak tinggi.
__ADS_1
"Kita pulang. Sopir sudah lebih dulu membawa Ayah, jadi kita akan pulang berdua saja." Senyum di bibir pria itu terukir. Ia juga menarik lembut tangan Isabel untuk membawanya ke area parkir. Pulang dan menikmati perjalanan hanya berdua.
Ini momen langka. Saat sepasang kekasih itu hanya jalan berdua dan berada dalam satu mobil yang sama. Meski sudah terikat dalam hubungan pertunangan, namun karna kesibukan Erich membuat pria muda berbadan tegap itu tak memiliki banyak waktu walau untuk sekedar berjalan-jalan dengan Isabel. Begitupun Isabel, selama menunggu sang kekasih bekerja ia hanya akan menghabiskan waktunya di dalam rumah. Memasak, menjaga sang Ayah atau berkumpul dengan Bibi pelayan rumah Erich sebagai pengusir rasa bosan. Begitulah keduanya, meski berada dalam rumah yang sama, mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk bisa bicara berdua.
Erich sengaja memutar arah. Tak langsung pulang dan justru membawa Isabel singgah ke taman kota. Langit yang berkabut juga semilir angin yang terasa sejuk membuat taman tersebut cukup banyak didatangi pengunjung.
Di bawah pohon nan rindang Erich membawa Isabel untuk duduk di sebuah kursi kayu yang tepat menghadap kolam buatan yang dihuni beraneka ragam ikan hias dengan berbagai warna. Keduanya duduk berdampingan seraya bergengam tangan. Erich menatap wajah Isabel, saat melihat bibir gadis itu tersenyum, Erich pun ikut tersenyum. Hah, dunia terasa begitu indah saat dinikmati bersama orang tercinta.
"Kau suka?"
Gadis yang ditanya pun menganggukan kepala dan menjawab, "Suka, sangat suka." Isabel tersenyum senang. Ia begitu menikmati suasana taman hijau yang dikelilingi bunga-bunga bermekaran. Erich masih tak mengalihkan pandangan dari gadis di sampingnya. Tersirat rasa tak percaya saat dirinya akan menambatkan hati pada gadis yang usianya jauh lebih muda darinya. Usia sang gadis bahkan belum menginjak dua puluh tahun, akan tetapi kedewasaan sang gadis terbilang jauh dari usianya kini. Hal tersebutlah membuat Erich mantap dan ingin melanjutkan hubungan kejenjang berikutnya.
"Isabel," panggil Erich. "Lihat itu," tunjuk sang pria pada objek tak jauh darinya dengan mata berbinar di mana gadis kecil tengah bermain lempar bola bersama kedua orang tuanya. Keluarga itu begitu bahagia. Gadis kecil tertawa rianf, begitu pun dengan kedua orang tuanya.
"He'em." Isabel mengikuti arah telunjuk Erich. Reaksi yang ditunjukan Isabel tentu tak berbeda dengan Erich. Gadis cantik itu tersenyum lebar, ia seolah bisa merasakan kebahagian yang kini dirasakan keluarga kecil tersebut.
"Aku bahkan sudah memimpikan saat kita memiliki anak dan bermain dengan mereka. Pastinya, sungguh menyenangkan." Fikir Erich menerawang jauh di mana masa kecilnya dulu tak bebas ia gunakan untuk bermain. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk belajar dan belajar. Meski sang Ayah tidak pernah membebani, namun sebagai calon pewaris perusahaan Atmadja grup membuatnya sadar jika otak dan kerja kerasnya kelak dibutuhkan, hingga tak ada kata baginya untuk main-main. Disiplin dan bekerja keras, itulah petuah Arka yang Erich terapkan dalam hidup, hingga terbentuklah figur seorang Erich Surya Atmadja, seperti saat ini. Sosok pria tegas dan mandiri yang sukses merajai dunia bisnis diusia muda.
Mendengar kalimat yang terucap dari bibir sang kekasih membuat gadis itu mengulum senyum. Hatinya seperti tergelitik. Jika ditilik dari sudut pandang keluarga Erich, tentu pria tersebut tak kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua, mungkin sama dengannya saat mendiang sang ibu masih hidup.
__ADS_1
"Kau hanya tersenyum tapi tak menjawab ucapanku?" Erich berdecak. Ia geleng kepala, pura-pura tak habis fikir dengan tingkah sang kekasih.
"Tunggu kita menikah, baru Kakak berfikir untuk punya anak. Bukankah lebih baik jika seperti itu?"
Erich terdiam. Sepasang matanya membola saat Isabel justru tergelak saat menjawab pertanyaannya.
"Isabel."
"Ya."
"Berhentilah menggodaku." Gadis itu tak tau jika setia gerak geriknya membuat Erich kerap kali hilang akal. Gemasnya, tingkah polosnya, Erich bahkan sudah tidak sabar untuk menerkamnya.
"Kenapa?"
Sepasang alis sang gadis mengkerut dan sepasang matanya bergerak indah layaknya boneka. Membuat Erich tak tahan untuk tidak mengucapkan, "Aku bahkan sudah tidak sabar untuk menikahimu."
Keduanya terdiam. Isabel terlihat syok saat mendengar pengakuan dari Erich. Sementara pria tampan itu sendiri, beberapa saat langsung membekap mulut. Matanya terpejam seolah menyesali pengakuan yang baru saja ia ucapkan.
Aku keceplosan.
Tbc
__ADS_1