CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Andara Murka


__ADS_3

Jika Erich dan Isabel tengah berbahagia dan tengah mereguk manisnya cinta sebagai sepasang pengantin baru, maka berbeda halnya dengan apa yang dirasakan oleh Sandara. Malam itu setelah diusir langsung oleh Arka, gadis bermata bulat itu tak pulang ke apartemen melainkan ke kediaman orang tuannya.


Bangunan dua lantai yang tampak megah itu menjadi tempat Sandara untuk kembali. Begitu turun dari sebuah taksi, seorang penjaga keamana tergopoh membuka gerbang.


"Nona," ucap sang penjaga seperti tak percaya jika Nona mudanya datang bertamu sepagi buta ini.


Wajah angkuh itu tak merespon. Abai dan terus melangkah untuk memasuki rumah.


Senyap, hanya ada bibi pelayan yang membuka pintu utama untuknya.


"Nona, perlu bibi buatkan minum?" Bibi pelayan itu takut-takut beryanya. Wajah angkuh tanpa senyum Nona mudanya saja sudah membuatnya ketakutan.


"Tidak usah, aku ingin beristirahat." Sandara menaiki satu persatu anak tangga yang menjadi penghubung lantai pertama dengan lantai ke dua di mana kamar pribadinya berada.


Sang pelayan hanya menatap punggung nona mudanya hingga menghilang di ujung tangga.


Aku bahkan sudah mengurus anda sedari lahir, nona muda. Akan tetapi sedikit pun anda tidak bisa menghargai saya meskipun hanya sebatas pelayan. Berbahagialah, nona. Meski anda kerap berbicara kasar, tapi percayalah. Dari hati terdalam, saya pun selalu berdoa untuk kebahagiaan anda, Nona muda.


Sandara menghempaskan tubuh di atas ranjang king size di kamar pribadinya. Bukan tubuhnya saja yang lelah tapi juga fikirannya. Kejadian beberapa jam lalu masih membekas jelas dalam ingatan, yang mana membuat Sandara menarik nafas dalam dan memejamkan kedua mata.


Pintu kamar terbuka, seiring sesosok tubuh perempuan berbaju piama muncul dari balik pintu.


"Hei, bukankah kau sedang di kota xx untuk menghadiri pesta saudara kembar kekasihmu? Lalu kenapa kau ada di sini?" Andara mengerutkan kening, terkejut dengan kedatangan tiba-tiba sang putri yang membuatnya bertanya-tanya.


"Aku gagal." Hanya satu kalimat itu yang keluar dari bibir Sandara.


Andara yang berdiri seraya melipat tangan di depan dada di hadapan sang putri kembali mengerutkan kening.


"Apa?"


"Aku gagal." Ulang Sandara sekali lagi dengan suara lebih keras. Gadis itu masih bertahan diposisinya semula. Terbaring dengan memejamkan kedua mata.

__ADS_1


"Ka-u, kau gagal, mak..."


"Aku gagal Mama, misiku untuk mengagalkan pernikahan Erich tak berhasil. Hubunganku dengan Ernest sudah berakhir dan bahkan orang tua Ernest tega mengusirku dari rumah Erich setelah aku ketahuan. Mama puas sekarang?"


"A-apa, maksudmu?" Andara kebingungan mencerna ucapan sang putri. Terbata-bata ia menjawab. Menggagalkan pernikahan Erich? hubungan berakhir? Diusir? Sungguh tiga kata yang ia tak sangka-sangka keluar dari bibir sang putri.


"Apa masih kurang jelas. Rencanaku gagal, berarti apa yang menjadi obsesi Mama selama ini untuk menghancurkan keluarga Zara juga gagal!"


Andara tersentak, spontan ia menarik tangan sang putri yang semula terbaring untuk bangkit. Sepasang mata Andara menatap tajam pada mata putrinya selepas keduanya berpandangan.


"Katakan apa maksud ucapanmu Sandara? Bukankah kau menghadiri pernikahan Erich sebab orang tua kekasihmu itu juga akan mengumumkan pertunanganmu dengan Ernest? Lalu apa yang kau bilang, kau bermaksud menggagalkan pernikahan Erich? Waw, kenyataan macam apa ini?" Sandara ternganga. Tak habis fikir. Kenyataan yang ada justru diluar skenario.


Rencana yang ada hanyalah Sandara yang menghadiri pernikahan Erich sekaligus mengungumkan pertunangannya dengan Erich pada kerabat dan rekan keluarga Atmadja. Hanya sedikit lagi langkah Sandara untuk bisa menggengam Ernest dalam kendalinya. Dengan menikah, tentu Sandara lebih leluasa untuk mendominasi kehidupan Ernest sekaligus melancarkan aksinya untuk membalaskan dendam sang ibu yang begitu terobsesi untuk menghancurkan hidup Zara.


Akan tetapi, kenyataan yang terjadi justru diluar ekspektasi. Andara yang mulai tersulut emosi, mengarahkan satu tangan untuk menjambak rambut panjang sang putri.


"Aww," pekik Sandara seraya meringis kesakitan.


"Anak bo*oh," umpat Andara murka. "Tugasmu hanya terfokus pada Ernest tapi kenapa kau selalu melirik pada Erich!"


Andara mengarahkan satu tangan untuk menampar pipi putih putrinya, hingga memerah.


Spontan Sandara memegang pipinya yang terasa perih dan sakit akibat tamparan. Air matanya bahkan sudah menganak sungai akibat rasa sakit yang menjalar di pipi dan juga batinnya.


"Andara! Apa yang sudah kau lakukan pada putriku?" Teriakan seorang pria spontan memenuhi ruangan. Andara tersentak. Pandangan yang semula terfokus pada sang putri kini berpindah pada sosok pria yang tergopoh memasuki kamar. Sandy, pria yang tak lain adalah suami dari Andara itu lekas memeluk sang putri dan menangkannya saat gadis itu menangis.


"Tenang, sayang. Sudah jangan menangis. Ada Ayah di sini yang akan melindungimu." Sandy mengusap puncak kepala sang putri sementara Andara langsung melengos. Enggan menatap pemandangan yang membuatnya terasa perih.


"Andara, ibu macam apa kau ini yang tega menampar putrinya sendiri?" Sandy bertanya pada Istrinya seraya menatap pada bekas tamparan di pipi putrinya yang meninggalkan bekas kemerahan. Ah itu pasti menyakitkan.


Andara tersenyum sinis. Sandy menanyakan dirinya sebagai ibu macam apa, lalu dia?.

__ADS_1


"Aku ibu macam apa? Lalu kau sendiri?" Andara terlihat membalik tanya. Sandy menghela nafas. Emosi dan kewarasaanya seakan diuji saat harus terlibat pembicaraan dengan sang istri.


"Jika kau menanyakan ibu macam apa diriku ini, seharusnya kau perlu berkaca diri sebelum berani menanyakannya. Kau sendiri Ayah macam apa? Hah, ayo katakan, Ayah macam apa kau ini?"


Sandy masih terdiam. Meski dadanya turun naik menandakan emosi yang mulai naik, namun sebisa mungkin pria itu taham.


"Kenapa tak dijawab, kau diam seakan tak bisa menjawab pertanyaanku. Apa kau malu jika putri kesayanganmu ini tau dan malah memusuhimu?"


"Andara, berhenti berbicara yang tidak-tidak."


"Kenapa? Aku hanya membalik pertanyaan yang sempat kau lemparkan padaku, apa itu salah?"


Sandy mulai meradang namun ia pun tak bisa berbuat banyak saat sang putri masih ada dalam pelukan. Lewat pandangan dirinya hanya meminta pada Andara untuk menghentikan perdebatan.


"Katakan apa kau masih bisa disebut Ayah saat aku harus kehilangan anakku sendiri hanya untuk memikirkanmu."


Glek.


Sandy menelan salivanya susah payah. Tidak, Andara tidak boleh mengatakan semua ini pada Andara. Tidak boleh.


Sandara yang masih terisak dalam dekapan sang aya, mengernyit. Tak mengerti akan ucapan sang ibu.


"Ayahku bahkan membayar mahal seorang jaksa dan para polisi untuk bisa mengeluarkanmu dari balik jeruji besi, hanya karna janin yang bertumbuh dirahimku butuh sosok seorang ayah. Kau menghirup udara bebas, kau juga menikmati harta Ayahku tapi kau sama sekali tak menghargai kami, terlebih aku. Dalam keadaan hamil aku harus menerima kenyataan pahit saat kau terus menyebut nama Zara. Memangil bahkan meminta maaf meski dalam mimpi. Apa kau kira aku tak bisa mendengarnya?"


Sandy tercekat. Inilah yang ia takutkan. Saat sang putri mengetahui kenyataan.


"Janin dalam rahimku bahkan harus lurih saat aku stress karna memikirkanmu. Adikmu meninggal Sandara, bahkan sebelum sempat dilahirkan dan itu karna Ayahmu yang sibuk memikirkan Zara tanpa mempurdulikan kehadiranku!"


Sandara terbelalak, spontan ia melepas pelukan dan mendorong tubuh sang ayah agar menjauh darinya.


"Jadi jika kau menganggap jika Mama terobsesi untuk menghancurkan hidup Zara tanpa alasan, maka kau salah besar, putriku."

__ADS_1


Sandara terhenyak. Gadis itu masih terlihat syok begitu mendengar sebuah pengakuan dari sang ibu. Pengakuan yang justru membuat rasa sayang pada sang mulai memudar.


Tbc.


__ADS_2