CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Uji Kelayakan


__ADS_3

Pernikahan Erich dan Isabel hanya tinggal menghitung hari. Seluruh persiapan hampir seratus persen terselesaikan. Meski mempelai perempuan hanya menginginkan akad dan pesta yang sederhana, namun keluarga besar dari kedua belah pihak diwajibkan hadir pada prosesi sakral yang rencana digelar disebuah hotel yang masih menjadi jaringan Atmadja grup.


Thomas yang merupakan paman dari Isabel, sudah lebih dulu sampai ke kota XX dengan membawa keluarga besarnya. Pria itu tak mampu menyembunyikan binar bahagia saat mendengar jika keponakannya dipersunting oleh salah satu putra konglomerat.


Meski diliputi banyak pertanyaan tentang bagaimana bisa keponakannya bisa mengenal Tuan muda Erich, namun sebisa mungkin ia simpan untuk dirinya sendiri. Isabel gadis cerdas, ia yakin jika memilih Erich untuk menjadi.pendamping hidup pastilah sudah dipertimbangkan gadis tersebut sedari awal.


Thomas bersama istri dan putrinya bergantian memeluk Isabel. Saat ini Erich memang sudah mempersiapkan sebuah rumah berukuran luas sebagai tempat tinggal sementara bagi Isabel beserta keluarga sebelum pernikahan digelar. Selepas melepas rindu, Thomas menemui Praja. Membicarakan banyak hal tentang persiapan pernikahan sekaligus calon mempelai prianya. Praja pun tak menutupi, ia membuka menggambarkan seperti apa sosok Erich sepengetahuannya, tak menguragi juga tak menambahi. Dari pribadi Praja sendiri, dirinya cukup mengagumi calon menantunnya yang baik dan pekerja keras. Ia pun tak sedikit pun ragu untuk melepaskan putri kandungnya untuk hidup bersama pria yang berniat meminangnya.


Untuk segalanya yang menyangkut acara pernikahan, keluarga Isabel tak lagi direpotkan. Erich sudah mempersiapkannya dengan baik termasuk gaun yang akan dipakai mempelai wanita pada saat akad dan resepsi. Lagi, Praja dibuat kagum. Erich benar-benar menunjukan rasa tanggung jawabnya, yang mana membuat pria paruh baya itu kian mantap menyerahkan putri sematawayangnya kepada pria yang dirasa tepat.


Sementara itu di kediaman kedua orang tua Erich situasinya juga tak jauh berbeda. Mereka juga disibukan dengan berbagai persiapan sebelum terbang ke kota XX, di mana rumah pribadi Erich berada.


Di ruang keluarga Arka dan Zara juga Emely duduk berkumpul, sementara beberapa tim perancang busana khusus keluarga Atmadja tampak disibukan dengan pekerjaannya. Mengukur dan merekomendasikan beberapa model pakaian sesuai dengan tema dan keinginan.


Sebagai keluarga inti tentu Erich sendiri sudah memberi contoh dan rancangan pakaian yang akan dikenakan oleh mempelai juga keluarga Isabel, hingga keluarga intinya hanya perlu menyesuaikan.


Zara dan Arka tentu tak keberatan. Lagi pula motif pakaian yang sudah dipilih terbilang mewah, mengingat itu pun sudah dipilih khusus oleh Erich juga atas persetujuan Isabel.


Emely bertepuk tangan riang. Ia sudah menemukan rancangan yang susuai dengan keinginan selepas berkonsultasi dengan salag seorang tim. Disusul Zara kemudian Arka. Mereka sudah menentukan keinginan masing-masing. Emely bahkan sudah tak sabar, melihat penampilannya nanti saat mengenakan gaun indah sesuai dengan keinginannya.


Sam dan Kiara juga putranya tak mau ketinggalan. Mereka juga rencananya akan mengunakan pakaian dengan motif dan warna yang sama dengan yang dikenakan oleh kedua mempelai.


Diantara para keluarga inti, kini Ernest belum terlihat. Pria yang memiliki paras serupa Erich itu sedang menjemput sang kekasih yang rencananya akan dibawa dan diperkenalkan sebagai calon tunangannya dipesta pernikahan sang saudara kembar.


"Ernest belum datang?" Tanya Arka seraya menatap ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


Zara menyisir pandang ke sekitar. Ia masih tak menemukan Ernest di mana pun.

__ADS_1


"Sepertinya belum."


Arka menghela nafas. Ia bersama Sam harus segera kembali ke kantor. Tetapi sepertinya harus menunggu Ernest lebih dulu, untuk memastikan. Memang selerasa dalam satu keluarga biasanya tak jauh berbeda. Seperti yang biasanya mereka lakukan saat disebuah acara penting dan diharuskan memakai pakaian yang sama. Ernest dan Erich pasti juga menyukai pilihan Ayah serta Ibunya dan tak pernah menolak jika dipinta memakainya.


Derap langkah terdengar. Erest dan Sandara yang bergandengan mesra muncul dengan senyum di bibir keduanya yang terkembang.


"Maaf, kami terlambat," sesal Sandara yang melepas gengaman tangan Ernest untuk mendekat ke arah Zara kemudian mencium pipi perempuan paruh baya itu.


"Oh tidak masalah, santai saja," sahut Emely berusaha mencairkan suasana.


Selepas mencium pipi Zara kini gadis itu beralih pada Emely.


"Erich sudah menentukan bahan dan motif pakaian yang digunakan saat akad dan resepsi. Kita hanya perlu menyesuaikan saja. Kami sudah memilihnya, lihatlah." Arka menyerahkan sebuah majalah kepada putranya. "Kami sudah memilih, hanya tinggal menunggu kalian."


Ernest menerimanya dengan suka cinta. Begitu menemukan contoh model yang dimaksud, senyum di bibir rupawan itu tercetak jelas. Ia tau, saudara kembarnya memang tak pernah main-main dalam menentukan pilihan. Termasuk dalam hal pasangan hidup.


"Sayang, coba aku lihat." Sandara menyambar majalah yang masih dipegang Ernest dengan sedikit paksaan.


Dahi gadis itu berkerut hingga membentuk kerutan.


"Hah, aku rasa em... sedikit kam.. pungan." Ops.. Sandara menggigit bibir. Sementara ketiga orang di sekitarnya, tersentak. Kecuali Arka yang spontan memberi tatapan tajam pada kekasih putranya tersebut.


💗💗💗💗💗


Selepas mengantar Sandara pulang, Ernest memasuki ruang kerja Ayahnya, di mana di ruangan tersebut kedua orang tuanya sudah menunggu dengan memasang wajah tak bersahabat.


"Ayah, Ibu," sapa Ernest begitu memasuki ruangan.

__ADS_1


"Masuk dan duduklah," titah Arka tanpa dibantah putranya.


Erich seperti seorang pesakitan yang duduk di kursi persidangan. Pria itu yakin jika apa yang sedang terjadi adalah buntut dari ucapan Sandara, kekasihnya.


"Ada apa Ayah? Kenapa memanggilku ke tempat ini?"


"Jangan berpura-pura bodoh, Ernest. Peristiwa itu terjadi bahkan belum ada satu hari dan Ayah yakin jika tadi pun kau bisa mendengar dengan jelas saat kekasihmu itu bicara entah sengaja atau tidak terkesan menghina saudaramu sendiri."


Ernest menelan salivanya berat. Berulang-ulang ia menghela nafas dalam.


"Jika dulu memang Ayah terkesan tak perduli dengan pilihan serta keinginanmu. Maka mulai saat ini Ayah rasa perlu untuk ikut campur dengan pilihan dan serta masadepanmu termasuk memilih calon istri yang tepat untukmu!"


Ernest kembali menelan salivanya berat. Di kursi yang berbeda Zara pun menatapnya dengan pandangan kecewa. Ibunya memang diam, tetapi dari hatinya jelas pria tampan itu tau jika wanita paruh baya itu pasti terluka.


"Apa maksud Ayah?"


"Baiklah, biar Ayah jelaskan." Arka mengungkit kembali pada kejadian tersiramnya lengan Zara dengan air panas kemudian ucapan Sandara yang mengatakan jika pakaian pilihan Erich terkesan kampungan. Arka tak bisa menutupi kekecewaan. Bukankah Sandara yang selama ini mereka kenal adalah gadis biasa yang diangkat derajatnya oleh Ernest sesudah menjalin hubungan.


Diawal menjalin kasih hingga berjalan di tahun pertama dan kedua, Sandara memang gadis polos dan bersahaja. Akan tetapi siapa yang mengira jika sikap Ernest yang begitu memanjakannya membuat gadis sombong dan kerap bertingkah semauanya. Arka bukannya tak mengamati, hanya saja ia masih memberi kesempatan pada gadis itu untuk berubah. Tetapi nyatanya, semakin lama justru semakin kurang ajar pula perangainya.


Ernest terkesiap, tak mengira jika Sandara sudah melakukan kebohongan. Toh andai gadis itu jujur, ia pun sudah pasti akan memaafkannya.


Zara menundukan kepala. Sebenarnya ia tak mengira jika luka dilengannya akan menyulut kemurkaan suaminya sampai sejauh ini. Tetapi harus seperti apa lagi. Selamanya menutupi pun akan percuma.


"Lalu, apa keputusan Ayah dan Ibu selanjutnya?" Ernest akhirnya pasrah.


"Izinkan Ayah untuk mencari tau tentang gadis itu lebih dalam. Ayah ingin tau, selayak apa gadis itu untuk bisa berdampingan denganmu atau bahkan tidak layak sama sekali."

__ADS_1


Ernest menundukan kepala, ia kecewa tetapi tak bisa menolak keingan orang tuanya.


Tbc.


__ADS_2