CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tak Terduga


__ADS_3

Semagat terus berkobar dari para pencari rezeki di kala mentari mulai merangkak dan menyinari bumi. Para tulang punggung keluarga berjibaku dengan aktifitas kerja yang menjadi rutinitas harian mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.


Seperti para pekerja lain, seluruh staf Atmadja group pun sedang berperang dengan berbagai tugas demi mendapat lembaran rupiah. Semua bekerja keras, saling bahu membahu untuk kemajuan perusahaan. Tak terkecuali Natasya, gadis manis itu juga sedang bergelut dengan tumpukan map dari para staf, sebelum masuk ke ruangan sang atasan.


Setidaknya saat ini tak ada fikiran yang mengganjal perihal undangan makan malam dari keluarga Ernest. Ibunya sudah bersedia, itu saja sudah membuatnya sangat bahagia. Sebab jika menolak atau pun tak menghadiri undangan, tentunya dia tak sanggup untuk menampakkan diri di hadapan Ernest akibat rasa malu.


Awalnya aku kira Ibu akan menolak, huh aku bahkan hampir tak menyangka jika tanpa berfikir panjang, Ibu langsung meng-iyakan.


Tapi bagaimana nanti jika kami sudah di rumah keluarga Atmadja. Reaksi Ibu akan seperti apa?. Apa beliau akan takut dan memintaku untuk kembali pulang?.


Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Pernikahan sang Ibu dan Ayah Ernest memang sudah berlalu lebih dari dua puluh tahunan lalu. Tapi bukankah banyak kemungkinan jika orang yang berada di dalam kediaman Arkana surya atmadja masih mengenali Ibunya?.


Natasya pusing. Justru dirinya yang merasa terbebani akan undangan makan malam dari keluarga Ernest. Andai tidak ada undangan semacam itu pastilah dirinya tak akan sepusing ini.


Pintu ruangan Ernest terbuka. Pria berbadan tegap muncul dan mendekati meja kerja sang Sekretaris.


"Natasya," panggilnya kemudian.


"Ya, Tuan," jawab Natasya yang kemudian bangkit dan memberi penghormatan pada sang atasan.


"Bagaimana, kau beserta keluarga menerima undangan kami 'kan?."


"Tentu, Tuan. Nanti malam kami akan datang."


Terlihat jika pria berambut gondrong yang diikat asal itu mengulas senyum tipis. Sepertinya ia senang mendengar jawaban memuaskan dari sang Sekretaris.


"Jika kau kesulitan mencari alamat rumah kami, bagaimana jika sopirku yang akan menjemputmu beserta keluarga?."


"Ti-tidak, Tuan," tolak Natasya. "Maksud saya tidak usah. Terimakasih atas tawarannya tapi sepertinya saya bersama Ibu akan datang sendiri ke kediaman anda."


Ernest seperti menghela nafas. Nampak gurat kekecewaan dari wajahnya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku harap sebelum pukul pukul tujuh malam kau dan keluarga sudah datang," titah Ernest.


"Terimakasih, Tuan."


Ernest menjawab dengan anggukkan. Pria itu berbalik badan untuk kembali memasuki ruangan namun baru beberapa langkah kakinya bergerak, ia kembali berbalik badan.


"Untuk hari ini kau bisa pulang lebih awal. Mungkin kau butuh mempersiapkan diri untuk pesta Emely nanti." Tanpa menunggu jawaban, Ernest kembali berbalik dan memasuki ruangan. Di tempatnya, Natasya diam membeku namun dalam hati menggerutu.


Perlu persiapan? Pulang lebih cepat?. Huh, bukankah itu terdengar berlebihan hanya untuk menghadiri makan malam. Eh, tapi benar juga. Inikan bukan makan malam sembarangan.


Natasya baru tersadar jika dirinya diundang oleh seseorang yang bukan dari kalangan sembarangan. Mereka orang-orang terpandang dan para konglomerat.


💗💗💗💗💗


Anastasya memantapkan langkah kaki. Menguatkan hati serta menegakkan kepala saat bertemu dengan keluarga Atmadja. Sejak mendengar permintaan sang putri, perempuan tersebut bertekad, untuk tidak terlihat rapuh ketika bertemu orang-orang di masa lalunya. Ia seperti sedang menunjukkan jati diri selepas pergi, seolah mengatakan jika dirinya baik-baik saja meski bukan lagi bagian dari keluarga Atmadja.


Akan tetapi tekad bulat yang ia terapkan sedemikian rupa sempat oleg begitu memasuki gerbang utama kediaman keluarga Atmadja. Terlebih seorang penjaga keamanan yang mengiring pergerakan mereka, mengenal Anastasya.


Anastasya hanya menganggukkan kepala dan meminta pada sang putri untuk menjalankan kendaraan menuju rumah utama.


Inilah yang Anastasya takutkan. Bertemu orang-orang di masa lalu dan berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan mereka. Semua yang ia lihat saat ini, seperti mengingatkan dirinya akan kehidupan bersama Arka yang dilalui dengan suka dan duka. Bagunan megah yang pernah ia tinggali, halam luas yang dulu kerap ia jejaki, serta pengawal dan pelayan yang mungkin masih dapat ia kenali. Hah, Kaki Anastasya bahkan sudah gemetar. Ia seperti tak akan sanggup, akan tetapi gengaman tangan sang putri yang membuatnya kembali tersadar.


Ingat akan tekadmu, Anastasya. Hadapi dan laluilah apa yang sudah tertakdir untuk hidupmumu. Kau wanita kuat, tak ada untungnya untuk terus bersembunyi. Keluarlah, tegakkan kepala dan hadapilah hidupmu demi kebahagiaan putrimu.


Anastasya, perempuan yang masih terlihat cantik nan segar diusianya yang tak lagi mudai itu terus menyemangati diri. Merapal doa yang ia bisa untuk diberi perlindungan serta kekuatan.


Natasya mengikuti arahan seorang pengawal. Saat menuruni kendaraan dirinya sudah disambut oleh beberapa pelayan. Lagi, Anastasya terkesiap saat seseorang pelayan kembali mengenalinya.


Dia bukanlah surti. Pelayan yang mengenalinya adalah junior Surti saat dirinya masih menjadi istri Arka dulu. Perempuan bernama Santi itu hampir menangis. Dirinya tak percaya, dan Santi adalah salah satu pelayan yang bertugas mengurus semua keperluannya. Termasuk beberapa kali mengurusnya yang sepulang dari club dalam keadaan mabuk. Ya, akibat rasa Frustrasi yang melanda membuat Anastasya liar, dan kerap menyulut kemurkaan Arka karna ulahnya yang selalu kabur bila tak diawasi secara ketat.


Kedua perempuan itu berpelukan, sementara para pelayan lain saling lempar pandang.

__ADS_1


"Ibu, ada Tuan dan Nyonya Atmadja," ucap Natasya yang menangkap pasangan suami istri itu berdiri di depan pintu utama seperti sedang menunggunya. Sementara Anastasya lekas mengurai pelukan dan mengusap air mata yang mengalir tanpa bisa dicegah.


"Ka Anastasya dan Natasya, selamat datang," sapa Zara saat dirinya beserta Arka mendekat ke arah Anastasya dan sang putri. Ia mengulurkan tangan begitu pula dengan Arka.


"Selamat datang," balas Anastasya. Ia membalas jabatan tangan Zara dan juga Arka. Zara dan Anastasya sempat berpelukan sementara Arka menatap mereka dengan pandangan haru dan bahagia yang tak dapat diungkap dengan kata.


Ketika tangan Anastasya dan Arka bersentuhan, keduanya seperti kembali diingatkan pada kejadian silam.


"Maaf Anastasya. Sudah kukatakan jika aku tak akan pernah bisa menuruti kehendakmu untuk melakukan hal itu, dan aku tau kau pasti mengerti apa alasannya. Mulai sekarang, berhentilah untuk menggodaku."


Kalimat Arka bertahun silam kembali bergema di gendang telingga, hingga secara spontan Anastasya melepaskan tangan Arka yang masih menjabatnya. Arkana Surya Atmadja, Anastasya akui jika pria tersebut tak mengalami banyak perubah. Tubuhnya tetap tegap, wajahnya masih segar dan awet muda, serta ketampanannya yang seakan tak luntur dimakan usia.


Siial, kenapa aku justru terfikir pada hal itu.


Coba berdamai dengan keadaan. Zara dan Arka membawa serta Anastasya dan putrinya untuk memasuki tempat acara. Ruang makan yang sudah disulap sedemikian rupa.


Ernest muncul dan menyambut kedatangan Sekretarisnya. Pria muda itu menyapa Anastasya begitu ramah. Jujur, Anastasya kagum. Dari segi paras memang Ernest mewarisi paras kedua orang tuanya dengan bagian yang seimbang. Begitu pun Emely, gadis yang pada malam beeulang tahun itu terlihat begitu cantik, juga menyambut ramah kedatangan Natasya bersama Ibunya.


Pada malam itu Natasya juga Anastasya sudah mempersiapkan dua buah kado yang diterima Emely dengan penuh suka cinta. Meski tak menebak isinya, namun Emely begitu berterimakasih sebab temannya tersebut sudah meluangkan waktu untuk datang dan repot-repot mempersiapkan kado.


Tak ada orang lain. Di meja makan tersebut hanya ada Zara, Arka beserta dua putra putri mereka serta Natasya dan Ibunya. Anastasya tentu merasa lega, setidaknya tidak ada seseorang yang tak ingin ia temui ikut makan malam.


Makan malam yang terasa hangat. Terlihat wajah berbinar Zara. Momen seperti ini tentu sudah menjadi inginnya sejak lama. Mengumpulkan anak-anaknya serta anak Anastasya dalam satu ruangan dan berbicara bersama.


Arka pun demikian. Ia bahkan bisa menangkap signal kedekatan dari putranya pada putri Anastasya. Ya, mereka memang partner kerja, tapi mereka terlihat begitu nyaman saat bersama.


"Maaf semuanya, aku datang terlambat."


Suara seseorang yang baru muncul di antara mereka membuat tubuh Anastasya menegang. Tangan yang sedari tadi ia gunakan untuk menyendok makan, mendadak lunglai tak bertenaga.


Tidak, aku harap bukan dia yang datang.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2