CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Perjalanan


__ADS_3

Hari yang dinanti Natasya dan Anastasya pun tiba. Ibu dan Anak itu sudah bersiap sedari pagi buta, sedangkan keberangkatan mereka terjadwal masih empat jam kedepan. Beberapa koper milik keduanya pun sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Keberangkatan kali ini ke Negara XX rupanya sudah terencana dengan matang, dan hanya tinggal menunggu Ernest yang katanya ingin ikut serta.


"Nak, kau yakin jika Ernest akan benar-benar ikut?." Tak berbeda jauh dari reaksi sang putri pertama kali kala Ernest mengucapkan tentang inginnya untuk ikut ke Negara XX. Tidak percaya dan merasa sanki jika Ernest benar-benar akan pergi bersama mereka.


Natasya yang sedang memasukaan beberapa barang pribadi barang ke dalam sebuah tas jinjing, mengendikkan bahu.


"Entahlah, tetapi dari ucapannya semalam saat di kantor dan lewat sambungan telefon, beliau bilang jika akan ikut dan meminta kita untuk menunggu."


"Tapi Ibu tidak yakin," lirih Anastasya.


"Setidaknya kita tunggu paling lama satu jam lagi, jika tidak datang. Maka terpaksa harus kita tinggalkan." Setidaknya tidak ada salah bila memberi Ernest waktu. Toh jadwal penerbangan masih beberapa jam lagi.


"Ya sudah." Anastasya tak bisa menolak. Lebih baik ia memeriksa kembali barang-barang yang hendak dibawa andai ada yang masih tertinggal.


Detik dan menit mulai terlewati. Tiga puluh menit sudah berlalu namun tanda-tanda kedatangan Ernest belum jua terlihat. Apa pria itu sengaja mempermainkan Natasya, dan bermaksud untuk mengerjainya?. Tetapi itu sama sekali tidak lucu, Ernest. Terlebih dalam situasi seperti ini.


"Natasya, mana?. Kita sudah menunggu lebih dari tiga puluh menit." Anastasya mulai tak sabar. Atau lebih tepatnya mereka sudah lelah menunggu.


Natasya menghela nafas. Ia pun cemas dan berulang kali mengecek waktu lewat jam tangan yang melingkar di pergelangan.


"Kita tunggu sebentar lagi, Ibu. Mungkin Tuan Ernest masih berada dalam perjalanan." Natasya hanya bisa menenangkan sang Ibu mungkin hanya untuk sementara waktu. Setelah ini, jika Ernest masih belum jua muncul maka Ia pun tak bisa berbuat banyak selain meninggalkannya.


Harap-harap cemas keduanya menunggu di ruang tamu. Waktu terus berlalu namun tetap saja, Ernest belum terlihat.


"Natasya, ayo. Jika tidak berangkat sekarang, maka kita pun akan terlambat." Anastasya tak bisa menunggu lagi. Ia bangkit dari sofa dengan menenteng tas tangan dan kaca mata. Sementara Natasya pun melakukan hal sama, hanya saja pergerakannya terlihat laman dan tampak tak bersemangat.


Kuda besi yang akan mengiring perjalan mereka pun sudah dipersiapkan.oleh sang supir dengan keadaan mesin yang sudah menyala.


Baiklah. Natasya menyerah. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi, dan andai Ernest marah selepas tau ditinggalkan, biarlah itu menjadi urusan nanti setelah ia kembali.


"Natasya, Ayo." Anastasya yang sudah berada di dalam mobil, memanggil sang putri yang justru masih mematung di halaman. "Kau ini, benar-benar ya," gerutu Anastasya yang merasa gemas sendiri dengan putrinya.

__ADS_1


Setengah malas Natasya bergerak, memasuki kendaraan yang ditempati sang Ibu. Nyaris saja kuda besi yang akan membawa mereka keluar dari garasi, sebuah mobil mewah justru baru saja memasuki gerbang kediaman Anastasya, dan Natasya tau persis siapa pemilik dari kendaraan mewah tersebut.


Tuan Ernest, dia benar-benar datang.


Serasa tak percaya, bibir mungil Natasya terbuka saat Ernest keluar dari pintu mobil yang terbuka. Jins dan jaket kulit berwarna hitam tampak membungkus tubuh tegapnya. Serta rambut gondrong yang hanya diikat asal justru kian menunjukan kadar ketampanannya. Tanpa sadar Natasya mengagumi baik paras dan apa pun yang ada dalam diri Ernest. Akan tetapi ..., Natasya terkejut saat Ernest rupanya tak datang seorang diri.


"Tuan Rangga?." Natasya bergumam. Ia pun melirik pada sang Ibu yang juga terkejut dengan kehadiran Rangga.


"Maaf, kami terlambat." Ucap Ernest saat pria itu sudah mendekat, sedangkan Rangga mengekor di belakang langkah sang keponakan.


Sementara Natasya dan Anastasya masih ternganga. Keduanya sampai tak bisa berkata-kata terlebih setelah mendengar penuturan Ernest bila Rangga pun akan ikut serta untuk mengunjungi makam Kenan di Negara XX.


Sungguh diluar dugaan.


💗💗💗💗💗


Pesawat yang membawa Natasya menuju Negara XX lepas landas sekitar beberapa puluh menit lalu. Gadis berkulit bersih bak pualam itu duduk serta menyandarkan punggungnya dengan nyaman, berusaha menikmati perjalanan yang memakan waktu lebih dari dua puluh jam dengan Ernest yang tampak duduk di sampingnya. Sementara di kursi seberang tampak sang Ibu yang duduk berdampingan dengan Rangga.


Yang terjadi hari ini nyatanya diluar dari prediksi. Mereka pergi berempat sedangkan rencana awal Natasya hanya akan pergi berdua dengaan sang Ibu.


"Ya, Tuan," jawab sang gadis kemudian.


"Tadi Ibu sempat mengirim salam untukmu."


"Kembali salam."


Mendengar jawaban Natasya, Ernest pun tersenyum.


"Beliau bilang jika sudah lama tidak bertemu denganmu. Ibu bilang, beliau merindukanmu." Selepas berucap pandangan Ernest terarah pada Natasya, dan disaat bersamaan gadis itu pun juga sedang memandangnya. Kini pandangan keduanya bertemu.


Waktu serasa terhenti. Kedua insan yang dulunya tak saling kenal dan memiliki rasa itu saling mengunci pandangan satu sama lain. Tak ada yang bicara, pun dengan suasana sekitar yang semula gaduh, mendadak senyap.

__ADS_1


Waktu terus berjalan. Jika pandangan Ernest tetap terkunci pada Natasya namun berbeda halnya dengan Natasya yang memilih untuk menunduk. Gadis itu tak kuat, hingga berusaha mengalihkan pandangan namun nyatanya tak mampu mengusir pesona Ernest yang terlanjur memenuhi isi pikiran.


"Kenapa menunduk?."


Pertanyaan Ernest tak ditanggapi Natasya. Gadis itu hanya menggeleng tanpa mau menjawab.


"Natasya," panggil Ernest. Tangan pria itu terulur untuk menyentuh dagu Natasya. "Ayo, lihat aku," pinta Ernest yang berusaha mengangkat wajah sang gadis dibantu oleh jemarinya.


Natasya tak mampu menolak. Kini wajahnya terangkat sampai pandangan keduanya kembali bertemu.


"Sampai sejauh ini apa kau belum mengetahui tentang perasaanku padamu?."


Sejauh ini, perasaan?. Natasya hanya menggelengkan kepala.


Ernest geleng-geleng kepala.


"Kau sungguh tidak peka." Pria berdecak dan menjauhkan tangannya dari dagu Natasya.


"Apa maksud, Tuan. Tidak peka, memang saya harus peka pada Tuan menyangkut masalah apa?."


Daasar bocah!.


"Kau memang gadis tidak berperasaan." Ernest berbalik sikap. Memasang wajah acuh dan justru asik mengunyah makanan ringan yang disiapkan maskapai penerbangan.


Natasya gelagapan. Ia kebingungan saat sikap Ernest berubah tiga ratus enam puluh derajat setelah mendengar dirinya berbicara tentang kepekaan. Gadis itu menyentuh lengan Ernest, ingin bertanya lebih rinci lagi tentang kepekaan namun Ernest justru mengacuhkannya. Seperti bocah, Natasya merengek dan Ernest hanya acuh dengan memakan camilan. Ya Tuhan.


Sementara di kursi seberang, Rangga berdecak. Jengkel sekaligus gemas dengan tingkah muda mudi yang berdebat tak kenal tempat.


Tapi seru juga sih.


Sedangkan dirinya?. Rangga menatap ke arah Natasya yang duduk tepat di sampingnya. Rangga terbelalak. Pantas saja tak ada suara atau pun pergerakan dari arah sebelah rupanya Anastasya..

__ADS_1


"Dia malah tidur." Rangga hanya menghela nafas dalam. Tak ada pilihan lain, sepertinya ia pun harus menyusul Anastasya tidur agar bisa berdebat gemas seperti Ernest dan Natasya di alam mimpi.


Tbc.


__ADS_2