
"Begitu ceritanya tuan." Retno yang masih memeluk tubuh putrinya memaparkan sebuah kisah pada seorang pria yang sudah membantunya.
Beberapa saat lalu Retno dibuat ketakutan saat anak buah Arum hampir membawanya namun beruntung Erich datang dan menggagalkan semua.
Pria muda itu datang diwaktu yang tepat di mana Retno benar-benar mengharapkan bantuan dari orang lain. Mungkin sudah menjadi takdir saat Erich entah datang dari arah mana, bersama Agung kemudian bergerak cepat guna melumpuhkan beberapa pria yang berusaha membawa pergi Retno.
Beruntungnya lagi Putri Retno masih dalam keadaan aman di rumahnya. Dan kini demi melindungi Retno bersama putrinya, Erich membawa serta perempuan paruh baya itu ke kediamannya. Setidaknya Retno dan putrinya akan lebih aman bila tinggal bersamanya.
Erich menerawang jauh kedepan sembari mencerna ucapan panjang lebar Retno tentang keluarga Isabel, tempat saudara perempuannya itu bekerja.
Jadi benar semua kecurigaanku pada Isabel, jika dia berasal bukan dari keluarga biasa-biasa saja.
"Apakah Bu Retno bisa memperkirakan di mana gadis itu tinggal saat ini?"
Retno berfikir sejenak. Jujur, ia pun tak tau banyak tentang keluarga Praja, terlebih para saudara atau pun rekan-rekannya.
"Entahlah, tuan. Saya juga tak tau banyak tentang keluarga majikan saudara saya. Hanya saja Ratih pernah bercerita jika orang tua mendiang nyonya Laura, tinggal di ibukota dan bisa jadi mereka pun tinggal di sana sekarang. Hanya saja, mungkin Ratih sengaja memutus kontak agar keberadaannya sulit untuk dilacak."
Erich membenarkan ucapan Retno. Jika dengan orang lain saja mereka bisa berbuat nekat apa lagi dengan orang-orang terdekat yang masih dalam lingkup tempat tinggal yang sama. Erich bergidik, entah dengan hanya membayangkannya saja membuat pria ngeri.
Pria itu kini teringat akan gadis pengganti Retno. Isabel, ya Isabel.
Apa kabarmu gadis?
__ADS_1
Erich mula-mula tersenyum tipis. Pria itu tengah membayangkan sesuatu hal. Ia benar-benar merindukan kopi buatan gadis manis itu. Tetapi, gadis itu kini telah pergi jauh entah ke mana. Tanpa menyisakan apa pun.
"Lalu bagaimana dengan hidup kami kedepannya tuan?" Retno tak tau harus berbuat apa. Sang putri masih berada dalam dekapan. Ia pun masih ketakutan saat harus kembali kerumahnya.
"Sampai situasi aman, Bu Retno bisa tinggal di sini. Di area belakang bangunan ada paviliun kosong yang Ibu gunakan untuk tempat tinggal."
"Terima kasih banyak, tuan. Terimakasih." Retno menatap haru pada Erich. Pria muda itu sudah menjadi penyelamat hidupnya.
"Sementara Bu Retno tidak usah bekerja di kantor lebih dulu. Saya yakin jika mereka masih terus mencari keberadaan ibu saat ini. Sedangkan untuk masalah pekerjaan, bibi tidak perlu khawatir, nanti akan ada seseorang yang mengantikan Bu Retno untuk membersihkan ruangan saya. Sebagai gantinya, Bu Retno bisa membantu pelayan untuk memasak dan membersihkan rumah. Soal gaji, tidak perlu khawatir. Saya akan membayarnya sama dengan gaji saat ibu bekerja di perusahaan."
Ucapan Erich membuat Retno tak mampu berkata-kata. Sepasang mata perempuan paruh baya itu berkaca-kaca. Ia pun menciumi wajah sang putri yang sudah basah oleh air mata. Ibu dan anak itu kini dilingkupi rasa bahagia tiada kira. Di mana masalah berat yang ia pukul di pundak, kini seakan terlepas seiring seorang Erich yang datang tiba-tiba bak malaikat.
"Demi apa pun, terimakasih banyak tuan."
Tubuh gadis itu menegang dengan bibir mengangga. Ia masih tak percaya jika kalimat itu keluar dari bibir pria tampan yang baru pertama kali ini ia lihat. Sama seperti sang ibu, gafis itu pun tak bisa berkata-kata selain tangis bahagia yang kian menambah haru suasana.
Ah, Isabel. Entah kenapa aku jadi teringat kepadamu. Di mana kau sekarang? Apa kau baik-baik saja saat ini?
Erich menghela nafas dalam. Diantara kebahagiaan yang Retno dan sang putri rasakan, kecemasan justru kini dirasakan Erich. Mengingat tentang Isabel seakan membuka ruang terdalam hatinya. Di mana ia pernah merasakan nyaman saat gadis itu ada bersamanya. Duduk dengan jarak cukup dekat, berbincang seraya menikmati petang dari dinding kaca ruang kerjanya, tentu dengan ditemani secangkir kopi yang sampai detik ini pun Erich masih bisa merasakan seperti apa nikmatnya.
Huh...
Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku, Isabela?
__ADS_1
💗💗💗💗💗
Sementara itu di tempat yang berbeda.
Prank
Bunyi benda yang dihancurkan paksa mengisi suasana malam di kediaman Praja diwangka sejak satu jam yang lalu. Para pengawal atau pun pelayan hanya bisa menggelengkan kepala saat sedang melintas di tempat kejadian.
Ketiga pria utusan Arum itu gemetar. Pandangannya tertunduk dalam dengan tangan saling bertautan. Kegagalan misi untuk bisa membawa Retno padanya, membuat perempuan itu murka. Di ruang tam Tak ada satu barang selamat dari amukannya. Ia tak perduli semahal apa pun barang yang ia hancurkan. Baginya, ia baru merasa puas saat amarahnya bisa tersalurkan.
Setelah puas menghajar ketiga pria suruhannya, Arum beralih dengan menghancurkan furnitur mahal yang tertata apik di ruang tamu dengan tangannya.
Deru nafasnya tak beraturan. Ia kelelahan setelah melampiaskan semua amarah yang sempat merasuki jiwa.
"Pergi kalian. Enyahlah dari hadapanku. Dasar tidak berguna!" Suara itu melengking. Nyaris memekakkan gendang telinga. Ketiga pria itu tergopoh. Saling berebut untuk keluar dari pintu utama lebih dulu.
Tubuh Arum luruh. Ia berlutut dengan kedua tangan mencengkeram rambut pang hitam legamnya. Di luar dugaan, perempuan itu menangis lirih hingga beberapa saat berubah menjadi raungan menyedihkan.
Para pelayan yang mendengar pun tak berani mendekat. Mereka justru pergi menjauh, memilih terbebas dari amukan.
Arum masih menangis. Tetesan bening dari sidut mata kini menganak sungai. Menghancurkan riasan wajah yang sempat ia poles dengan susah payah. Arum terlihat menyedihkan. Rambut acak-acakan serta riasa wajah yang berantakan. Ia tak perduli. Ia justru terus menangis dan tanpa henti mengacak-acak rambutnya sendiri. Tak jarang umpatan-umpatan kasar keluar dari bibirnya. Meski samar, tetapi masih mampu didengar dengan jelas.
"Ya tuhan. Apa nyonya depresi?" Pelayan yang sedang berlalu tanpa sengaja menghentikan langkah.
__ADS_1
"Mungkin ini sebuah karma dari apa yang pernah ia perbuat di masa lalu." Pelayan itu berlalu pergi. Ia cukup tau dosa-dosa apa saja yang pernah diperbuat oleh majikannya itu. Biarlah semua menjadi pembelajaran hidup. Di mana tak selamanya apa yang kita inginkan, harus kita dapatkan. Semua sudah sang pengusa takdirkan dan takar dalam bentuk sebuah takdir. Tak ada yang bisa merubah, walau setamak apa pun watak manusia. Dan kini, Arum seakan tengah menuai duri yang sudah ia tabur sendiri di jalannya. Salah melangkah, ia pun bisa tertusuk dan terluka. Hukum tabur tuai tetap berlaku. Sebab kelak apa yang kau tabur, pasti itu pulalah yang kelak nantinya akan kau tuai.