CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Kemesraan Pengantin Baru


__ADS_3

Sepasang mata Isabel masih terpejam rapat saat sesuatu yang dingin terasa membelai bagian pipinya. Gadis itu hanya bergumam. Tak ingin membuka mata sebab rasa kantuk masih begitu mendera.


Isabel menggeliat saat lagi-lagi sesuatu yang terasa dingin kini justru membelai bibir bawahnya. Terasa geli namun hal tersebut nyatanya tak mampu untuk membuat sepasang mata perempuan itu terbuka.


Seorang pria tergelak. Di atas ranjang, Erich yang sudah terlihat segar selepas membersihkan diri ikut berbaring di samping sang istri seraya mengusap-usap bagian wajah yang membuatnya gemas dengan jari.


"Sayang, kau ini tidur atau pingsan? Kenapa sedikitpun tidak bangun saat kuganggu seperti ini?" Pipi Isabel yang berisi dan kemerahan membuat Erich gemas dan tak tahan untuk mencubitnya.


Cup.


"Seharusnya aku memberimu ciuman, bukan cubitan." Erich terus berceloteh sementara Isabel masih tak terganggu dengan suara bising suaminya.


Colek sana, colek sini. Erich benar-benar dibuat gemas.


"Baiklah, kau memang kelelahan selepas semalam kita..." Erich tak mampu merampungkan ucapan saat ia teringat akan kejadian semalam bersama Isabel. Mengarungi samudra cinta yang mampu membuatnya tersenyum walau hanya dengan mengingatnya saja.


"Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu." Erich membenahi selimut yang menutupi tubuh polos sang istri kemudian menciumi puncak keoala gadis yang ia cinta sebelum beranjak.


Lewat saluran interkom Erich meminta pada bibi pelayan untuk membawa sarapan untuknya dan juga Isabel ke dalam kamar. Meski masih dalam nuansa pengantin baru, Erich tetap tak lupa akan tanggung jawab yang diemban sebagai petinggi perusahaan. Dan ruang kerja yang ia satukan dengan kamar, rupanya cukup memberi keuntungan baginya disaat-saat seperti ini.


Ketukan pintu terdengar. Kali ini ia tak akan membiarkan bibi pelayan masuk ke kamar dan melihat Isabel yang terlelap hanya dengan dililit selimut saja. Pria itu bangkit dari posisinya, berjalan ke arah pintu yang sengaja dibuka sedikit dan meminta pada bibi pelayan meninggalkan meja dorong berisi menu sarapan tersebut di cukup depan pintu.


"Terimakasih, Bibi."


Bibi pelayan tersenyum. Ia pun bergegas meninggalkan tuannya yang bersikap tak seperti biasanya, hingga tanpa sadar perempuan itu mengingat sesuatu.


Ya tuhan, benar saja. Tuan mudakan sudah menikah dan aku tidak boleh memasuki kamarnya sebab di dalam sana juga ada Nona Isabel.


Sepanjang menuruni Anak tangga bibi pelayan itu terus bergumam seraya menepuk-nepuk kening. Dasar pelupa, umpat bibi pelayan dalam hati.


Sementara Erich selepas mendorong meja dengan cukup pelan ke dalam kamar agar tak mengganggu istirahat Isabel, pria dengan pakaian santai itu kembali berkutat dengan laptop di meja kerjanya. Untuk sekarang, cukup bekerja dirumah. Fikir Erich yang sesekali mencuri pandang ke arah sang istri disela pekerjaannya.


Sudut bibir Erich terangkat. Seperti pasangan pengantin baru pada umumnya. Hidupnya kini seakan dipenuhi bunga. Bermekaran dengan indahnya.

__ADS_1


Rupanya keputusan untuk menikahi gadis yang kini masih terlelap itu tidak salah. Berawal dari sebuah kebetulan, namun siapa yang mengira jika sebuah kebetulan itu memang menjadi sudah menjadi takdir dan ketetapan sang ilahi.


Erich mengalihkan sejenak kedua matanya dari layar laptop. Pandangannya kini kembali tertuju pada sang istri yang masih tergolek di atas ranjang. Tak kuasa menahan, Erich pun bangkit dan berjalan mendekat ke ranjang. Ia kembali terbaring, bermaksud ingin membangunkan sang istri dan mengajaknya untuk sarapan.


"Sayang," ucap Erich seraya menyibak selimut yang menutupi tubuh sang gadis hingga bahu polos itu terlihat.


Erich meneguk saliva. Bahu putih yang dihiasi tanda merah darinya, seakan mampu menggugah birahi dalam diri. Satu kecupan mendarat. Pria itu kembali mengusap bahu putih hingga kearah leher dengan begitu lembut.


Isabel bergumam. Bergeliat, merasa terganggu dengan sentuhan tangan begitu lembut yang seakan membuat bulu kuduknya meremang.


"Sayang, ayo bangun. Kita butuh mengisi tenaga selepas aktifitas semalam." Erich kini bahkan berbisik di telinga Isabel yang mana membuat sang gadis kegelian.


Isabel kembali menggeliat seiring kelopak matanya yang perlahan terbuka. Wajah tampan dengan bibir tersenyum itu menjadi pandangan pertama kali saat sepasang mata Isabel benar-benar terbuka.


"Selamat pagi, istriku sayang," ucap Erich seraya menyambar bibir ranum sang istri dan memagutnya sesaat. "Morning kiss"


Isabel gelagap dan Erich tergelak pelan.


"Kenapa terkejut, apa kau lupa jika kita sudah sah menjadi sepasang suami istri, Hem?" Erich sengaja menjatuhkan tubuh di dada istrinya yang masih terbaring. Dalam jarak sedekat ini tentu Isabel masih tak mampu menyembunyikan rasa gugup. Erich yang sedang menatapnya dalam serta tindakan spontan yang pria itu lakukan, sungguh membuat jantung Isabel seakan mau meledak.


Benar, kita sudah menikah. Aku kira hanya mimpi heee.


"Kenapa? Apa kau benar-benar lupa jika kita sudah menikah?" Erich tentu menatap curiga pada sang istri yang sepertinya justru melamun selepas mendapat pertanyaan darinya. Ya, meskipun Erich tau jika Isabel masih mengumpulkan kesadaran selepas beberapa detik lalu terbangun.


"Em, tidak," elak Isabel masih tetap tertunduk malu.


Kak Erich bahkan sudah mandi, sedangkan aku...


Isabel mengigit bibir bawah. Rasa tidak unyaman mulai merayap. Bagaimana bisa dihari pertamanya menjadi seorang istri dirinya justru terlambat bangun apalagi memasak untuk sarapan.


"Kak," lirih Isabel memanggil Erich, suaminya.


"Ada apa, hem?" Erich menyentuh dagu Isabel, membuat wajah yang tertunduk itu kini terangkat.

__ADS_1


"Maaf, aku terlambat bangun. Aku jadi tidak bisa mempersiapkan makanan untuk kakak."


Duh bagaimana ini, aku takut jika Kak Erich marah dan memecatku jadi istri. Baru sehari loh ini. Huuaa..


Erich tergelak. Kini dia sudah mengusap rambut panjang sang istri dengan sayang.


"Tidak masalah, lagi pula bibi pelayan juga sudah mempersiapkan sarapan untuk kita." Cup, Erich kembali menyatukan bibir secepat kilat.


"Bangunlah, bersihkan tubuhmu dan setelah itu kita sarapan," titah Erich yang spontan diangguki oleh sang istri.


Melihat Isabel yang kesulitan berjalan membuat Erich tak tahan untuk terus menggoda.


"Sayang, perlu aku bantu?" Erich membubuhi dengan kedipan mata yang mana membuat Isabel salah tingkah.


"Ti-tidak, kak. A-aku bisa sendiri. Tidak perlu dibantu." Susah payah Isabel berjalan sementara kedua tangannya mempertahankan selimut yang menutup tubuh polosnya agar tak melorot.


Ck, Kak Erich bahkan membuang kimonoku entah di mana.


Isabel sempat mencari-cari di mana kimononya semalam namun tak terlihat jua. Entah kemana Erich membuangnya sebelum pergumulan segit itu dilakukan.


Erich hanya bisa tergelak lirih menatap tingkah polah Isabel yang begitu menggemaskan di matanya hingga menghilang di balik pintu kaca kamar mandi.


Kenapa semakin hari istriku semakin menggemaskan begini?


Isabel sudah terlihat segar selepas membersihkan diri. Rambutnya juga sudah setengah kering. Pagi ini gadis cantik itu mengenakan dres rumahan berwarna baby pink yang terasa begitu menyatu di kulit tubuhnya yang seputih susu.


Erich sendiri sudah menunggunya di sofa, tempat yang akan mereka gunakan untuk menikmati sarapan.


"Kemarilah, kita akan menikmati sarapan bersama." Erich menepuk ruang kosong yang berada tepat di sampingnya. Isabel pun dengan suka cita menerima.


Roti isi, salad dan jus buah menjadi menu sarapan sepasang pengantin baru tersebut.


Keduanya tak terlibat pembicaraan saat mulai menghabiskan makanan. Mereka hanya saling suap menyuap juga saling melempar senyum, hingga sarapan di piring masing-masing tandas.

__ADS_1


Begitulah cara Erich dan Isabel menikmati suasana pagi mereka selepas sah menjadi.pasangan suami istri.


Tbc.


__ADS_2