
Derap langkah sepatu yang berbenturan dengan lantai marmer mengalihkan pandangan puluhan pasang mata yang tengah berdiri di lobi sebuah gedung pencakar langit yang berada di pusat keramaian kota. Mereka menundukan kepala sebagai bentuk penghormatan.
Seorang pria dengan stelan jas lengkap melangkah penuh wibawa menyusuri lantai dasar gedung menuju lift yang akan membawanya menuju lantai teratas bersama seorang pria paruh baya yang selama ini menjadi tangan kanannya.
Sepanjang berada dalam lift, keduanya tak terlibat pembicaraan sedikit pun. Erich terhanyut dalam fikirannya sendiri, begitu pun dengan Agung.
Agung sendiri sadar jika tuannya memang cenderung tak banyak bicara. Hanya seperlunya itu pun segala sesuat yang berhubungan dengan pekerjaan. Jika masalah keluarga dan pribadi, huh jangan ditanya. Tuannya pasti akan menutup rapat, dan berucap jika Keluarga dan kehidupan priadi adalah hal prifasi dan bukan untuk konsumsi publik.
Agung bedecak. Satu sisi Ia bosan menjadi tangan kanan seorang Erich yang menurutnya sama sekali tak bisa digoda. Teramat serius dan jarang tertawa. Begitu monoton hingga pria berkepala plontos itu ikut terbawa oleh sifat sang tuan. Kini pria yang dulunya humoris dan begitu cerewet itu pun kini berubah kaku dan jarang sekali mengumbar senyum tiga jarinya.
Akan tetapi dilain sisi, Agung pun bangga sudah menjadi tangan kanan seorang pria yang memiliki prestasi gemilang diusianya yang masih muda. Erich cukup disegani. Pembawaanya yang tenang dan tegas membuat pria muda itu kerap disebut sebagai titisan sang Ayah, Arkana Surya Atmadja.
Pintu lift terbuka. Kedua insan tersebut sudah menjejakali lantai tertinggi bangunan. Beberapa staf sekertaris yang duduk dalam barisan spontan bangkit lantas menundukan kepala.
Saat berjalan menuju ruang kerjanya, tanpa sengaja Erich menggeser pandang kearah jajaran kursi di lorong bangunan tepat di mana Isabel tertidur semalam.
Sudut bibir pria rupawan itu tertarik. Entah mengapa serasa ada yang tergelitik di sudut hati mengingat kembali peristiwa semalam.
"Starla, katakan pada gadis itu untuk membawa secangkir kopi ke ruang kerjaku," titah Erich begitu melintas di hadapan Starla.
"Baik tuan." Starla spontan menjawab meski dilanda kebingungan.
Hah, gadis, membuat kopi? Siapa? Aku maksudnya? Aku kan juga masih gadis. Eh tapi aku kan tidak pintar membuat kopi, bisa-bisa Tuan Erik akan menguyur kopi buatanku kewajahku sendiri kalau rasanya tidak enak. Eh apo bu Retno? Eh bodoh, bu Retnokan sudah tidak gadis, lagi pula dia sakit dan digantikan oleh Isaa.. Oh ya, pasti gadis yang dimaksud Tuan Erich itu Isabel.
Dengan jurus seribu bayangan Starla menuju pantry dapur dalam waktu secepat kilat. Jika sebagian orang menyebut Waktu adalah uang, maka lain dengan Starla. Waktu adalah penyelamat. Semakin pintar ia mempergunakan waktu maka semakin aman pula hidupnya dari amukan sang tuan yang bisa mengelurkan taring kapan saja andai sedikit saja ia membuat kesalah.
Starla mulai menyisir pandang. Dari beberapa perempuan berseragam ofice girl, gadis itu mencari-cari di mana keberadaan Isabel.
"Astaga, di mana dia?" gumam Starla seraya memasuki dapur dan menatap satu persatu OG lebih teliti.
"Di mana Isabel?" Starla bertanya pada salah satu dari mereka saat tak jua mendapati keberadaan Isabel.
"Itu, nona." Salah seorang OG menunjuk kearah dapur paling ujung. Starla mengangguk, saat menangkap sosok tubuh yang sedang duduk namun wajahnya menelungkup di atas meja.
"Terimakasih."
Starla hanya geleng-geleng kepala. Fix, Isabel tertidur. Wajahnya sengaja menelungkup sebab ketiduran.
"Isabel," panggil Starla sementara satu tangannya bergerak untuk mengguncang bahu gadis yang tengah tertidur damai itu.
Isabel terperanjat. Sepasang mata yang tadinya tertutup, kini terbuka lebar.
"Astaga, kau tidur?"
Isabel gelagapan.
Haduh, bagaimana ini.
"Maaf."
Starla bersedekap seraya berdecak. Tak habis fikir.
__ADS_1
"Kau bisa langsung dipecat jika ketahuan. Tidur saat bekerja. Tuan Erich sangat membenci itu." Starla memperingatkan.
"Maaf."
"Tidak usah minta maaf, lebaran masih lama."
Isabel menunduk.
"Tuan Erich memintamu untuk membuat kopi. Kopi seperti biasa dan bawa kerungannya. Segera, titik ga pake koma. Secepatnya. Oke?"
"Oke."
"Nah, sip. Aku pergi." Starla langsung beranjak. Begitu pun dengan Isabel yang berlari menuju mesin kopi. Matanya masih terasa berat, namun ia paksa untuk terbuka lebar.
Aku bahkan tertidur gara-gara dia. Hiks
💗💗💗💗💗
"Kopinya, tuan."
"Hemm."
Isabel sudah hendak beranjak, hingga sebuah suara menahannya.
"Kemana?"
"Ke-keluar, tuan." Isabel celingukan, menatap dan menunjuk pintu ruangan.
Erich menahan tawa.
Ah, matanya terlihat memerah dan lelah. Apa mungkin ia tak tertidur semalam?
"Untuk apa kau keluar sedangkan pekerjaan utamamu adalah hanya membersihkan ruanganku serta melayaniku. Faham?"
"Faham, tuan."
"Sekarang ambil makananku di depan."
"Baik, tuan." Isabel menghela nafas. Kantuknya lenyap seketika.
Jika mengingat kejadian semalam, sungguh rasanya ia ingin berteriak dan memaki tepat di wajah sang atasan.
Isabel terbangun tengah malam, itu pun seorang penjaga keamanan yang membangunkannya. Gadis itu kebingunan, terlebih mendengar ucapan penjaga jika seluruh karyawan sudah pulang dan hanya menyisakan dirinya.
Isabel gelagapan sekaligus merutuki diri. Dengan meminta izin pada penjaga keaman, Isabel diperbolehkan membersihkan ruangan kerja Erich meski tengah malam.
Begitu memastikan seluruh ruangan bersih dan rapi seperti biasa, rupanya waktu sudah menunjukan pukul 01;30 dini hari. Isabel menghela nafas. Meski diawal sempat kesulitan, namun beruntungnya Isabel memiliki daya ingat tajam hingga mampu menghafal tata letak barang dan berkas penting dalam ruang kerja Erich yang pastinya cukupmempermudahkannya dalam bekerja tanpa khawatir akan kemarahan sang tuan yang bisa meledak kapan saja andai ia ceroboh.
Kembali kerumah dan berangkat bekerja keesokan harinya membuat waktu tidur Isabel benar-benar kurang. Hingga lingkaran hitam di bawah mata pun samar terlihat. Ya tuhan. Haruskan Isabel menyalahkan Erich sebab tak membangunkannya. Akan tetap untuk apa, seperti Erich tak punya pekerjaan saja hingga sudi membangunkan staf rendahannya yang memang sengaja tidur.
Seseorang berpakai khas koki sudah berdiri menunggu saat Isabel membuka pintu ruangan. Seperti biasa, seorang koki khusus datang keruang kerja Erich untuk mengantar santapan siang untuk CEO.
__ADS_1
"Permisi." Ucap sang koki.
Isabel tersenyum tipis lantas membuka pintu ruangan, memberi jalan pada koki untuk membawa masuk makanan yang dibawa dengan meja beroda.
Ruang kerja Erich memang di desain senyaman mungkin untuk penghuninya. Fasilitasnya pun lengkap dengan ukuran cukup luas. Bukan hanya ruangan berisikan kertas dan map juga alat tulis, namun juga memiliki kamar mandi dan toilet khusus, juga sofa yang sering membuat Erich seperti berada di rumahnya sendiri.
Koki itu dengan cekatan menata hidangan di atas meja. Isabel meneguk ludah saat tatapannya tertuju pada daging steak yang rupanya menjadi menu makan siang untuk sang tuan. Aroma steak khas benar-benar menguar, memenuhi ruangan. Isabel lekas menundukan pandangan sebelum kedua pria itu memergokinya.
"Pergilah." Erich meminta koki itu untuk keluar.
"Baik, tuan."
Sepeninggal koki, Erich mulai menyantap hidangan yang disajikan. Sunyi, hanya denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring memecah keheningan. Dari ekor mata, Isabel mengamati pergerakan Erich yang tengah mengisi perut tanpa sedikit pun mengeluarkan suara.
Erich terlihat begitu berkharisma. Pembawaanya tenang meski terkadang garang. Tata cara memetong dan menyuap makanan ke mulut pun begitu elegan. Menggambarkan jika dirinya benar-benar pria berkelas dan bertatakrama.
Isabel kembali menunduk. Ingin rasanya keluar dari ruangan, namun ucapan Erich beberapa saat lalu, menegaskan akan posisinya bekerja di perusahaan ini.
"Hei," panggil Erich pada Isabel.
"Saya tuan." Isabel menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, siapa lagi?"
Isabel pun mendekat. Erich terlihat menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Bisa dipastikan jika pria itu sudah selesai makan dan..
Isabel tercengang. Pandangannya tertuju pada piring yang hanya menyisakan sisa saus. Hebat, Erich benar-benar menghabiskan makan siangnya tanpa sisa.
"Bersihkan."
"Baik tuan." Isabel memunguti bekas makan sang tuan. Perlahan, hingga tak menimbulkan kesalahan.
"Dan ambil itu untukmu." Tanpa menunjuk, Erich hanya mengarahkan pandangannya kearah satu porsi steak yang belum tersentuh.
"Ha?"
"Bukankah kau juga butuh makan agar tidak pingsan. Makanlah. Bu Retno pun selalu memakan makanan yang sama denganku saat bekerja." Pria itu kini bangkit menuju kamar mandi.
Isabel terdiam. Berusaha mencerna ucapan sang tuan. Sampai Erich keluar dari kamar mandi pun, Isabel masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Bukankah masih ada satu porsi lagi? Itu makan siang untukmu. Koki memang menyajikan dua porsi makanan keruangan setiap harinya sebab satu porsinya lagi memang aku berikan pada pekerja yang sudah bekerja untukku. Maka dari itu, makanlah. Tidak usah ke dapur umum. Makanlah di tempat itu. Aku tidak keberatan." Selepas berucap Erich kembali kemeja kerjanya. Berkutat dengan berkas-berkas yang menemani hari-harinya.
Sudut hati Isabel menghangat. Ia sempat meragu, namun ucapan Erich bukankah sudah menegaskan semuanya.
Perlahan ia mulai duduk di sofa berbeda dari yang Erich duduki tadi. Ia tatap isi piring yang membuat air liurnya seolah menitik tanpa bisa ditahan.
Steak daging wagyu dengan siraman saus juga irisan kentang dan asparagus yang lebih dulu dipanggang, membuat Isabel tak kuasa menahan haru yang tiba-tiba menyeruak.
Terakhir kali Isabel bisa memakan hidangan semahal ini saat Almarhum ibunya masih hidup, dan itu pun sudah bertahun lamanya.
Ada yang menitik di sudut mata. Saat Isabel mulai memotong daging nan juicy itu lantas memasukannya kedalam mulut.
__ADS_1
Ya tuhan. Isabel bahkan nyaris lupa akan sensasi nikmat dari rasa steak yang dulu menjadi makanan favoritnya.
Hidupnya kini benar-benar berubah. Bukan berubah, namun dengan sengaja diubah lebih tepatnya.