CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Masih Penasaran


__ADS_3

Akhir pekan ini kediaman mewah Praja diwangka cukup berbeda dari hari biasa. Para pelayan dan orang-orang terdekat cukup sibuk dan hilir mudik, sebab rencananya akan digelar acara pertunangan Larasati dan Steven dua hari mendatang.


Layaknya seorang pelayan, Isabel pun terlihat berbaur dengan pelayan lain. Mempersiapkan segala hal termasuk hidangan dan dekorasi. Meski hanya acara tunangan dan rencananya hanya akan mengundang keluarga terdekat, namun Lara tak ingin jika acara yang sudah ia impikan sejak lama, digelar hanya biasa-biasa saja. Semua harus serba spektakuler, wah, dan tentunya berkelas.


Ditengah kesibukan yang Isabel jalani, tak dapat disangkal jika dalam hati gadis manis itu pun merasakan sesak di dada. Steven akan memulai kehidupan baru. Kehidupan pernikahan yang akan dijalani tapi sayangnya bukan dengan dirinya, melainkan Lara.


Apakah Isabel kecewa? Tentu saja, namun apa hendak dikata. Steven bahkan bukanlah sosok pria gentel yang berani memperjuangkan cintanya di hadapan orang lain terutama orang tuanya sendiri. Pria payah yang sejatinya hanya bersembunyi di balik ketiak sang ayah.


Ya bukankah cinta itu butuh perjuangan? Dulu memang keduanya bukanlah sepasang kekasih, namun hubungan keduanya terbilang cukup dengan rencana perjodohan yang memang sudah diketahui oleh orang-orang terdekat serta kedua belah pihak keluarga. Orang tua dan keluarga Steven tentu masih bisa mengingatnya, namun semenjak Laura meninggal ditambah lumpuhnya Praja, semua renca bergeser, hingga posisi Isabel kini nyata digantikan oleh Lara.


Keluarga pun tak banyak berkomentar. Hanya pasrah mengikuti alur dan mempersiapkan segalanya tanpa banyak bertanya.


Isabel terlihat membawa sebuah nampan berisi bubur dan juga segelas air putih ke dalam sebuah kamar. Itu adalah menu sarapan untuk Praja. Meski luar biasa sibuk, namun Isabel tak pernah melalaikan tugasnya untuk tetap merawat sang ayah dan memastikan pria paruh baya itu tak kelaparan.


Gadis manis itu dengan begitu telaten menyuapkan bubur hangat itu kedalam mulut sang ayah. Praja terlihat begitu menikmatinya, bahkan terlihat sepasang mata pria paruh baya itu berkaca-kaca seolah menahan rasa haru yang tiba-tiba menyeruak melingkupi dirinya.


Selepas makan Isabel membantu sang ayah untuk membersihkan diri. Menyeka seluruh tubuhnya dengan air hangat dan juga selembar handuk, yang akan membuat pria itu lebih segar dan nyaman.


"Nak, ada apa di luar?" Mungkin Praja bisa mendengar kesibukan aktifitas di luar kamar. Sesekali pria itu mencuri pandang kearah jendela kamar yang sedikit mencetak pandangan dari area samping rumah.


"Lusa akan digelaran acara pertunangan Ka Lara dan Steven," jawab Isabel setengah ragu.


Pria itu terkesiap.


"Steven, La-lara?" tanya pria itu dengan bibir bergetar.


"Y-ya," jawab Isabel parau, menahan tangis yang bisa meledak kapan saja.


Spontan Praja merengkuh tubuh sang putri yang duduk di hadapan. Tangis pria itu pecah. Seiring bulir bening yang lolos begitu saja dari kedua sudut matanya.


"Maaf, maaf, demi tuhan maafkan ayah." Praja terisak kemudian tak henti membubuhkan kecupan di kening sang putri sebagai luapan rasa sayang. Pria itu menangis, menangis sebagai rasa penyesalan yang teramat dalam untuk sang putri yang selama ini sudah ia sakiti.


Akibat nafsu semata, kebahagiaan sang putri tergadaikan. Bukan hanya harta saja yang berhasil anak tirinya rebut, namun juga pria yang selama ini sudah ia pasangan dengan Isabel pun ikut terebut.


Nasib manusia, tiada yang tau. Akan tetapi Praja pun seolah tak bisa terima, saat sang putri diperlakukan semena-mena oleh orang-orang yang dulunya pun mendapat kehidupan layak berkat dirinya.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


Diruang kerja Erich, peristiwa beberapa hari lalu kembali terulang. Isabel kembali duduk tak jauh dari Erich dan keduanya tengah menatap kehidupan malam kota lewat dinding kaca.


Erich tampak menikmati segelas kopi buatan Isabel seperti biasanya. Menjadikannya minuman rutin sebagai teman menghabiskan malam.


Selepas malam itu, Erich merasa jika Isabel adalah seseorang yang cukup nyaman diajak bicara. Bahkan dengan Retno sekali pun yang sudah cukup dekat dengannya. Bisa saja karna usia Isabel yang masih sangat muda hingga bisa mengikuti pola fikir juga bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya dengan cukup lugas.


Isabel cekatan. Tentu satu nilai plus bagi Erich untuk Isabel. Pasalnya diusia muda Isabel, gadis terlihat cukup banyak memiliki pengalaman dalam bekerja. Serta mental cukup kuat untuk menghadapi sikap tegas dan kedisiplinannya selama ini saat bekerja.


Apakah Erich kagum? Tentu terlalu dini untuk bisa menyimpulkan.


Isabel tampak resah duduk di kursinya. Kedua tangannya saling berpaut. Gadis itu tengah mengumpulkan keberaniaan. Bukankah ia dan tuannya sedang duduk bersama, pasti lebih mudah baginya untuk meminta Izin.


"Tuan, saya ingin meminta izin untuk tak masuk bekerja pada esok hari." Setengah tercekat Isabel berucap.


"Untuk?"


"Akan ada acara keluarga yang di gelar di rumah. Saya benar-benar butuh izin tuan." Tak ada lagi yang gadis itu lakukan selain tertunduk dan memilin kedua tangan yang saling bertautan.


Kenapa lama sekali.


"Aku memberimu izin hanya satu hari."


"Baik tuan." Isabel begitu sumringah. Padahal ia sempat berfikir jika akan sulit untuk bisa mendapatkan Izin dari atasan perfeksionisnya itu.


Senang sekali dia rupanya.


"Tetapi aku ingin kau menyelesaikan lebih dulu tugas-tugasmu sebelum izin. Kau tentu tau jika bukan sembarang orang yang bisa masuk keruanganku apalagi menyentuh barang-barangku. Bukan tidak boleh, hanya saja aku tidak ingin jika letak barang diruanganku bergeser atau sampai berpindah tempat. Kau faham?"


"Ba-baik tuan, akan segera saya laksanakan."


Tak lagi menjawab. Erich bangkit dari posisi, mengemasi barang pribadi miliknya dan memilih keluar dari ruangan. Ia ingin pulang, namun sekali lagi masih ada satu hal yang pria itu ingin kerjakan. Menuntaskan rasa penasaran.


Sementara Isabel. Gadis itu tampak begitu semangat. Bahkan dua kali lebih bersemangat dari hari biasanya. Tumben Erich bisa pulang dijam segini. Tentu terlalu sore baginya, mengingat setiap hari nyaris tengah malam pria muda itu baru beranjak dari ruangan. Bukankah itu bisa dikatakan suatu keajaiban. Isabel tergelak. Dasar manusia sok perfek.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


Disinilah Erich yang sedang berusaha menuntaskan rasa penasarannya. Diruang kerja kediaman pribadinya, Erich bahkan sudi membuka map yang sama sekali tak pernah ia sentuh selama bertahun mengelola perusahan. Membuka lembar lembaran kertas yang sialnya itu adalah lampiran berkas lamaran Isabel yang berhasil dapatkan dari tangan Agung. Entah seperti apa Agung mendapatkannya, yang jelas Erich ingin mendapatkannya secepat mungkin. Dan benar saja, kurang dari satu jam map itu bahkan sudah berada di atas meja ruang kerjanya.


Sial kenapa aku sampai sepenasaran ini padanya.


Tak ada yang Istimewa sebenarnya pada sosok Isabel bagi Erich. Hanya sekedar pekerja di perusahaannya. Namun Entah fikiran dari mana yang membuat Erich kurang begitu yakin hingga bergerak untuk membuktikan sendiri asumsinya.


Isabel bukan gadis biasa. Menurutnya Isabel cukup cerdas untuk seukuran seorang cleaning servis. Daya ingat gadis itu luar biasa tajam. Mampu mengingat tata letak setiap buku yang tersimpan di rak, juga susuna map demi map sesuai tata letaknya.


Begitu pun dengan paras. Paras dan tubuh Isabel tak mungkin menipu. Bodoh, pengamatan Erich bahkan sampai kefisik. Cukup tidak lumrah, terutama bagi Erich yang masa bodoh dengan fisik seseorang apalagi pekerjanya. Ck, sungguh diluar nalar.


Tubuh langsing Isabel yang sehari-harinya tertutup seragam OB itu cukup menarik bagi Erich. Kulit gadis itu sangat putih layaknya mendapatkan perawatan rutin. Garis wajah, inilah yang diam-diam Erich kagumi. Perpaduan wajah itu begitu pas dan elok. Sepasang bola mata bening dengan dinaungi bulu mata lentik nan lebat. Hidung mancung nan mungil, serta bibir tipis kemerahan yang Erich jelas lihat jika gadis itu tak sedikit pun menggunakan lipstik. Sungguh, Erich terpukau. Walau hanya melihatnya sekilas dan itu pun hasil dari curi padangnya.


"Dasar bodoh," pekik Erich merutuki diri.


Erich mulai menyusuri setiap tulisan dari lembaran kertas di hadapan. Memeriksanya sampai teliti, berharap bisa menemukan apa yang ia cari.


Data diri Isabel.


"Nama lengkap Isabela Praja Diwangka. Hem, nama yang bagus."


Erich menyusuri lagi baris ke bawahnya lagi yang berhubungan dengan data diri isabel.


"Alamat." Erich membaca pelan sebuah alamat rumah yang tertera. Sepasang matanya membulat sempurna. Meski belum pernah mengunjungi, namu Erich yakin jika tempat tingga Isabel berada diperumahan Elit yang berada di pusat kota.


"Tidak, tidak mungkin. Ah, tapi bisa saja jika gadis itu hanya anak dari pelayan pemilik rumah di sana," ucap Erich bermonolog.


Terus kebawah lagi. Menemukan pendindikan terakhir Isabel.


"Tidak. Apa mungkin dugaanku selama ini benar?"


Pada riwayat pendidikan terakhir Isabel, gadis itu bahkan menempuh pendidikan disebuah sekolah internasional yang selama ini dikenal sebagai Sekolah menengah atas terfavorit dengan kualitas terbaik, setara dengan biaya yang dikeluarkan.


Erich tertegun. Benarkah? Benarkah apa yang tersaji di hadapannya kini menjadi bukti dan memperkuat asumsinya?

__ADS_1


"Mungkin lain kali aku harus memastikannya sendiri." Lembaran kertas itu masih ditangan, namun ada rencana lain yang ingin pria itu rancang. Huh, kau bahkan sudah sepenasaran itu pada gadis yang menurutmu sama sekali tak istimewa itu, Erich.


__ADS_2