
Pagi yang cerah. Natasya yang sudah siap dengan pakaian lengkap, mematut penampilannya di depan cermin. Rambut panjangnya yang masih menyisakan lembab, ia sisir perlahan. Sementara itu, baik pakaian serta kebutuhan lain yang akan digunakan untuk berlibur sudah terkemas di dalam sebuah kopor.
"Kau sudah siap?." Anastasya tiba-tiba masuk ke kamar putrinya.
"Ya, sebentar lagi, Ibu." Natasya tersenyum dan menatap ke arah sang Ibu sambil merapikan kembali tatanan rambutnya.
"Berhati-hatilah. Maaf, Ibu tidak bisa mengantar."
"Ibu benar-benar tidak ingin ikut?." Natasya bertanya dengan memasang wajah penuh harap ke arah sang Ibu. Anastasya menggeleng, dan membuat putrinya menghela nafas. Sedari semalam Natasya sudah membujuk sang Ibu untuk ikut, Akan tetapi perempuan tersebut dengan tegas menolak. Menurut Langit, setiap karyawan yang mendapat hadiah berlibur dibebaskan untuk membawa serta keluarga. Maka dari itu Natasya berusaha untuk membawa sang Ibu untuk dijadikan teman. "Yah, padahal sudah aku berdoa agar Ibu bisa berubah fikiran." Natasya pasti kecewa, namun dia bisa apa jika sang Ibu memang menolak.
"Tasya, di sini ada toko bunga dan para pegawai yang tak bisa Ibu tinggalkan. Bersenang-senanglah." Anastasya menarik nafas. Seandainya sang putri tau alasan utamanya menolak untuk berlibur.
Pulau XX yang akan dijadikan tempat berlibur bukan kah pulau yang dulu kerap ia datangi ketika galau. Pulau milik keluarga Atmadja, yang dibangun beberapa Villa dan penginapan dan dikhususkan di dalamnya.
Ah, hanya mengingatnya saja sudah membuat Anastasya terluka.
"Perlu Ibu pesankan taksi?." Anastasya kembali bersuara selepas beberapa saat terhanyut dalam lamunan.
"Tidak, Ibu. Terimakasih. Aku sudah memesan taksi dan akan sampai beberapa menit lagi." Natasya bergerak untuk memeriksa ulang seluruh keperluan yang akan dibawa. Setidaknya ia harus sampai kantor lebih awal dari pada waktu yang sudah ditentukan.
Anastasya terdiam namun mengamati pergerakan tubuh sang putri. Pagi ini putrinya tampak cantik dengan atasan berwarna putih dan dipadukan celana jeans berwarna biru. Tubuh ramping Natasya terlihat kian sempurna dengan pakaian yang dikenakan. Selain sepatu berwarna senada dengan atasan, Natasya melapisi T-shirt yang dipakai dengan cardigan. Mempesona namun tetap terlihat sopan. Natasya tak ingin mengumbar lekuk tubuhnya secara berlebih di hadapan orang lain. Itulah kalimat yang selalu ia ingat dari mendiang sang Ayah. dan sampai kapan pun akan selalu ia amalkan.
Selepas taksi yang dipesan datang, Natasya pun bergegas. Di halaman, Anastasya melepas kepergian sang putri dengan lambaian tangan. Berharap jika keluarga Atmadja tidak akan pernah ada yang menyadari jika Natasya adalah putrinya.
💗💗💗💗💗
"Hai, kau hanya sendiri?." Sebuah pertanyaan terucap begitu saja dari bibir Ernest manakala dirinya mendekati Natasya yang duduk di kursu tunggu tak jauh dari karyawan lain yang ikut berlibur.
"Ya, Tuan," jawab Natasya yang sontak berdiri dan menundukkan kepala ketika ditemui oleh atasannya.
"Ibumu?."
Natasya menggeleng dan menjawab, "Beliau memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, Tuan."
__ADS_1
Ernest terlihat mengangguk faham. Seperti biasa, Langit akan berdiri di belakangnya.
"Ayo, kita akan berangkat bersama."
"Baik, Tuan." Sadar jika dirinya memang Sekretaris Ernest, Natasya pun mengekori langkah sang atasan. Bersama Ernest dan Langit, Natasya memasuki sebuah mobil mewah yang akan membawa mereka ke arah bandar udara.
Menjadi Sekretaris seorang Ernest dirasakan Natasya sebagai sebuah anugra pada akhir-akhir ini. Jika dibanding karyawan lain yang ikut berlibur, Natasya terlihat lebih diistimewakan. Ah, ya karna apa lagi kalau bukan karna dirinya adalah sekretaris pribadi seorang CEO Atmadja group yang disegani para pejabat dan seluruh karyawan.
Seperti saat ini, bukan hanya kelas penerbangan yang berbeda, begitu sampai pulau Natasya langsung mendapatkan kunci sebuah hunian yang letaknya berdampingan dengan hunian yang akan dijadikan tempat tinggal Ernest selama berlibur di pulau XX.
"Karna kau tidak membawa serta Ibumu, maka mau tak mau kau harus tiggal sendiri di rumah itu." Ernest menunjuk hunian mungil yang berdampingan dengan tempat tinggalnya. Seluruh bangunan terletak di dekat pantai dan hal tersebut menjadi keindahan tersendiri bagi para karyawan yang ikut berlibur.
Berbedan dengannya dan Natasya, para karyawan lain tinggal di beberapa Villa yang dibangun. Rencananya seluruh fasilitas di pulau XX akan bebas digunakan dan tak ada batasan. Terkecuali untuk memasuki beberapa buah rumah yang dua diantaranya ditempati Ernest, langit dan Natasya.
"Terimakasih, Tuan." Seperti tak ada lelahnya Natasya mengucap kata 'Terimakasih'.
"Aku sengaja mencarikanmu hunian yang berdampingan agar sesuatu saat aku mudah menemuimu saat dibutuhkan."
Ya ya ya, karna aku sekretaris pribadimu, begitu 'kan?.
"Bagus, sekarang beristirahatlah." Selepas berucap Ernest meninggalkan Natasya untuk memasuki rumah. Pria itu ingin beristirahat sejenak. Begitu pun dengan Natasya, ia ingin mandi dan berbaring sejenak untuk memulihkan tenaga.
💗💗💗💗💗
Liburan kekeluargaan yang sengaja diadakan Atmadja Group, rupanya membawa kebahagiaan bagi seluruh karyawan serta keluarga yang ikut berpartisipasi. Begitu senja datang, para koki dan pelayan yang didatangkan khusus lekas menata tempat yang digunakan untuk makan malam. Api unggun serta pesta BBQ di atas hamparan pasir, kian membuat riuh suasana. Deburan ombak dan musik syahdu yang diputar, seakan menggiring siapa pun yang mendengar, ingin ikut berdendang. Sungguh suasana liburan yang kelak tak dapat terlupakan.
Natasya duduk menikmati sajian makan malam dalam satu meja yang sama dengan Ernest. Meski menu yang disajikan amat menggoda lidah namun Natasya tak terlalu menikmatinya, sebab separuh fikirannya tertuju pada sang Ibu yang ia tinggalkan.
Selepas menikmati makan malam, semua orang kembali ke penginapan. Begitu pun dengan Ernest dan Natasya.
Rasa kantuk yang tak kunjung datang membuat Natasya keluar dari pintu penginapan. Dirinya memilih duduk di teras untuk menikmati angin malam dari arah pantai.
Gadis itu termenung, menatap lurus ke depan di mana ombak lautan saling berkejaran.
__ADS_1
"Kau belum tidur?."
Natasya nyaris mengumpat. Ia terkesiap saat lagi-lagi Ernest muncul di sampingnya.
"Kau terkejut rupanya?." Ernest tergelak. Sementara tubuhnya bergerak untuk duduk di samping Natasya yang masih terlihat syok.
"Tuan sendiri, belum tidur?."
"Karna melihatmu duduk di sini, aku pun terbangun."
Natasya memutar bola mata malas, berfikir kenapa akhir-akhir ini sikap sang atasan amat jauh berbeda dari sebelumnya.
Tanpa sengaja Natasya menatap dua buah hunia lain yang sepertinya berpenghuni. Memang tak terlihat siapa pun di luar, namun dari lampu ruang dan teras yang dibiarkan terang benderang, bisa dipastikan jika di dalam ada yang menempati.
"Tuan, selain kita apa beberapa rumah lain juga ditempati?." Sejujurnya Tasya hanya iseng bertanya.
"Ya. Di sana ada orang tua dan di samping ada Paman," jawab Ernest seraya menunjuk ke arah dua hunian yang tak jauh dari padangan mereka.
"Orang tua Tuan juga ikut?."
Ernest menjawab dengan anggukkan.
"Wahh."
Ernest terdiam. Ia memandang kearah huniah yang di tempati orang tuanya.
"Natasya apa kau tau?."
Tentu saja gadis yang ditanyai hanya menggeleng.
"Setelah puluhan tahun, ini untuk pertama kali pulau XX dibuka untuk umum. Maksudku dikunjungi oleh banyak orang seperti saat ini. Menurut Ayah, memang ada sebuah alasan khusus di mana pulau XX seperti di tutup selama bertahun-tahun. Ya, meski aku tau jika seluruh bangunan di tempat ini selalu di rawat tapi terkadang aku bingung kenapa tempat seindah ini tak boleh dimasuki, walau itu keturunan Atmadja sendiri."
Natasya menyimak ucapan Ernest. Ia pun mengakui keindahan pulau XX meski baru beberapa jam menjadi penghuni. Gadis itu pun cukup terkejut begitu mendengar pernyataan Ernest jika pulau yang ia pijak sembat ditutup dan hanya didiami beberapa pengawal dan pelayan sebagai petugas kebersihan.
__ADS_1
Tbc.