
"Kenapa kau bisa mengundang pria itu tanpa sepengetahuan Ibumu, Natasya," lirih Anastasya yang kini sudah mengunci diri di dalam kamar. Sungguh kali ini ia kecewa pada sang putri. Bukannya tak suka dengan kehadiran Rangga, namun sampai saat ini dirinya memang belum siap untuk berada dijarak yang cukup dekat dengan seseorang yang dulu pernah menghancurkan perasaannya.
"Dan apa tadi, Natasya dan Rangga rupanya sudah cukup akrab. Memangnya mereka pernah bertemu di mana, bukankan Rangga berbeda kantor dengan putra Arka?." Kepala Anastasya terasa berdenyut. Akhir-akhir ini selepas pertemuannya kembali dengan Rangga membuatnya banyak pikiran. Andai malam itu di rumah Arka mereka tak pernah bertemu, pasti saat ini hidupnya tetam tenang tak memusingkan seperti ini.
Malam yang semakin larut membuat Anastasya mau tak mau harus mengistirahatkan diri. Berbaring di atas ranjang namun sepasang matanya sulit untuk terpejam.
"Anastasya, terimakasih atas waktu serta makanan yang sudah kalian persiapkan. Andai aku bisa berdiri, menjadi kepala keluarga diantara kalian, sungguh aku tak keberatan."
Anastasya membuka mata saat dipaksakan terpejam namun justru kata-kata Rangga tadi yang terngiang. Diusapnya wajah, mungkin ia harus membasuh muka agar bayang-bayang Rangga enyah dari isi kepala.
Sementara di ruangan lain, Natasya pun kesusahan untuk terlelap. Rasa takut dan cemas sedari tadi mulai menyergap. Ia tau akan konsekuensi dari apa yang sudah ia perbuat. Menghadirkan Rangga tanpa sepengetahuan Ibunya.
"Aku tau Ibu pasti marah." Gadis itu bermonolog. "Tapi aku pun juga tak bisa berdiam diri. Aku tau baik Tuan Rangga atau pun Ibu masih saling cinta, hanya saja Ibulah yang terlihat menjaga jarak."
Ia sudah siap bila menerima kemarahan sang Ibu pada esok hari atau bagaimana jika ia meminta maaf lebih dulu sebelum sang Ibu memarahinya?.
"Semoga setelah ini Tuan Rangga berinisiatif untuk mendekati Ibuku sendiri tanpa harus membawa-bawa aku atau orang lain." Masa iya dirinya harus menjadi mak comblang lagi dan imbasnya pasti terkena omelan sang Ibu. Sudah, ia angkat tangan. Kalau Rangga memang pria jantan, bukankah ia harus berjuang tak perduli Ibunya akan menerima atau menolaknya.
💗💗💗💗💗
Sesuai dugaan, Anastasya mencecar sang putri dengan banyak pertanyaan. Gadis itu baru saja membersihkan diri dan bersiap untuk pergi bekerja namun sang Ibu lebih dulu menahannya.
Natasya tak menyangkal. Gadis itu berkata jujur jika memang ia lah yang berinisiatif mengundang Rangga untuk makan malam.
Anastasya tentu terkejut sedangkan yang perempuan itu tau jika selama ini putrinya tersebut terlihat tidak tertarik untuk membicarakan terlebih mengenal akan sosok Rangga yang baru-baru ini kembali muncul kekehidupan mereka.
Ketika ditanya alasannya, Natasya hanya menjawab jika dia melihat Rangga memang masih mencintai Ibunya. Tentunya Anastasya semakin terkejut. Tak menyangka jika sang putri seperti memberi jalan selebar-lebarnya pada Rangga untuk kembali mendekatinya.
Buntu, Anaatasya frustrasi sendiri dan memilih meninggalkan sang putri dari pada harus berdebat. Ia bersiap dan meninggalkan putrinya ke toko bunga, sedangkan tak berapa lama Natasya pun ikut pergi untuk bekerja.
💗💗💗💗💗
__ADS_1
"Bagaimana hubungan Ibumu dengan Paman Rangga?."
Saat makan siang tiba-tiba Ernest membahas perihal Anastasya dan Rangga dengan Natasya. Dirinya tentu penasaran akan kelanjutan hubungan kedua insan tersebut. Apakah ada kemajuan ataukah hanya berhenti di tempat.
"Entahlah, Ibu masih menjaga jarak. Padahal semalam aku sudah mengundang Tuan Rangga untuk makan malam."
"Apa?."
Ernest terlihat terkejut, namun beberapa saat kemudian pria itu mengulum senyum.
"Kenapa?."
"Kau mengundang paman untuk makan malam?."
"Ya." Ada apa sih, Natasya melihat Ernest menatapnya dengan pandangan aneh.
"Di rumahmu?."
"Ya, Tuan. Memangnya mau di mana lagi?."
Natasya menggembungkan pipi. Itu saja bahkan tanpa sepengetahuan Ibunya. Apa lagi sampai reservasi tempat, bisa habis dirinya kena omel sang Ibu sampai tujuh hari tujuh malam.
Setelahnya Ernest tergelak. Ia hampir tak mempercayai ini. Rupanya Natasya cukup pintar untuk mengatur strategi pendekatan Rangga pada Ibunya.
"Sebelumnya aku juga pernah mendatangi rumah Tuan Rangga. Tanpa undangan."
"Wow, kau sampai senekat itu, Sekretarisku." Ernest menatap kagum pada gadis di depannya. "Sungguh aku tak pernah berfikir jika kau akan melangkah sejauh itu untuk urusan asmara Ibumu." Ernest kembali tak mempercayai ini. Ia akui keberanian Natasya untuk bertemu dan berbicara dengan Rangga secara empat mata.
"Semua tak ada yang diketahui oleh Ibu. Itu atas inisiatifku sendiri. Sebagai anak yang tau jika dulunya Ibuku pernah dikecewakan oleh pria yang sama, maka aku pun lebih berhak untuk memastikan apa pun yang intinya demi kebahagiaan Ibuku di masa depan." Ernest menata Natasya penuh binar. Kagum, tentu saja. Selain cantik dan anggun, kecerdasaan Natasya pun tak perlu diragukan lagi.
"Apa itu pertanda jika kau sudah memberi lampu merah pada Paman untuk mendekati Ibumu?."
__ADS_1
"Ya, mungkin saja tapi semua keputusan aku serahkan sepenuhnya pada Ibu. Aku hanya mampu membantu sampai titik ini dan selebihnya biarkan Tuan Rangga yang berusaha." Sampai pada titik ini saja sudah membuat ia dan Ibunya sering berdebat bagaimana jika ia bergerak lebih jauh lagi. Ibunya bisa-bisa menendangnya dari rumah.
"Ya, kau benar. Terlihat tidak adil jika Paman hanya menonton dan kau yang bekerja keras. Setidaknya jika Paman memang menginginkan, dialah yang seharusnya berusaha."
Ernest dan Natasya terlarut dalam pikiran masing-masing. Secara tidak sadar jika hubungan Anastasya dan Rangga, kian mendekatkan hubungan mereka berdua. Bukan lagi Sekretaris dan atasannya yang kaku. Kini kedua muda mudi itu terlihat sering bercanda dan tertawa bersama. Kerap menghabiskan waktu bersana dan saling bertukar cerita. Ernest bahkan berpikir dan menginginkan bila hubungan mereka bukan hanya sekadar atasan dan bawahan tetapi ...., Duh, sayangnya pria muda itu tak berani berharap terlalu jauh.
💗💗💗💗💗
Setiap pulang bekerja Natasya akan selalu melewati toko bunga milik Ibunya. Saat sudah merasa lelah ia memilih untuk tak singgah tetapi saat ini secara tiba-tiba ia menginginkan untuk singgah sejenak. Seperti biasa pada waktu-waktu seperti ini Ibunya masih berada di tempat.
Perdebatan tadi pagi dengan sang Ibu membuat Natasya merasa bersalah. Ia sudah membeli beberapa cup minuman kekinian yang akan ia bagikan pada pekerja toko bunga dan juga Ibunya sebagai permintaan maaf.
Natasya memarkirkan kuda besinya di tempat yang strategis. Lebih dulu ia membawa kantong bungkus minuman sebelum keluar dari mobil.
"Ibu pasti senang," gumam Natasya yang sudah memasuki pintu utama toko setelah menyapa seorang pekerja yang menyambutnya.
"Mba, Ibu ada," tanya Natasya pada pekerja lain.
"Ada, Nona. Ibu duduk di sana, beliau sedang menerima tamu."
"Oh, terimakasih." Natasya memberikan dua kantong minuman yang ia bawa untuk dibagikan pada para pekerja, dan menyisakan dua cup minuman untuk dirinya dan Anastasya. Perempuan itu tentu tersenyum senang dan berterimakasih. Sementara itu Natasya menuju ruangan sang Ibu yang memang biasanya digunakan untuk menerima tamu.
Langkah kaki Natasya melambat saat lamat-lamat suara dari dalam ruangan tertangkap oleh indra pendengaran.
"Tadinya aku ingin menemui di rumah tetapi ..., entahlah, sampai aku memberanikan diri untuk datang kemari."
"Tidak, apa mungkin aku salah dengar tetapi kenapa suara ini begitu familiar?. Ah, tidak mungkin." Begitu pelan Natasya berbicara. Sungguh suara pria yang ia dengar sangat tak asing ditelinga. Pemilik suara ini bukankah...
"Tidak masalah, jika kau ingin kemari, datanglah saja." Kini suara Anastasya yang terdengar.
"Terimakasih."
__ADS_1
"Tidak, mana mungkin?." Natasya yang penasaran kini mempercepat langkah. Ia harus memastikan dari pada diguncang rasa penasaran. Pintu ruangan yang sedikit terbuka gadis itu dorong hingga terbuka lebar dan apa yang ia temukan sungguh membuat jantungnya berdebar.
Tbc.