CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pengakuan


__ADS_3

Pekik serta teriakan pilu menggema di sebuah ruangan yang sengaja digunakan Sam untuk mengeksekusi lawan. Wajah para penyusup itu sudah babak belur, dipenuhi darah akibat luka yang sengaja para algojo berikan.


Brug.


Sang pimpinan penyusup tersungkur saat tendangan kembali diarahkan. Sam dan para pengawal lain mulai geram, pasalnya tak ada satu pun dari mereka yang berani membuka mulut perihal siapa sosok yang sudah mengutusnya.


Meski sebenarnya Sam tahu jika Arum lah yang berdiri di belakang mereka, namun Sam sendiri hanya ingin memastikan, kiranya tebakannya salah ataukah benar.


"Masih tak mengaku juga?" Geram, seorang algojo berwajah sangar melotot tajam saat dari sekian jumlah tawananan, tak ada satu pun yang membuka suara.


"Sialan," geram sang algojo. "Cepat katakan sebelum aku merobek mulut kalian," lanjutnya lagi seraya mengeluarkan belati dari celah ikat pinggang.


Para tawanan menelan ludah kasar. Merobek mulut, belati, dua kata yang sontak membuat tubuh mereka merinding. Ketakutan mulai menjalar, namun mereka pun tak bisa seenaknya buka mulut dan mengungkap tentang siapa yang sudah menyewa jasa mereka.


Tak sabar, lewat isyarat mata beberapa algojo menyerang para tawanan dengan membabibuta. Darah sengar mengucur dari hidung dan pelipis para pria yang masih nekat menutupi identitas sang penyewa jasa.


Brug..


Salah satu tubuh tawanan itu ambruk, tak sadarkan diri selepas mendapat pukulan bertubi-tubi. Sang pimpinan pun terkesiap, lawan mereka rupanya sungguh tak sepadan. Ia sempat mengira akan langsung digiring ke dalam sel tanpa adanya main tangan, tapi dugaannya salah. Bujan hanya main tangan tetapi para algojo bahkan sudah bersiap untuk menghilangkan nyawa.


"Nyo-nyonya arum. Yonya Arum lah yang sudah memerintah kami." Dengan setengah terbata akhirnya sang pimpinan membuka suara. Rasa sakit yang dialami sang anak buah juga menjadi rasa sakitnya. Mungkin menyerah dan membuka semua, akan lebih baik dari harus kehilangan nyawa.

__ADS_1


"Siapa Arum?" Sam mendekat, kearah pria menyedihkan yang baru saja menyebut nama seseorang.


"Nyonya Arum adalah Istri dari tuan Praja, ayah nona Isabel. Jadi yang memerintah kami adalah Ibu tiri dari nona Isabel." Selepas berucap pria itu kembali menundukan kepala. Takut sekaligus cemas, andaikata akan mendapatkan lagi serangan yang bahkan sudah melukai permukaan wajahnya.


Sam tersenyum miring lantas menggelengkan kepala. Tak habis fikir.


"Seorang ibu bahkan berniat untuk melenyapkan putrinya sendiri? Ya walaupun anak tiri, bukan statusnya tetap sama. Sama-sama anak yang sepatutnya dilindungi dan bukan malah dihabisi." Sam bergidik ngeri, tak habis fikir kenapa tuan mudanya harus sampai berurusan dengan keluarga mengerikan seperti mereka. Saling bunuh membunuh hanya untuk kepentingan pribadi semata.


"Pasti Nyonya Arum memiliki alasan tersendiri hingga sampai merencanakan hal seperti ini."


"Selain kasus yang terjadi saat ini, apa Arum juga pernah melakukan tindakan lain yang termasuk membahayakan nyawa Isabel atau pun tuan Erich?" Sam kembali mengorek informasi. Meski ia sendiri ragu jika akan mendapatkan jawaban yang baginya memuaskan.


Pimpinan dari sekelompok pria itu berfikir sejenak, coba mengingat berbagai kejadian.


"Apa kata-katamu bisa dipercaya?"


"Pasti, tuan. Sumpah, kami hanya disewa. Tidak lebih."


Sam menatap lekat sepasang mata sang lawan bicara, mencari sebuah kebohongan dari sorot pandangan. Akan tetapi, nihil dirinya tak bisa menemukan.


"Baik, aku percaya padamu. Tetapi aku ingin meminta sesuatu dari kalian."

__ADS_1


"Apa itu tuan?" Pria itu bahkan sudah tampak ketakutan. Menerka kiranya hal apalagi yang akan pria itu minta.


"Tidak sulit, kalian hanya akan dituntut bicara jujur andaikata kasus ini bergulir di meja hijau."


Pimpinan dan yang lainnya saling tatap. Jika mereka sampai membuka semua informasi yang ada, bukankah Arum akan murka? Arum yang nekat pasti akan membuat kerusuhan atau bahkan menyakiti anak dan Istri mereka. Ya tuhan, mereka spontan bergidik ngeri. Berbagai bayangan menyeramkan beterbangan di benak.


Mereka serempak bungkam.


"Kenapa, kalian menolak?"


Hening. Mereka tetap diam.


"Baiklah jika kalian menolak." Sam merogoh sesuatu dari balik jaket. Semua mata membelalak begitu sebuah pistol sudah berada dalam gengaman Sam. "Aku pun bisa berbuat lebih mengerikan dari aoa yang sudah perempuan itu lakukan." Sam mengarahkan pistol tepat di kepala sang pimpinan komplotan. Mulai menarik pelatuk hingga membuat pria di hadapannya itu sontak berteriak sebab ketakutan.


"Baik! Apa pun permintaan anda akan kami turuti." Sungguh kalimat spontan yang akan pria itu sesali seumur hidup.


"Bagus. Keinginanku tidak banyak, kalian hanya perlu berbicara sejujur-jujurnya andaikata kasus ini bergulir di meja hijau."


Pasrah, para pria itu bahkan tak punya kekuatan untuk sekedar mengatakan tidak.


Sam terdengar menghela nafas panjang. Satu masalah terselesaikan. Kini hanya tinggal bertemu dengan seseorang bernama Arum untuk dimintai pertanggungjawaban.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2