CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Mencari Bukti


__ADS_3

Langit masih gelap. Mentari belum juga menampakkan diri saat Sam melajukan kuda besinya menuju sebuah perumahan untuk bertemu seseorang. Baru saja kendaraan pribadinya berhenti di depan pagar, dari arah dalam seorang pria tergopoh membukakan.


Seorang pria yang tak lain pemilik rumah lantas menundukan kepala saat Sam membuka pintu mobil.


"Selamat pagi, Tuan. Maaf, seharusnya saya-lah yang menumui anda dan bukan sebaliknya," lirih pria berdan tinggi besar itu penuh sesal sementara wajahnya tertunduk dalam. Sebagai seorang pengawal, tentu dirinyalah yang sepatutnya menghadap dan bukan didatangi seperti ini.


Tugas yang Sam berikan kepadanya untuk mengintai pergerakan kekasih Tuan mudanya memang sudah tunaikan. Akan tetapi belum sepenuhnya menemui titik terang.


"Tidak masalah. Tuan Arka setengah mendesak. Menginginkan masalah ini selesai sebelum hari pernikahan Tuan muda Erich."


Pengawal itu pun mempersilahkan Sam untuk memasuki kediamannya. Sekiranya berbicara di dalam akan lebih nyaman sekaligus aman.


Perempuan setengah baya, istri dari sang pengawal menyuguhkan dua cangkir teh hangat ditemani beberapa macam biskuit. Sam mengucapkan terimakasih dan tanpa ragu menyesap cairan berwarna keemasan itu hingga terasa hangat di tubuh.


"Bagaimana, apa pengintaianmu membuahkan hasil?" Sam bertanya selepas menatuh kembali secangkir teh miliknya ke atas meja.


Pengawal itu menggelengkan kepala lemah. Raut wajahnya mendung seketika.


"Belum, tuan. Saya baru mengunjungi bekas kost Nona Sandara sebelum pindah ke Apartemen. Saya juga mencari informasi dari para penghuni kost di sekitarnya namun dari mereka menjawab tak tau mengingat Nona Sandara sudah cukup lama meninggalkan tempat tersebut, hingga para penghuni kost lain belum sempat mengenali."


Sam berfikir sejenak. Benar adanya, Ernest membawa Sandara ke Apartemen bahkan sudah beberapa tahun lalu saat keduanya baru saja menjalin kasih dan kini hubungan kefuanya bahkan sudah memasuki tahun ke lima. Jadi wajar jika para penghuni kost lain tak ada yang mengenali Sandara apa lagi tentang kehidupannya.


"Untuk kampus Nona, apa kau juga sudah mendatanginya?"


Lagi, pria itu mengangguk pasrah.


"Sudah, tapi tak jauh berbeda. Pihak universitas menolak memberi data mahasiswa pada orang asing demi keamanan. Saya tidak berani bertindak terlalu jauh mengingat saya bisa saja dipidanakan jika menyalahi aturan."

__ADS_1


Sam terlihat menghela nafas. Sungguh jawab pengawal itu tak sesuai ekspektasi. Akan tetapi mau apa lagi? Semula ia memang hanya mengutus satu pengawal yang diharapkan bisa menguntit pergerakan Sandara sekaligus mengorek informasi tentang kehidupannya baik untuk saat ini atau pun dimasa lalu. Namun, semua tak semudah yang ia kira. Rupanya hanya dengan mengutus seorang pengawal saja, belumlah cukup. Sandara tak seremeh yang dikira. Atau bahkan gadis itu sengaja menyembunyikan jati dirinya secara rapat hingga tanpa meninggalkan jejak?.


Sam mengusap pelipis. Cukup dipusingkan dengan masalah Sandara yang begitu tiba-tiba.


"Bawa beberapa rekanmu yang bisa diandalkan. Bermain serapi mungkin hingga Nona Sandara tak menyadari jika diikuti. Cari banyak-banyak informasi tentang nyonya Sandara apa pun itu dan sebelum hari pernikahan Tuan Erich, hasil kerja kalian sudah sampai di tanganku."


"Baik, Tuan," jawab sang pengawal tegas. Kali ini ia akan bekerja sebaik mungkin seperti saat menjalankan tugas sebelum-sebelumnya. Demi Tuan mudanya sekaligus pekerjaannya.


Sepulang dari kediaman pengawal, Sam menepikan kuda besinya di lahan kosong seraya merenung. Jika praduga Tuannya benar bila Sandara mendekati Tuan mudanya hanya untuk tujuan khusus, kenapa masalah sevital ini bahkan tak terendus olehnya?.


"Dasar bodoh kau Sam," maki Sam pada diri sendiri. Ia tak ragu menjitak kepalanya sendiri sebagai luapan kekesalan.


"Tidak bisa dibiarkan. Mungkin aku pun harus turun tangan." Seperti masalah sebelumnya yang dialami oleh Tuan muda Erich, hingga membuatnya harus turun tangan. Mungkin saat ini pulalah dia juga harus melakukan hal yang sama.


Masalah yang tegah bergulir tak bisa dianggap sepele. Terlebih Sandara sendiri seolah dengan sengaja menutupi identitas yang tidak bisa disibak oleh sembarang orang.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Pagi hari yang cerah, secerah wajah seorang gadis yang melangkah seraya menggapit mesra lengan kekasihnya. Sandara terlihat begitu antusias saat pagi ini Arka memboyong keluarga menuju kediaman pribadi Erich yang terletak di kota XX dengan membawa serta dirinya.


Di dalam jet pribadi pun Sandara tak segan untuk berceloteh, berbicara ini itu yang seolah menggambarkan begitu bahagianya dia. Ernest hanya menanggapi sekenannya. Menjawab iya atau tidak serta ikut tersenyum andai kekasihnya itu tersenyum dan akan diam saat kekasihnya juga diam.


"Sayang, kau tau. Ini momen pertamaku menaiki jet pribadi seperti ini. Wah, sulit dipercaya. Aku bahkan terlihat seperti putri raja." Sandara yang duduk di samping Ernest, duduk dengan gaya anggun, menopangkan satu kaki pada kaki lainnya. Sementara kedua tangannya nampak sibuk merapikan rambut panjang nan indah yang sebenarnya masih tertata rapi.


Ernest menghela nafas dalam. Arka yang duduk di seberang kedua sejoli itu membuang wajah jengah begitu ucapan Sandara tertangkap indra pendengarnya.


Bersenang-senanglah lebih dulu sebelum jatuh kemudian.

__ADS_1


Arka berbicara dalam hati. Menyunggingkan senyum tipis yang tak dilihat oleh siapa pun. Menyadari jika semakin ke sini maka sifat asli Sandara semakin terlihat. Mendominasi dan sombong. Arka mengeser pandangan, menuju seorang perempuan yang tertidur dalam dekapan. Azzara biantika, sosok perempuan biasa yang mampu mencuri hatinya. Perempuan sederhana yang tetap mempertahankan kesederhanaannya bahkan saat hidup sudah bergelimang harta. Zara tidak berubah. Tetap sederhana dan rendah hati. Itulah yang membuat Arkan semakin tergila-gila setiap harinya.


"Kau memang yang terbaik, Istriku. I love you so much."


Arka mengecup puncak kepala Zara begitu mesra. Ia dekap tubuh mungil sang istri lebih erat dalam pelukannya.


Sementara itu di tempat berbeda. Beberapa pengawal menyusur beberapa tempat yang pernah ditinggali Sandara sesuai arahan sumber yang bisa dipercaya. Bahkan mereka juga menyamar untuk mendekati para mahasiswa yang sempat kenal dekat dengan Sandara. Mereka berusaha menjalankan misi dengan serapi mungkin. Tak menimbulkan kecurigaan hingga berimbas pada pekerjaannya sebagai pengawal keluarga Atmadja.


Sedangkan di tempat lain, Sam bergerak seorang diri. Entah sebuah keberuntungan atau terbesit ide dari mana, Sam sudah mendapatkan kunci cadangan Apartemen yang selama ini ditempati oleh Sandara.


Kondisi ruangan yang senyap dan tak berpenghuni mempermudah pekerjaan. Sam lebih dulu memotret tatanah seluruh ruangan sebelum ia hamburkan.


Sam melancarkan aksi selepas aktifitas potret memotretnya selesai. Mengeledah beberapa lemari yang didapati dalam keadaan tak terkunci.


Kamar pribadi Sandaralah yang menjadi tempat Sam beraksi. Akibat terlalu bahagia saat diminta menemani Ernest dipesta pernikahan Erich, membuat gadis itu terlupa untuk mengecek kondisi Apartem sebelum ditinggalkan. Mungkin dengan memastikan pintu depan Apartemen terkunci, sudah bisa dikatakan aman menurutnya, hingga melupakan beberapa pintu ruangan bahkan lemari yang tergantung begitu saja di tempatnya.


Sudah beberapa puluh menit Sam melakukan pekerjaan yang selama hidup tak pernah ia lakukan. Menghamburkan isi kamar hingga terlihat seperti kapal pecah.


"Sial! Kenapa aku masih belum menemukan apa pun." Sam mengumpat. Barang-barang Sandara tak ada yang mencurigakan, juga kertas-kertas yang tertumpuk di laci meja belajar.


Sam mulai frustrasi. Ia juga kelelahan sebab bekerja seorang diri. Selepas mengistirahatkan tubuhnya sejenak, Sam menuju ke arah nakas. Satu tempat yang sedari tadi bahkan belum terjamah oleh tangannya.


Pelan, Sam mulai menarik hendle laci nakas. Rupanya, Sandara menyimpan uang dan beberapa surat penting di sana. Sam kian penasaran. Ia mencari-cari lagi. Mengeluarkannya satu persatu isi di dalamnya hingga pada selembar album foto, gerakan tangannya terhenti.


Tbc.


Foto siapa ya kira-kiraπŸ˜ƒ

__ADS_1


__ADS_2