CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Kembali Ke Toko Bunga


__ADS_3

"Selamat pagi, sayang."


Baru saja membuka mata, Isabel sudah dihadiah kecupan di puncak kepala juga panggilan sayang. Gadis itu mengerjap, mengumpulkan kesadaran, hingga mendapati seraut wajah tampan yang tepat berada di hadapan.


"Pagi juga, sayang," jawab Isabel dengan suara serak khasbangun tidur.


"Kau kalah," ucap Erich setengah tergerak kemudian tanpa aba-aba menyambar bibir ranum sang istri, hingga perempuan itu gelagapan.


Isabel cemberut. Lagi-lagi suaminya bangun lebih awal dibanding dirinya. Erich pun sudah terlihat segar dengan baju berbeda pula dari semalam. Jadi dipastikan jika suaminya itu sudah membersihkan diri.


"Kenapa tidak membangunkanku, lagi pula inikan masih pagi." Isabel mengarahkan pandangan pada jendela kamar dengan tirai yang sudah terbuka. Di luar mentari bahkan belum muncul.


"Kau pulas sekali sampai aku tak tega membangunkanmu. Lagi pula aku memang sudah terbiasa bangun sepagi ini." Erich yang sudah terbiasa hidup mandiri memang terbiasa bangun pagi dan mempersiapkan semua kebutuhannya sebelum pergi bekerja. Maka saat sudah menikah pun kebiasaan itu tetap berlanjut. Keduanya akan bangun pagi dan disambung dengan berolah raga ringan sebelum menjalani aktifitas harian.


"Sumamiku memang ter The best," puji Isabel seraya mendekap tubuh suaminya dengan erat.


Erich tersenyum. Ia kembali melabuhkan ciuman pada kening sang istri dan membalas pelukan.


"Sayang, kau suka bunga pemberianku?"


Isabel mengangguk. Ia seketika teringat pada buket mawar merah yang kini tergeletak di atas nakas. Bunga yang diberikan Erich saat makan malam spesial di balkon kamar. Hanya berdua dan ditemani sinar rembulan.


"Sangat suka. Kenapa kakak sampai terfikir memberikanku bunga dan apa kakak sendiri yang sudah membelinya? Kapan, bukankah sepanjang hari kita habiskan waktu bersama-sama?"


Pria tampan itu tersenyum tipis lantas menggeleng.


"Bukan, aku meminta pada Emely untuk mencarikan bunga khusus untukmu."


Bibir Isabel yang semula tersenyum mendadak hilang. Sepertinya gadis itu kecewa begitu mendengarkan pengakuan suaminya.


"Aku kira..."


"Maaf." Erich menggesekkan hidung mancungnya ke pipi sang istri. "Aku sama sekali tak tau di mana toko bunga yang lengkap juga macam-macam bunga yang biasanya perempuan suka. Maka dari itu aku meminta pada Emely dan mencarikannya untukmu," sambung Erich masih uyel-uyel pipi sang istri.


"Tak apa." Isabel sadar jika Erich bukan sosok pria romantis dan gemar menunjukan kasih sayangnya secara terbuka pada pasangan. Sempat tinggal bersama sebelum memutuskan menikah, sedikit banyak Isabel tau jika meskipun kaku Erichpunya sisi lembut yang hanya akan ditunjukan pada segelintir orang. Bagi Isabel tidak penting bunga itu didapatkan dari siapa, yang terpenting baginya adalah itikat baik dari sang pria untuk menunjukan rasa cintanya.

__ADS_1


"Kau mau bunga lagi?"


Pertanyaan Erich membuat gadis itu mengerutkan kening.


"Jika kau mau, aku akan meminta pada Emely agar mencarikan bunga jenis lain lagi untukmu." Erich mengucap tanpa beban. Toh jika Isabel menginginkan ia pun akan meminta pada Emely lagi untuk dicarikan.


"Terserah saja, tapi kali ini aku menginginkan bunga Lily. Lily putih."


"Em, tentu. Sesuai keinginan tuan putri maka apa pun yang diinginkan pasti akan didapat."


"Gombal." Keduanya tergelak. Sadar jika belum membersihkan diri, 8sabel pun melepaskan pelukan Erich dan begegas menuju kamar mandi.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Emely."


Erich memangil seraya membuka pintu kamar sang adik bungsu yang kini tak terlihat batang hidungnya.


"Emely." Pria tampan itu memeriksa sang adik kesegala penjuru ruangan.


"Em, Isabel menginginkan bunga lagi, tapi kali ini dia meminta untuk dicarikan bunga Lily." Erich cukup ragu saat mengutarakan keinginan Isabel pada Emely. Jika semalam gadis itu sudah merajuk, lalu bagaimana dengan sekarang?.


"Ok, tidak masalah."


Erich terbelak, tak percaya. Sungguh di luar dugaan, Emely tak menolak dan justru antusias untuk mencari bunga yang baru saja ia sebutkan.


"Kau, kau tidak keberatan?".


"Keberatan, untuk apa?"


Selepas beberapa saat berfikir, Erich pun tersenyum miring menatap sang adik. Apa karma imbalannya semalam hingga membuat Emely sama sekali tak keberatan.


"Baiklah. Aku akan tunggu sampai sore nanti, jika kakak iparmu terlihat senang begitu menerima bunga itu darimu maka uang imbalanmu akan aku naikkan tiga kali.lipat dari jumlah semalam."


Kini giliran Emely--lah yang melonggo.

__ADS_1


"Maksudnya..?"


"Berjuanglah." Erich menatap pada sang adik sebelum keluar dari kamar.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Di sinilah Emely. Sebuah toko bunga yang sempat ia datangi satu hari yang lalu. Cuaca cukup mendukung. Matahari tampak tersenyum malu-malu di balik awan gendut nan keabuan.


"Huh, aku harus mencari Bibi Anastasya. Meminta bantuan padanya agar imbanku bertambah menjadi tiga kali lipat." Emely melangkah ringan kemudian tersenyum ramah pada satu karyawan yang menyapanya di pintu masuk.


"Selamat siang, nona. Ada yamg bisa kami bantu?".


Emely hanya tersenyum saat seorang karyawan kembali menyapa, namun pandangan gadis itu justru berkeliaran mencari sosok perempuan, pemilik dari toko bunga ini.


"Saya ingin membeli bunga Lily." Berbicara demikian namun dengan pandangan yang masih berkeliling.


Karyawan itu membimbing langkah Emely pada jajaran bunga Lily dengan berbagai jenis dan warna. Disepanjang perempuan itu menjelaskan jenis bunga Lily, Emely nampak tak fokus. Begitu pun saat perempuan itu mempersilahkan pembelinya untuk memilih. Emely tetap bergeming.


"Maaf, apa say Bbisa bertemu sebentar dengan Bibi Anastasya, pemilik toko bunga ini?". Meski takut-takut namun kalimat itu nyatanya bisa terlontar dari bibir Emely.


Perempuan itu menatap heran pada Emely. Gadis ini asing namun kenapa tiba-tiba meminta bertemu dengan atasannya.


"Maaf, Nona. Sepertinya untuk hari ini Nyonya tidak bisa menyambangi toko, maka sebagai gantinya putri beliaulah yang akan mengantikan seperti hari biasanya." Tangan pekerja itu terarah ke sebuah sudut. Emely pun mengikuti pergerakan pekerja itu, hingga menemukan seorang gadis cantik yang duduk di tengah hamparan bunga segara dengan kedua tangan yang begitu cekatan sedang merangkai bunga.


"Beliau Nona Natasya, kami biasa memanggilnya Nona Tasya, putri dari pemilik toko, Nyonya Anastasya."


Tubuh Emely seakan mematung. Begitu pun dengan pandangannya yang tak mampu teralihkan dari sosok gadis cantik bak bidadari yang terduduk lesehan di lantai, berbaur dengan pekerja lain tanpa memberi jarak antara dirinya sebagai atasan dan bawahannya.


Emely seakan terhipnotis. Meski dirinya wanita sejati, namun rupanya sosok gadis yang menjadi putri Anastasya justru memiliki kecantikan beberapa tingkat di atasnya.


Emely merasa rendah diri. Ia maju mundur antara ingin mendekat pada Tasya atau justru menjauhinya.


Ya tuhan, bagaimana ini? Ingin menyapa tapi aku minder, ingin berbalik tapi bagaimana dengan imbalan tiga kali lipatku.


Ayo Emely, mau maju atau malah mundurπŸ˜‚

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2