
Hujan masih menyisakan gerimis begitu Erich dan Isabel kembali menjejakan kaki di bandar udara selepas menikmati bulan madu di ibu kota. Seorang supir pribadi Erich sudah siaga menunggu. Erich dengan langkah ringan menggengam tangan Isabel untuk selalu berada di sampingnya.
"Kau lelah," tanya Erich pada Isabel selepas memasuki kendaraan yang kini sudah keluar dari area bandara untuk menuju rumah.
"Tidak, justru aku sangat senang." Ah, kapan terakhir kali aku jalan-jalan seperti ini ya?. Isabel benar-benar menikmati bulan madunya kali ini. Meski hanya di dalam rumah, namun bisa berkumpul dengan orang terdekat dari sang suami sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya.
"Em, benarkah," tanya Erich yang mulai membawa kepala sang istri untuk bersandar di dada bibangnya. Sembari menguyel-uyel gemas rambut hitam sang istri dengan puncak hidungnya.
"Tentu saja."
Erich mulai berfikir akan kehidupan mereka berdua selepas resmi menikah. Pria itu tersadar jika Isabel belum sekali pun berbelanja barang kebutuhan pribadi sesuai dengan keinginannya. Selama ini keseluruhan barang yang tersedia adalah murni pilihan dirinya. Meski pun Isabel tak pernah menolak, namun bukannya lebih afdol jika sang gadis-lah yang menentukan pilihannya sendiri.
"Bagaimana jika selepas ini kau berbelanja."
"Berbelanja?." Isabel mendongak, menatap wajah sang suami. "Maksud Kakak, aku belanja apa?." Tanya gadis itu tak mengerti.
"Belaja apa saja yang kau inginkan."
Isabel tersenyum tipis, sementara Erich sudah memasang wajah datar.
"Kak, tidak perlu berlebihan. Lagi pula apa yang sudah Kakak persiapkan di rumah sudah lebih dari cukup untukku." Isabel kembali menenggelamkan wajah pada dada bidang Erich. Menghindu aroma tubuh sang pria yang sudah menjadi candu baginya.
"Dari segi mananya yang berlebihan. Kau adalah istriku, sudah sepantasnya kau menjadi bagian terpenting dalam hidupku." Setiap kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir Erich, justru membuat Isabe kian rendah diri. Gadis itu sadar jika kasta mereka tak sepadan.
"Rasanya aku masih belum pantas untuk mendapatkanya, Kak," lirih Isabel.
__ADS_1
Erich tak menjawab, pria itu terlihat menghela nafas dan mencium puncak kepala sang istri berulang.
"Kau adalah milikku dan kebahagianmu adalah prioritasku. Tak ada bantahan apa lagi penolakan, atau kau akan mendapatkan hukuman dariku," ancam Erich yang kemudian menggigit daun telinga Isabel, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Kak, sakit tau?."
"Biar, itu baru peringatan pertama. Jika kau melanggar ucapanku maka aku juga takkan segan mengigit bagian tubuhmu yang lain." Erich tersenyum penuh arti seraya mengedipkan satu matanya pada sang istri. Isabel pun tersipu malu, menelungkup dan berusaha menyembunyikan wajahnya sembuyikan di dada bidang Erich.
Sementara itu di kursi kemudi, sopir yang bertugas menjemput Erich hanya bisa menggigit bibir. Setatusnya yang masih lajang membuatnya beberapa kali menelan ludah kasar begitu mendengar interaksi dari sepasang pengantin baru di kursi penumpang yang membuat hatinya gusar.
Ya, baiklah-baiklah. Anda memang pemilik dunia dan saya hanya pengontrak. Hiks, sungguh nasib pengontrak jomblo yang juga butuh belaian.
Supir bernama Rio itu menggaruk pahanya yang tak gatal. Perjalanan yang biasanya cepat, entah mengapa sekarang terasa begitu lambat.
Rio ingin berteriak, namun sebisa mungkin ditahan saat lampu lalu lintah hijau berubah merah diperempatan jalan.
"Sayang, sudah mulai nakal kau rupanya."
"Aw, Kakak. Sakit tau."
Rio merinding saat kalimat-kalimat itu terucap dari sang tuan beserta istri di kursi penumpang. Ingin rasanya menghilang dari muka bumi sampai lampu lalu lintas kembali berubah warna.
Sabar Rio, sabar. Orang sabar paantatnya lebar.
💗💗💗💗💗
__ADS_1
"Sayang, tapi aku harus belanja apa?." Isabel bertanya pada Erich begitu sepasang suami istri itu sudah berada di sebuah Mall.
"Terserah. Kita berkeliling dan kau bisa memilih semua barang yang kau suka," jawab Erich yang senantiasa melingkarkan tangan di pinggang ramping sang istri.
"Tapi di rumahkan aku sudah punya semua." Isabel masih berusaha menolak yang mana membuat Erich spontan mengigit jari telunjuk sang istri.
"Aw," pekik Isabel tertahan. "Ya, baiklah. Aku akan membeli apa pun yang aku inginkan. Lagi pula tidak baik 'kan jika kita menolak rezeki." Isabel tergelak, lebih tergelak lagi begitu mendapatkan seulas senyum miring dari bibir sang suami.
Isabel melepaskan tangan Erich dari pinggangnya untuk menyerbu toko tas mewah milik salah satu brand kenamaan dari negara Xx. Erich tersenyum senang, dengan langkah lebar ia mengikuti langkah sang Istri yang sesungguhnya berpura-pura antusias untuk membuat dirinya senang.
"Sayang, kau ingin yang mana." Erich memeluk tubuh Isabel dari belakang ketika mata gadis itu tengah sibuk memilih. Isabel tentu terkejut, terlebih ada beberapa karyawan yang sedang menatap ke arahnya.
"Em, sebentar. Aku sedang memilih." Isabel beralasan.
"Untuk apa dipilih, lagi pula bukankah pilihanmu sudah jatuh kepadaku," goda Erich yang tak sungkan mencium pipi sang istri di tempat umum.
"Kak, ini tempat umum. Malu jika dilihat orang."
Erich hanya tergelak namun tak melepaskan pelukan.
"Tunjuk saja apa yang kau inginkan. Selepas ini, kita makan. Aku sudah sangat lapar."
"Siap, Tuan." Isabel memberi hormat pada Erich, yang mana membuat pria itu gemas dan tak tahan untuk mencubit puncak hidung mbangir sang istri dengan gemasnya.
Tbc.
__ADS_1