CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tamu Penting


__ADS_3

Di hari pertamanya bekerja, semangat dalam diri Natasya seperti berkobar. Bangun lebih pagi, gadis itu lekas membersihkan diri dan mempersiapkan seluruh keperluan seperti pakaian dan segala macam yang berhubungan dengan penampilan.


Anastasya pun juga begitu bersemangat. Paruh baya itu juga bangun pagi dan memasak sarapan serta bekal makan siang untuk putri tercintanya. Meski tersirat kekhawatiran, namun Anastasya tak ingin berpraduga macam-macam. Akan tetapi ia selalu berdoa jika putrinya jangan sampai mengenal dekat apalagi berhubungan dengan orang-orang yang masih memiliki hubungan dengan masa lalunya.


"Tasya," pangil sang Ibu. "Ayo, sarapan," ajak Anastasya saat melihat putrinya menuruni tangga dengan pakaian kerja yang membalut tubuh rampingnya.


"Baik, Ibu." Natasya duduk di kursi meja makan. Ia menatap nasi goreng spesial buatan sang Ibu yang sudah tersaji di piring.


"Roti atau nasi goreng." Anastasya memberikan pilihan pada sang putri.


"Nasi goreng saja, Ibu."


Tersenyum lembut, Anastasya kemudian menambahkan telur mata sapi di atasnya sebagai pelengkap nasi goreng.


"Terimakasih."


Anastasya menganguk, ia pun duduk di kursi lain untuk ikut menikmati sarapan. Perempuan itu menatap putrinya yang tampak lahap menikmati nasi goreng buatannya.


"Kau tampak bersemangat sekali, putriku," ucap Anastasya pada putrinya.


Gadis itu tersenyum disela kunyahan kemudian memganggukkan kepala.


"Benar, Ibu. Apalagi ini pengalaman pertamaku bekerja." Natasya bahkan tak sabar untuk berkenalan dengan rekan-rekannya di kantor. Ya meski pun ia tak tau respon seperti apa yang akan didapat dari rekan-rekannya nanti di tempat kerja, namun satu yang pasti jika ia akan tetap menjadi dirinya sendiri.


"Ibu juga akan ke toko bunga selepas ini dan siang nanti rencananya akan mengunjungi kebun bunga milik seorang suplayer." Seperti itulah kurang lebih rutinitas harian Anasyasya selepas kembali ke indonesia dan menekuni pekerjaan sebagai pemilik toko bunga.


Natasya menganggukkan kepala.


"Kabari jika Ibu masih berada di toko, aku akan langsung datang ke toko dan pulang bersama Ibu saja. Bagaimana?."


"Ok, siapa takut."


Ibu dan anak itu tergelak. Menghabiskan sarapan kemudian bersiap. Natasya yang memang manja pada sang Ibu, rupanya meminta pada perempuan itu untuk sekalian memgantarnya bekerja.


"Tasya, kau punya mobil sendiri Nak. Kenapa harus meminta antar Ibu?." Sesungguhmya bukan berniat untuk menolak, hanya saja Anastasya tak ingin melihat bangunan tinggi menjulang yang akan mengingatkannya pada masa lalu.

__ADS_1


"Aku ingin diantar Ibu. Ayolah, Ibu. Hari ini saja," mohon Tasya seraya menangkupkan kedua telapak tangan di depan daada.


"Baiklah." Anastasya mengalah. Ia sadar jika sang putri lah yang menjadi kelemahannya.


Dengan menunggangi kuda besi milik Anastasya, Ibu dan anak itu mulai berkendara menuju gedung Atmadja Group. Detak jantung Anastasya kian tak beraturan saat jarak tempat kerja putrinya semakin dekat.


Kuatkan aku.


"Ibu, di depan gedung tinggi itu. Di sana tempat kerjaku, Ibu." Tasya menunjuk bangunan yang sudah terjangkau oleh padangan mata. Sang Ibu di sampingnya hanya mengangguk dan mengikuti intrupsi dari sang putri untuk berbelok.


"Kita sampai." Tasya begitu antusias. "Sudah turun di sini saja, Ibu." Mereka bahkan belum sampai area parkir.


"Tapi ini masih jauh dari gedung, sayang."


"Aku bisa jalan kaki, Ibu. Lagi pula ini sudah di depan gedung."


"Ta-tapi...." Anastasya kebingungan apalagi melihat putrinya yang tiba-tiba membuka pintu mobil.


"Sampai nanti, Ibu." Tasya mencium punggung tangan sang Ibu takzim dan secepat kilat keluar dari mobil. Gadis itu sempat melambaikan tang pada sang Ibu sebelum berlari kecil menuju gedung.


Di gedung ini, mungkin putrinya tak pernah tau jika Ibunya pernah menjadi bagian dari Atmadja group. Anastasya bahkan pernah dinikahi pria tampan, pewaris Atmadja group dan menjadi nyonya Arkana Surya Atmadja.


Tapi sayangnya, Ibumu ini bukanlah seorang istri idaman bagi seorang pewaris keluarga Atmadja, Nak. Dan kuharap kelak nasibmu tidak akan seperti Ibu ini. Cukup aku, Nak. Cukup Ibu yang merasakan kepahitan hidup di dunia ini.


💗💗💗💗💗


"Perkenalkan, Dia Natasya Shyailendra. Mulai hari ini dia akan bergabung dengan kalian dan menjabat sebagai Sekretaris pribadiku." Saat ini, Ernest memperkenalkan Natasya pada beberapa staf penting perusahaan sebagai salam perkenalan.


Natasya yang disebut sontak menundukan kepala ramah dan tersenyum kepada rekan-rekannya. Tanggapan dari beberapa staf itu berbeda-beda, ada yang membalas senyumnya tulus ada juga yang sekenanya. Dan tak jarang tatapan mereka pun seperti penuh tanya pada dirinya yang kini menjabat sebagai sekretasris pribadi seorang Ernest Surya Atmadja.


"Selamat pagi semua," sapa Natasya.


Seluruh rekan serempak menjawab salam Natasya. Gadis itu pun tersenyum. Seperti mendapat angin segar saat mendapat sambutan cukup baik dari rekan kerjanya.


Selepas acara perkenalan, Tasya pun digiring menuju meja kerjanya. Sebuah meja yang letaknya tepat di depan ruangan Ernest Surya Atmadja.

__ADS_1


"Kau tentu masih mengingat ucapanku semalam tentang pekerjaanmu 'kan?." Sebelum memasuki ruangan Ernest menyempatkan waktu untuk berbicara dengan Sekretaris pribadinya. Ya, kalau saja pembicaraan mereka semalam perihal tugas kerja yang akan dibebankan ada yang terlupa.


"Masih, Tuan. Saya masih mengingatnya."


"Baguslah." Pria itu lantas menyingkir dari hadapan Natasya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


Natasya menghela nafas lega. Ia pun menjatuhkan bobot tubuh di kursi kebesarannya.


Hem, nyaman sekali.


Sudut bibir sang gadis tertarik. Ah, seperti sebuah kebahagiaan tersendiri saat mendapatkan pekerjaan hasil dari pendidikan dan kerja keras.


Terimakasih Ayah, Ibu. Tanpa kalian tentu aku tidak akan duduk di kursi ini.


Natasya pun kembali pada pekerjaannya. Dalam sebuah buku tercatat agenda sang tuan selama beberapa hari ke depan. Gadis itu secara saksama membaca dan mengingat. Tak berselang lama, Langit menghampiri. Ia yang merupakan Asisten pribadi Ernest terlihat membantu dan sesekali menjelaskan perihal jadwal sang Tuan dan agenda-agenda rutinya.


"Untuk hari ini sepertinya beliau hanya akan meting pada sore hari."


Natasya mengangguk. Cukup senang saat Langit juga bersedia membantunya. Sebelum pergi, Langit sempat mengatakan jika akan tamu penting yang akan menemui Ernest.


Tamu penting. Siapa dia?.


Baru saja Natasya mendudukkan paantatnya di kursi selepas kepergian Langit. Dari arah pintu lift khusus yang terbuka, terlihat tiga orang pria keluar dan berjalan mendekat ke arahnya.


Ketiga orang itu terus mendekat. Gadis itu pun lekas bangkit dari posisinya untuk menyambut kedatangan tamu penting tersebut. Senyum di bibir gadis itu terpatri. Ia tatap para tamu yang hampir mendekati pintu ruang kerja Atasannya.


"Selamat datang, Tuan." Natasya menundukan kepala. Ia berdiri di samping pintu untuk menyambut.


"Selamat da-datang..." Salah satu tamu yang menjawab sapaan Natasya terbelalak ketika wajah gadis itu terangkat.


Saat Natasya memperhatikan wajah para tamunya. Ketiga tamu pentingnya itu menatap sang gadis penuh keterkejutan.


Tbc.


Wah, tamunya kira-kira siapa ya?.

__ADS_1


__ADS_2