
Daun-daun kering berguguran, meliuk-liuk tertiup angin sebelum jatuh mengenaskan di atas tanah. Hembusan angin terasa segar membelai kulit di cuacana nan terik. Di sebuah kursi, di bawah pohon nan rindang, dua orang gadis tertawa dan tengah menikmati minuman segar bersama.
"Jadi kau sedang mencari kerja?." Emely yang sedang meneguk minuman segar miliknya, bertanya.
Natasya mengangguk, membenarkan.
"Ya, aku ingin mencari pekerjaan. Selepas dua bulan membantu ibuku berjualan, dan setelah memastikan jika toko bunga mulai ramai pembeli maka aku memutuskan untuk bekerja." Natasya tersenyum hangat pada Emely, meski sesungguhnya menyimpan perih hati ketika menyinggung tentang usaha Ibunya, Anastasya.
"Kau lebih memilih untuk bekerja untuk orang lain ya, dari pada membantu bisnis Ibumu?." Emely tentu tau jika toko bunga Natasya memiliki banyak karyawan, lalu tidak kah perempuan itu berpuas diri dengan hanya menggeluti bisnis orang tuanya saja tanpa bekerja di tempat lain.
"Tidak juga, hanya saja sayang jika gelar yang kita dapat dibangku kuliah dengan susah payah, dibiarkan begitu saja." Natasya menepuk-nepuk map di pangkuan yang di dalamnya terdapat lembaran kertas penting miliknya yang akan digunakan untuk melamar kerja.
"Sini aku lihat," pinta Emely seraya menarik lembut map berwarna biru itu dari pangkuan Natasya. Emely membuka dan mengamatinya. "Memang kau sudah mengajukan lamaran di mana saja?." Tanya Emely lagi.
"Em, aku masih mengajukannya di satu perusahaan. Aku juga baru memulainya hari ini."
Tak begitu mendengar jawaban Natasya, bibir Emely justru mengangga begitu mendapati Nama Natasya sebagai alumni di salah satu universitas kenamaan di Negara XX.
"Natasya, apa ini benar?." Tanya Emely seraya menunjuk ke arah isi map. "Kau salah satu alumni di universitas Xx ?."
Natasya pun mengangguki kemudian menjawab, "Iya, memang kenapa?." Natasya justru balik bertanya.
__ADS_1
Emely tersenyum tipis, ia menatap Natasya dengan mata berbinar.
"Tidak apa, kau hebat." Berbeda dengan Natasya, Emely mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan ke negara lain. Arka tentu akan lebih dari sangup untuk membiayai sekolah dan kehidupannya di sana. Akan tetapi, tidak dengan Zara. Perempuan itu tak sanggup jika harus terpisah jauh dari sang putri meski hanya sehari.
"Sesungguhnya aku juga ingin berkuliah di negara XX sesuai impianku, tapi apalah daya, Ibu dan Ayah pasti melarangku. Aku mengerti, sebagai orang tua pasti memiliki kekhawatiran tersendiri ketika ingin melepaskan anak perempuan satu-satunya yang bahkan sedari kecil tak pernah hidup terpisah." Emely menatap pandangan lurus ke depan. Bayangan-bayangan kasih sayang dari kedua orang tuanya hadir di pelupuk mata. Ia sadar, sebesar apa Arka dan Zara menyayanginya.
"Aku bersekolah di sana sebab aku pun lahir dan di besarkan di sana. Washington D.C menjadi kota kelahiranku. Aku pun besar di sana, namun selepas Ayah meninggal kami memutuskan untuk kembali ke Indonesia." Ketika menyebut kata 'Ayah', lehernya seakan tercekik.
Ayah.
Tanpa terasa sepasang mata itu berkaca. Bayangan wajah sang Ayah yang tergolek di ranjang perawatan, memenuhi benak.
"Natasya," panggil Emely lirih. Gadis itu mendekatkan wajah, hingga terlihat sepasang mata Natasya yang memerah hendak menangis. "Ya Tuhan, Natasya. Kau menangis?." Emely menangkup wajah Natasya, berusaha memastikan gadis itu baik-baik saja. "Apa ada pertanyaaku yang melukaimu? Jika iya, maka maafkan aku." Wajah Emely berubah sendu, sepertinya ia sudah salah bicara, hingga menyebabkan Natasya hampir menangis seperti ini.
"Baiklah." Emely pun menyerah. Mereka berhenti untuk membahas pembicaraan ke arah lain, meski Emely sendiri diliputi rasa penasaran mendalam akan kehidupan Natasya sebenarnya. Ia sadar jika wajah sendu Natasya terlihat selepas membicarakan tentang negara XX sebagai negara kelahirannya.
Benar saja, mungkin tadi aku memang sudah salah bicara.
💗💗💗💗💗
Natasya menghempaskan bobot tubuh di atas ranjang. Hari ini dirinya benar-benar lelah. Begitu memasuki rumah, hanya ada Mbok Sumi yang menyambuntnya. Mungkin toko bunga sedang ramai, hingga sang Ibu belum juga kembali meski hari sudah menjelang petang.
__ADS_1
Terdengar ketukan pada daun pintu kamar yang sedikit terbuka. Mbok Sumi muncul begitu pintu terbuka.
"Non, makan malam sudah siap," ucap Mbok Sumi kemudian. "Mau makan sekarang?." Tanya perempuan paruh baya itu.
"Nanti saja, Mbok. Tasya akan tunggu Ibu pulang."
Mbok Sumi pun mengangguk. Bukannya keluar, perempuan itu justru menghampiri Natasya yang terbaring kelelahan di ranjang.
"Non Tasya lelah?." Tanya mbok Sumi kemudian ikut duduk di ranjang, di sebelah tubuh Nonanya. "Mau Mbok pijit," tawarnya kemudian.
"Boleh, tapi apa Mbok tidak capai setelah seharian bekerja?." Natasya justru menatap Iba pada perempuan paruh baya yang sudah bekerja pada Ibunya bahkan sebelum kembali ke tanah air.
Mbok Sumi beserta sang suami rupanya diamanahi oleh Kenan, mediang Ayah Natasya untuk menjaga sebuah rumah semenjak pria itu tinggalkan bertahun-tahun lalu. Hingga pada saat ketika Istri dan putrinya kembali, mereka tak lagi direpotkan untuk urusan tempat tinggal.
Bukan hanya rumah, Mediang Kenan juga sudah mempersiapkan beberapa aset yang bisa digunakan Anastasya untuk menghidupi dan membesarkan sang putri selepas ia tinggalkan. Semua hal Kenal lakukan, tak ayal membuat Istri dan putrinya kian bersedih. Tak menyangka jika Kenan seperti mendapat firasat jika memang usianya tak lagi panjang.
"Tentu tidak, Non. Lagi pula jika Non dan Nyonya pergi, Mbok justru banyak menganggurnya." Sumi tergelak, tanpa kata ia mulai menyentuh kaki jenjang Natasya kemudian memijatnya pelan.
"Terimakasih banyak ya, Mbok."
"Sama-sama, Non."
__ADS_1
Natasya tak lagi bicara. Ia memilih memejamkan mata. Menikmati setiap pijatan dari tangan Sumi yang terasa pas baginya. Tidak terlalu kencang dan juga tidak pelan. Berpindah tangan ke punggung sampai dua tangan. Natasya benar-benar menikmatinya, hingga tanpa sadar ia terlelap karna begitu nyamannya.
Tbc.