
Dunia seolah berhenti berputar bagi seorang Ragga saat pandangannya tertuju pada seorang gadis yang wajahnya begitu mirip dengan seseorang dimasa lalunya. Tak jauh berbeda dengan Rangga, Arka dan Sam juga menunjukan ekspresi wajah yang nyaris serupa.
Hening melingkupi. Ketiga pria itu terdiam sementara Natasya tak tau ingin berkata apa setelah menyapa.
"Tuan." Langit tiba-tiba muncul. Natasya pun bisa bernafas lega. "Dia adalah Natasya, sekretaris baru Tuan Ernest." Putra dari Sam itu menjelaskan.
Ketiga pria itu mengangguk faham. Langit pun mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruangan Ernest.
"Dia adalah Orang-orang terdekat Tuan Ernest. Yang mengenakan jas berwarna abu-abu, beliau adalah Tuan Arkana Surya Atmadja, Ayah dari Tuan Ernest. Sementara yang memakai jas hitam, beliau Tuan Rangga Wiratama, Sahabat sekaligus fatner bisnis Tuan Arka, dan yang memakas jas Navy, beliau adalah Tuan Samudra Prama, Ayahku." Langit sedang memperkenalkan ketiga pria yang baru saja memasuki ruang Ernest itu pada Natasya. Bukankah sudah menjadi tugas bagi gadis itu untuk bisa mengenali orang-orang yang memiliki hubungan dekat atau pun rekan kerja dari atasannya.
Natasya menganggukkan kepala sembari mengingat wajah-wajah yang tadi disebutkan Langit. Meski usia ketiganya terbilang tak lagi muda, tapi kharisma dan jiwa pemimpin dalam diri mereka masih terlihat jelas. Sepertinya Natasya bisa berbangga diri sebab bisa masuk ke dalam perusahaan yang diisi para orang-orang hebat. Tanpa sadar gadis itu mengurai senyuman.
Belum waktunya bagimu untuk berbangga diri, Tasya. Ini masih terlalu dini. Kau bahkan belum genap satu hari bekerja di perusahaan ini.
"Baiklah, aku akan pergi. Jika kau kesulitan atau ada sesuatu hal yang kau mengerti, hubungi aku," titah Langit seraya mengulurkan selembar kartu nama ke hadapan Natasya.
"Baik, Tuan," jawab sang gadis seraya mengambil alih lembaran kertas dari tangan Langit itu untuk disimpan.
💗💗💗💗💗
__ADS_1
Sesungguhnya tak ada agenda penting yang harus dibahas oleh ketiga tamu yang memasuki ruang kerja Ernest. Mereka hanya ingin singgah sejenak selepas menghadiri suatu acara yang digelar oleh salah satu rekan bisnis Arka.
Selepas melihat Natasya, Ranggalah orang yang paling dibuat tak menentu. Berbeda dengan Arka dan Sam yang langsung bertanya ini dan itu selepas bertemu Ernest, Rangga justru terlihat lebih banyak diam dari pada biasanya.
Tiga cangkir kopi mendarat cantik di atas meja yang khusus disajikan OB untuk ketiga atasan mereka beserta beberapa kudapan dan buah segar.
Arkan mendekati sang putra, melihat cara kerjanya yang kini sudah kembali mengalami kemajuan selepas terpuruk akibat kandasnya hubungan percintaannya dengan Sandara.
Sepertinya ini akan menjadi awal yang baik. Begitu fikir Arka.
"Ernest, apa kau yakin gadis itu memiliki kemampuan yang mumpuni untuk bisa mendampingimu dalam bekerja?." Setelah melihat wajah sekretaris baru sang putra yang memiliki paras rupawan, Arka kembali khawatir andai apa yang terjadi pada Ernest dulu akan terulang kembali.
"Entahlah, Ayah. Tapi pada saat wawancara dan melihat dari latar belakang pendidikannya, aku cukup yakin jika ia mampu mengimbangiku dalam bekerja." Natasya yang tanggap dan cerdas ditambah latar belakang pendidikannya saja sudah mampu membuat Ernest kagum. Pembawaan gadis itu pun tenang, tak mudah tegang atau pun salah tingkah saat dihadapkan pada orang-orang penting seperti dirinya.
"Baguslah. Ayah harap apa yang terjadi denganmu waktu lalu, bisa kau jadikan pelajaran. Jangan mudah percaya pada orang lain, terlebih pada seorang gadis karna Ayah begitu tau akan kelemahanmu," tutur Arka tanpa ingin menatap pada sang putra. Arka tau jika ucapannya terlalu menohok, tapi tidak ada salahnya untuk mengingatkan agar sang putra tak salah langkah.
Ernest menganggukkan kepalanya samar. Ya begitulah. Kelemahannya adalah tak bisa menolak keinginan orang lain. Ernest terlalu baik menurut orang lain hingga kebaikannya kerap dimanfaatkan orang lain untuk tujuan tertentu.
Sementara itu Rangga menikmati kopi di gelasnya dengan fikiran melayang. Ia masih teringat pada gadis yang merupakan sekretaris pribadi Ernest yang baru.
__ADS_1
Jika teringat tentang Anastasya, Rangga masih bisa merasakan debaran dada ketika dulu ia masih menikmati manisnya madu cinta bersama Anastasya.
Tidak Rangga. Kenapa hidupmu hanya terus berputar pada satu nama. Lupakanlah, dia pasti sudah hidup berbahagia dengan seorang pria yang lebih baik darimu.
Saat Anastasya menolak dirinya untuk kembali, disaat itu pulalah Rangga merasakan hidupnya sudah tak berarti. Puluhan tahun berjuang untuk melupakan dan coba menjalin hubungan dengan wanita lain, nyatanya ia tak bisa. Anastasya tetap tak tergantikan.
"Rangga, kau kenapa?." Arka bertanya saat melihat Rangga lebih banyak diam saat memasuki ruang kerja putranya. Apakah sahabatnya itu sakit. "Kau sakit?." Arka bertanya lagi.
Rangga sontak menggeleng kemudian tersenyum samar.
"Tidak, aku hanya merasa sedikit lelah," dusta Rangga.
Arka kemudian memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Ya, mungkin sudah waktunya bagi ia dan Rangga untuk pulang dan beristirahat.
Mereka pun memilih untuk berpamitan pada Ernest. Saat ketiganya keluar dari pintu ruangan Ernest, mereka bertemu lagi dengan gadis berparas rupawan yang spontan bangkit dari kursi kerja kemudian menundukan kepala pada ketiganya.
Ragga tertegun lagi, dan dengan secepat kilat ia memejamkan mata. Dalam hati ia merutuki diri yang selalu mengaitkan wajah gadis di hadapannya ini dengan seseorang di masa lalunya.
Dengan langkah lebar Rangga meninggalkan ke dua rekannya untuk lebih dulu keluar dari gedung Atmadja Group. Sumpah demi apa pun berlama-lama dihadapkan dengan gadis itu bisa membuatnya berhalusinasi bak orang gilaa.
__ADS_1
Tbc.