CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Reuni Tiga Sahabat


__ADS_3

"Selamat pagi, Tuan." Sapaan dari beberapa staf yang berpapasan hanya diangguki seorang pria yang sedang melangkahkan kakinya untuk menuju sebuah ruangan yang berada di lantai tertinggi bangunan.


Sam, pria yang menjadi orang kepercayaan Arka sekaligus Asisten pribadinya, tampak tergesa. Berjalan cepat dan mengabaikan panggilan dan juga sapaan para staf. Begitu pintu ruangan terbuka, seorang pria yang sedang berkutat dengan tumpukan map di meja kerja sontak menoleh.


"Maaf Tuan, saya terlambat." Sam menundukan kepala setelah berada tak jauh dari hadapan Arka.


"Tidak masalah, duduklah," ucap Arka seraya menunjuk ke arah sofa yang berada di dalam ruang kerjanya.


"Terimakasih." Sam mendaratkan bobot tubuh di sebuah sofa tunggal sementara Arka yang semula berada di meja kerja pun ikut bergabung.


"Bagaimana, kau hanya menceritakan sebagian tentang kehidupan gadis itu. Apa kau sudah mencari tau, bagaimana caranya pria be*at itu keluar dari tahanan dengan waktu secepat itu?" Arka tentu dibuat penasaran. Setau dirinya vonis hakim yang ditentukan, mengharuskan Sandy untuk mendekam di balik jeruji besi dengan waktu yang cukup lama.


"Dan apakah gadis itu juga putri kandung dari Sandy?"


Sam mengangguk, yang mana membuat Arka meradang.


"Siallan!" Arka mengendus aroma ketidak beresan pada kasus penahanan Sandy dan hal tersebut kenapa harus luput dari pantauannya.


"Kita sudah kecolongan, Tuan." Sam menyesal. Ia diliputi perasaan bersalah. Kenapa hal sepenting ini justru sama sekali tak terendus olehnya.


"Kenapa bisa sampai terjadi seperti ini?"


Sam terdiam sejenak. Pria itu sedang menyusun kalimat dari beberapa bukti-bukti yang didapat.


"Seperti yang kita ketahui, jika selain Nona masih banyak perempuan-perempuan lain yang menjadi korban dari Sandy, termasuk Andara, Ibu dari Nona Sandara yang kini juga menjadi istri dari Sandy."


Arka begitu saksama mendengar penjelasan Sam. Semakin dibuat penasaran saat asisten pribadinya itu menyebut beberapa nama yang masih asing di telinga.


"Sandy selalu mencari putri konglomerat untuk dijadikan mangsa. Sama seperti Andara, gadis itu pun rupanya putri salah seorang konglomerat yang cukup terkenal di ibu kota dengan berbagai macam bisnisnya."


Waw, fakta yang menarik. Arka semakin dibuat penasaran.


"Lanjutkan."


"Setelah mendapatkan pelajaran kita dan resmi ditahan, drama baru rupanya muncul kepermukaan. Namun sayangnya hal tersebut justru luput dari pandangan kita." Mungkin saat Arka dan Zara sedang menikmati perannya sebagai orang tua baru membuat mereka tidak sadar jika pria yang seharusnya ditahan justru dibebaskan.


"Andara mengandung dan meyakini jika Sandy--lah Ayah biologis dari janin yang dikandung."


Waw, Arka tercengang. Seorang Sandy sudah seperti penjahat kela*in yang bebas menghamburkan benihnya di mana pun.


"Orang tua Andara kelabakan. Gosipnya bahkan sempat tersebar di media masa sebelum ditarik paksa dari peredaran. Sebagai konglomerat yang senantiasa menjunjung tinggi nilai kehormatan, diam-diam mereka membebaskan Sandy dari tahanan dengan membayarkan denda yang taj main-main jumlah nominalnya. Ya, uang tak sebanding dengan kehormatan yang mereka pertaruhkan andai khalayak ramai tau jika putri mereka mengandung tanpa jelas siapa Ayah biologisnya."


Arka tersenyum sinis. Tak menyangka jika hukum bisa dibeli dengan uang dengan begutu mudahnya.


"Lalu, apa bayi yang dikandung istri Sandy saat itu adalah Sandara?"


"Bukan, menurut sumber dari yang bisa dipercaya jika bayi dalam kandungan itu bukanlah Nona Sandara. Janin itu tak terselamatkan, jadi Nona Sandara adalah anak kedua dari Sandy dan Istrinya."


Arka sampai geleng-geleng kepala. Kenapa masalah yang ada jadi serumit ini.


"Seperti yang saya katakan tempo hari jika Nona Sandara adalah alat yang digunakan oleh Sang ibu untuk membalaskan dendamnya pada Nona Zara. Dan seperti yang sudah saya jelaskan bahwa sanya Nona Andara memendam kecemburuan yang mendalam akibat merasa diabaikan oleh Sandy dan menuduh jika pria itu masih tak bisa mengalihkan dunianya dari Nona Zara."


Arka mengepalkan kedua tangan. Hal tersebutlah yang memicu amarahnya hingga tega mengusir Sandara pada malam sebelum akad Erich dan Isabel dilangsungkan. Sebagai seorang suami, Arka tentu murka saat istri tercintanya masih diharapkan oleh pria lain yang bahkan sangat dibencinya.


"Pria tidak waras. Rupanya setelah berlalu puluhan tahun pun dia masih menginginkan istriku. Sungguh tak tau malu." Arka masih terus mengumpat. Merasa tak habis fikir dengan tingkah Sandy yang begitu kekanakan. Tak bisa Move o**n, mungkin kalimat tersebut pantas disematkan pada Sandy yang belum bisa move on dari Zara.


Ditengah perbincangan kefua pria yang masih tampak serius, ketukan pada pintu ruang kerja terdengar.

__ADS_1


"Kejutan," ucap seorang pria yang tubuhnya baru saja muncul dari balik pintu yang terbuka.


Arka dan Sam terkesiap, saat menatap pada seorang pria yang masih betdiri di pintu dengan kedua tangan direntangkan.


"Loh, kenapa diam? Tidak rindu padaku? Kalian tidak ingin memelukku?" Begitu mendapati wajah terkejut kedua sahabatnya, pria itu pun memasang raut kebingungan.


"Rangga," ucap Arka dan Sam bersamaan.


"Ya, ini aku, Rangga. Kalian sudah tak mengenaliku? Ya tuhan, aku bahkan belum terlalu tua untuk bisa kalian lupakan," gerutu Rangga setengah tak terima. Ia bahkan berpura-pura membalik badan dan hendak keluar dari ruangan. "Baiklah, aku pergi saja. Benar, mungkin aku sudah terlalu tua, hingga kalian tak mampu mengenaliku lagi." Rangga tertunduk, pelan-pelan ia melangkah untuk menepi dari hadapan kedua sahabatnya.


"Rangga, tunggu!" Arka berteriak yang mana membuat Rangga tersenyum senang.


Ya tuhan, aku hanya sedang bergurau. Kenapa kau sampai berteriak sekencang itu Arka.


Rangga berbalik badan seraya tersenyum lebar.


Grep.


Sesuai dugaan, Arka langsung mendekapnya erat.


"Dasar bodoh! Bercandamu sungguh tidak lucu. Ayo!" Arka menarik lengan Rangga untuk ikut bergabung bersama Sam. Ketiganya duduk melingkar. Sesekali melempar padang kearah satu sama lain, sebelum akhirnya sama-sama tertawa.


Percakapan pun berganti topik selepas kemunculan Rangga. Sejenak mereka melupakan masalah Sandara dan mengantinya dengan topik ringan yang sesekali mengingatkan mereka pada masa-masa muda.


"Kau sudah punya tiga, kau juga punya dua, sementara aku?" Antara nelangsa atau ingin menertawakan dirinya sendiri. Rangga menghitung jumlah anak kedua sahabatnya, sementara dirinya?.


"Maka dari itu, menikahlah. Putraku saja sudah menikah dan mungkin dalam waktu dekat akan mendapatkan cucu. Lalu kau? Usia sendiri sudah nyaris setengah abad, kenapa masih betah melajang?"


Sungguh kalimat yang begitu menohok. Akan tetapi Rangga tetap menanggapinya dengan senyuman, sama seperti sebelum-sebelumya saat disinggung tentang pernikahan.


"Sadarlah Rangga. Anastasya kini sudah bahahgia dengan pria lain dikehidupannya. Lupakanlah, jangan jadikan masalalu sebagai penghalangmu untuk merangkai masa depan. Sama seperti Anastasya, kau pun juga berhak bahagia."


Rangga terdiam. Benarkah ia memilih tetap melajang karna hatinya masih terpaut pada satu nama, Anastasya?.


Ah, entahlah.


Baca juga ya, kak. Masih anget-angetnya.


Note. . Seperti sebelumnya yang pernah aku bilang, jangan diskip ya kak. Ikuti alurnya per bab, biar tetap tercatat dalam jumlah pembaca. Terimakasih🙏🙏🙏



Bab 1


Suara petir menggelegar tak surut membawa ,langkah lebar seorang pria untuk membimbing kedua kakinya menuju sebuah pintu kamar yang tertutup rapat. Pemilik wajah datar dengan sepasang mata memerah itu lekas mengayunkan satu kakinya untuk menendang pintu yang sepertinya tak dikunci dari dalam.


Brak. Dalam satu kali tendangan pintu bercat putih gading itu terbuka lebar, hingga terpampanglah pemandangan yang membuat pria bernama Sean Fernandez itu murka seketika.


"Sialan! Apa yang sudah kalian berdua lakukan di ranjangku!?" Suara lantang itu menggema, memenuhi ruangan.


Sepasang insan yang bergelung di bawah selimut yang sama, terkesiap. Sang pria terperanjat dan spontan bangkit. Sementara sang perempuan yang semula tertidur, mulai mengerjap mata, kebingungan.


"Biadab!" Sean yang kalap lekas mendekat dan menarik selimut dua insan dalam satu ranjang yang sama tersebut, hingga menampakkan tubuh kedua sejoli yang hanya berbalut pakaian dalam. Sean menarik kasar tubuh pria yang menjadi teman tidur istrinya, Ruby. Tanpa ampun ia mengarahkan bogem mentah ke wajah dan dada bidang pria yang tak diketahui namanya tersebut.


"Sean, hentikan!" Teriakan dari arah luar kamar tak digubris. Dua orang perempuan berbeda usia masuk dan melerai perkelahian. Sean yang terbakar amarah, masih mengarahkan kedua tangan dan kaki ke tubuh pria asing itu hingga kedua perempuan yang tak lain adalah ibu dan juga adiknya dibuat kewalahan.


"Sean, cukup! Kau bisa membunuhnya!" Ibu Sean lagi-lagi berteriak dan berusaha menarik tubuh Sean untuk menjauh. Panik dan takut bercampur, terlebih saat melihat wajah pria yang menjadi lawan putranya babak belur.

__ADS_1


"Lepas, Ibu!. Biar, jika perlu aku akan menghabisi nyawanya detik ini juga!."


Satu tamparan keras mendarat di satu pipi kanan Sean. Kesadaraannya seakan kembali muncul seiring rasa panas bercampur pedih menjalar di area pipinya.


"Sadar Sean. Di tempat ini bukan hanya ada dia," tunjuk Ibu Sean pada pria mengenaskan yang sudah terkapar di lantai. "Tapi juga dia. Ruby, istrimu." Tangan perempuan itu beralih, menunjuk perempuan muda yang masih terduduk lemas dengan rambut acak-acakan di sudut ranjang. Perempuan bernama Ruby, yang sayangnya ditemukan suaminya sendiri sedang bermesraan dengan pria lain di kamar pribadi miliknya sendiri.


Sean mengusap wajahnya kasar. Melihat Ruby dalam keadaan seperti ini membuat pria muda itu hendak menangis dan memaki namun sebisa mungkin ditahan.


"Istri macam apa yang tega memasukkan selingkuhan ke dalam rumah bahkan kamar suaminya sendiri. Berada di mana hati nuranimu, Ruby?" Perempuan paruh baya itu menatap nyalang pada gadis bernama Ruby yang masih tertunduk di tempatnya semula. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir mungil sang gadis, seolah membenarkan jika bukti-bukti perselingkuhan yang ada memang benar adanya.


"Rupanya firasatku selama ini padamu benar adanya. Kau, bukanlah gadis baik-baik yang pantas disandingkan dengan pria sesempurna putraku. Kau bisa lihat sekarang, Sean. Wajah asli perempuan yang selama ini kau agung-agungkan. Kau manjakan layaknya putri raja, tapi kini kau seakan tertampar kenyataan. Ruby, istrimu tak sepolos yang kau kira. Berselingkuh lalu bercinta dengan pria asing di ranja--"


"Cukup Ibu!." Sean mengangkat satu tangannya dengan berteriak, meminta sang ibu untuk tutup mulut. "Ruby Alexandra, detik ini juga aku mentalakmu, aku bebaskan dirimu dari seluruh tanggung jawabmu atas diriku begitu pun sebaliknya, kau bukan lagi istriku." Sean bahkan membuang muka saat berucap. Didetik yang sama, Ruby menghela nafas dalam. Gadis yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut itu tak mampu menjawab atau pun niatan untuk sekedar membela diri.


"Cepat kenakan pakaian dan keluar dari rumahku!" Sean lekas memutar tubuh, keluar dari kamar yang membuat hatinya hancur lebur. Pria itu tak punya tujuan. Baginya keluar dari rumah untuk menenangkan diri, lebih baik dibandingkan harus melihat kepergian Ruby dengan sang selingkuhan dari rumahnya.


"Kau dengar itu, Ruby?"


Ruby tetap diam. Ucapan sang ibu mertua seakan tak mau tertangkap indra pendengarnya.


"Sean sudah menjatuhkan talak dan memintamu untuk segera pergi dari rumah ini. Aku harap kau sadar diri untuk tak membawa apa pun yang bukan menjadi hak milik atas dirimu."


Perempuan paruh baya beserta putrinya masih setia berdiri di ambang pintu. Selepas kepergian Sean dari kamar, kedua perempuan berbeda usia itu masih enggan untuk beranjak. Mereka seolah belum puas menyaksikan kesedihan Ruby sebelum gadis itu benar-benar keluar dari kediaman putranya.


"Ayo, tunggu apa lagi?" Kini adik perempuan Sean yang bersuara. Gadis bernama Selena itu tersenyum puas seraya melipat kedua tangan di dada.


"Baik." Bibir Ruby bahkan bergetar saat mengucap. Ruby lekas mengenakan pakaiannya yang tercecer di lantai begitu pun dengan pria yang beberapa saat lalu tidur satu ranjang dengannya.


Menatap ke arah nakas, gadis dengan rambut panjang sepinggang itu mengumpulkan beberapa benda penting miliknya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Aku cukup tau diri untuk tidak membawa barang apa pun yang bukan menjadi hakku. Terimakasih sudah menampung hidupku selama dua tahun di rumah ini. Aku permisi." Tak ada air mata. Ruby begitu lugas ketika berucap. Ia pun tak segan menatap lekat kedua perempuan yang mungkin disepanjang hidupnya tak akan pernah ia lupa. Menahan pedih, Ruby memutuskan untuk menyingkir. Keluar dari istana megah yang menjadi tempat tinggalnya selepas dipersunting Sean Fernandez dua tahun lalu.


Senyap. Ruby tak menemukan keberadaan Sean saat ia melewati beberapa ruangan sebelum akhirnya keluar dari pintu utama. Dari beberapa sudut tampak seorang pelayan juga penjaga keamanan rumah Sean, menatap Ruby dengan pandangan sulit diartikan. Begitu menyadari jika sang Nyonya melihat keberadaan mereka, keduanya sontak mengalihkan pandangan dan beranjak pergi.


Ruby kembali melanjutkan langkah. Gadis itu pergi hanya membawa beberapa barang yang ia miliki sebelum dinikahi oleh Sean. Ruby sadar jika Sean bukan lagi suaminya dan peringatan Ibu Sean beserta adiknya, menampar kesadaran dirinya jika Ia bukanlah siapa-siapa lagi di rumah ini.


Selepas keluar dari pintu gerbang, Ruby menyandarkan tubuhnya di dinding. Tubuhnya luruh seiring luruh pulalah bulir bening yang sekuat tenaga ditahan.


Ruby menangis dengan mendekap mulut agar suara tangisnya tak dapat didengar oleh siapa un. Kejadian yang baru saja dialami begitu membuktikan seberapa besar keluarga Sean tak menginginkan kehadirannya. Melemparkan Fitnah kejam yang berujung ucapan talak Sean kepadanya.


Ruby terperanjat saat seseorang menepuk bahunya. Perempuan itu mendongak hingga pandangannya bersiborok dengan sepasang mata tajam seseorang pria yang spontan membuat kedua tangannya mengepal.


"Pergilah. Meski kau Istrinya, tapi aku yakin jika dia tak lagi menginginkanmu." Seseorang pria itu tergelak. Menatap miris pada gadis cantik yang nasib pernikahannya harus porak poranda karna ulahnya.


"Seberapa besar mereka membayarmu, hingga kau mau melakukan perbuatan sekotor ini padaku?" Ruby menggeram. Ia tatap nanar seorang pria asing yang mungkin sengaja dimasukkan olah sang Ibu mertua ke kamar pribadinya.


"Itu tidak penting, Sayang. Lagi pula disini aku mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Bukan hanya menerima uang, tetapi aku juga bebas mencumbuimu saat kau tertidur tadi." Pria itu kembali tergelak. Ia benar-benar puas, terlebih saat menatap kearah leher Ruby yang dipenuhi bekas kecupannya.


Ruby menatap nanar pria di hadapannya. Bulir bening kembali menetes, menyadari sekotor apa dirinya kini. Disentuh lelaki yang bukan suaminya.


"Kita bahkan tak saling mengenal, tetapi kenapa kau tega melakukannya?" Tanya Ruby lirih. Air matanya kembali mengalir, membayangkan sesakit apa hati Sean saat melihat Tubuhnya yang bahkan sudah disentuh orang lain.


"Bukankah sudah kutegaskan, jika disini aku dibayar. Dibayar dengan saat mahal hingga aku sendiri tidak kuasa untuk menolaknya meski pun harus mengorbankan rumah tangga orang lain." Serigai kemenangan terukir jelas di bibir pria berjambang tersebut yang justru terlihat begitu menjijikan bagi Ruby.


Tak ingin menanggapi, Ruby memilih diam. Tiada guna ia berada di tempat ini lagi. Meski berat, ia mencoba bangkit. Membawa langkah kaki meski tak tau arah tujuan.


"Sayang, kau mau ke mana? Ayo, ikutlah bersamaku. Kau bisa menjadi selingkuhanku. Kita tinggal bersama dan hei... hei... berhenti." Pria asing itu terus mengoceh sementara Ruby mulai jauh melangkah, meninggalkan kediaman megah Sean yang mengukirkan sejuta cinta dan juga air mata.

__ADS_1


__ADS_2