CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Dapat Perlindungan


__ADS_3

Semenjak peristiwa malam itu, saat Arum datang kerumah hingga melayangkan sebuah ancaman, Retno dibuat tak tenang. Perempuan paruh baya itu dibayangi ketakutan saat berada di dalam rumah atau pun diluar.


Retno sadar, ancaman dari Arum sepertinya tak main-main. Perempuan tempramen itu pasti bisa melakukan hal gila bahkan diluar pemikirannya.


"Bagaimana ini?" Gumam Retno disela aktifitasnya membuat secangkir kopi untuk Erich di pantry.


Bukan nyawanya yang takutkan, tetapi nyawa putrinya. Jika dirinya mungkin masih bisa waspada andai sewaktu-waktu Arum kembali datang, tetapi bagaimana dengan putrinya yang sebenarnya tak tau akan duduk permasalahannya.


Semenjak dikabarkan pergi, ponsel Ratih pun tak bisa dihubungi. Retno ingin sekali mendengar kabar, sekaligus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi namun keterbatasan alat telekomunikasi membuatnya harus memupuskan harapan. Baginya tak ada cara lain selain diam. Tetapi bagaimana dengan keselamatannya yang juga sedang terancam?


Wajah Retno terlihat lelah. Beberapa malam ini, ia bahkan tak dapat tidur. Ia benar-benar dicekam ketakutan. Takut andai orang suruhan Arum membakar rumahnya saat ia terlelap.


"Kopinya, tuan." Retno mendaratkan secangkir kopi ke meja kerja sang tuan.


"Terimakasih, Bu Retno." Erich mengeser sejenak pandangannya kearah Retno, lantas memberikannya seulas senyum sebagai bentuk penghargaan.


"Saya permisi tuan."


Erich mengakukkan kepala. Pria muda itu kembali terhanyut dalam rutinitas pekerjaannya.


Retno berjalan gontai menuju ruangan khusus OB. Ia ingin beristirahat sejenak. Tubuh dan fikirannya benar-benar lelah saat ini.


Tak terasa waktu terus berputar. Beberapa rekannya sudah terlihat pulang. Menyisakan beberapa saja yang sepertonya masih merampungkan bagiannya masing-masing.

__ADS_1


Seperti biasa, Retno akan datang ke ruangan Erich. Ia akan membersihkan ruangan yang sekirannya tak lagi dipergunakan oleh atasannya itu, seperti yang kerap juga dilakukan oleh Isabel.


Retno terlihat beberapa kali merenung dalam bekerja dan itu semua tak luput dari pandangan Erich. Tak seperti biasa, Retno terlihat tak fokus bekerja. Namun Erich pun tak menegurnya. Mungkin Retno tengah memiliki masalah, namun pria itu rasa jika semua bukan Ranah pribadinya untuk ikut campur.


💗💗💗💗💗


Selepas menghabiskan beberapa waktunya untuk duduk dan memandang suasana malam dari ruang kerjanya dengan bertemankan secangkir kopi buatan Retno, Erich memutuskan untuk pulang. Dari ekor mata pria muda itu melihat jika Retno pun sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Bu Retno, aku pulang lebih dulu. Bu Retno juga pulang, ini sudah malam. Ingat untuk tetap menjaga kesehetan." Erich bangkit dari sofa selepas memakai kembali jas yang sebelumnya sempat ia lepas.


"Baik tuan. Saya akan pulang dengan segera."


Erich beranjak untuk lekas keluar dari ruangan. Meninggalkan Retno yang masih sibuk membersihkan meja kerjanya yang sedikit berantakan.


Retno melihat kearah jam dinding yang terpasang di sisi ruangan. Sudah waktunya untuk pulang.


Retno mencari-cari angkutan umum dengan berdiri di atas trotoar. Ia tak punya ponsel android untuk sekedar memesan jasa taksi online atau semacamnya. Perempuan paruh baya itu berjalan kaki dengan pandangan berkeliaran, mencari-cari kendaraan umum yang bisa membawanya pulang mengingat malam terus beranjak.


"Di sini kau rupanya."


Retno terperanjat. Suara lantang seorang pria membuatnya terkejut. Lebih terkejut lagi saat tau wajah dari pemilik suara menggelegar itu.


Wajah Retno memucat seketika.

__ADS_1


Me-mereka? Tidak, mereka pasti mau menangkapku. Aku harus lari, ya aku harus lari sekarang.


Tanpa aba-aba, Retno bergegas mengambil langkah seribu saat ketiga pria berbadan besar yang merupakan anak buah Arum itu lengah.


"Hei, Sialan. Jangan lari kau," umpat salah satu dari ketiga pria itu seraya mengejar Retno yang mulai jauh meninggalkan mereka.


"Bodoh. Kau fikir bisa selamat dari kami. Dasar perempuan tua." Mereka coba mengejar Retno dengan terus mengumpat kata-kata kasar. Sementara Retno yang mulai kelelahan itu mulai pasrah. Ia sadar tenaganya sungguh tak sebanding dengan ketiga pria yang terus mengejarnya itu. Ia hanya nekat. Mungkin berteriak dan meminta pertolongan pun percuma. Sebab jarang pejalan kaki yang melintas dan Hanya ada kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.


"Berhenti kau."


Retno tak menggubris. Ia tak punya pilihan dan justru kembali ke depan gedung tempat kerjanya untuk bersembunyi.


"Dapat." Satu pria berhasil menangkap tubuh Retno. Ia terbahak. Tangan besar pria itu mencengkeram tubuh kecil Retno sangat erat hingga Retno kesakitan.


"Tolong. Tolong saya. Siapa saja tolong saya," teriak Retno meminta bantuan. Pria itu lekas membekap mulut Retno hingga tak bisa lagi berteriak.


"Ternyata nyalimu besar juga." Pria itu berusaha meremukan tubuh Retno dengan kedua tangannya. Ia geram sebab sudah merasa dipermainkan. Retno tetap melawan dengan mencoba melepaskan cengkeraman, namun nihil. Tenaganya sungguh tak sebanding.


Satu mobil mendekat kearah mereka. Retno meneteskan air mata. Mereka pasti akan membawanya pada Arum. Lalu bagaimana dengan putrinya?


Retno terisak. Tenaganya sudah habis untuk sekedar berteriak. Utusan Arum memang pintar seolah mengatur permainan. Satu rekannya bahkan mengatakan jika Retno seorang copet yang kedapatan mengambil salah satu dompet milik rekannya. Retno hanya bisa pasrah, orang yang berniat menolongnya kini pergi. Tubuhnya bahkan sudah digiring menuju mobil untuk meninggalkan tempat kejadian.


Retno sudah tak memiliki harapan. Mungkin setelah ini, ia tak akan lagi melihat indahnya dunia. Juga melihat wajah putrinya, namun suara lantang dari arah belakang membuat harapan hidup yang sempat pupus, beranjak tumbuh.

__ADS_1


"Hentikan! Lepaskan dia dan hadapi aku."


Beberapa pria yang membawa tubuh Retno itu sontak terdiam. Semua pandangan kini tertuju kearah belakang, di mana seorang pria dengan postur tinggi menjulang, tengah berdiri dengan Raut wajah menantang.


__ADS_2