
"Kakak akan bekerja?" Pertanyaan tersebut meluncur begitu saja dari bibir Isabel saat melihat Erich, suaminya yang sudah terlihat rapi saat perempuan berambut panjang itu baru saja memasuki kamar selepas mempersiapkan sarapan di dapur dengan bantuan Bibi pelayan.
"Ya, aku harus bekerja kembali, sayang. Masa cutiku sudah habis dan aku akan kembali mengurus perusahaan seperti sebelumnya saat kita masih belum menikah," jawab Erich yang seraya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
Isabel pun mendekat, mengambil alih handuk dari tangan sang suami, hingga kini dirinyalah yang bertungas untuk mengeringkan rambut basah pria tersebut.
"Kakak duduk saja. Untuk urusan mengeringkan rambut, bukan sudah menjadi tugasku sekarang?"
Erich tergelak. Ia cubit puncak hidung sang istri sebelum menjatuhkan bobot tubuh di sofa.
"Ah benar juga ya. Bukankah aku sudah mempunyai istri, kenapa harus repot sendiri." Ada kebanggaan tersendiri saat menyebut dirinya sebagai seorang suami. Ah, rupanya pernikahan beberapa hari bukanlah mimpi.
"Ayo, lakukan tugasmu. Suamimu ini akan menerima dengan senang hati." Erich memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Punggungnya ia sandarkan pada kepala sofa, bersiap menikmati pelayanan yang ditawarkan oleh sang istri.
"Baiklah." Isabel mengambil posisi dengan berdiri di belakang sofa, sementara kepala Erich tepat di hadapannya.
Usap, usap. Sesekali Isabel memberi pijatan ringan di kepala yang membuat Erich memejamkan mata oleh sensasi nyaman yang tak mampu ditolak.
"Wah, kau seperti pemijat profesional, sayang. Aku bahkan ingin tertidur lagi oleh pijatanmu yang begitu nyaman," puji Erich masih dengan memejamkan mata. Isabel tentu tersenyum begitu mendapatkan pujian dari seseorang yang disayang.
"Cukup, sayang. Kalau diteruskan aku bisa terlambat datang ke kantor." Erich melepaskan kedua tagan Isabel yang sedang menyisir rambutnya sebelum pria itu beranjak. Dirinya harus lekas bersiap, meski sejujurnya berat untuk meninggalkan Isabel saat masih dalam suasana pengantin baru seperti ini. "Kita akan meneruskannya kembali setelah aku pulang bekerja," sambung Erich seraya mengedipkan mata. Menggoda sang istri hingga perempuan cantik itu tersipu malu.
Erich bersama Isabel memasuki walk in closet, memilih pakaian dan juga sepatu yang akan dikrnakan untuk bekerja.
"Yang mana?" Tanya Isabel yang cukup kebingungan untuk memadu padankan stelan jas dan kemeja yang sekiranya pas melekat ditubuh sang suami. Memang si jika dari postur tubuh, kulit dan juga paras yang dimiliki oleh Erich, tak butuh waktu untuk memilih. Pasalnya walau mengunakan stelan jas dengan warna apa pun tetaplah terlihat tampan.
"Apa pun yang kau pilihkan, maka aku dengan senang hati memakainya." Erich bahkan tak henti-hentinya menggoda.
Isabel mengulum senyum. Ia kembali menatap ke arah di mana pakaian Erich tersimpan. Kemeja dan celana bahan Erich dari keseluruhan memiliki warna yang nyaris sama.
__ADS_1
Pantas saja, sewaktu bekerja aku kerap melihat kakak memakai warna kemeja dan stelan jas yang hampir serupa. Rupanya kakak hanya menyukai warna seperti ini saja.
Pandangan Isabel masih tertuju pada barisan kemeja yang didominasi warna gelap. Mungkin hanya warna tersebutlah yang menjadi warna favorit Erich.
Cocok juga sih untuk karakternya yang dingin dan tegas.
"Sayang," panggil Erich yang membuat Isabel berjingkat.
"Ya!"
"Kau kenapa, melamun?" Grep. Erich memeluk tubuh Isabel dari belakang dengan dagu bertumpu ceruk leher Isabel. "Ayo, carikan pakaian untukku, sebelum aku benar-benar terlambat datang ke kantor," bisik Erich tepat di telinga sang istri.
"Se-sebentar." Gadis itu hendak bergerak, tapi Erich seolah menahan pergerakan. Mendekap erat sang istri seolah tak rela melepaskan.
"Kak," rengek Isabel.
"Ok, baiklah," jawab Erich yang dengan berat hati harus melepaskan Isabel dari belenggu.
"Nah, beres," seru Isabel dengan nada riang selepas berhasil mendadani sang suami sesuai keinginannya.
"Bagaimana?" Isabel meminta pada Erich untuk berdiri di depan cermin. Meminta penilaian sekaligus memastikan jika sang suami menyukai hasil pilihannya atau tidak.
Erich mengerutkan kening. Menimang dan pura-pura berfikir dalam.
"Kenapa pilihanmu... bisa... Sekeren ini?"
Isabel yang sempat takut jika Erich tak menyukai, kini menghela nafas lega. Mungkin ucapan Erich terdengar berlebihan, tapi di mata Isabel mungkin saja Erich berusaha menghargai kerja kerasnya dengan cara memberi pujian sebagai ungkapan rasa terimakasih.
Semula gadis itu sendiri tak cukup percaya diri untuk bisa bersanding bersama Erich apalagi mengurus semua kebutuhannya. Isabel yang hanya diperlakukan seperti pelayan oleh Arum, rupanya memiliki keterbatasan dalam hal pendidikan dan pergaulan.
__ADS_1
Tidak pernah merasakan belajar di meja kuliah, seringkali membuatnya rendah diri. Dalam lingkup pergaulan pun, Isabel tak memiliki teman. Semenjak hidupnya dikendalikan oleh Arum sepenuhnya, Isabel seperti terkurung. Tak pernah berinteraksi dengan dunia luar dan hanya dijejali dengan pekerjaan.
Rasanya begitu perih saat Isabel mengingatnya. Dan kini bisa merasakan hidup dengan nyaman bersama Erich, sungguh seperti berada dialam mimpi namun nyata.
"Sayang, kenapa melamun?"
Gadis itu tersenyum lembut. Selembut pandangan mata Erich yang tertunju padanya.
"Em, tidak."
"Baiklah." Erich tentu bisa merasakan perubahan suasana hati sang istri. Ia pun mendekap bahu istrinya itu dan membimbingnya untuk keluar dari ruang pakaian. "Ayo, kita sarapan. Aku sudah tak sabar ingin melahap makanan yang dimasak oleh istri tercintaku."
Tentu tak ada yang lebih membahagiakan bagi Isabel selain segala bentuk perhatian dan kasih sayang yang ditujukan Erich untuknya. Mungkin Erich adalah kado terindah yang sudah dipersiapkan tuhan sebagai ganti penderitaannya di masa lalu.
Terbiasa diperlakukan selayaknya pelayan membuat Isabel begitu cekatan dalam mempersiapkan sarapan untuk sang suami. Ia mulai memindahkan dua buah roti isi ke dalam piring untuk diberikannya kepada Erich.
"Terimakasih, sayang."
Mereka menghabiskan sarapan hanya berdua. Semua keluarga sudah undur diri dan sengaja memberikan kesempatan pada sepasang pengantin baru itu untuk menghabiskan waktu berdua tanpa adanya gangguan.
Erich menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Perutnya sudah terasa kenyang. Ia memeriksa arloji dipergelangan tangan. Rupanya sudah saatnya bagi Erich untuk berangkat. Begitu bangkit dari posisinya semula, Erich mengingat ucapan sang ibu sebelum kembali ke ibu kota.
"Sayang."
"Ya, ada apa, Kak?" Isabel, gadis yang sudah mendekap tas kerja dan hendak memberikannya pada sang suami itu menghentikan aktifitasnya sejenak. Memperhatikan dan mendengarkan ucapan suaminya.
"Akhir pekan nanti Ibu meminta kita untuk pulang ke ibu kota. Ya, kata Ibu hitung-hitung sekalian bulan madu." Selepas berucap Erich bahkan sempat tergelak. Menertawakan akal-akalan sang ibu agar dirinya tak menolak untuk pulang.
"Baiklah, aku bahkan sudah tak sabar menunggu akhir pekan tiba."
__ADS_1
Erich tentu tersenyum senang dengan jawaban dan antusiasme yang ditunjukan oleh sang istri. Sekali lagi dirinya merasa beruntung. Isabel bukan hanya mencintainya tetapi juga mencintai keluarganya.
Tbc.