CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Bolehkah Aku Memelukmu?.


__ADS_3

"Ibumu bernama Anastasya?." Setelah menemukan kembali kesadaran akibat rasa terkejut, Rangga kembali melemparkan tanya pada gadis di hadapannya. Tidak, mungkin hanya kebetulan atau mereka mempunyai nama sama namun dengan wajah berbeda. Begitulah isi hati Rangga terus bersuara.


"Ya, benar, Tuan."


Rangga meneguk ludah.


"Dan nama Ayahmu?."


"Kenan Syailendra, itu nama mendiang Ayah saya, Tuan." Natasya menjelaskan dengan suara tenang. Tidak seperti pada rekan kerja lain, entah mengapa saat Rangga seperti ingin mengetahui nama kedua orang tuannya, gadis itu tak keberatan untuk menyebutnya.


"Mendiang, jadi Ayahmu sudah meninggal?." Fikiran Rangga terus berputar, bukan hanya sedang mencari seseorang bernama Kenan yang pernah ia kenal tapi justru lebih jauh lagi. Mendiang?. Berarti sudah meninggal?. Lalu Kenan yang mana?.


Natasya mengangguk dan menjawab, "Benar, Tuan."


"Maaf." Tersirat rasa bersalah dalam nada bicara Rangga. Sudah. Ia tak ingin lebih jauh bertanya lagi tentang kehidupan Sekretaris Ernest. Cukup. Jika ingin lebih mendalami tentunya ia harus mencari tau sendiri dari pada menyakiti orang lain. Meski Natasya memasang wajah biasa namun Rangga dapat merasakan jika gadis itu merasa kurang nyaman untuk menjawab pertanyaannya.


"Wah, ada apa ini?." Ernest yang kembali bergabung menatap pada kedua orang, teman semejanya. Dari kejauhan tadi dirinya sempat melihat jika Rangga tampak akrab berbicara dengan Sekretarisnya. Entah apa yang mereka bicarakan, namun jika diperhatikan mereka bukan sedang membicarakan tentang pekerjaan.


"Kami hanya berbincang. Rupanya selain cantik, Sekretarismu ini juga asik diajak bicara." Rangga menjawab pertanyaan Ernest.


"Wah, memangnya apa yang kalian bicarakan sampai paman berani memuji Sekretarisku," goda Ernest seraya tergelak. Ia melirik sekilas pada Rangga kemudia menatap lembut pada Natasya seolah meminta penjelasan.


"Em, rahasia." Rangga tergelak pelan, sementara Natasya menanggapinya dengan seulas senyum tipis. Ernest menghela nafas dalam. Pria tampan itu rupanya kecewa saat Rangga dan juga Sekrtetarisnya seperti sedang merahasiakan sesuatu. Kenapa mereka tidak melanjutkan pembicaraan ketika aku datang?. Begitulah isi fikiran Ernest. Hendak cemburu, namun sepertinya tak beralasan sebab dirinya dan Natasya bukanlah sepasang kekasih. Akan tetapi jika dibiarkan, tidak menutup kemungkinan jika Rangga bisa menaruh hati pada Sekretaris pribadinya mengingat pria yang ia panggil paman itu masih berstatus lajang.


Ini tidak bisa dibiarkan.


"Natasya, cepat habiskan makananmu. Kita harus kembali ke kantor secepatnya mengingat masih banyak berkas yang perlu kutanda tangani." Ernest memberi perintah. Pria itu tak berniat menyentuh lagi sisa makan beserta minuman dan meminta Natasya untuk cepat meninggalkan kafe.


Sementara itu Natasya menatap penuh tanya pada Ernest yang terlihat aneh sekembalinya dari toilet. Ia masih menyuapkan makanan ke mulut ketika pria tersebut membulatkan mata, menatapnya dalam dan memberi kode agar cepat menghabiskan makan.


"Ayo, Natasya. Kita sedang dikejar waktu," ucap Ernest yang pura-pura memeriksa arloji di pergelangan tangan.

__ADS_1


"Ernest, kau ini apa-apaan?." Rangga seperti tak terima. Terlebih ketika menatap pada Natasya yang kebingungan dan tergesa-gesa menghabiskan makan. "Natasya sedang makan, dan kau tidak perlu memperburunya seperti itu. Dia bisa saja tersedak karna karna omonganmu." Rangga geleng-geleng kepala. Sementara Ernest mendelik kesal, tak terima pada sikap Rangga yang ingin terlihat melindungi Natasya.


Natasya yang sungkan, lekas menghabiskan makanan.


"Tidak apa, Tuan, saya memang sudah selesai. Lagi oula, benar kata Tuan Ernest jika kami memang harus secepatnya kembali ke perusahaan." Natasya lekas merapikan diri dan merengkuh tas miliknya. Sepertinya suasana sedang tak kondusif dan ia harus dengan segera membawa Ernest keluar dari tempat ini sebelum timbul perdebatan.


"Terimakasih sebelumnya kami ucapkan pada Tuan Rangga atas pertemuan serta jamuan makan siangnya. Mengingat waktu yang terus berjalan serta tugas kerja yang sedang menunggu di perusahaan, maka kami meminta izin untuk kembali lebih dulu. Kami pamit, Tuan." Natasya mewakili Ernest yang sedari tadi memilih diam. Gadis itu bangkit dan menundukan kepala.


"Oh, baiklah. Saya juga berterimakasih atas hasil pembicaraan yang sudah menemukan kesepakatan. Untuk makan siang, ah saya justru yang lebih senang sebab mendapat lawan bicara yang berwawasan luas seperti anda, Nona Natasya."


Ernest kembali melotot seakan ingin menelan Rangga hidup-hidup selepas mendengar kata-kata yang lagi-lagi memuji Natasya.


Rangga tergelak, sementara Natasya justru tak menyadari jika kedua pria berbeda usia itu tengah berseteru.


Biji matamu bisa terlebih jika memandangiku dengan cara seperti itu, Ernest.


💗💗💗💗💗


Beberapa kali ia memeriksa ke arah jam dinding yang terus bergerak, namun kedua insan yang di tunggu tak jua menampakkan batang hidung.


Pintu ruangan terbuka, bersamaan dengan tubuh Ernest yang muncul dari balik pintu yang terbuka.


"Ibu," panggil Ernest. Pria muda itu cukup terkejut sebab kedatangan sang Ibu yang tanpa pemberitahuan.


"Ernest," jawab Zara. Perempuan itu bangkit dan menyambut kedatangan sang putra.


"Ibu ada perlu, kenapa tidak menelfonku lebih dulu?." Ernest mencecar tanya. Ia pun menggiring tubuh sang Ibu untuk duduk kembali bersamanya.


"Ibu hanya kebetulan melintas. Lagi pula Ibu juga rindu padamu, jadi Ibu putuskan saja untuk singgah kemari." Zara sempat melirik ke arah pintu ruangan yang masih terbuka. Natasya tak nampak atau pun melintas. Ah, apakah dirinya harus keluar.


"Ibu kenapa?." Ernest bertanya saat pandangan sang Ibu justru terus tertuju pada pintu ruangannya. Padahal di sana tak ada siapa pun.

__ADS_1


"Ti-tidak apa-apa, tadi Ibu hanya seperti sedang melihat seseorang, tapi tidak ada siapa pun di sana," kilah Zara yang kemudian dipercayai oleh sang putra.


"Ernest, Ibu haus. Boleh Ibu minta minum?."


"Tentu, Ibu. Sebentar, akan kuhubungi Natasya. Ibu ingin minuman apa?." Ernest hendak menekan sambungan interkom sebelum Zara mencegah.


"Ti-tidak usah, Nak. Biar, biar Ibu saja yang meminta langsung pada Natasya."


Hah.


"Bu, biar Nata---"


"Tidak usah, biar Ibu saja yang ke sana."


Ernest tak mampu mencegah saat Zara sudah lebih dulu berjalan untuk keluar ruangan.


Zara terhenyak, di depan pintu ia memandang lekat Natasya yang masih berkutat di meja kerjanya. Beberapa saat perempuan itu masih terdiam sampai Natasya menyadari keberadaannya.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?." Natasya bergerak sigap. Bangkit dan menghampiri Zara, mungkin saja perempuan itu sedang membutuhkan bantuannya.


"Natasya," panggi Zara.


"Ya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?."


"Bolehkan aku memelukmu?."


Hah, memeluk?.


"Natasya," panggil Zara pada Natasya untuk kesekian kalinya.


"S-silakan, Nyonya." Tanpa banyak bicara lagi, Zara lekas merengkuh tubuh Natasya dan memeluknya erat seolah sedang memeluk Anastasya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2