
Senyum di bibir Larasati terukir saat menatap punggung lebar Steven yang duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakanginya. Pria itu belum menyadari keberadaan sang kekasih yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Larasati berjalan anggun dengan hanya mengenakan gaun malam tipis yang membentuk lukuk tubuh proporsionalnya. Gadis itu sengaja, memoles wajah secantik mungkin dan pakaian seseksi mungkin untuk menggoda sang kekasih.
Tak ada rasa malu terlebih canggung. Gadis itu terus melangkah dan mendekap tubuh Steven dari belakang hingga membuat pria itu terkesiap.
"Lara," lirih Steven masih terkejut.
"Ya, sayang. Ini aku, kekasihmu." Wajah Larasati tenggelam di ceruk leher sang kekasih, menggoda sang pria hingga membubuhkan beberapa kecupan di sana.
Tanpa sadar Steven meleguh. Menikmati permainan bibir sang kekasih di area lehernya.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" tanya Larasati disela aktifitasnya memanjakan tubuh sang kekasih.
Steven tak menjawab, nafas pria itu terdengar memburu menahan hasrat.
Bukan hanya bibir, kedua tangan Larasati pun mulai bergerak lincah menyentuh dada bidang Steven yang masih berbalut kemeja. Mengusapnya pelan turun naik yang mana membuat Steven menggeram.
Sigap Steven menahan pergerakan kedua tangan Lara yang bergerak nakal di dadanya. Pria itu membalikan badan hingga posisi keduanya kini saling berhadapan.
Pria itu terperangah saat mendapati penampilan sang kekasih yang terkesan sedang menggodanya. Wajah berpoles riasan tebal, dengan tubuh yang hanya menggunakan gaun transparan hingga menampakan kedua aset pribadi sang kekasih yang tak dihalangi apa pun.
Sejujurnya ini bukan kali pertamanya Lara berpakaian demikian terbuka saat keduanya tengah bersama. Bahkan tanpa sehelai benang pun Steven kerap melihatnya.
"Kenapa kau berpakaian seperti ini?" Bukannya senang, Steven justru menyirattkan ketidaksukaannya akan penampilan menggoda sang kekasih.
Larasati tentu mengernyit bingung. Ia telisik penampilannya dari rambut hingga kaki. Tak ada yang salah.
"Kenapa? Bukankah kau selalu senang jika aku berpakaian seperti ini. Seksi dan menggairahkan. Bukan begitu sayang?" Tanpa aba-aba Larasati memajukan tubuhnya hingga bibir gadis itu menyentuh bibir sang pujaan hati, bahkan tak ragu larasati ******* benda kenyal itu dengan sedikit kasar.
Steven tersentak. Bukannya membalas, pria itu justru spontan mendorong kedua bahu larasati hingga tubuh perempuan itu terjerembab ke atas ranjang.
"Aww," pekik Larasati kesakitan. "Apa yang kau lakukan?" Gadis itu tak terima.
"Jangan menggodaku. Maaf, saat ini aku sedang tak berselera," sarkas Steven yang membuat Laras terkesiap.
"Benarkah?" Larasati setengah meragukan ucapan Steven. Gadis itu menegakkan tubuh dan kembali menghampiri Steven yang terlihat gelisah. "Kau bahkan tak pernah menolakku sebelumnya dan kau justru terlihat menikmatinya." Tangan Larasati kembali beraksi. Mendekap pinggang Steven dan mencium bibir pria itu penuh nafsu.
Alih-alih membalas ciuman, Steven mendorong dan melepas paksa tautan bibir untuk kedua kalinya.
"Hentikan lara!." Steven tampak emosi dengan deru nafas yang tak beraturan. "Bukankah sudah kukatakan jika aku sedang tak berselera." Steven nampak frustrasi.
Sejenak Larasati terpaku. Demi apa dirinya mendapat penolakan sehina ini. Steven menolaknya? Benarkah demikian?
__ADS_1
Sepasang bola mata Larasati menatap garang pada pria yang kini sedang mengacak rambut milik pria itu sendiri. Semenjak pertunangan keduanya yang digelar, Larasati menemukan perubahan yang signifikan pada sifat kekasihnya itu. Steven tak lagi memanjakannya seperti dulu. Pria itu lebih banyak diam saat ini, dan tak lagi asik untuk dijadikan teman bicara saat ini.
Dan mungkin saat inilah puncaknya. Saat Steven menolak mentah-mentah bermesraan dengannya, sedangkan yang gadis itu ketahui jika Steven paling menyukai jika dirinya berpakaiaan layaknya penggoda seperti ini. Sumpah demi apa pun, larasati merasa terhina sekarang.
"Sejak kapan kau menolakku? katakan! Sejak kapan kau menolak berhubungan badan denganku?"
Steven mengusap wajahnya kasar. Ia kesulitan mencari jawaban.
"Maafkan aku lara."
"Maaf?" Larasati tertawa sinis. Langkah kakinya terayun untuk kembali mendekati Steven. "Terlambat jika kau baru menolakknya sekarang. Aku bahkan sudah hamil besar andai kau tak memakai pengaman saat menjamahku," sambung larasati dengan pandangan mengejek.
Steven yang mulai terpojok lekas meraih jas yang tergeletak di atas ranjang dan memilih untuk keluar ruangan.
"Maaf, aku harus pergi." Berjalan cepat, Steven tak lagi memandang Lara. Ia ingin pergi secepatnya dan mendinginkan kepala yang nyaris pecah.
Larasati tak mencegah. Ia bersedekap dan menatap tubuh tegap Steven hingga menghilang di balik pintu kamar.
Aku yakin jika perubahan sikapku sebab kepergian Isabel. Kau tidak pintar berbohong. Kau masih mencintai gadis itu rupanya.
Sementara itu di ruangan berbeda.
"Katakan, informasi apa yang sudah kalian dapatkan?" Seorang perempuan yang sedang menyesap sebatang lintingan tembakau bertanya pada pada kedua anak buah yang beberapa bulan ini ia tugaskan untuk menguntit seseorang.
Kedua pria itu saling pandang, hingga satu diantarannya maju beberapa langkah dan bersiap melaporkan.
Arum tersenyum miring. Inikah kabar baik yang ia tunggu-tunggu.
"Sekilas memang tak terlihat. Nona Isabel cukup cerdas untuk melakukan penyamaran dengan merubah penampilannya seperti seorang pria."
"Benarkah?" Arum nampak antusoas mendengarkan.
"Benar nyonya, tetapi untuk saya yang sudah cukup lama mengenal nona Isabel, tentu tidak akan sulit membedakannya. Bentuk tubuh, tinggi badan juga cara berjalan, membuat saya kian yakin jika seseorang itu adalah nona Isabel." Pria berbada tegap dan berkulit coklat itu memaparkan informasi yang ia dapat secara detail. Pria yang memang sudah bekerja cukup lama pada keluarga Praja itu kini berpihak pada Arum dan juga menjadi mata-mata utama yang Arum tugaskan untuk mencari keberadaan Praja dan Isabel selama ini.
Ditengah ketegangan, pintu ruang kerja Arum di buka dari luar. Ayah Steven muncul, masih dengan stelan jas lengkapnya.
"Ada apa?" Tanya sang pria yang kini menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa selepas mencium pipi Arum penuh cinta.
"Mereka bilang jika melihat Isabel di kota ini."
"Wow, benarkah?"
Arum hanya mengangguk.
__ADS_1
"Lantas kemana gadis itu sekarang?" Kini giliran ayah Steven melempar tanya.
"Cukup lama nona berada di sebuah gedung perusahan dan setelah itu menuju sebuah rumah yang sepertinya milik seseorang yang bekerja di perusahaan tersebut."
Ayah Steven dan juga Arum nampak berfikir. Namun beberapa detik berikutnya Arum justru terkikik seolah tengah menertawakan sebuhal hal yang menurutnya lucu.
"Apakah gadis itu datang kemari seorang diri?"
"Sepertinya, nyonya."
"Waw, nyali putri tiriku besar juga rupanya. Tak sadarkah dia dengan datang kemari seorang diri sama dengan menyerahkan nyawanya sendiri kepada Kita?"
Ayah Steven ikut terkekeh. Namun tidak dengan dua anak buahnya yang memilih tak bersuara.
"Aku curiga jika gadis itu datang untuk merebut semua harta ini dariku. Ya seperti yang kau tau sayang, Praja cukup pintar. Sepandai apa pun aku merayunya, nyatanya semua aset tidak berpindah nama menjadi milikku."
Ayah Steven mengernyit, bingung.
"Maksudmu?"
"Ya, hampir semua aset pribadi milik Praja masih atas namanya dan juga putrinya. Praja hanya memberiku sebuah rumah yang terletak di jalan xx dan kedua mobil yang selama ini aku pakai."
"Bodoh!" Maki Ayah Steven yang mana membuat orang suruhan Arum itu terkesiap. Arum pun sama, ia ikut tersentak mendengar umpatan kasar yang keluar dari bibir pria yang selama ini menjadi selingkuhannya.
"Kau tidak punya hak untuk memakiku. Aku memang tidak memilik aset, tetapi aku punya kuasa untuk menjual benda-benda berharga milik Praja, mengingat statusku juga istri darinya."
Ayah Steven memilih diam. Wajah pria itu masam, menahan Emosi yang terpendam.
"Aku tau jika Praja begitu menyayangi Isabel. Wajah gadis itu seperti duplikat Laura. Hal itu jugalah yang membuatku begitu membencinya. Setiap melihat Isabel aku seakan melihat Laura. Aku tidak suka. Aku tidak suka Praja mencintai Laura dari pada aku. Dan aku tidak suka jika Praja lebih menyayangi Isabel dari pada Lara. Aku jadi penasaran, seperti apa reaksi Praja andai kita sedikit bermain-main dengan nyawa putrinya." Arum tiba-tiba tertawa bak orang gila. "Aku tak sabar menantikan reaksinya. Praja pasti akan hancur dan tersiksa hingga mati perlahan andai Praja tau jika nyawa putri kesayangannya ada dalam gengaman kita." Arum masih tertawa. Membayangkan jika Isabel ada dalam kurungannya.
"Aku tak perlu mengemis-ngemis untuk bisa mendapatkan hartanya. Tetapi aku akan menggunakan Isabel untuk memacing Praja agar mau melakukan barter. Nyawa putrinya ditukar dengan semua harta kekayaannya. Tentu Praja yang bodoh itu tak akan berfikir panjang untuk meng-iyakannya. Bagaimana, aku pintar 'kan, dan tidak bodoh seperti makianmu itu 'kan?" Arum setengah mengejek pada Ayah Steven. Akan tetapi pria itu tetap bergeming, enggan menanggapi juga menjawab rencana selingkuhannya.
Arum tersenyum sinis. Selingkuhannya itu bahkan hanya diam. Arum akui, memang Ayah steven adalah orang kepercayaan Praja kala itu. Selama ini pria itu selalu mengikuti keinginannya meski tentunya mendapatkan imbalan uang dan 'kesenangan'. Dan tak berminatnya pria itu pada rencana yang ia atur, apakah menandakan jika selingkuhannya itu mulai jengah pada alur permainan yang selama ini ia buat.
Arum menghela nafas dalam. Hanya tinggal satu langkah lagi impiannya akan tercapai untuk mengusai harta Praja, dan untuk misi kali ini ia tidak boleh gagal.
"Tetap awasi gadis itu, kalian akan bergerak sesuai arahan dariku. Ingat! Tak boleh lengah. Lengah sedikit saja, maka nyawa anak dan istri kalianlah yang akan menjadi taruhan."
"Baik, nyonya."
"Bagus. Sekarang, keluar kalian."
Tergopoh kedua pria itu mengatur langkah hingga keluar dari ruangan. Arum menyandarkan punggungnya dengan nyama pada kepala kursi putar sebelum kalimat yang muncul dari bibir seorang pria membuatnya tersentak.
__ADS_1
"Kau benar-benar gila," sarkas Ayah Steven penuh kekecewaan seraya melangkahkan kakinya lebar untuk meninggalkan Arum yang masih terbelalak tak percaya di kursinya.
Tbc.