
Waktu berlalu dan kini Isabel seperti mendapatkan lagi kehidupan bahagiannya yang sempat hilang seperti beberapa tahun lalu. Semua aset juga simpanan mendiang sang ibu yang diwariskan padanya, ia pergunakan dengan sebaik mungkin. Sebuah rumah berukuran luas yang berada tak jau dari kediaman Thomas, menjadi tempat tinggalnya kini. Bukan hanya rumah tetapi Isabel juga membeli sebuah bangunan dua lantai yang ia sulap menjadi coffe shop, sebagaimana impiannya selama ini untuk memiliki kedai kopi sendiri sesuai dengan bakat yang ia miliki.
Hidup Isabel kini lebih baik. Gadis manis itu luar biasa bersyukur. Terlebih dengan kondisi sang ayah yang kian membaik dari hari kehari selepas mendapat penangan khusus dari para tenaga medis yang sejatinya memang sudah dibayar mahal oleh Thomas, demi kesembuhan Praja.
Isabel pun bisa bernafas lebih lega sebab selama ini Arum masih belum menemukan keberadaan juga tempat tinggal mereka.
Semenjak pembukaan coffe shop milik Isabel beberapa waktu lalu, rupanya usaha tersebut cukup menarik minat pembeli baik bukan hanya dari letaknya yang strategis tetapi juga dari tempat yang disesuaikan dengan tuntutan pasar saat ini.
Isabel merombak keseluruhan bangunan yang ia beli hingga sesuai dengan apa yang ia inginkan selama ini. Ruko dua lantai dengan halaman cukup luas itu ia sulap menjadi sebuah kafe yang bukan hanya berada di dalam ruangan, tetapi di luar ruangan pula.
Dari menu pun kafe milik Isabel tak hanya menyuguhkan kopi yang memang menjadi salah satu minuman andalan kafe tetapi juga menyajikan berbagai makan juga minuman kekinian yang digandrugi para kaula muda.
Masih terlalu dini bagi Isabel untuk berbangga diri. Perjalanan hidupnya masih panjang. Masih banyak mimpi yang ingin ia gapai.
Setiap harinya Isabel akan datang ke kafe. Bukan sekedar untuk meninjau, gadis cantik itu tak segan untuk meracik kopi pesanan pelangan dengan tangannya sendiri. Pernah suatu saat Isabel mendapat pesanan secangkir kopi, kopi yang sama seperti yang kerap ia buatkan untuk Erich saat bekerja dulu dan itu semua tak urung mengingatkan Isabel akan kenangannya pada sang atasan beberapa bulan lalu.
Sudut bibir Isabel mengulas senyum tipis yang begitu manis. Selain Steven, Isabel tak pernah dekat dengan pria mana pun. Jika menyangkut dengan hubungan asmara, tentu Isabel sama sekali tak memiliki pengalaman.
Saat dirinya dipertemukan dengan Erich untuk pertama kali, Isabel cukup terperangah manakala mengetahui sifat sang atasan yang sepertinya tak bersahabat. Sungguh jauh berbeda dengan Steven yang ramah dan bertutur kata lembut, tapi itu dulu sebelum Larasati datang dan merusak segalanya.
Isabel sempat ingin mengumpat saat pekerjaan uang dirasanya benar, selalu salah di mata Erich. Makian dan umpatan kerap pria itu tujukan untuknya, namun tak secara langsung. Erich masih bisa mentoliler kesalahannya dengan mengingat nama Retno yang m'embimbing langkahnya.
__ADS_1
Ternyata sifat Erich tak seburuk yang gadis itu fikirkan. Seiring berjalannya waktu sisi lain Erich mulai terlihat. Sifat angkuhnya sedikit melunak dikala Isabel bisa bekerja sesuai dengan keinginannya. Erich adalah atasan yamg selalu menuntut kesempurnaan pada setiap stafnya tanpa terkecuali. Itulah yang Isabel tau. Jujur sejak saat itu pun terselip rasa kagum di hati Isabel untuk atasannya. Hanya sekedar kagum dan tak lebih.
Isabel tersentak dari lamunan saat salah satu dari karyawannya datang mengejutkan.
"Ka, pesanannya sudah siap?" Ucap salah satu karyawan Isabel.
"Em, sudah." Isabel menunjuk secangkir kopi yang beberapa detik lalu selesai ia racik.
Pelayannya itu sempat bercerita jika pengunjung kafe hari ini cukup banyak. Tentu Isabel senang. Maka dari itu ia kerap membantu para pelayan yang cukup kewalahan saat menerima pesanan dari pelanggan yang terkadang hampir memenuhi kursi yang tersedia di tempat.
"Alhamdulilah."
"Biar aku bantu, kak." Meski usia karyawan isabel itu lebih dewasa, namun ia menghormati Isabel dengan tak ingin hanya menyebutkan nama saja. Tentu itu sangatlah tidak sopan. Gadis itu hendak mengambil alih, membawakan kopi racikan Isabel ke meja pelanggan. Akan tetapi Isabel melarangnya.
"Baiklah." Karyawan Isabel mempersilahkan dengan menyerahkan nampa pada Isabel juga membalas senyum manis bosnya tersebut.
Wah, benar juga.
Isabel tersenyum lebar sekaligus merasakan kebahagiaan yang memuncak saat ia bisa melihat sendiri seperti apa suasana coffe shopnya saat ini. Memang ramai, dan seluruh meja yang tersedia, nyaris penuh.
Gadis itu menyibak pandang kesekeliling. Mencari sebuah meja dengan nomor xx, yang sudah memesan kopi dan camilan yang kini sedang dibawanya.
__ADS_1
"Nah, itu dia." Isabel menemukan meja yang ia cari. Terletak di luar ruangan dan terpisah dengan pengunjung lain, sebab memang ada beberapa meja di luar ruangan yang memang memiliki fasilitas dan kenyamanan lebih dari meja-meja lain.
Sebut saja jika beberapa meja itu seperti adalah ruang Vip yang tersedia di cofee shop Isabel.
Dari kejauhan Isabel melihat sepasang kekasih yang masih duduk membelakanginya sembari menikmati matahari terbenam dari tempat duduknya saat ini.
Isabel terus mendekat kemudian menyapa pemilik pesanan.
"Selamat sore. Silahkan dinikmati." Isabel menurunkan beberapa pesanan dari nampan ke meja. Gadis itu menunduk dengan gerakan tangan yang lihai melakukan pekerjaannya. Awalnya ia tak tergangu, sebelum suara seorang pria membuat pandangannya yang semula tertunduk, kini terangkat.
"Hei, apa kabar? Kau bekerja di sini rupanya?"
Isabel tersentak. Tubuhnya bahkan menegang saat pandanganya bertemu dengan wajah pemilik suara yang baru saja menyapanya.
Hah? Kenapa, kenapa dia ada di sini?
Bibir Isabel bergetar tetapi sulit menjawab ucapan pria itu. Pria yang ia kenal sebagai Erich. Tetapi kenapa pria itu ada di kota ini dan, dan dia juga bersama seorang gadis.
Isabel menelan ludahnya kasar. Tetapi pria itu masih saja menatapnya seolah menunggu jawaban. Akan tetapi saat Isabel melirik kearah gadis yang datang sebagai pasangan sang pria. Ekspresi gadis itu seperti tak suka saat kekasihnya menegur gadis lain di hadapannya.
Bersambung guys...ππ
__ADS_1
Minal aizin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathinπππ
Tetap pantengin terus yak.