CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Undangan Makan Malam Arka


__ADS_3

Kunjungan Arka kali ini ke gedung pusat Atmadja Group sangat berbeda dari kunjungan dalam setiap bulannya. Kenapa demikian, sebab ini pertama kali kunjungan selepas mengetahui jika Sekretaris pribadi putranya tersebut merupakan putri dari mantan istrinya, Anastasya.


Pada malam itu Zara menceritakan semua. Tentang pertemuannya dengan Anastasya dan juga Natasya yang merupakan putrinya. Sungguh suatu yang kebetulan mengingat Natasya saat ini bekerja di perusahan milik mereka.


Reaksi Arka tentu terkejut luar biasa. Malam itu dirinya tak dapat tidur dan kembali teringat pada ucapan Rangga yang bertemu dengan Anastasya. Ingin rasanya Arka bertanya banyak tentang Anastasya pada Istrinya, akan tetapi ia tak kuasa sebab tak ingin menyakiti hati perempuan yang teramat ia cintai itu.


Arka diam namun otaknya bekerja keras untuk bisa bertemu atau pun mengumpulkan Anastasya bersama keluarga dengan keluarganya. Tapi bagaimana caranya?. Sampai kunjungan rutin yang ia lakukan diselipi sebuah misi yang pada intinya ingin melihat wajah Natasya dengan jelas. Aneh memang, tapi seperti Zara, Arka pun juga diliputi rasa penasaran akan seperti apa hidup serta keluarga yang Anastasya miliki selepas berpisah dengannya.


Ada yang berdesir saat sepasang mata elang miliknya menatap pada sosok gadis yang berdiri tepat di samping Ernest saat menyambut kedatangannya.


Diakah putri Anastasya.


Ya, bila tidak salah Arka pernah melihat gadis tersebut menaiki panggung saat Atmadja group menggelar pesta tahunan. Gadis itulah yang mendapatkan ucapan terimakasih dari putranya atas kerja keras dan dedikasinya pada perusahaan. Ya, benar. Gadis itu rupanya, dan kenapa wajahnya begitu mirip dengan Anastasya?.


Boodoh, kenapa sekarang kau baru menyadarinya?.


Arka merutuki diri. Selepas beberapa saat menatap dan memperhatikan sang gadis, pria tersebut pun lekas mengalihkan pandangan. Selain agar tak membuat gadis yang ditatap ketakutan, Arka tak ingin langkahnya tergangu dengan memfokuskan pandangan ke arah lain, bukan kedepan.


Kini Arka kembali kerencana awal. Meninjau perusahaan sebelum bertemu dengan sang putra guna membicarakan perihal keinginannya.


💗💗💗💗💗


Kunjungan Arka tak memakan waktu lama. Beberapa orang-orang yang ia percaya lekas menghadap ke ruang untuk melaporkan hasil kerjanya secara bergantian, dan Arka pun cukup puas dengan kerja keras mereka. Selain Ernest, rupanya Arka juga menyelipkan beberapa mata-mata serta orang-orang kepercayaan untuk bisa membantu putranya dalam mengurus perusahaan.


Sebelum pulang, Arka lebih dulu menemui Ernest di ruang kerja. Tanpa Sam, Arka ingin berbicara pada sang putra yang masih berhubungan dengan masalah pribadi.


"Ayah belum pulang?." Ernest bertanya beberapa saat selepas sang Ayah memasuki ruang kerjanya.

__ADS_1


"Belum, sebentar lagi," jawab Arka yang kini menjatuhkan bobot tubuh di kursi yang berada di hadapan Ernest.


Sang putra hanya menganggukkan kepala dan melanjutkan kembali aktifitas yang sempat terjeda.


"Gadis di depan itu, Sekretarismu?." Lewat gerakan mata, Arka seolah melirik ke arah pintu ruangan.


"Maksud Ayah, Natasya?. Ya dia Sekretariku." Ernest masih berkutat dengan pekerjaan. Ia hanya menjawab jika sang ayah bertanya, itu saja sebab dirinya memang sedang sibuk.


"Sepertinya kalian cukup dekat?."


Ernest mengerjap dan menatap pada sang Ayah.


"Ya karna kita hampir setiap hari bertemu, Ayah. Jadi wajar bila Ayah berfikir demikian, terlebih dia adalah parter kerjaku yang mengharuskan kami untuk melakukan aktifitas kerja secara bersama." Ernest menjelaskan. Memang begitulah adanya. Sebagai atasan dan Sekretaris, Ernest dan Natasya memang diharuskan untuk lebih sering bersama saat bekerja.


"Ya, Ayah rasa memang kedekatan antara atasan dan Sekretaris memang perlu dijaga. Selain berguna untuk urusan kerja, setidaknya jika diluar dunia kerja pun membangun kedekatapan personal juga tidak merugikan. Terlebih kalian berdua masih sama-sama lajang 'kan?."


"Hah, lupakan." Arka seperti berusaha mencari topik pembicaraan lain. "Lusa Emely berulang tahun, dan Ayah ingin kau mengundang Sekretaris pribadimu itu beserta keluarganya untuk makan malam di rumah."


Ernest kembali mengernyit dan sedang mengingat-ingat sesuatu. Ia langsung mengerjap saat ucapan sang Ayah memang benar. Lusa memang hari kelahiran Emely, dan memang setiap tahunnya mereka akan merayakan dengan makan malam bersama serta mengundang orang-orang terdekat.


"Tapi kenapa harus Natasya dan keluarganya, Ayah. Bukankah setiap tahun kita hanya makan malam dengan orang dekat dan terpenting saja?." Ernest seperti sedang menyerukan protes. Lagi pula apa reaksi Natasya saat diundang makan malam ke rumah apalagi dengan membawa keluarganya?.


"Loh kenapa, kau keberatan?. Bukankah Ayah sudah bilang jika tidak ada salahnya membangun kedekatan dengan orang yang sudah berjasa pada karirmu. Gadis itu sudah membantumu setiap hari. Setidaknya undang dia sebagai bentuk terimakasih." Arka berdecak. Entah ini masuk akal atau tidak, namun yang pasti, saat muda dulu dirinya bahkan tak pernah bersikap seperti itu. Dekat dengan Sekretaris perempuan lalu mengundangnya untuk makan malam di rumah.


"Tapi, Ayah..."


Arka sudah bangkit dari posisi. Sebelum berbalik badan dirinya kembali bersuara.

__ADS_1


"Ayah tidak ingin mendengar penolakan. Bukan hanya gadis itu yang kau undang tapi sertakan juga keluarganya." Arka berbalik badan, melangkah dan keluar dari ruang kerja sang putra. Sementara Ernest, pria muda itu mengusap wajahnya secara kasar. Ia bingung hendak berbicara apa pada Natasya atas undangan sang Ayah.


*Natasya mau atau tidak, Ya?. Bagaimana jika dia menolak?. Ck. Kenapa kau memberiku pekerjaan yang teramat berat seperti ini, Ayah. Kau tau Ayah, Aku bahkan malu untuk mengatakannya.


💗💗💗💗💗*


"Sayang, lusa bukankah Emely berulang tahun?." Arka yang baru saja memasuki kamar, lekas melempar tanya pada sang istri yang sedang berdiri di depan cermin.


"Ya, memangnya ada apa?." Zara lekas mendekat dan memeluk sang suami saat pria itu merentangkan ke dua tangan, meminta untuk dipeluk.


"Aku sudah berbicara pada Ernest agar mengundang Sekretaris untuk makan malam bersama."


Zara tersentak dalam pelukan Arka.


"Maksudmu Natasya, putri Kak Anastasya?."


"Ya, aku meminta pada Ernest untuk mengundangnya makan malam. Seperti agenda setiap tahun, kita makan bersama dengan mengundang orang terdekat. Aku juga meminta Ernest agar mengundang juga keluarga gadis itu."


"Apa Kakak yakin jika Kak Natasya bersedia datang?."


"Entahlah, aku sebdiri tidak yakin tapi tidak ada salahnya 'kan untuk mencoba." Masih memeluk Zara, Arka memikirkan seperti apa saat dirinya bertemu dengan Natasya kelak. Pria itu menghela nafas dalam kemudian menunduk agar dapat mencium puncak kepala sang istri. "Bagaimana, kau tidak keberatan 'kan jika aku mengundang mereka?."


Arka merasakan gelengan kepala Zara yang menempel di dadaa bidangnya.


"Tidak, lakukan saja. Mungkin dengan cara ini bisa kembali memperbaiki hubungan kita dengan Kak Anastasya."


Ya, mungkin itu tujuannya. Sementara Arka sudah berfikir jauh ke depan. Ia yang masih menyimpan semua harta bagian Anastasya, bersiap untuk kembali memberikan harta tersebut ke tangan sang mantan istri. Jika Anastasya berniat menolak, maka masih ada putrinya yang tak akan mungkin dapat menolak pemberian darinya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2