CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tentang Rasa


__ADS_3

Isabel tertegun. Bertahan di tempat sampai pria bertubuh tegap itu menghilang dari pandangan. Tuan Eric, begitu Isabel meyakini jika seseorang yang ia tabrak tadi adalah bosnya. Akan tetapi, ada hal yang serasa mengganjal. Kenapa Erich tidak memakinya seperti biasa, bukankah tadi ia sudah begitu ceroboh dengan tidak memperhatikan sekitar hingga peristiwa itu terjadi?


Selepas kejadian fikiran Isabel tak cukup fokus. Termasuk saat mengambil pesanan milik Agung kemudian mengantar keruangannya, gadis itu terlihat sesekali melamun.


"Isabel, tuan Erich memintamu untuk membuatkan segelas jus jeruk ke ruangan." Starla mengabarkan lewat jaringan telepon.


Isabel yang berada di pantry dapur pun lekas membuatkan pesanan tanpa berfikir panjang.


Gadis itu mengetuk pintu ruang, selepas mendengar jawaban Ia pun membuka pintu yang semula tertutup rapat.


"Permisi."


Isabel menatap seisi ruangan. Rupanya sang tuan tak sendirian, melainkah ada seseorang pria lagi yang duduk berhadapan dengannya.


Isabel mulai berjalan mendekat. Hendak mendekati meja kerja Erich. Gadis itu tak tau siapa tamu dari tuannya sebab posisi pria itu yang memunggunginya.


"Bawa kemari." Erich meminta Isabel membawa minuman yang dipesan ke atas meja kerjannya.


"Kau tau, ibu bilang jika sangat merindukanmu. Aku bahkan sengaja tak berpamitan, takut jika Ibu ngotot ikut denganku untuk datang kemari." Pria yang duduk berseberangan dengan Erich itu terus berbicara. Akan tetapi Erich hanya menanggapinya dengan senyum tipis.


"Letakkan saja di meja."


"Baik, tuan." Segelas jus mendarat di meja kerja Erich. Sepertinya memang Erich siapkan untuk tamunya.


"Silahkan tu... an." Isabel ternganga. Syok dan tak percaya, saat pandangannya terarah pada wajah tamu tuannya.


"Hei, kau? Kita bertemu kembali rupanya." Pria itu justru tersenyum lebar. Berbeda jauh dari ekspresi wajah yang ditunjukan Isabel.


"A-anda?"


"Iya, aku yang sudah menabrakmu di depan pintu lift tadi."


Bukan, bukan itu.


Isabel terlihat kebingungan. Kemudian menatap wajah Erich dan sang tamu secara bergantian.

__ADS_1


Tidak, ini tidak benar.


Tubuh Isabel gemetar. Beruntung segelas jus di atas nampan sudah ia pindahkan ke meja.


"Tidak usah terkejut, kami memang kembar," jawa Erich seakan bisa membaca raut keterkejutan dari wajah Isabel.


Isabel terlihat menghela nafas lega, diiringi dengan anggukan kepala pertanda faham.


"Erich, siapa dia?" Tamu Erich yang tak lain ialah Ernest itu justru tertarik pada gadis berseragam OG tersebut.


"Apa perdulimu?"


"Jelas saja aku perduli. Bukankah gadis ini juga pekerjamu." Ernest bahkan melempar senyum pada Isabel lagi.


"Dia Isabel, sementara waktu menggantikan Bu Retno yang sedang sakit. Kau faham." Erich menegaskan yang mana membuat Ernes mengangguk faham.


"Dia cantik." Spontan kata yang terucap dari bibir Ernest. Isabel sendiri yang masih berdiri tak jauh dari keduanya, terbelalak tak percaya.


Erich menghela nafas kasar. Terlihat tak suka dengan ucapan saudara kembarnya.


"Baik, tuan."


"Hei, kenapa kau mengusirnya. Aku masih ingin berbincang dengannya." Ernest tampak tak terima. Terlebih saat melihat tubuh Isabel bahkan menghilang tertelan pintu yang kini kembali tertutup rapat.


"Kau bahkan sudah memiliki kekasih namun masih memuji paras gadis lain." Erich berdecak, tak perduli pada kehadiran Ernest dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.


"Kenapa? Akukan hanya bilang dia cantik, bukan berarti aku menyukainya." Masih tak terima.


"Dasar bodoh."


Ernest tergelak, kemudian meneguk segelas jus yang disajikan Isabel.


"Hem, manis. Semanis Isabel, benarkan?" Ernest melirik Ernest. Menggerakkan satu alisnya seolah meminta persetujuan.


Hanya helaan nafaslah yang terdengar. Erich tetap acuh dan tak berminat menanggapi godaan Ernest.

__ADS_1


Keduanya kembali terlibat obrolan remeh temeh lain. Lebih tepatnya Ernest_lah yang banyak berbicara ini dan itu meski Erich hanya menanggapi dengan senyum dan anggukan atau datar tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Akan tetapi, Ernest sama sekali tak terkejut, pria tampan itu bahkan sudah sangat terbiasa mengingat keduanya tumbuh dibawah pengasuhan yang sama.


"Kapan kau akan pulang?" Ernest sudah berpindah tempat duduk. Disofa panjang, ia bahkan sudah membaringkan tubuh dan mengangkat kedua kakinya ke atas.


"Kenapa? Apa ibu dan ayah berniat untuk menjodohkanku dengan seseorang hingga memaksaku untuk cepat-cepat pulang?" Erich berprasangka. Meski kedua orang tuanya tak sedikitpun membahas masalah perjodohan, namun bukannya tidak mungkin andai hal tersebut benar-benar terjadi.


"Tentu tidak. Kau tau jika Ayah dan Ibu tidak mungkin merencanakan hal seperti itu."


Erich tak menanggapi.


"Rich, San kirim salam untukmu." Ernest mengalihkan pandangan pada Erich. "Dia bilang rindu," sambung Ernest dibarengi dengan gelak.


Erich yang semula menandatangani sebuah berkas itu, mengentikan aktifitasnya menggoreskan pena. Sejenak tubuhnya terpaku.


San berkirim salam dan dia bilang rindu.


"Bodoh." Satu kata yang meluncur begitu saja dari bibir Erich.


Ernest masih tergelak.


"Kenapa?"


San, San yang dimaksud Ernest adalah Sandara, kekasihnya sendiri dan dia mengirim salah pada Erich dengan kata Rindu.


Bukankah pria itu patut dikatakan bodoh.


"Seharusnya kau cemburu saat kekasihmu sendiri mengatakan rindu pada orang lain."


"Kau berlebihan menanggapinya, brother. Lagi pula, aku percaya pada San. Dia gadis baik dan juga setia. Aku percaya padanya." Tersirat rasa bangga pada diri Ernest saat membahas kisah cintanya dengan Sandara. Sosok cantik yang sudah menjadi kekasihnya beberapa tahun ini.


Akan tetapi, berbeda dengan Erich yang seakan membuka kembali luka lama saat nama Sandara kembali disebut. Tanpa sadar, Sandaralah yang membuatnya jera dalam mengenal wanita.


Sandara memang hadir diantara Erich dan Ernest. Membuai dengan pesonannya hingga saudara kembar itu memiliki ketertarikan khusus pada sang gadis. Erich pun patah hati, saat Ernest justru lebih dulu mengungkapkan rasa cintanya pada San. San pun dengan senang hati menerima tanpa berfikir pada sosok Erich yang sejatinya paling tersakiti.


Yuk kasih support buat autor

__ADS_1


Karna Like dan komenmu adalah semangatku😘


__ADS_2