
Kunjungan Anastasya ke tempat tinggalnya dulu nyatanya bisa juga diartikan sebagai liburan bagi Ernest. Pria muda itu sama sekali tak sungkan dan justru asik menggunakan fasilitas yang ada di rumah Natasya seperti kolam renang dan ruang Gym. Ernest juga terlihat mulai akrab dengan Bibi dan Paman. Mereka sesekali minum teh bersama saat pagi atau di senja hari.
"Natasya, Tuan ini siapa, apa dia kekasihmu?." Tanya Paman pada suatu pagi. Saat Ernest mengajak Natasya untuk bersepeda.
Natasya menggeleng cepat. Ia melirik pada Ernest yang justru tersenyum tipis menanggapi pertanyaan sang Paman pada Sekretarisnya.
"Bukan, Paman. Tuan Ernest ini, beliau adalah atasanku di tempat kerja." Gadis itu meringgis. Tak nyaman, takut jika Ernest murka dan meminta pulang ke negaranya pagi ini juga.
"O," jawab Paman seraya tergelak. "Kalian terlihat sangat dekat makanya aku sampai berkesimpulan jika kalian pasangan kekasih." Sang paman masih tergelak. Natasya lekas membawa Ernest untuk menjauh.
Ernest dan Natasya bersepeda. Menikmati suasana pagi Washington DC di pertengahan musim semi. Mentari terasa hangat saat menyentuh kulit. Jalanan, hutan dan rawa yang mereka lalui terlihat indah yang jarang mereka temui di Ibukota.
Natasya melirik pada Ernest yang bersepeda di sampingnya. Pria itu tidak pernah mau berjalan lebih dulu dan justru mempersilahkan dirinya untuk berada di depan. Jika jalan yang mereka lalui luas, maka pria itu akan selalu berada di sampingnya. Sesekali mencolek pinggannya, hingga Natasya berteriak karna terkejut.
Mungkin ucapan Paman bisa dibenarkan, jika Ernest dan Natasya lebih terlihat seperti sepasang kekasih dari pada bawahan dan atasan. Ernest terlihat lepas dan santai ketika bersama Natasya. Atribut dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan ia tinggalkan sejenak. Ia ingin sejenak berbaur dan menikmati kehidupan layaknya pemuda biasa pada umumnya tanpa terbelenggu dunia pekerjaan untuk sementara waktu, dan hal tersebut nyatanya ia lakukan hanya dengan Natasya, gadis yang secara diam-diam sudah mencuri hatinya.
Lelah mengayuh sepeda, Natasya membawa Ernest menuju kedai minuman pinggir jalan. Pria itu tak menolak saat Natasya memesan dua cup es kopi untuk mereka.
"Walau tempatnya di pinggir jalan, rasa kopinya tidak kalah dari kopi-kopi yang di jual di kafe."
Ernest mengangguk, membenarkan. Selepas pria itu meminum dan merasakannya.
"Enak 'kan?." Tanya Natasya.
"Ya, ini enak."
Setelah beristirahat mereka memutuskan untuk pulang. Ernest bilang jika malam nanti mereka akan mengunjungi sebuah tempat.
"Memang kita akan kemana?." Natasya yang sudah terlihat cantik dengan dres berwarna hitam yang membalut tubuh, bertanya pada Ernest saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Rahasia." Jawaban singkat yang keluar dari mulut Ernest membuat Natasya merengut.
Ernest melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Entah kemana malam ini dirinya akan membawa Natasya, sedangkan pria itu baru pertama kalinya menginjakkan kaki ke negara kelahiran sang Sekretaris.
Natasya terlihat cemas. Ia tak tau kemana Ernest akan membawanya. Gadis takut jika mereka tersesat dan tak tau jalan pulang. Ernest juga terlihat beberapa kali menghubungi seseorang namun Natasya tak tau siapa.
__ADS_1
"Ayo turun," titah Ernest pada Natasya. Gadis di sampingnya itu terkesiap, rupanya Natasya melamun dan tak menyadari jika mereka sudah sampai tempat tujuan.
"Kita di mana?." Natasya menatap sekeliling, yang ia temui hanyalah keramaian dan bangunan tinggi menjulang.
"Jangan banyak tanya. Turun saja." Ernest membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu, sementara Natasya mengikuti pergerakannya.
Saat berjalan, Ernest tampak mengandeng tangan Natasya meski gadis itu kebingungan. Menatap kesana kemari, mencari tau tempat dirinya berada saat ini.
Loh, bukannya ini...
Natasya tau di mana tempatnya berada sekarang. Tapi untuk apa mereka kemari?.
Sebuah toko perhiasan bertaraf internasional yang mendesain berbagai produk dari satu brand yang cukup diminati para kaum berkantong tebal. Dulu, saat merayakan hari penting sang Ayah pernah beberapa kali membawanya beserta sang Ibu kemari.
Ernest dan Natasya di sambut beberapa staf yang berbalut pakaian rapi. Stelan jas khusus baik perempuan dan laki-laki.
Natasya berulangkali menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Tubuhnya mendadak panas dingin saat Ernest menariknya lebih jauh, mendekati banyak perhiasan yang tersimpan rapi di tempat kaca.
Dua orang pria dan wanita menyapa Ernest dengan menggunakan bahasa asing. Natasya tentu faham namun dirinya memilih diam. Ernest pun menjawab dengan bahasa yang sama. Terlihat fasih dan tenang. Ernest memang berwibawa, dan Natasya mengakui akan hal itu.
Diberi pertanyaan tentu Natasya menjawab.
"Menurut saya semuanya indah," jawab Natasya. Gadis itu meringis saat Ernest memberinya tatapan jengah.
"Aku bilang memilih diantaranya, berarti kau memberi penilaian satu diantara mereka yang paling indah."
Natasya bingung. Ia tatap semua perhiasan yang terpanjang. Semua terlihat indah, tetapi memang ada satu yang menarik perhatiaannya. Tetapi untuk siapa dulu perhiasan itu, dan di antara banyaknya perhiasan, mengapa Ernest terhenti di bagian cincin?.
"Natasya," panggil Ernest setelah beberapa saat gadis itu tak menjawab.
"Em, diantara semua saya suka yang ini. Bentuknya simpel tapi tetap elegan, dan saya rasa Nyonya Zara atau Emely pasti menyukai."
Mendengar jawaban Natasya, Ernest mengerutkan kening tetapi tak berbicara apa pun.
"Jadi yang ini?." Ernest menunjuk ulang Cincin pilihan Natasya. Natasya pun mengangguki. Ernest pun mengisyaratkan pada staf toko untuk mengeluarkan perhiasan bertahtakan permata berukuran mungil tersebut.
__ADS_1
"Berikan tanganmu," titah Ernest. Sepasang matanya bergerak seolah mengatakan jika tangan Natasya harus diulurkan kearahnya.
Natasya tak mengerti, ia fikir untuk apa.
"Hei, jika kau tak mencoba mana mungkin aku tau ukurannya."
Natasya yang kebingungan tak bisa berbuat banyak. Ia turuti saja kemauan Ernest tanpa membantah. Diulurkan jemarinya pada Ernest dan dengan sigap pria itu menangkapnya kemudian memakaikan cincin yang sudah dipih ke jari manisnya.
Pas.
"Nah, kenapa pilihanmu bisa pas begini?." Ernest menimang dan menatap cincin tersebut yang sudah tersemat indah dijemari Natasya. Cocok dan pas.
Natasya tergelak dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Entahlah, Tuan. Mungkin hanya kebetulan."
Tak berapa lama, Ernest melepas kembali cincin itu dari jari Natasya kemudian meminta pada staf toko untuk mengemasnya. Natasya berfikir mungkin cincin tersebut untuk Emely mengingat postur tubuh gadis itu hampir mirip dengannya atau mungkin untuk Zara.
Setelah selesai mengemas keduanya keluar dari toko perhiasan. Ernest berjalan terlebih dahulu, dan Natasya mengikuti di belakang.
"Natasya."
Panggilan Ernest seketika membuat Natasya yang berjalan dengan kepala tertunduk itu, berhenti mendadak. Gadis itu mendongak dan terkesiap saat Ernest melempar sesuatu ke arahnya. Beruntung ia sigap, sampai benda yang dilempar Ernest itu berhasil ditangkap.
"T-tuan." Natasya menatap bingung pada paper bag berisi sebuah cincin yang beberapa saat lalu di beri Ernest. Kenapa nenda itu justru dilemparkan padannya?.
"Ambil itu," ucap Ernest. Tanpa banyak bicara ia sudah membuka pintu mobil dan memasukinya.
"Loh, bukanya ini untuk Emely atau Nyonya Zara?." Antara terkejut dan bingung. Natasya masih berdiri mematung dengan kedua tangan memegang paper bag dengan pikiran linglung.
"Kata siapa?. Bukankah tadi kau juga sudah mencobanya, lalu untuk siapa lagi aku membelinya jika bukan untukmu?." Ernest setengah berteriak dari dalam mobil agar suaranya bisa didengar oleh Natasya. Sedangkan Natasya sendiri masih tak menyangka. Sampai keduanya berjalan pulang, hingga sampai rumah, Natasya tetap tak percaya. Ia timang paper bag yang berisikan sebuah benda yang harganya tak bisa dikatakan murah dengan perasaan tak menentu.
Ernest memberinya cincin, untuk apa?.
Tbc.
__ADS_1