CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Belajar Melupakan


__ADS_3

Selepas beberapa waktu puas menyembunyikan diri, kini Ernest kembali muncul kepermukaan. Menjalankan kembali rutinitasnya di perusahaan Atmadja grup, mendampingi sang Ayah.


Ernest, pria tampan yang kini mengenakan stelan jas berwarna Navy itu melangkah lebar menyusuri lantai dasar gedung, kemudian menaiki lift yang akan membawanya menuju lamtai teratas gedung bersama dengan langit.


Di dalam lift Langit memperhatikan penampilan Ernest lewat ekor mata. Sungguh, ini di luar dari kebiasaan. Memang jika ditilik dari pakaian, tak ada yang berbeda mengingat stelan jas beserta dasi dan juga sepatu sudah mencakup satu kesatuan. Pas dan serasi. Akan tetapi ada yang.lebih mencolok dari pakaian, yang rupanya mengundang tanya bagi Lagit.


Rahang kokoh pria itu tampan yang biasanya bersih dan tercukur rapi, kini ditumbuhi jambang yang begitu tak sedap dipandang mata. Sementara rambut hitam yang biasanya tersisir rapi dengan lapisan pomade itu tampak kusut dan terlihat mulai panjang.


Langit berdecak kemudian menghela nafas dalam.


Rupanya anda benar-benar patah hati Tuan, hingga mengabaikan penampilan.


"Tuan," pangil Langit pada Ernest.


"Ya."


"Maaf, jika sudah lancang tapi saya fikur sudah waktunya bagi Tuan untuk merapikan rambut dan jambang Tuan agar lebih rapi."


Terdengar helaan nafas dari Ernest. Pria itu terlihat tidak suka saat disinggung tentang penampilan.


"Lain kali saja, hari ini aku sedang malas."


Pintu lift terbuka. Ernest bergegas keluar disusul oleh Langit yang hanya bisa menggelengkan kepala begitu mendengar jawaban sang Tuan.


Ruangan sepi menyambut kedatangan Ernest begitu membuka ruang kerja pribadi yang dulu dijadikan ruang kerja bersama oleh dirinya dan juga Sandara.


Brak.


Ernest membanting pintu begitu saja. Langit bahkan terkesiap. Tak menyangka jika sang Tuan menjadi brutal selepas mendapati penghianatan dari sang mantan kekasih.


Dulu, Ernest tak seperti ini. Ernest pria lembut dan penyabar. Bahkan sifatnya dikenal bertolak belakang dengan saudara kembarnya Erich yang tegas namun dingin. Rupanya kepergian sandara membawa dampak luar biasa bagi mental seorang Ernest. Pria muda itu tak sesabar dulu dan mudah tersulut emosi jika melihat sesuatu yang tak ia inginkan.

__ADS_1


Ernest menghempaskan bobot tubuh di kursi kebesaran. Bersandar sejenak, menikmati diantara kesibukan selepas beberapa waktu ditinggalkan. Tanpa komando sepasang mata elangnya menatap meja dan kursi yang menjadi tepat kerja Sandara sewaktu masih menjadi Sekretaris pribadinya.


Ernest membuang pandangan. Mengalihkan pandang dari objek yang seketika membuat amarahnya tersulut seketika.


Brak.


Ernest menggebrak meja, sebagai luapan rasa sesak dalam dada. Didetik berikutnya Pria berpostur tubuh tinggi menjulang itu meremas sendiri kepalanya yang bedenyut dan terhenyak di kursi kebesarannya.


"Tuan." Langit berjalan cepat, menghampir sang Tuan dengan raut wajah cemas. Ia ambil segelas air putih yang tersedia di meja dan memberikannya Ernest.


"Terimakasih," jawab Ernest selepas bisa mengendalikan keadaan. Ia meneguk air putih itu, hingga menyisahkan separuhnya.


"Anda baik-baik saja?"


Ernest lantas menganggukan kepala kemudian menjawab, "Ya, aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku."


Langit hanya bisa menghela nafas dalam.


Begitu pun saat Ernest masih berhubungan dengan Sandara. Langit kerap menegur saat Tuannya terlihat begitu mengistimewakan Sandara sebagai sekretaris pribadi jauh di atas standar para karyawan lain. Bukan hanya Langit, Arka pun juga melakukan hal yang sama. Akan tetapi Ernest kerap abai dan menganggapnya bak angin lalu.


Ernest menundukan kepala. Merasa begitu bodoh saat tak mendengar penuturan orang-orang terdekatnya dan justru terlena akan rasa cintanya pada Sandara, hingga memberikan gadis itu segala kemewahan tanpa pikir panjang.


"Apa maksudmu, Langit?"


"Sebagai seorang atasan juga panutan bagi para karyawan, tentunya Tuan tetap bisa bersikap profesional meski dalam suasa hati yang berbeda." Meski terkesan lancang, namun Langit tetap Lantang bersuara. Baginya jika hal seperti ini terus dibiarkan maka tak ayal pamor Ernest sebagai petinggi perusahaan akan dipandang sebelah mata.


"Langit, kau benar. Seharusnya aku tak terhanyut pada permasalanku sendiri. Seharusnya aku tak mengingat kisah pahit yang semestinya kukubur tanpa perlu kuungkit." Ernest seperti tersadar. Berhari-hari dirinya terus berkubang dalam luka. Terpuruk dan tak berusaha untuk bangkit.


"Tapi, aku masih butuh waktu untuk bisa melupakan segala kenangan manisku bersama Sandara. Seperti yang kau tau, Langit. Kami sudah menjalin kasih cukup lama, bahkan kami hendak melangkah pada tahan yang lebih serius, dan rupanya Tuhan berkehendak lain." Sekecewa itulah Ernest. Tak mengira juga tak menduga jika dirinya bukanlah pria yang benar-benar Sandara Cinta.


"Ruangan ini, sofa ini dan semua sisi di ruangan ini seakan dipenuhi bayangan Sandara. Aku sungguh tak mengira jika semua yang sudah kita lewati hanyalah kepura-puraan baginya." Ernest tak kuat menahan sesak di dada. Sekali tak mengira jika hubungannya dengan Sandara akan berakhir dengan cara sesakit ini.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


"Kau petinggi perusahaan sekaligus putra Ayah, tetapi kenapa penampilan seperti ini?" Arka mengomentari penampilan Ernest putranya. Cukup lama terdiam dan tak meneliti gaya dan penampilan sang putra, lama kelamaan justru membuat pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu tak tahan untuk tak buka suara.


"Ayah, aku sudah mencukur.kumis dan jambangku sampai bersih, lalu apalagi yang ingin ayah komentari. Bukankah putramu ini sudah terlihat rapi dan tampan?"


Arka berdecak dengan tangan bersedekap. Menatap tajam sang putra yang nampak biasa saja tanpa merasa bersalah.


"Pakaianmu memang sudah rapi, juga jambang dan kumismu memang sudah bersih tapi rambutmu. Apa kau berniat memanjagkannya seperti rambut Ibumu dan Emely?" Arka tak habis fikir, kenapa sang putra tidak begitu risih dan membiarkan rambutnya memanjang tanpa ingin memotongnya.


"Em atau begini saja, jika kau malas ke salon, maka biar Ayah yang akan memotongkannya untukmu." Arka mendekat sementara Ernest yang duduk di kursi kebesaran spontan bangit.


"Stop! Berhenti, Ayah. Aku sudah nyaman dengan rambutku yang sekarang. Untuk sementara waktu aku tidak ingin memotongnya."


"Ernest," panggil Arka setengah geram.


"Iya, Ayah," jawab Ernest tegas.


"Kau benar-benar tak ingin memotongnya?"


"Maaf untuk sekarang, tidak Ayah."


Arka menghela nafas dalam. Sejujurnya ia risih, tetapi apa mau dikata. Arka juga tak berhak memaksa mengingat Ernest bukanlah bocah yang perlu dipaksa ketika akan melakukan suatu hal.


"Baiklah. Terserah dengan rambutmu, aku tak akan memaksamu merapikannya. Yang terpenting saat ini adalah Kinerjamu di perusahaan ini. Ayah pergi." Arka menyimpan kedua tangannya di saku celana, menatap sang putra sejenak sebelum berlalu pergi. Namun sebelum tibuh Arka menghilang di balik pintu, pria itu kembali membalikkan badan.


"Oh, ya. Sepertinya kau perlu mencari sekretaris baru untuk mengantikan gadis gila itu." Aka melirik pada meja kerja bekas Sandara yang juga berada di ruangan yang sama dengan Ernest, sebelum tubuh tegap pria benar-benar menghilang di balik pintu.


Ernest tersenyum kecut. Dia bahkan tak menginginkan seorang Sekretaris untuk saat-saat seperti ini.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2