CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Aku Bukan Gadis Lemah


__ADS_3

"Tidak! Aku berani bersumpah jika tak sengaja melakukannya."


Lara menyerigai. Terlihat begitu mengerikan, Seiring langkah kakinya yang semakin mendekati Isabel dan..


Plak..


Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Isabel.


Larasati murka. Bahkan jika hanya dengan satu tamparan saja masih belum membuat hati perempuan itu lega.


Rasa panas menjalar di pipi Isabel, bahkan begitu kerasnya tamparan itu membuat wajah gadis itu memaling.


Senyap. Semua orang terdiam. Meski beberapa mata sempat terbelalak dengan aksi penamparan itu, namun satu pun tak ada yang berniat menahan apalagi membela salah satunya.


Apakah isabel menangis? Tentu tidak. Perlakuan semacam ini sudah kerap ia dapat semenjak sang ayah hilang kewarasan. Tamparan, cubitan, bahkan tendangan kerap gadis itu dapat saat gadis itu hanya meminta sebuah keadilan.


Kini Isabel menatap wajah Larasati tajam, bahkan begitu tajam seperti tengah menguliti.


"Sebegitu bencinya kah kau padaku?" Isabel mendekat, melangkahkan kaki mendekati Larasati. Wajah garang Larasati kini perlahan meredup. Terlebih saat Isabel terus mendekat hingga keduanya nyaris tanpa jarak andai larasati tak mundur beberapa langkah.


"Apa yang membuatmu begitu membenciku? Ayo katakan?!"


Larasati tergagap. Ia mundur saat Isabel melangkah maju. Gadis itu cukup terkejut dengan reaksi yang ditunjukan Isabel saat ini. Tidak menyangka jika gadis lembut itu bisa segarang ini.


"Apa maksudmu?"


"Tidak usah berlagak bodoh, larasati." Isabel menyerigai tipis. Ia cukup puas bisa melihat wajah ketakutan Lara.


"Apa maksudmu? Bukankah kau sendiri yang sengaja ingin menghancurkan pesta pertunanganku?"

__ADS_1


Cuih.


Isabel bahkan meludah. Tentu Lara dan Arum membelalak seketika. Mereka terhina? Tentu saja.


Dengan tangan terkepal, Arum melangkah mendekati Isabel kemudian menjambak rambut panjang gadis tersebut.


"Kau benar-benar anak tak tau diri. Teganya kau menghancurkan pesta putriku." Kalap. Arum terus menjambak rambut Isabel. Para tetamu juga tak bisa mendekat apa lagi menolong. Sementara Ratih sudah menangis di dapur. Ia melihat seluruh adegan, tak kuat hingga berlari kearah dapur dan menumpahkan tangis di sana.


Steven hendak melerai, namun sang ayah berusaha menahan. Arum masih tetap melanjutkan aksi, hingga beberapa saat kondisi pun berbalik. Isabel bukanlah gadis lemah. Hanya menunggu beberapa saat, rambut tergerai indah milik ibu tirinya itu ia cengkeram kuat.


"Ayo katakan sekali lagi, katakan sekali lagi jika aku anak tak tau diri." Gigi gadis itu bahkan saling bergesekan. Menahan geram luar biasa.


Arum memekik kesakitan, namun sama sekali tak gadis itu hiraukan. Sementara Larasati berteriak, meminta bantuan.


"Bukan aku yang tak tau diri tapi kalian berdualah yang lebih tak tau diri."


Suasana sekitar kini mulai ricuh. Disuguhi tontonan yang sepertinya sayang untuk dilewatkan.


Arum terlihat meringis menahan sakit. Sementara kedua tangannya pun tak tinggal diam. Bergerak kesana kemari dan coba melepas gengaman tangan isabel di kepalanya.


"Isabel, hentikan! Kau menyakiti ibu kita," teriak Larasati tak terima.


Isabel tergelak.


"Ibu kita kau bilang?" Isabel kembali terkekeh seolah mengejek. Ditonton puluhan pasang mata bahkan keluarga besar Steven, Isabel tak lagi merasakan malu. "Perempuan licik yang sama liciknya ini adalah ibumu. Ibuku hanya laura, Laura Praja Diwangka. Perempuan luar biasa baik yang sudah kau rebut suaminya. Tentu kau masih mengingatnya, Larasati."


Tubuh Larasati benar-benar gemetar. Ditatapnya sang ibu yang tak berdaya dalam kendali Isabel. Ia terus berteriak, memanggil nama pengawal untuk menolong sang Ibu.


Ratih tergopoh. Perempuan paruh baya itu mulai bertindak. Setidaknya dengan membawa Isabel menjauhi ruangan acara, bisa menyelamatkan nyawanya.

__ADS_1


"Nona, sudah. Bibi mohon berhenti." Ratih berusaha membunjuk Isabel untuk melepaskan cengkeraman di Rambut Arum. Dengan dibantu beberapa pelayan, kedua insan yang tengah bertikai itu terlerai.


"Sialan." Arum masih saja menggeram.


Ratih dibantu dua pelayan dengan sigap membawa tubuh Isabel menuju taman belakang.


Acara pertunangan pun kembali dilanjutkan meski tak sekhidmat sebelumnya. Larasati terus memasang senyum menawannya, begitu pun dengan Arum, meski dengan tatanan rambut yang tak lagi rapi.


Akan tetapi cukup berbeda dengan Steven. Pria itu tampak tak benar-benar bahagia. Senyum yang ia ulas hanya untuk formalitas semata. Entah mengapa semenjak kejadian yang berbuntut kemurkaan Isabel itu, membuat hatinya meragu untuk bisa meneruskan hubungannya dengan Lara kejenjang yang lebih serius.


Lara memang kekasihnya. Bahkan keduanya pun sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Akan tetapi rasa cinta yang ia punya untuk Lara, sepertinya tak mengalahkan rasa cintanya untuk Isabel meski keduanya hanya sekedar teman dekat.


Rasa yang sempat menggebu itu, kini hambar. Semagat yang dulunya berkobar, kini memudar seiring sikap semena-mena yang kerap lara tunjukan padanya.


💗💗💗💗💗


Di sebuah gazebo Isabel terduduk dengan wajah menelungkup. Tangis gadis itu pecah. Ratih dan kedua pelayan hanya bisa menatap iba. Tak ada yang mereka lakukan selain membiarkan Isabel untuk menangis sepuasnya sekarang.


Ratih sadar, masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan. Satu wasiat yang mungkin bisa membuat Isabel terbebas dari jerat sang ibu tiri.


Mungkinkan waktunya akan segera tiba?


Umur Nonanya sudah 19 tahun sekarang. Cukup matang dan Nonanya pun memiliki pemikiran yang dewasa.


Ia tak boleh gegabah. Tetap akan mencari waktu yang tepat. Agar semua sesuai dengan rencana dan perkiraannya.


Tetap dukung autor ya kak.


Like dan komen di setiap bab😘

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2