
Waktu berjalan seperti tanpa terasa saat seseorang melaluinya dengan kebahagiaan. Begitu pun yang dirasakan para karyawan beserta keluarga yang sedang menikmati liburan, hasil bonus dari Atmadja Group. Mereka tampak bersuka cita juga menikmati tiga hari masa liburan dengan keceriaan. Menikmati fasilitas yang tersedia sekaligus menikmati jamuan yang dihidangkan. Semua seperti surga, yang membuat mereka betah untuk lebih berlama-lama tinggal.
Di sebuah penginapan, Natasya mengemasi pakaiannya ke dalam kopor. Petang nanti rencananya mereka akan kembali, selepas menikmati masa-masa liburan.
Sejak tadi pagi dirinya sudah mengabarkan perihal kepulangannya pada sang Ibu. Ah, Ibu. Natasya sudah sangat merindukan perempuan yang sudah melahirkan dirinya itu.
Lengkung tipis nan kemerahan gadis berparas ayu itu mengulas senyum simpul. Masih segar diingatan beberapa kejadian yang seketika membuatnya teriangat akan sosok sang atasan, Ernest.
Tiga hari bersama dan dalam jarak yang berdekatan, tak ayal membuatnya semakin mengenal akan pria berambut gondrong tersebut. Ernest tak sekaku yang ia kira, bahkan pria tampan tersebut terlihat semakin banyak bicara ketika bersamanya.
Gadis itu terkekeh, sekaligus memaki diri karna lancang sudah memikirkan sang atasan yang sepatutnya ia hormati.
Mungkin karna melihatnya sendirian tanpa ditemani keluarga, membuat Ernest tak tega dan selalu membawa serta dirinya kemana pun pria itu berada. Saat makan, atau pun menikmati suasana pantai, Ernest akan selalu mengajaknya. Sedangkan dirinya sendiri tentu tak bisa menolak, sebab selain dia adalah seorang atasan, kesendirian juga menjadi alasan. Jika tidak bersama Ernest dan Langit, tentu Natasya akan selalu sendirian saat liburan.
Lamunan Natasya terpecah saat notifikasi pesan terdengar dari ponselnya. Meski hanya menebak namun gadis itu tau siapa yang sudah mengiriminya pesan.
Nah benar kan.
Nama CEO Ernest tertera sebagai pengirim, dan tanpa diduga senyum di bibir Natasya pun terbit.
Bersiaplah, kita akan keluar untuk mencari oleh-oleh sebelum pulang.
"Mencari oleh-oleh," gumam Natasya masih menatap lekat ke arah layar ponsel pintarnya.
"Natasya, Ayo." Suara panggilan dari luar, menyentak Natasya. Gadis itu geragapan. Menyimpan ponsel ke dalam tas dan segera berlari keluar untuk menemui seseorang yang sudah menyerukan namanya.
"Tuan, ada apa?." Terengah-enggah Natasya bertanya. Baru saja ia keluar dari pintu penginapan namun sudah disambut oleh Ernest yang berdiri tegak di depan pintu.
"Kau belum membaca pesanku?." Ernest meneliti penampilan Natasya. Cantik, fikirnya. Gadis itu sudah rapi pun dengan sebuah tas yang bertengger di bahunya.
"S-sudah," jawab Natasya setengah terbata. Gadis itu tengah mengatur deru nafas yang sempat berkejaran akibat berlari.
"Ayo, tunggu apalagi. Bukankah kau juga ingin membelikan sesuatu untuk Ibumu sebelum pulang?. Di dekat sini ada sebuah pasar yang menjual berbagai kerajinan dan juga pakaian. Kau mau ikut?."
Mendengar kata 'Ibu' dan 'oleh-oleh, seketika membuatnya teringat pada sang Ibu, Anastasya. Ah, memang benar. Sepertinya ia harus mencari sesuatu untuk diberikan pada sang Ibu begitu sampai rumah nanti.
__ADS_1
"Tentu, tentu saya akan ikut, Tuan."
"Ayo." Ernest berjalan lebih dulu, diikuti oleh Natasya. Bersama Langit mereka menuju pasar tradisional beserta para karyawanlain.
💗💗💗💗💗
Natasya seperti berada di dalam lingkungan lain saat menjejakkan kaki ke sebuah pasar yang sebagian pedagangnya merupakan penduduk lokal pulau XX.
Barang dagangan yang dijual pun berfariasi. Akan tetapi Natasya tau jika harga yang ditawarka tergolong murah jika dibandingkan barang-barang yang sudah di jual di kota.
Melangkah perlahan, Natasya selalu mengekori langkah Ernest. Mereka masih berkeliling dan belum menentukan barang yang ingin dibeli.
"Natasya, kau ingin membeli apa?." Masih dengan melangkah, Ernest bertanya pada Natasya yang berjalan di belakangnya.
"Entah, Tuan. Saya masih berfikir," jawab sang gadis dengan tertawa lirih. Ia sendiri kurang mengerti akan barang-barang yang menjadi kesukaan sang Ibu.
Pakaian atau barang? Yang mana ya?.
"Kenapa, kau binggung?."
Natasya meringis. Tentu saja dirinya bingung.
Natasya diam namun sepasang matanya menatap ke arah Ernest. Berfikir, bagaimana pria itu tau jika perempuan menyukai barang-barang seperti itu.
Mungkin dia tau apa yang perempuan suka dari pacarnya.
"Kenapa?. Tidak perlu memandangiku seperti itu." Ernest tergelak saat Natasya justru terus menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Aku melihat Ibuku memiliki banyak koleksi tas dan sepatu di ruang ganti. Dari itulah aku berkesimpulan jika mungkin kebanyakan wanita juga membunyai kegemaran yang sama."
Entah kenapa, Natasya pun tiba-tiba ikut tergelak. Ya, rupanya Ernest melihat hal tersebut dari Ibunya.
Rupanya Ernest benar-benar membawa Natasya ke sebuah toko tas. Nemang tas yang dijual di tempat tersebut bukanlah tas dengan brand luar dengan harga jual yang fantastis. Akan tetapi jika dilihat dari kualitas pun, sepertinya tak jauh berbeda.
Arka dan Natasya meneliti dari bentuk dan juga warna. Siapa yang mengira jika Ernest mengambil dua tas dengan warna berbeda namun model yang sama untuk dibeli, dan siapa lagi yang mengira jika kedua tas tersebut akan diberikan pada Ibunya, Zara serta Ibu dari Sekretaris pribadinya.
"Ambil ini saja, satu untuk Ibuku dan satu lagi untuk Ibumu." Natasya terdiam namun tetap menerima pemberian Ernest yang sudah terkemas dalam paper bag.
__ADS_1
"Kenapa diam, kau tidak suka?."
"S-suka, Tuan. Sangat suka. Terimakasih." Ernest tentu tersenyum mendengar jawaban dari bibir Natasya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Melewati stand penjual makanan, seketika membuat jiwa kuliner Natasya meronta.
Ya tuhan, aku lapar. Tapi aku malu, hiks..
Bibir sang gadis mengerucut. Ernest seperti tidak peka dan terus melanjutkan langkah tanpa melihat perubahan mimik wajah sekretarisnya.
"Kau kenapa?. Jalanmu terlihat lambat seperti siput. Kau lapar?." Bukan Ernest, namun Langit lah yang bertanya. Berbeda dengan Ernest yang berjalan di depan, posisi Langit berdampingan dengan Natasya, yang memudahkannya untuk melihat wajah sang gadis meski hanya melirik.
Natasya melirik ke arah Ernest sebelum menjawab. Selepas memastikan aman, gadis itu sontak mengangguk.
"Ya, kau tau, bau seluruh makan ini seakan membangunkan seluruh cacing di perutku yang sedang terlelap. Mereka seperti berteriak dan meminta perutku untuk diisi."
Langit berdecak kemudian berkata, "Ada-ada saja."
Tak mendapatkan respon yang berarti membuat Natasya kian mengerucutkan bibir.
"Kalian jahat sekali," gumam Natasya yang sayangnya mampu tertangkap indra pendengaran Ernest. Rupanya sedari tadi pun Pria tersebut dapat mencuri dengar pembicaraan yang terjadi antara Asisten dan Sekretaris pribadinya tersebut.
"Cemberut seperti itu tidak akan membuat perutmu kenyang."
Natasya terkesiap.
Gawat, jangan-jangan dia dengar seluruh pembicaraanku dan Tuan Langit?.
"Sama dengamu, aku pun juga lapar."
Ah, apa-apaan ini. Natasya pastinya hanya menggerutu dalam hati. Bukan hanya dirinta tetapi Ernest dan langit pun ikut menikmati jajanan.
Ya tuhan, Tuan Langit juga makan jajanan dengan lahap, tapi kenapa tadi saat berbicara padaku pura-pura tak menginginkan makanan seperti ini?.
Dari sekian banyak jajanan, Natasya memilih siomay dan alpukat kocok sebagai minuman. Mereka makan dan saling berbicara, hingga tak menyadari ada seorang pria yang sedang menatap ke arahnya.
Apa, alpukat kocok?. Bukankah Anastadya juga menyukainya bahkan dia menginginkannya saat hamil muda dulu?.
__ADS_1
Tbc.
Wah, siapa ya kira-kira yang secara diam-diam mengamati mereka?.