
Sepasang mata senja itu menatap ke arah jendela yang terbuka, di mana taman berukuran mungil yang tertata rapi bisa dilihat dari tempat dirinya duduk saat ini. Praja menghela nafas dalam. Semenjak mendapatkan perawatan terbaik dari tenaga medis rumasakit, perlahan tubuh pria parah baya itu mulai bisa digerakan. Hingga beberapa bulan berselang, kini ia bahkan bisa berjalan, meski masih menggunakan alat bantuan.
Praja merasa bersyukur, ia sempat berfikir jika umurnya tidak akan panjang pun dengan penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan, akan tetapi takdir berkata lain. Saat entah mendapatkan kekuatan dari mana, putri sematawayangnya itu bisa membawanya pergi jauh dari jeratan wanita keparat yang dulu pernah digilainya.
"Arum." Praja mengucap satu nama seraya mengepalkan kedua tangan.
Apakah ia menyesal? Tentu iya. Tetapi bagaimana pun semuanya sudah menjadi takdir. Namun ada satu hal yang membuat praja begitu membenci dirinya sendiri. Laura, wanita yang teramat ia cintai, menjadi korban penghiatan yang ia ciptakan sendiri.
Praja menatap kearah luar jendela dengan pandangan kosong. Peristiba beberapa tahun lalu seperti bergentayangan di dalam benaknya.
"Laura, kau boleh membenciku, kau juga boleh memukulku sepuas hatimu, tetapi biarkan aku menikahi Arum. Terimalah dia menjadi adik madumu, aku mohon laura." Praja bersujud dikaki Laura yang duduk dengan pandangan kosong. Perempuan itu tak menunjukan ekspresi apa pun selain diam dengan tubuh membeku.
"Laura, aku mohon, jawab aku." Praja menatap penuh harap pada Laura. "Aku menunggu keputusanmu, laura."
Sudut mata Laura memanas. Tetesan bening pun tak terbendung lagi. Ia biarkan dirinya terisak, namun ditahan untuk tak mengeluarkan raungan.
"Aku kira persetujuanku pun tak penting lagi bagimu. Seperti dugaanku, meski tanpa seizinku pun kau pasti nekat untuk menikahinya. Dan sekarang, lakukanlah. Toh, kalian sudah melangkah terlampau jauh dalam hubungan terlarang itu. Aku memberikanmu izin untuk menikahi perempuan tanpa berniat mencegahnya. Aku ikhlas. Pergilah, dan mulai urus pernikahan keduamu sekarang." Praja tersentak. Tak menyangka jika Laura akan berkata demikian. Benarkah istrinya itu memberinya izin untuk menikah lagi? Bukankah seharusnya laura menolak?.
Praja menghapus jejak air mata yang membasahi kedua pipinya. Kejadian beberapa tahun lalu itu kembali hadir dan terasa begitu nyata. Praja tak mengira jika selepas memberinya izin untuk menikah lagi, Laura semakin jauh berubah. Perempuan itu membisu bagai patung. Hatinya seolah mati, dengan binar wajah yang tak terlihat lagi.
Praja tak menyangka jika keputusan yang ia ambil, berakibat luar biasa pada mental Laura. Istri pertamanya depresi sebab ia menahan semua sakit hati seorang diri. Tubuhnya yang semula segar dan sintal, perlahan menyusut, hingga meninggalkan tulang dan kulit.
"Maafkan aku Laura. Sayangku," lirih Praja ketika tak kuat lagi mengenang beban mental yang dialami mendiang istrinya.
"Ayah."
Praja lekas mengusap sisa air mata saat sebuah suara, mengejutkannya. Pria yang tengah duduk itu mengeser pandang kearah sumber suara yang sudah memanggil namanya.
"Isabel, putriku. Kemarilah Nak," panggil Praja meminta putrinya untuk mendekat.
Isabel patuh. Berjalan mendekat pada sang ayah dan duduk di sampingnya.
"Ada apa?"
Gadis itu tak lekas menyahut. Ia justru meneliti secara seksama wajah dan kondosi tubuh sang ayah.
__ADS_1
Sang ayah sudah bisa berbicara dengan jelas. Begitu yang Isabel tangkap saat ini.
"Em maaf. Ada hal penting yang ingin Isabel tanyakan pada ayah."
"Tentang?"
Gadis itu menghela nafas. Sebisa mungkin ia merangkai pertanyaan yang kelak tidak akan memancing kemurkaan sang ayah.
"Sebesar apa cinta yang ayah miliki untuk Ibu Arum?"
Praja mengernyit.
"Maksudmu Nak?"
"Apakah melebihi cinta ayah pada Ibu?" Tentu yang dimaksud Isabel 'ibu' adalah Laura.
Praja spontan menggelengkan kepala.
"Tentu tidak nak. Bagi ayah, ibumu adalah segalanya."
Isabel jelas langsung membuang muka. Benarkah? Jika sang ayah secinta itu pada Ibunya, kenapa sampai hati melukai sang ibu sedalam itu.
Tentu Isabel kecewa. Kenapa sang ayah masih berusaha menutupi semuanya saat Arum sendiri sudah menunjukan wajah aslinya. Apa sebenarnya maksud sang ayah?
"Baiklah. Itu terserah ayah. Tetapi bukankah ayah sudah melihat dengan jelas watak asli perempuan yang dulu ayah bilang lebih dari ibu?"
Praja tertunduk dalam. Memang dulu dirinya sempat sesumbar jika Arum lebih baik dari laura dari banyak segi. Tapi apa kenyataanya? Sungguh tiada diduga.
"Iya, ayah tau."
"Ibu Laura menguasai segalanya. Mulai dari rumah bahkan harta ayah. Dulu, memang aku masih terlalu kecil untuk bisa memahami semuanya, tapi tidak dengan sekarang. Aku sudah besar, ayah."
"Ayah mengerti jika maksud pertanyaanmu adalah sebenarnya menjadi hak siapa harta ayah sekarang. Bukan begitu kan?"
Tanpa sungkan Isabel mengangguk. Baginya penjelasan sang ayah akan membuka tabir kebenaran. Sebenarnya harta yang selama ini dihamburkan oleh Arum apakah sudah menjadi hak perempuan paruh baya itu sendiri.
__ADS_1
"Ayah memang mencintai ibu Arum, tetapi ayah juga tidak bodoh untuk menyerahkan semua aset dan mengalih berbagai usaha menjadi atas namanya. Jadi wajar saja jika Arum murka dan merencanakan sebuah kecelakaan yang akhirnya membuat kaki ayah lumpuh."
Pernyataan sang ayah sontak membuat Isabel terkejut. Benarkah jika kencelakaan sang ayah juga sang ibu tiri yang mensabotasenya.
"Maksud ayah?"
"Ya, sesuai dengan pemikiranmu, nak. Ibu arum dan Ayah Stevenlah yang merencanakannya. Ayah tidak sengaja mendengar, saat keduanya sedang berdebat dirumasakit. Mengira jika ayah masih pingsan, sepasang manusia laknat itu membahas masalah mobil ayah yang rupanya sudah distel salah seorang montir sebelum kecelakaan itu terjadi." Bibir Praja bergetar, pun dengan hatinya yang seperti teriris benda tak kasat mata. Begitu perih dan menyiksa. Ayah Steven yang merupakan orang nomor satu kepercayaan Praja, berkhianat. Pria itu memiliki ambisi dan tujuan sama seperti Arum, yaitu menguras seluruh harta benda Praja. Tetapi Praja tak bodoh, hingga sepasang insan itu hanya bisa menikmati sebagian uang Praja, tetapi tidak bisa merebut aset-aset pribadinya.
"Kau adalah putri ayah satu-satunya, dan hanya kaulah satu-satunya orang yang berhak menikmati atas harta benda yang kumiliki."
Gadis itu terdiam. Sebenarnya ia tak ingin berada dalam situasi semacam ini. Persetan dengan harta benda. Ia hanya ingin hidup bebas dan aman, tanpa merasa terancam.
"Apa ayah tau?" Sejenak gadis itu mengalihkan pandangan kearah luar. Menatap burung-burung yang terbang begitu bebas. "Aku memilih meninggalkan rumah, sebab ingin merasakan kebebasan dan melepaskan semua. Termasuk rumah dan segala harta yang ayah punya. Aku tersiksa. Hidupku juga menderita karna harta yang ayah miliki. Aku hampir mengiklaskan segalanya, tetapi ibu Arum justru menabuhkan genderang perang dengan menyaliti orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan keluarga kita."
"Hah, benarkah?" Praja merasa terkejut, rupanya istri keduanya itu masih belum puas untuk bermain-main.
"Mereka meneror keluarga Bi Ratih. Dan terus mengancam agar memberi tahu keberadaan kita saat ini."
Wajah Praja mulai muram. Tak menyangka jika masalah keluarganya bisa menjadi serumit ini. Tanpa sadar akibat ulahnya di masa lalu, turut menyeret banyak orang yang sejatinya tak tau apa-apa tentang masalahnya.
"Lalu apa keputusanmu, nak. Kau harus bisa merebut kembali semua milik ayah yang menjadi hak mu. Maaf, ayah hanya bisa membantu dengan doa, mengingat seperti apa kondisi tubuh ayah saat ini."
Isabel berfikir sejenak. Seperti yang sang ayah bilang jika semua Aset masihlah atas nama dirinya, maka secara hukum pun Arum tak berhak untuk mengambil apa yang sudah menjadi miliknya. Jadi apakah merebutnya menjadi cara yang paling tepat? Ah entahlah.
"Baiklah, mungkin aku dan paman Thomas akan membicarakannya juga mencari solusinya seperti apa. Kami tidak ingin gegabah, ya seperti yang ayah tau jika Ibu Arum adalah lawan yang sangat mengerikan. Sedikit saja salah mengambil tondakan, maka nyawalah yang menjadi taruhan."
Praja bungkam. Lidahnya mendadak kelu. Tubuhnya membeku saat mengingat Arum yang dulu sifatnya lembut kini berubah garang bak macan betina yang siap mengoyak tubuh mangsanya. Ya tuhan, apakah kelembutan sifatnya dulu hanyalah kepura-puraan?
Isabel mengusap bahu sang ayah lembut. Menyadari perubahan ekspresi wajah sang ayah membuat gadis itu berhenti membahas perihal masalalu pria paruh baya itu.
"Isabel akan menemui paman, ayah beristirahatlah," titah sang gadis seraya meminta pada sang ayah untuk berbaring di atas ranjang.
Praja tak menolak. Ia memposisikan tubuhnya terlentang dengan sepasang mata mulai dipejamkan.
Isabel menarik selimut hingga sebatas dada sang ayah, agar pria itu merasakan kehangatan juga kenyamanan.
__ADS_1
"Beristirahatlah, ayah. Aku menyayangimu." Cup, Isabel mengecup kening sang ayah yang sudah terlelap. Gadis itu bangkit dan menutup pintu rapat selepas memastikan jika sang ayah sudah benar-benar terlelap.
Tbc