
Penyesalan mungkin selalu datang terlambat. Begitu kiranya kata yang pantas disematkan pada pria yang kini duduk meringkuk seraya membenamkan wajah pada kedua lututnya sendiri. Dinginnya jeruji besi sudah pria itu rasa sejak beberapa hari lalu guna mempertanggungjawabkan sebuah kesalahan yang memang sudah ia lakukan.
Widodo, begitu nama pria yang tengah meringkuk di jeruji besi bersama beberapa narapidana lain. Pria berkulit gelap itu berusia pertengahan empat puluh kini. Usia yang terbilang sangat matang untuk bisa mengambil keputusan sebelum bertindak. Mampi memilah mana yang baik juga mana yang berdampak buruk untuk hidup dirinya beserta keluarganya.
Widodo kian mengeratkan dekapan pada kedua lutut saat telapak kaki dan pantatnya yang hanya tertutup pakaian tahanan terasa kian dingin saat menyentuh lantai. Ingin rasanya pria itu bangkit dan mendobrak teralis besi yang mengukung pergerakannya untuk melarikan diri. Akan tetapi, ia hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kekuatan sesuper itu untuk bisa kabur begitu saja.
Bukan hanya dingin, Widodo juga merasakan sakit dan perih di bagian wajah dan tubuhnya akibat pukulan yang ia dapat dari tahanan lain.
Sebenarnya Widodo tak bekerja sendiri, ada satu orang lagi yang menjadi rekannya saat kejadian di bandara tempo hari. Akan tetapi, begitu ia melancarkan aksi, sang rekan justru hanya memantau keadaan sekitar jari jarak aman dan berhasil menghilangkan jejak saat dirinya justru tertangkap.
"Arum sialan," lirih Widodo nyaris tak terdengar. Sepasang tangannya terkepal erat. Merasakan nyeri sekaligus amarah dalam dirinya.
Widodo mendongak saat seorang aparat memanggil namanya. Pria setengah baya itu tersenyum tipis, rupanya ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
"Itu pasti nyonya Arum," gumam Widodo dengan gurat wajah cerah. Setidaknya Arum akan datang untuk membebaskan atau menebusnya.
Tertatih Widodo melangkah, keluar dari sel keparat begitu pintu teralis besi itu terbuka. Menyerigai saat berbalik badan, menatap sinis napi lain yang sudah lancang memukulnya dengan membabi buta. Serigai yang ia lempar seolah mengejek, mengatakan jika mulai detik ini ia keluar dari ruang sempit terkutuk ini.
Beberapa narapidana lain yang bisa membaca arti serigai Widodo, hanya geleng kepala menanggapinya. Baiklah, nikmati saja. Begitu fikir mereka.
Langkah Aparat dan Widodo terhenti tepat di dalam ruangan yang dikhususkan pagi para tamu pengunjung narapidana lapas. Wajah lega Widodo spontan menegang saat bersitatap dengan wajah gadis yang menjadi tamunya.
Widodo menelan ludah kasar. Tubuhnya nyaris terhuyung seakan tulang dalam tubuhnya menghilang seketika.
Nona Isabel.
Pandangan Widodo beralih pada sesosok pria berwajah tampan juga bertubuh tegap yang tepat berada di samping kanan Isabel. Pria itu langsung menundukan kepala, sesaat setelah menyadari jika pria tersebut adalah korban salah sasarannya.
"Paman, duduklah." Isabel membuka percakapan saat Widodo masih tetap berdiri tanpa ingin duduk di kursi yang sudah tersedia.
Setengah ragu Widodo mengeser tubuh. Mendaratkan pantatnya di kursi dengan takut-takut.
"Aku akan keluar sebentar. Bicaralah dengannya agar leluasa." Erich menepuk bahu Isabel. Menguatkan saat melihat sepasang mata bening sang gadis mulai berkaca.
Isabel mengangguk, mempersilahkan. Meski di sudut ruangan pun masih ada aparat yang bersiaga.
Selepas kepergian Erich Widodo memberanikan diri untuk menatap wajah Isabel.
__ADS_1
"Maafkan saya, nona," ucap Widodo dengan bibir bergetar. Pria itu bisa menatap raut kekecewaan dari wajah sang majikan padanya.
Isabel bergeming. Hanya menatap Widodo tanpa bicara.
"Maafkan saya nona. Saya benar-benar minta maaf. Saya mengaku salah. Saya terpaksa melakukannya, nona" Widodo meng-iba. Tetapi tak menitikkan air mata.
Isabel masih diam. Menatap mata Widodo dengan pandangan menghunjam.
Widodo gelagapan dan menelan ludahnya susah payah. Majikannya itu tak sedikit pun luluh walau ia sudah mengaku salah.
"Aku sungguh tak menyangka jika Paman tega melakukan semua kejahatan ini pada kami, setelah apa yang sudah ayahku perbuat pada keluargamu, paman." Tak ada belas kasih dalam ucapan yang keluar dari bibir gadis yang selama ini Widodo kenal sangat santun. Begitu pun dengan tatapan sang gadis yang tak lagi lembut, melainkan tatapan yang penuh luka.
"Maafkan saya nona. Saya diancam. Nyonya Arum akan menyakiti keluarga saya andai saya tidak mengikuti keinginannya."
"Namun jika paman sendiri sudah tertahan di tempat ini, apa paman bisa menjamin keselamatan mereka? Tentu tidak bukan? Ibu Arum bisa saja menghabisi anak dan istri paman sebagai luapan kekecewaan."
Tubuh Widodo menegang. Benarkan Arum tega melakukan hal demikian?.
"Maka berfikirlah sebelum melangkah."
"Aku kira kebaikan dan kemurahan hati ayah, bisa membuatmu sedikit saja mengasihaniku. Ternyata, tidak. Paman justru ingin membunuhku setelah terlibat dan kecelakaan ayah beberapa tahun lalu."
Belum lagi hilang keterkejutan tentang keadaan keluarganya, Isabel kembali melemparkan panah yang membuatnya ingin mati seketika. Wajah syok bercampur panik itu benar-benar ketara. Nyaris tak bisa ditutupi walau mengulas senyum selebar apa pun.
"Beberapa tahun lalu mungkin aku bisa diam saat para pengawal terbaik ayah justru menikamnya dari belakang. Berkomplot, menyetel mesin mobil, membuatnya blong hingga tak terkendali dan kecelakaan. Aku memang masih kecil saat itu, tetapi jangan salah. Tanpa sengaja aku mendengar semua ucapan kalian di rumasakit selepas kejadian, bahkan aku masih mengingat dengan jelas wajah-wajah siapa saja yang berperan serta dalam rencana juga perusakan mobil, termasuk montir."
Glek. Widodo kian pucat pasi.
"Selama ini aku tak mengadu pada siapa pun sebab iba pada pada keluargamu. Seperti aku yang kehilangan ibu, putri paman pun pasti akan merasakan hal yang sama andai kehilangan ayahnya. Namun kini, setelah paman mengulang kembali kesalahan yang sama, nuraniku tak lagi terketuk. Simpatiku hilang seiring pengkhianatan bertubi yang sudah paman lakukan. Setelah ini, bersiaplah. Dua kasus sekaligus, akan menjeratmu."
"Tidak!"
Teriakan Widodo membuat Erich yang semula menjauh, berlari mendekat. Takut jika sesuatu terjadi pada Isabel saat ia tinggalkan.
"Tidak! Itu tidak benar!" Widodo bangkit dengan wajah memerah. Hendak menarik lengan Isabel namun Erich lebih dulu membawa tubuh gadis itu dalam pelukan.
"Apa yang kau lakukan?" Erich setengah berteriak. Menatap murka pada Widodo.
__ADS_1
Aparat yang bersiaga pun sigap mengamankan Widodo. Membawanya kembali masuk ke dalam meski pria itu meronta dan berteriak tidak terima.
💗💗💗💗💗
Tergugu, Isabel meluapkan tangisnya begitu sudah memasuki mobil. Gadis itu masih tak menyangka jika Widodo, pengawal yang sudah belasan tahun bekerja pada sang ayah justru orang yang berniat menghabisi nyawanya. Tidakkan sedikit saja Widodo memiliki belas kasih untuk tidak meng-iyakan keinginan Arum, ataukah imbalan segepok uang yang membuat pria itu gelap mata? Entahlah.
"Minumlah," titah Erich seraya memberikan satu botol minuman pada Isabel.
Gadis itu menerimanya dan meneguknya perlahan.
"Kau sudah tenang sekarang?"
Isabel mengangguk.
"Terimakasih."
"Hem."
Hening. Keduanya diam. Isabel menerawang jauh pandangan. Saat teringat akan sesuatu, gadis yang terlihat cantik dengan rambut dikuncir kuda itu spontan menatap kearah Erich yang rupanya juga tengah menatapnya.
"Apakah tawaran saat itu masih berlaku?"
"Hem?" Erich mengernyit. "Maksudmu?"
"Tawaran saat anda menawarkan bantuan."
"Maksudmu, kau..?"
"Ya, saya akan menerima bantuan tuan. Mengusut kasus penusukan ini sampai tuntas juga beberapa kasus yang melibatkan ibu tiri saya dan orang-orang suruhannya."
Erich terperangah, namun di sisi lain pria itu masih tak percaya.
"Benarkah?"
"Tentu," jawab Isabel lugas yang mana membuat senyum di bibir Erich terulas seketika.
Tbc.
__ADS_1