CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Siomay


__ADS_3

Sepasang mata tajam bak elang, ditambah hidung mancung khas pria eropa belum lagi bibir tebal nan sensual berwarna kemerahan serta rahang kokoh tegas yang membingkai sudut wajah, merupakan perpaduan sempurna untuk paras seorang pria yang tidak lagi diragukan ketampanannya. Wajah itu, wajah seorang pria dewasa, dengan proporsi nyaris sempurna meski diusianya yang tak lagi terbilang muda.


Tubuh tinggi tegap, dengan dadaa bidang dan punggung lebar yang masih bisa terlihat meski sudah disamarkan dengan stelan jas lengkap.


Dalam beberapa saat Natasya mematung. Memandangi seseorang yang sejatinya memiliki janji temu dengan sang atasan.


"Hei, Natasya, Apa Ernest ada di dalam?."


Gadis yang disebutkan namanya, tak merespon. Diam, namun pandangan lurus ke arahnya.


Sang tamu yang tak lain adalah Rangga, menjadi salah tingkah. Terlebih ia ditatap sebegitu dalam oleh seorang gadis yang merupakan putri dari perempuan di masa lalunya.


"Natasya." Rangga akhirnya bersuara lagi setelah beberapa saat berfikir. Benar saja, gadis itu mengerjap dan tersentak. Ya tuhan, gadis itu melamun terlalu dalam.


"Tu-tuan, Ma-maaf, maafkan saya, Tuan." Natasya gelagapan. Ia lekas menundukkan kepala. Merutuki diri akibat kelancangan yang sudah dilakukan. Sungguh, Natasya begitu malu yang secara tak sadar sudah menatap wajah salah satu kolega bisnis atasannya sebegitu dalam.


Semoga Tuan Rangga tidak berfikir macam-macam tentangku.


"Tak masalah. Apa Ernest ada di dalam?."


"A-ada, Tuan. Tuan Ernest ada di dalam." Sigap, meski dalam situasi canggung Natasya tetap berusaha profesional. Mempersilahkan Rangga dan mengetuk pintu Ruang kerja Tuannya sampai terbuka.


Begitu Rangga memasuki ruang kerja Ernest, Natasya menghela nafas lega. Sungguh dirinya teramat malu. Natasya sadar jika Rangga pasti tau jika sedang diperhatikan begitu dalam oleh dirinya. Gadis itu merutuk diri, hanya karna menatap wajah pria masa lalu Ibunya, justru dirinya ikut terhanyut dan berfikir sampai kemana-mana.


Natasya memukuul kepalanya sendiri. Mungkin dengan cara demikian mampu mencairkan isi kepalanya yang sempat membeku selepas kehadiran Rangga.


Siaal, karna artikel yang kubaca sepanjang malam justru membuatku terngiang-ngiang dengan wajahnya. Setelah bermimpi, siang ini aku malah melihat wajahnya secara nyata, begitu dekat sampai aku tak sadar memandanginya begitu lama.


Sekujur tubuh Natasya panas dingin. Mungkin reaksi tubuhnya berlebihan. Hanya saja gadis itu pun takut jika Rangga memiliki fikiran yang buruk kepadanya.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


Belum surut rasa canggung Natasya pada Rangga, Ernest yang merupakan atasannya justru membawa serta Pamannya tersebut untuk makan siang.


Natasya meneguk salivanya susah payah. Bagaimana tidak, belum reda rasa canggung yang diselimuti cemas, dirinya justru harus diposisikan duduk di satu meja dengan seseorang yang sejatinya tak ingin dulu ia temui. Huh, Siial.


Sepanjang makan siang, Natasya tak banyak bicara. Ia hanya melakukan kewajibannya seperti biasa dalam melayani makan siang Tuannya. Hanya saja kali ini dirinya pun harus juga melakukan hal yang sama pada Rangga.


Saat mereka mulai makan, tanpa sadar Natasya justru memperhatikan sosok Rangga yang berada di satu meja dengannya. Natasya memperhatikan cara pria itu makan, berbicara, dan segala gerak gerik pria dewasa itu yang tertangkap oleh indra penglihatannya.


Saat seperti ini seperti mengingatkan Natasya saat dirinya bersama sang Ibu menghadiri undangan makan malam keluarga Ernest. Rangga yang datang secara tiba-tiba dan terlambat langsung mengambil tempat di sebuah kursi yang letaknya tepat berdampingan dengan Ibunya. Pria itu juga tanpa ragu menawarkan ini dan itu pada Anastasya, namun perempuan itu selalu menolak. Dari tempat duduknya, saat itu Natasya hanya bisa melihat namun tak buka mulut sebab masih tak mengetahui hubungan yang terjalin diantara Ibunya dan juga pria kaya tersebut di masa lalu.


Sepintas jika dilihat dari struktur wajah, Rangga terlihat garang. Wajahnya yang terlihat jarang tersenyum sering diasumsikan orang lain sebagai sosok yang sombong. Akan tetapi itu penilaian sebagian orang yang sejatinya belum mengenal keturunan Wiratama tersebut secara dekat. Begitu pulalah yang terjadi dengan Natasya. Dulu, mungkin dirinya pernah berfikir demikian, namun siapa sangka, pertemuan keduanya akhir-akhir ini justru membuat penilaian putri dari Anaatasya berubah. Rangga tak seseram dan segarang yang ia kira.


Pantas saja, saat malam itu Rangga bertutur kata lembut di hadapan sang Ibu, dan rupanya bukan hanya pada Ibunya tetapi juga pada Ernest, Atasannya.


"Natasya, kau suka daging olahan?."


"I-iya, Tuan." Selepas menjawab Natasya lekas mengambil air berisi air minum dan meneguk isinya. Ya, tuhan. Sekali lagi pesona Rangga membuatnya hanyut.


"Rupanya kau memiliki kesaman seperti Ibumu untuk urusan makanan. Sama-sama menyukai daging olahan." Rangga menatap pada Natasya kemudian ke arah sepiring siomay yang setiap hari menjadi menu pelengkap makan siang di meja makan Ernest. Natasya sendiri tak tau kapan pastinya menu satu yang menjadi makanan favoritnya itu bisa terhidang dan hampir setiap hari berada di meja. Namun satu yang pasti, semenjak dirinya memesan makanan tersebut melalui jasa Online sebab pihak kantin perusahaan tak pernah menyediakan, beberapa hari kemudian makanan tersebut justru di hidangkan di meja saat makan siang. Natasya tentu terkejut, sebab yang ia tau Ernest tak pernah memakan makanan tersebut tapi kenapa justru terhidang dan menjadi menu wajib dalam setiap harinya?. Ah entahlah.


Tapi, Tuan Rangga menyebut jika Ibu juga menyukai siomay. Apa mungkin pria itu tau semua makanan yang ibu suka atau pun tidak?.


"Benar, Tuan. Saya dan Ibu memang hampir memiliki selera makanan yang sama."


Rangga mengulas senyum simpul. Ia melanjutkan kembali makan yang tertunda namun dengan fikiran yang entah kemana.


Anastasya, aku rindu.

__ADS_1


Di tempatnya Ernest hanya mengamati interaksi yang terjadi diantara Sekretaris dan sahabat Ayahnya. Berulang kali dirinya mendapati jika Natasya kerap mencuri pandang pada Rangga. Saat ditegur dan Natasya hampir tersedak tadi, Ernest tahu benar sebab gadis tersebut terkejut dan takut ketahuan saat curi-curi pandang.


Opo ndak bahaya iki ta?.


Ernest berdehem. Ia sudah selesai makan namun masih ingin melahap satu makanan yang selama ini jarang sekali ia makan.


"Paman suka siomay?." Ernest bertanya.


Rangga pun mengangguk.


"Ya, aku menyukainya."


"Ayo dicicipi, aku sengaja meminta koki untuk membuat siomay yang nikmat dalam setiap harinya. Harus menggunakan bahan-bahan segar dan higienis, juga dengan cita rasa yang tak berubah dan takaran yang pas dalam setiap kali pembuatan." Ernest menawarkan pada Rangga untuk lekas mencicipi. Sedangkan pria itu sendiri sudah mulai melahapnya selepas Natasya mengucurkan saus kacang bercampur kecap manis ke atas beberapa buah siomay yang tersaji disebuah piring. Pria itu tampak menikmatinya.


"Wah, Ernest kau tampak begitu menikmatinya." Rangga menatap tak percaya pada Ernest, putra sahabat yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.


"Tentu saja, Paman. Ini enak dan sangat menikmatinya."


"Benarkah," tanya Rangga kemudian. "Setau paman kau tidak menyukai jenis makanan seperti ini. Gurih, banyak mengunakan campuran bumbu-bumbu dan tidak sehat. Bukankah kau sering berkata seperti itu jika aku menawarkan?."


Ernest menghentikan kunyahan, sementara Natasya menatap kebingungan pada dua pria di hadapan.


Dalam hati, Rangga tergelak namun sebisa mungkin bersikap biasa saja. Dirinya hanya ingin mengerjai Ernest. Sampai mana pria muda itu akan berkilah dan melakukan pembelaan.


"Ti-tidak paman, makanan ini sehat. Aku sudah memperingatkan koki agar merubah semua bahan, mengantinya dengan bahan-bahan yang segar dan sehat. Sesuai dengan anjuran ahli gizi."


Benar saja, Ernest berkilah. Pria itu terlihat salah tingkah terlebih melihat ekspresi Anastasya yang terlihat kecewa.


"Baiklah, aku yakin makanan ini juga sehat." Rangga tergelak kemudian menatap pada Natasya. " Natasya, ayo makan. Aku tau, Ernest tidak pernah setengah-setengah dalam berusaha. Termasuk juga untuk urusan hati, Ernest tidak pernah setengah-setengah dalam berjuang. Bukan begitu, Ernest?." Rangga menggoda seraya mengedipkan sebelah mata.

__ADS_1


Ernest hanya bisa tersenyum kecut, cukup sebal dengan godaan sang paman yang seakan mampu membaca isi fikirannya.


Tbc.


__ADS_2