
Selepas berbelanja Zara mengiring langkah sang suami menuju foodcourt yang terletak di lantai teratas Mall. Aroma lezat makanan menguar begitu keduanya baru menjejakan kaki ke lantai yang dipenuhi stand para penjual.
Isabel terperangah. Ia menatap takjub pada daftar menu disetiap stand yang tampak begitu menggugah selera. Bukan hanya makanan waestern saja yang disajikan, namun makana lokal bahkan tradisional pun tersedia.
"Kak," panggil Erich yang masih berdiri di sampingnya. "Aku mau itu," tunjuk Isabel ke arah salah satu stand sementara satu tangan lainnya menarik ujung pakaian Erich.
"Kau mau itu?." Tanya Erich memastikan.
"He'em."
"Ok." Tanpa basa basi keduanya melangkah menuju stand yang dimaksud Isabel. Begitu benar-benar mendekat, sepasang mata Erich menyipit. Membaca setiap menu makanan yang penjual itu sajikan.
"Sayang, kenapa begitu banyak cabai?." Erich menunjuk satu menu pada Isabel, di mana potongan kasar cabai berwarna merah terang tampak memenuhi bagaian atas masakan.
"Kenapa? Itu memang cabai, aku pernah memakannya. Rasanya enak dan juga tak terlalu pedas."
Jawaban sang istri membuat Erich menelan ludah kasar. Di mana-mana yang namanya cabai pasti rasanya pedas. Apa mungkin yang dimakan Isabel saat itu cabe-cabean, hingga rasanya tidak pedas?.
Seorang gadis penjaga stand tersenyum ramah pada Erich. Ia menyerahkan buku menu pada pria tampan tersebut, sesekali menyebutkan beberapa jenis makanan yang cukup digemari pelanggan.
"Untuk promo setiap akhir pekan kami memberikan potongan harga dua puluh persen setiap pembelian lebih dari xxx rupiah. Silakan dipesan, Kak. Atau adiknya barang kali?." Gadis itu mengangguk ramah ke arah Isabel.
Sementara itu Isabel terkikik di belakang punggung Erich, dan Erich memasang tatapan tajam pada penjaga stand. Merasa tak terima saat perempuan itu mengira jika Isabel adalah adiknya.
"Dia istriku, dan bukan Adikku."
Penjaga stand itu menelan ludah. Ia sampai mundur beberapa langkah. Takut mendapatkan tatapan tajam dari calon pembelinya.
"Ma-maaf, Kak. Saya hanya mengira saja."
Erich sudah kehilangan selera. Ia hendak beranjak namun tak tega pada Isabel.
__ADS_1
"Sayang, kau ingin yang mana? Ayo pesan dan cepat pergi dari tempat ini." Sean benar-benar menunjukan rasa tidak sukanya.
"Baiklah, sayangku. Tunggu sebentar, aku akan pesan dan kita akan segera pergi dari tempat ini." Isabel memesan makan sementara Erich menjauh. Demi apa pun ia sudah tak ingin melihat penjaga stand itu lagi.
💗💗💗💗💗
"Sayang, sebenarnya apa yang kau pesan? Perutmu bisa sakit jika cabainya sebanyak itu." Pandangan Erich tertuju pada piring saji milik Isabel. Entah apa nama menu yang sang istri pesan, namun yang pasti begitu banyak cabai yang tercampur di dalamnya.
"Ini tahu gejrot," jawab Isabel seraya memasukan potongan tahu bercampur kuah berbumbu dan ulekan cabai.
"O, tahu gejrot." Erich membeo dan menganggukan kepala. Akan tetapi ia pun meringis begitu melihat sang istri semakin lahap menyantap. Cabai dalam makanan itu cukup banyak dan kini sudah berpindah ke dalam perut sang istri.
"Kakak tidak makan?."
"Tidak."
"Kenapa?." Disela suapan Isabel menatap penuh tanya pada sang suami.
Isabel tergelak. Sementara Erich melotot.
"Sayang, jangan tertawa saat makan. Kau bisa tesedak dan biji cabai yang kau makan akan keluar dari luubang hidungmu. Apa kau mau?."
Isabel pun membungkam mulut. Takut jika tersedak dan biji cabai akan keluar dari hidungnya. Gadis itu kembali melanjutkan makan. Erich kembali menyodorkan beberapa menu yang tak mungkin bisa Isabel tolak. Mulai dari baso ikan dan makanan lain yang Erich tau sebagai jenis makanan kesukaan sang istri, dan satu hal lagi yang Erich tau tentang seorang Isabel. Istrinya itu begitu gemar makanan yang berbau pedas. Apa pun asalkan pedas, Isabel tak kan kuasa untuk menolak.
Sementara Erich sendiri hanya memesan satu gelas teh hijau untuk menemani makan besar sang istri. Penjaga stand itu benar-benar membuatnya kehilangan selera makan.
"Kak, aku sudah kenyang." Isabel mengusap perut ratanya yang terasa penuh sesak. Erich hanya tersenyum lembut.
"Lalu, kita akan kemana? Kau masih ingin mengunjungi tempat lain?." Erich memberi penawaran.
"Sepertinya sudah, ayo kita pulang saja." Isabel bangkit, namun Erich seakan tidak puas dengan jawaban sang istri.
__ADS_1
"Em bagaima jika sebelum pulang kita akan menuju sebuah tempat."
"Tempat apalagi?." Apa lagi sih, begitu fikir Isabel.
"Toko make up," jawab Erich seraya berbisik di telinga sang istri. Pria itu sempat mengedipkan mata sebelum melangkah lebih dulu dari foodcourt.
💗💗💗💗💗
Begitu banyak yang merubah dirinya selepas menikah. Bukan hanya dengan sikap tapi juga penampilan. Di depan cermin meja rias, Isabel tengah melakukan ritual serangkaian perawatan wajah yang beberapa saat lalu di dapatnya dari pusat perbelanjaan.
Aroma vanila menguar, memenuhi kamar. Wajah cantik yang berpoles riasan terpantul jelas di cermin. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai menyentuh punggung.
Dari arah kamar mandi, terdengar derit pintu terbuka. Erich muncul dengan mengenakan kaos tipis membentuk lekuk tubuh bagian atas yang dipadukan dengan celana piyama.
Lengkung tipisnya terukir, saat melirik ke arah Isabel yang masih merapikan penampilan di depan meja rias.
Iseng, pria itu mendekat dan melabuhkan dagunya di bahu Isabel.
"Hem, Wangi dan cantik. Begitulah istri kesayanganku. Meski pun tidak berpoles riasan, kau sudah terlihat cantik, sayang," goda Erich yang mana membuat Isabel tersipu malu.
"Kau cantik, sangat cantik dan akan lebih cantik lagi jika kecantikanmu hanya kau perlihatkan untukku." Dengan gerakan seringan kapas Erich menyentuh kuas dan mengusapkan perona ke pipi sang istri.
Dari kaca terlihat pantulan wajah mereka berdua dengan kulit saling menempel.
Erich mendaratkan kecupan di pipi setelah sapuannya selesai.
"So beautiful."
Tak ada kata lagi yang mampu dijabarkan Erich sebagai bentuk pujiaan pada sang istri. Baginya, Isabel adalah satu-satunya gadis cantik di dunia, setara dengan ibunya.
Erich membawa tubuh Isabel dalam gendongan. Membawanya ke atas ranjang untuk menikmati manisnya cinta dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1
Tbc.