
Setelan jas berwarna abu, melekat pas ditubuh tegap Erich. Dari pantulan kaca, pria tampan itu tampak tersenyum tipis. Berterimakasih pada sang pencipta sekaligus mengagumi dirinya sendiri yang pada saat ini terlihat lebih tampan dan gagah dari pada hari-hari sebelumnya. Ah tentu saja, sebab saat ini kau sedang berbahagia, Erich.
"Kau sudah siap?" Arka yang datang tanpa permisi, juga terlihat gagah dengan stelan formalnya.
"Sudah," jawab Erich mantap. Sang Ayah tentu tersenyum lebar mendapati sang putra yang begitu antusias menyambut hari bahagianya.
"Kau pasti senang sekali."
"Tentu saja, Ayah. Isabel adalah gadis yang selama ini aku cari. Bisa bertunangan dan menikah dengannya pastilah menjadi impian tersendiri untukku."
Arka tentu bisa membaca sorot mata sang putra yang tampaknya begitu bahagia. Arka pun sadar, rasa cinta yang tubuh di hati sang putra tentunya tidak datang dengan sendirinya. Seringnya bertemu dan munculnya berbagai kejadian yang mengharuskan keduanya untuk terus terhubung, pastinya menciptakan getar-getar cinta yang semakin lama semakin membara. Awalnya, mungkin keduanya tak saling menyadari. Akan tetapi saat satu dari mereka bersiap untuk pergi, satu hati lain seolah ingin menahan agar tak ditinggalkan.
Seperti itulah cinta. Arka justru teringat akan kisah cintanya di masa lampau. Saat lingkaran takdir membuatnya harus menikahi Anastasya, gadis yang sejujurnya tak ia cintai.
Gamang, tentu saja. Pada saat kebahagian rumah tangganya dan Anastasya dipertanyakan, sosok Zara justru datang. Menciptakan gelayar asing yang pada akhirnya membuat ia jatuh cinta pada sang gadis. Sungguh kisah cinta yang rumit. Beruntung putranya Erich tak harus merasakan getirnya hubungan percintaan yang sama sepertinya.
"Ayah tau, kau begitu mencintai Isabel. Berbahagialah dan jadikan dia sebagai satu-satunya perempuan yang selamanya bertahta di dalam hatimu." Selayaknya seorang Ayah, Arka tak segan memberi petuah pada sang putra. Kata-kata bijak yang tentunya bisa menjadi bekal bagi sang anak untuk mengarungi biduk rumah tangga di masa depan.
"Pasti, ayah jangan khawatir." Arka dan Erich kini saling berhadapan. Arka menepuk sepasang bahu tegap sang putra. Rasa bangga tentu saja memenuhi diri Arka. Erich, putra kecilnya dulu kini sudah dewasa dan siap untuk membangun biduk rumah tangga.
Tubuh kecil Erich dulu kini sudah membesar. Kokoh dan berotot sama seperti dirinya. Ilmu bela diri yang ia ajarkan sejak dini pun mampu diserap dengan baik, hingga keahliannya dalam menumpaskan lawan tak perlu diragukan lagi. Hanya saja Erich tak ingin terang-terangan menampakkan keahlian jurus bela dirinya di hadapan umum. Akan tetapi jika dalam kondisi terhimpit, barulah segala jurus yang ia kuasai ia gunakan untuk membuat lawan bertekuk lutut.
"Erich," panggil Arka.
"Ya, Ayah."
"Ayah bangga padamu. Begitu pun dengan Ernest dan Emely, kalian sama-sama menjadi anak kebanggaan Ayah dan Ibu." Arka menatap sang putra lekat. Pria itu cukup berbangga diri dengan kesuksesannya dalam mendidik ketiga buah hatinya sampai berada dititik ini.
Spontan Erich merengkuh tubuh sang Ayah dan membawanya dalam dekapan.
"Terimakasih, Ayah. Tentu jika tanpa didikan keras Ayah, aku tidak bisa berdiri kokoh seperti sekarang." Haru melingkupi keduanya. Tentu tanpa adanya Arka, seorang Erich tak akan pernah menjadi pebisnis sukses diusianya yang semuda ini.
__ADS_1
Arka mengendurkan dekapannya dari sang putra. Ia tatap paras rupawan sang putra begitu lekat.
"Berbahagialah, putraku. Doa Ayah selalu menyertaimu."
💗💗💗💗💗
Alunan musik lembut memenuhi ruang tamu kediaman Erich yang saat ini sudah disulap sedemikian rupa guna kelangsungan acara pertunangan yang mengundang beberapa rekan dan kolega bisnis keluarga Atmadja.
Beberapa tamu terlihat mulai berdatangan. Memang tak banyak sebab Erich sendiri hanya ingin mengumpulkan keluarga inti Atmadja dan beberapa tamu penting saja.
Erich yang diapit oleh kedua orang tuanya di sisi kanan dan kiri tubuh, sudah berdiri menyambut para tamu undangan. Sementara Isabel yang terlihat begitu anggun dengan balutan gaun berwarna merah muda dengan hiasan batu safir di bagian dada, dibimbing oleh Emely untuk lekas duduk di sebuah kursi yang sudah dipersiapkan.
Zara lekas memberi isyarat pada Erich untuk duduk di samping Isabel yang nampak kikuh dan malu. Gadis cantik itu sesekali menundukan kepala berharap bisa mengusir kecangungan saat beberapa pasang mata dari tamu undangan terus menatap ke arahnya.
"Kak, aku malu," ucap Isabel setengah berbisik pada Erich.
Erich spontan tergelak lirih. Dibuat gemas dengan tingkah sang kekasih.
"Kenapa harus malu, bukankah ini hari bahagia kita?"
"Nah, maka dari itu tegakkan kepalamu lalu tersenyumlah. Kau sangat sangat cantik Isabel dan aku menyukaimu," goda Erich seraya mengedipkan satu matanya, genit.
Isabel tersipu malu. Pipinya bahkan merona merah seperti tomat masak.
Seorang pembaca acara memecahkan situasi canggung yang sempat mendera antara Erich dan Isabel. Keduanya begitu khidmat mengikuti proses acara yang ada, hingga sepasang cincin bertahtakan berlian melingkar di jari manis mereka.
Tepuk tangan bergemuruh, mengiring kedua sejoli yang kini terikat dalam sebuah ikatan yang lebih kokoh dari sebelumnya.
Praja yang duduk di atas kursi roda, tak bisa menghentikan derasnya bulir bening yang mengalir dari kedua sudut matanya. Praja terharu sekaligus senang. Andai Laura masih hidup, pastinya kebahagiaan yang tercipta kian terasa sempurna.
Berbahagialah, putriku. Kau pantas mendapatkannya.
__ADS_1
Acara ditutup dengan sajian makan malam yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh para koki ternama yang sudah dipersiapkan khusus demi kelancaran acara.
Berbagai menu lokal dan western tersedia memenuhi meja prasmanan yang terasa mengiurkan meski hanya dengan menghirup aromanya saja. Erich benar-benar mempersiapkan semua secara sempurna. Meski dengan waktu teramat singkat namun bisa menghipnotis setiap tamu yang datang bahkan Isabel sendiri dibuat terpukau.
Suasana terasa hangat. Para tamu undangan tampak menikmati kudapan seraya saling berbincang.
Pasangan Erich dan Isabel juga merasakan indahnya penyatuan cinta. Erich yang sengaja mengambil sepiring makanan untuk berdua, kini tampak menyuapi Isabel dengan wajah berbinar. Sementara Isabel nyaris membenturkan kepalanya di sandaran kursi sebab tak tahan menahan malu saat para tamu masih terus menatapnya. Suapan demi suapan itu masih berlanjut. Isabel yang teramat malu dibuat keheranan saat Erich tampak cuek dan tak perduli pada sekitar tentang perlakuan manisnya.
"Kak, sudah," lirih Isabel yang lebih terdengar seperti memohon.
"Kenapa? Kau sudah kenyang? Makanannya bahkan masih banyak." Erich menatap ke arah piring dan sang kekasih secara bergantian.
Haduh, bagaimana mengatakannya. Aku sangat malu sebenarnya.
Erich yang tak faham situasi justru terus menyuapi Isabel, hingga gadis itu tak kuasa untuk menolaknya.
Aku mohon hentikan kak! Aku malu, tapi aku juga mau hiks...
Ditengah kebahagiaan yang tercipta, benda pipih yang tersimpan di saku jas Ernest bergetar. Ernest pun merogoh benda tersebut lantas memeriksanya.
Sandara?
Kontak bertuliskan 'Love' tertera di layar. Sandara menghubunginya. Pria itu mengusap kasar wajahnya sebelum memilih untuk mematikan panggilan.
Senyap. Benda pipih itu berhenti bergetar. Ernest menghela nafas. Pada acara istimewa seperti ini ia bahkan tak membawa serta Sandara untuk ikut bersamanya. Kerikil kecil yang menyandung hubungan keduanya membuat Ernest memutuskan untuk break sejenak dari hubungan yang ada.
Satu hari sebelum keberangkatannya ke kota Xx, sepasang kekasih itu sempat berdebat. Ernest yang mungkin mulai jengah, memberi keputusan yang sepertinya tak bisa diterima Sandara dengan mudah.
Ponsel dalam sakunya kembali bergetar. Pria tampan itu kembali menghela nafas dalam. Lagi, kontak bertuliskan 'love' terpampang di layar.
Apa yang kau inginkan sebenarnya, San?
__ADS_1
Klik. Ponsel dengan sengaja justru dinonaktifkan. Ia simpan kembali benda pipih tersebut kembali ke dalam saku dan berjalan menghampiri keluarganya untuk kembali menikmati pesta.
Tbc.