CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Toko Bunga


__ADS_3

Hembusan angin mengirim rasa sejuk di tengah teriknya sang mentari saat Emely menurun kaki jenjangnya dari kendaraan pribadinya di area parkir toko bunga. Sejenak gadis itu berdiri diam di depan badan mobil seraya menatap pada bangunan berlantai dua yang di bagian dalam dan juga luarnya dipenuhi banyak bunga.


Gadis itu masih terpaku di tempat. Seperti kebingungan. Menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tak gatal seraya memandangi ke arah kiri dan kanan.


Ck, aku bahkan datang seorang diri. Lantas aku mau membeli bunga yang seperti apa?


Meski ragu Emely melanjutkan langkah. Lebih mendekat ke toko bunga sementara seorang karyawan perempuan berseragam merah muda mendekat kemudian menyapanya ramah.


"Selamat siang, Nona."


"Siang," jawab Emely pelan.


"Ada yang bisa kami bantu?" Perempuan berkulit putih tersenyum dengan menatap pada Emely, memunggu jawaban dari pembeli yang justru menampilkan wajah kikuk.


"Em, aku ingin mencari bunga." Huh, yang benar saja. Lagian mana mungkin aku mencari cilok di toko bunga seperti ini.


Emely bahkan sampai menepuk dahi. Menyadari keanehannya sendiri.


"Ya, Nona ingin bunga yang seperti apa?" Perempuan itu menyebut beberapa nama bunga dan memperlihatkan pada Emely. Bukan hanya di luar toko, tapi karyawan tersebut juga mengiring langkah si gadis untuk masuk. Menunjukan macam-macam bunga dan contoh beberapa buket yang lebih lengkap.


Emely terkagum. Bibirnya terbuka, seolah terhipnotis pada objek di depan mata. Emely tak begitu menyukai bunga, ia pun juga tak pernah datang ke toko bunga dan begitu dihadapkan pada pemandangan semacam ini maka tak ayal jiwanya sebagai seorang wanita meronta-ronta.


"Kami selalu menjamin dari kualitas dan kesegaran dalam setiap tangkai bunga yang kami jual. Sebab bagi kami, kepuasan konsumen adalah kebahagiaan bagi kami."


Emely mengangguk. Memang benar penuturan sang karyawan. Semua bunga yang berada di dalam ruangan tersebut masih terlihat segar dengan menguarkan aroma bunga yang begitu memanjakan indra penciuman.


"Jadi Nona menginginkan bunga yang seperti apa?"


Ucapan sang karyawan, menyentak Emely. Gadis itu kebingungan lantas mencari-cari ponsel di dalam tas.


"Tunggu sebentar, aku akan lebih dulu menghubungi seseorang."


"Silakan."


Emely menepi, mencari tempat aman untuk menjauh dari beberapa pengunjung juga karyawan toko.


Bibir gadis itu mengerucut dan sesekali menggeram saat menghubungi nomor ponsel Erich namun tak ada jawaban.


Emely meremat gemas udara. Berkali nomor Erich dihubungi namun lagi-lagi tetap tak mendapat jawaban. Emely merasa dipermainkan. Bagaimana tidak, sebelum berangkat Erich bahkan tak mengatakan jika menginginkan bunga yang seperti apa untuk diberikan pada Isabel.


Emely putus asa. Hendak menghubungi nomor Isabel, tapi bagaimana jika bunga itu untuk dijadikan kejutan?.


"Baiklah, karna aku yang membeli maka aku sendirilah yang bebas menentukan pilihan."

__ADS_1


Benarkah demikian Emely? Tapi kalau salah?.


"Terserah. Yang penting aku sudah berusaha keras untuk bisa mendapatkannya." Emely kembali menemui karyawan toko. Meski ia sempat ragu, namun begitu mendengar penjelasan dari perempuan itu membuat Emely menetapkan pilihan pada satu bunga sebagai lambang kesetiaan.


"Saya rasa ini cocok," tunjuk Emely pada bunga mawar berwarna merah terang.


"Selain mawar, beberapa bunga lain juga memiliki lambang kesetiaan seperti bunga daisy dan juga melati."


"Em, aku ingin yang ini saja." Emely tetap memilih mawar merah. Selain warna yang terlihat begitu cantik, wanginya pun begitu memikat.


"Baik." Sigap perempuan itu pun mulai mengambil beberapa tangkai mawar dan memindahkannya ke atas meja. Emely tak memutuskan tangan dari tangan perempuan di hadapan yang begitu cekatan menyusun tumpukan mawar yang lebih dulu di alasi kertas berwarna keemasan, kemudian menjadikannya sebuah buket mawar merah nan indah.


Emely bertepuk tangan riang. Mungkun pilihan yang semula asal-asalan ini akan membuat kakak iparnya senang.


Lagian kalau tidak suka, buket ini biar untukku saja.


Emely menyerahkan beberapa lembar uang kepada kasir selepas sebuket bunga itu berindah ke tangannya.


"Terimakasih."


Penjaga kasir menganguk dengan menangkupkan tangan di dada.


"Ah, senangnya." Emely masih menatap kagum pada buket bunga dalam dekapan. Tersenyum senang dengan harapan Isabel akan menyukainya. Kaki gadis itu terus melangkah, menuju pintu keluar toko tetapi pandangannya masih tertuju pada sebuket bunga yang mampu mengalihkan dunianya.


"Aw.."


Emely terjatuh. Ia seperti menubruk sesuatu.


Ah, jangan-jangan aku menabrak pintu.


"Nak, maaf. Apa kau terluka?"


Hah?.


Pandangan Emely mengadah. Ia menghela nafas lega saat buket itu masih tetap didekap, namun bola matanya membulat seketika saat seorang perempuan tengah membungkuk di hadapan dengan mengulurkan tangan padanya.


"Maaf, sakit ya? Ayo, Bibi bantu berdiri." Emely terkesiap. Ia tak merespon dan justru terpaku pada sesosok perempuan cantik yang menatap iba padanya.


"Nak, ayo Bibi bantu."


"I-iya." Emely pun menerima uluran tangan perempuan tersebut untuk bangkit. Beberapa pengunjung dan karyawan yang melihat kejadian, ikut berkerumun dan membantu Emely untuk duduk di kursi tunggu. Gadis itu meringis, menyentuh bagian bawah pinggang bagian belakangnya yang tetasa nyeri.


"Aduh, maaf. Bagian mana yang sakit, Nak. Biar Bibi bantu obati." Perempuan itu menitahkan pada satu karyawan untuk mengambil kotak obat.

__ADS_1


"Tidak, tidak Bi. Aku tidak terluka. Ini hanya terasa sedikit nyeri saja." Emely tidak nyaman. Padahal ia hanya terjatuh karna kecerobohan dirinya saja. Melangkah tanpa memperhatikan jalan. Sementara perempuan itu sibuk memeriksa bagian tubuh Emely apakah ada yang terluka atau tidak.


"Bibi, benar. Aku tidak apa-apa. Semua juga karna kesalahanku." Emely serba salah saat melihat wajah perempuan cantik itu yang begitu mengkhawatirkannya.


"Nyonya," panggil salah seorang karyawan seraya menyerahkan kotak obat.


"Terimakasih." Perempuan yang terlihat anggun dengan mengenakan dres berwarna salem sebawah lutut itu menerima, kemudian mendaratkan kotak obat itu dipangkuan.


"Jadi kau benar-benar tidak terluka?"


Emely menggeleng samar.


"Hanya sedikit nyeri di bagian pinggang saja." Emely kembali meringis seraya menyetuh area pinggang.


"Coba Bibi lihat."


Meski sempat terkejut namun Emely membiarkan perempuan yang mungkin saja adalam pemilik toko bungga tempatnya dirinya duduk saat ini untuk menyikap sedikit pakaiannya dan memerika area pinggang bagian belakangnya.


Rasa dingin tiba-tiba menjalar seiring usapan lembut dari tangan yang menyentuh pinggang Emely.


"Bibi, tidak perlu repot-repot seperti ini, aku bisa melakukannya sendiri." Canggung, itulah yang dirasakan Emely kini.


"Tidak masalah, dengan salep dingin ini semoga bisa mengurangi rasa nyeri di pinggangmu."


Kedua perempuan itu masih duduk di kursi tunggu. Salep yang dioleskan pemilik toko rupanya mulai bereaksi. Rasa nyerinya pun mulai berkurang. Sementara para karyawan dan pengunjung yang sempat berkerumun mulai membubarkan diri.


"Bibi, terimakasih banyak atas semuanya. Em, aku pamit. Sekali lagi, terimakasih, Bibi." Emely bangkit, bersiap untuk pamit.


"Sama-sama, em bungamu bagaimana? Jika rusak biar para karyawan yang menggantinya."


"Ah, tidak Bibi. Bunga ini baik-baik saja, tetap utuh seperti sedia kala." Emely hendak beranjak ia meraih tangan perempuan itu untuk dijabat.


"Gadis manis, siapa namamu?"


"Emely, namaku Emely, Bibi." Tangan kedua perempuan itu saling berjabat. "Lalu, nama Bibi siapa?".


"Aku Anastasya, pagil aku Bibi Anastasya."


Emely mengganggukan kepala. Ia pun beranjak dan melambaikan tangan ketika Anastasya mengantarnya sampai ke pintu keluar toko bunga.


"Emely, terimakasih sudah berbelanja di toko kami."


"Sama-sama, Bibi Anastasya." Emely menjawa setengah berteriak ketika sudah mendekati mobil. Ia pun lekas memasuki kendaraan berwarna merah itu, mengemudikannya untuk cepat sampai ke rumah dengan waktu cepat.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2