
Rasa canggung tiba-tiba melingkupi sepasang insan yang kini duduk berdua namun tanpa bicara. Seperti ucapan Erich yang ingin membicarakan hal cukup penting padanya, maka Isabel membawa pria itu menjauh dari keramaian cafe. Dan di sinilah mereka kini, duduk di tamanan buatan yang terletak di belakang bangunan kafe, dengan saling berhadapan.
Isabel menunduk. Sesekali sepasang tangannya tampak memainkan ujung pakaiannya, guna membuang rasa canggung yang tiba-tiba menyergap. Namun itu semua tak luput dari pandangan Erich, yang mana membuat pria itu tersenyum tipis.
"Ehem."
Isabel terlonjak. Sungguh ia terkejut. Akan tetapi ia pun tersenyum kikuk, saat mendapati jika Erich tengah memperhatikan gerak geriknya.
"Mengapa sebelum pergi kau tak lebih dulu pamit padaku?"
"Hah?" Gadis itu menatap sang lawan bicara tetapi tak tau akan maksud ucapan dari mantan bos-nya itu.
"Maksudku, sebelum kau berhenti bekerja saat itu, kenapa tidak lebih dulu berpamian padaku."
Isabel kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Memang saat itu Retno mengabarkan jika akan kembali pun cukup mendadak, tetapi Isabel masih ingat jika saat itu bukan dirinya lah yang tak ingin pamit, melainkan Erich lah yang sedang tak ada di tempat.
"Maaf tuan. Bukan saya yang tidak ingin berpamitan, hanya saja saat itu bertepatan dengan tuan yang sedang tidak ada di tempat."
Oh, benarkah.
"Benarkah?"
Isabel menganggukan kepala.
Erich coba mengingat-ingat. Menyibak memori beberapa bulan yang lalu. Ah benar saja. Beberapa bulan lalu ia sempat pulang dan kembali tapi tidak menemukan Isabel lagi, tetapi sudah digantikan lagi oleh Retno yang memang pegawainya saat itu.
"Ah, ya benar juga. Aku bahkan melupakannya." Pria itu tergelak lirih. Dari tempat duduknya kini Isabel bisa melihat wajah tampan Erich yang jarang sekali tertawa di hadapan orang lain, termasuk dirinya.
Isabel akui jika sebenarnya Erich itu pria yang supel, hanya saja ia terlihat membatasi diri dan lebih sering diam dan menyendiri.
__ADS_1
Suasa terasa santai, seiring obrolan keduanya yang sebenarnya hanya pengusir kecanggungan semata.
"Seperti ucapanku tadi, ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu. Dari itu aku memintamu untuk mencari tempat, yang sekiranya tak ada orang lain yang bisa mendengar pembicaraan kita." Ucapan Erich terdengar tegas. Tak lagi santai seperti beberapa saat lalu.
Isabel sendiri dibuat bertanya-tanya. Kiranya hal apa yang akan Erich sampaikan padanya. Apa mungkin pria didepannya ini akan membahas tentang pekerjaan? Tetapi bukankah saat ini Isabel bukan lagi karyawannya.
"Maaf, tuan ki--"
"Berhenti memanggilku tuan. Kau bukan lagi pekerjaku. Lagi pula kau sudah memiliki kafe sekeren ini, jadi terdengar tidak pantas jika memanggilku dengan embel-embel 'Tuan' lagi. Cukup panggil aku Erich saja."
Isabel menundukkan kepala. Entah perasaan apa yang sedang menjalar keseluruh tubuhnya . Seperti ada desiran aneh dalam aliran darah yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Beberapa bulan ini bu Retno mencari informasi tentang keberadaan saudaranya, bu Ratih. Dan menurut Bu Retno, bu Ratih sendiri bekerja pada keluargamu sebelum menghilang dan tak bisa dihubungi. Jadi, aku berinisitafi membantu Bu Retno untuk menanyakan keberadaan saudaranya kini padamu."
Isabel terhenyak. Benar saja. Demi terhindar dan tak terlacak oleh Ibu tirinya, Ratih dan Isabel membuang semua benda atau pun alat telekomunikasi mereka yang ada sangkut pautnya dengan Istri kedua Ayahnya itu.
"Bibi Ratih, kini masih tetap bekerja pada keluargaku. Maaf, karna ada sesuatu hal maka ponsel milik bi Ratih harus dibuang dan kami belum sempat menyalin kontak-kontak penting yang tersimpan di dalamnya," sesal Isabel.
"Hem, tentang apa. Apa semua ada sangkut pautnya denganku?"
Erich menghela nafas. Ia tak langsung menjawab, justru ia meraih cangkir kopi miliknya yang berada di atas meja, lantas menyesap cairan hitam itu perlahan.
"Nyawa Bu Retno dan putrinya terancam. Mereka kini tinggal bersamaku, demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan andai tetap bertahan di rumahnya."
Spontan Isabel terkejut luar biasa. Apa mungkin jika Bu Retno pun ikut terkena imbas atas masalah pelik yang dialami keluarganya.
"Maaf, bukan maksudku untuk ikut campur dalam masalah pribadimu, hanya saja aku tidak tega jika melihat Bu Retno selalu ketakutan dan was-was dalam menjalani hari-harinya."
Erich menceritakan semua kejadian beberapa bulan lalu disaat Retno hampir dibawa paksa oleh anak buah Arum.
__ADS_1
Isabel pun tak kuasa menahan tagis. Sekejam itukah peragai sang ibu tiri hingga orang lain yang sejatinya tak tau duduk permasalahan harus disangkut pautkan. Terlebih ia selalu menggunakan cara kekerasan untuk semua masalah pribadinya.
Mendapati gadis di hadapannya itu terisak dengan kedua bahu bergetar, Erich kebingungan. Ia coba menenangkan dengan mengusap pelan bahu gadis itu. Meski sejujurnya tak nyaman dan takut jika gadis itu marah akan sentuhannya. Tetapi tak ada cara lain, Isabel benar-benar bersedih saat ini.
"Aku tidak menyangka jika terlalu banyak orang yang harus terseret dalam masalah keluargaku. Jujur, kami pindah ke kota ini pun sebab tak tahan dengan sikap Ibu dan saudara tiriku yang memperlakukan kami sangat tidak manusiawi." Wajah Isabel sudah basah oleh Air mata. Entah karna spontanitas ataukah perasaan iba, Erich menarik beberapa lembar tisu dan mengusap wajah basah Isabel dengan tangannya.
Isabel jelas terkejut, namun rasa sedih yang dialaminya membuat gadis itu tak begitu memperdulikannya. Ia lelah, butuh tempat bersandar juga berkeluhkesah. Hidupnya terlampau berat untuk bisa ia jalani sendiri. Maka saat Erich sedikit memberinya perhatian, membuat jiwa jiwa gadis itu menghangat.
"Aku tak tau tentang apa yang sudah terjadi pada keluargamu, tetapi jika kau ingin, aku bisa membantu jika memang kau menginginkannya," tawar Erich meski pria itu sendiri tak tau pasti akan masalah apa yang dihadapi Isabel saat ini.
Isabel spontan menggeleng. Tidak, sudah banyak orang luar yang terseret dalam masalah keluarganya. Dan sekarang Erich justru menawarkan diri. Tidak, sudah cukup ia menyusahkan orang lain untuk masalah pribadi keluarganya.
"Tidak, terimakasih tuan. Biarkan kami yang akan menyelesaikan sendiri."
Erich pun menghela nafas.
"O, baiklah jika itu keputusanmu. Tadinya aku menawarkan bantuan sebagai bentuk solidaritas, bagaimana pun kau pernah bekerja padaku, ya walaupun beberapa minggu saja." Mungkin Erich kecewa. "Tetapi aku berharap jika masalah keluargamu cepat selesai, dan tak akan membawa-bawa Bu Retno dan putrinya lagi. Biarkan mereka hidup tenang menjalani hari-harinya."
"Baik." Isabel mengigit bibir bawahnya menahan kelu. Ucapan Erich seakan bogem mentah yang menghunjam dada. Begitu sakit dan terasa sesak. Sudut mata gadis itu bahkan mulai memanas, seakan tak mampu menahan laju air mata yang bisa meluah kapan saja.
"Baiklah, aku pamit." Erich bangkit dari tempat duduknya. Ia merogoh kantung jas dan menarik beberapa lembar rupiah untuk diberikannya pada Isabel.
"Tidak Erich. Anggap saja sebagai perayaan atas pertemuan kita. Anda tidak perlu membayarnya," tolak Isabel masih dengan menundukan kepala. Gadis itu coba menutupi mata merahnya.
"Terimakasih." Erich meninggalkan Isabel, dan tak lagi membalikkan badan. Isabel hanya bisa menatap nanar pungguh lebar sang pria yang kian jauh meninggalkannya. Tangis Isabel benar-benar pecah kini. Kedua telapak tanggannya menutup tubuh, seolah ingin menyimpan tangisnya untuk dirinya sendiri.
Sementara itu, Erich pun juga merasakan hal yang sama. Sesak. Ia memilih cepat pergi sebab tak ingin melihat gadis itu menangis.
Bodoh. Pria itu terus merutuki diri. Bisa-bisanya ia berbicara sekasar itu pada seorang gadis yang tengah terpuruk oleh keadaan.
__ADS_1
Mungkinkah karna Isabel menolak bantuan darinya, maka ia berbuat demikian? Ah entahlah. Namun satu hal yang pasti, Erich menyesal saat ini.
Tbc.