
Begitulah kiranya jatuh cinta. Erich bahkan tak karuan rasa dibuatnya. Bibirnya terus menyungingkan senyum bahkan saat dirinya sudah terlelap. Erich kasmaran. Dia seperti bocah remaja yang baru saja mengenal cinta. Wajah Isabel seakan bergentayangan di mana-mana. Mengikutinya kemana pun berada, membuat sang pria tak hentinya tersenyum bahkan tertawa seperti orang gila.
Rupanya bukan hanya Erich yang merasakan sebegitu indahnya cinta, namun Isabel pun juga merasakan hal yang sama. Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, jika Tuhan berkehandak maka esok hari akan menjadi hari sakral mengukuhan sepasang insan tersebut dalam janji suci pernikahan.
Malam ini Isabel tertidur seraya mendekap figura foto sang ibu, Laura. Mengirim doa serta meminta restu pun tak luput diucap gadis cantik tersebut demi kelancaran acara sakralnya esok hari. Meskipun mendiang Laura tak lagi bersamanya namun gadis itu meyakini jika Ibunya pun juga akan ikut menyaksikan pernikahannya nanti.
Sementara itu di antara lelapnya para penghuni kediaman megah Erich, seorang gadis tampak mengendap-endap memasuki sebuah ruangan yang keseluruhan isinya merupakan barang-barang berharga sang pemilik rumah.
Sandara, entah rencana apa yang dimiliki sang gadis hingga rela mengelabuhi seluruh penghuni rumah agar bisa memasuki ruangan yang sayangnya tak terkunci tersebut. Malam kian merangkak naik dan pemilik rumah sudah tertidur lelap termasuk para pelayan. Hal tersebutlah yang mendorong Sandara untuk lekas menjalankan aksi. Gadis itu tersenyum miring begitu mendapati pintu tak terkunci.
"Bodoh," gumam Sandara, mengutuk kelalaian para pelayan yang tak lebih dulu memastikan pintu terkunci sebelum ditinggalkan.
Sandara masuk perlahan, membuka pintu lantas menutupnya lagi dengan sangat pelan. Sengaja ia tak memakai alas kaki agar tak
menimbulkan suara.
Begitu meneliti seluruh ruangan. Gadis itu terperangah. Sesuai dugaan. Ruangan ini adalah tempat yang ia cari. Siang tadi ia ditemani oleh Ernest sempat berkeliling. Ernest sendiri tanpa ragu menunjukan ruangan-ruangan di rumah saudara kembarnya kepada Sandara. Dari sekian banyak ruangan, entah mengapa Ernest tak menunjukan ruangan ini padanya hingga menimbulkan rasa penasaran Sandara jika sesuatu yang ia cari juga ikut tersimpan di ruangan ini.
Ruangan berukuran luas yang Sandara masuki rupanya sebuah ruangan yang khusus menyimpan barang-barang pribadi milik Erich. Bukan hanya pakaian, berbagai senjata tajam termasuk pistol dan samurai tersimpan rapi dalam ruangan khusus berdiding kaca. Bermacam piagam penghargaan pun tak luput dari penglihatan Sandara. Gadis itu kian terkesima, rupanya dengan melebarkan sayap sendiri, Erich mampu bersinar dan terbang lebih tinggi dari kekasihnya yang masih bersandar pada tubuh Ayahnya.
Sandara menelan ludah. Rencananya cukup berbaya. Dalam ruangan bisa saja terpasang sensor atau pun CCTV yang bisa mendeteksi keberadaannya.
"Ah, aku tak perduli. Aku hanya ingin pernikahan antara Erich dan gadis itu tak pernah ada." Mungkin Sandara hanya bermodal nekat. Ia tak menggunakan topeng atau penutup tubuh saat menjalankan aksi. Gadis itu hanya ingin masuk, mencari barang yang diincar, lalu pergi. Tapi benarkah jika langkah yang kau ambil sudah pasti melindungi dirimu sendiri, Sandara?.
__ADS_1
Sepasang mata itu berkeliaran. Mencari-cari sesuatu yang sekiranya memiliki peranan penting dalam acara pernikahan esok pagi.
"Apa ya?" Sandara mengamati sekeliling seraya terus berfikir. Di sisi kanan sudut ruangan pakaian yang mungkin akan dikenakan Erich pada prosesi akad juga terpajang di sana. Gadis itu kian nyeri walau hanya menatapnya saja.
"Sial, seharusnya Erich menikah denganku dan bukan dengan gadis kampungan itu." Sandara memalingkan muka. Berjalan ke arah lain yang tidak menyebabkan luka.
Sungguh suatu kebetulan yang mungkin tak pernah dibayangkan Sandara. Semua kunci tempat penyimpanan bahkan tertancap begitu saja di tempatnya.
"Waw, dunia seolah-olah merestui rencanaku untuk bisa menggagalkan pernikahanmu." Sandara tersenyum miring. Ia mulai membuka tempat penyimpanan itu satu persatu.
"Waw, jam tangan." Gadis itu berada di tempat penyimpanan jam tangan. Kedua bola matanya berbinar, membayangkan berapa banyak rupiah yang Erich keluarkan untuk mengoleksi benda mahal seperti ini.
Sandara hendak menyentuh satu jam tangan yang terlihat mencolok dari lainnya, namun gadis itu menguringkan niat sebab benda tersebut sepertinya tak terlalu berpengaruh jika tak digunakan saat pernikahan nanti.
"Nah, cincin. Iya, itu dia. Cincin. Aku harus bisa menemukannya dengan segara. Mengambil lantas membuangnya jauh-jauh agar acara sakral yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa ini, batal." Sandara tergelak dalam hati. Bisikan iblis rupanya menutupi mata hati. Ia tak perduli. Baginya kegagalan pernikahan Erich adalah kebahagiaan tersendiri untuknya.
Tak ingin membuang banyak waktu, gadis berpiyama motif bunga tulip itu lekas mencari benda yang menjadi incaran. Otak dan pandangannya bekerja. Berkejaran dengan waktu mengingat ia berada dalam ruangan tersebut sudah cukup lama. Ia tak ingin ketahuan dan berakhir dalam kesengsaraan.
"Sial, kenapa benda itu sulit ditemukan." Sandara mulai geram. Ia sudah memeriksa seluruh tempat penyimpanan dan juga laci di seluruh ruangan, namun cincin itu belum juga ditemukan.
"Aku harus mencarinya di mana lagi? Em, apa mungkin Erich menyimpannya di kamar?" Sandara menghela nafas kasar. Mungkin benda itu memang sengaja disimpan Erich di dalam kamar supaya aman. Jika itu benar, maka semakin tipis harapannya untuk bisa menggagalkah pernikahan saudara kekasihnya itu.
"Bedebah sialan. Rupanya dia lebih pintar dari pada aku. Aku ti... Waw, itu dia." Belum selesai memaki, sepasang matanya justru menatap objek yang membuat bibirnya bersorak kegirangan. Sepasang cincin berkilauan dengan bertahtakan berlian tersimpan di dalam kotak yang dibiarkan terbuka. Benda itu rupanya disimpan oleh Erich disudut ruangan dengan dilapisi kaca transparan.
__ADS_1
Sandara mendekat. Sepasang matanya berbinar, kagum pada sepasang benda yang begitu menyilaukan mata.
"Waw." Sandara seakan terhipnotis. Sifat irinya muncul dan membara seketika.
Bukan Isabel, tapi akulah yang lebih pantas memakai cincin seindah ini.
Kedua tangan sang gadis tiba-tiba bergerak. Mengangkat pelindung kaca hingga sepasang cincin itu tak lagi terlindungi.
"Yes, aku dapat," pekik Sandara senang begitu kotak cincin itu sampai ke tangannya.
"Aku akan membawamu kemudian membuangmu jauh-jauh. Erich bisa saja mencari ganti dengan cincin yang baru begitu mengetahui cincin pernikahan yang sudah dipersiapkan hilang. Akan tetapi bukankah semua itu membutuhkan waktu lumayan lama? Acara pernikahan pasti akan terundur atau bahkan bisa saja tidak terjadi." Sandara tergelak. Spontan membekap mulut, takut jika ketahuan.
Kotak pembungkus cincin sengaja Sandara tinggalkan begitupun dengan kaca pelindung yang ia kembalikan ketempatnya semula agar tak menimbulkan kecurigaan.
"Beres."
Sandara tersenyum miring. Misinya sukses besar. Sepasang cincin itu ia gengam. Kemudian berbalik badan, menuju pintu ruangan.
"Haha, segampang ini rupanya, aku kira.." Sandara mendadak terdiam seiring pintu ruangan yang terbuka. Wajahnya pias. Tubuhnya pun gemetar, tak menyangka jika di balik pintu ruangan yang sudah ia buka, berdiri beberapa pria dan wanita yang sama sekali tak ia ingin jumpai keberadaannya saat ini.
Tbc.
Tetap suport tulisan Akak ya gaes. Thanks banget buat yang udah like komen plus kasih hadiah. Aku padamu guys😍😍
__ADS_1