CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Turun Tangan


__ADS_3

"Bodoh." Untuk kesekian kali umpatan itu terlontar dari bibir seorang perempuan sebagai luapan kekesalannya.


Anak buah yang sudah ia percaya dan dibayar mahal justru tertangkap dan parahnya lagi senjata tajam yang sejatinya anak buahnya gunakan untuk mengancam Isabel, justru mencelakai orang lain. Kepala Arum seakan ingin meledak. Terlebih saat anak buahnya memaparkan jati diri pria yang sejatinya menjadi korban sarah sasaran anak buahnya.


"Namanya Erich Surya Atmadja. Pebisnis muda yang cukup diakui keberadaannya di kota, sekaligus putra dari Surya Atmadja seorang pengusaha terkenal dari Ibu kota."


Sepasang alis Arum mengernyit. Kurang faham dengan penjelasan yang diberikan sang anak buah.


"Masih ada tambahan?" Rupanya Arum masih menganggap remeh lawannnya.


"Erich memang terhitung masih menapaki karirnya di kota ini. Akan tetapi aset yang ia miliki di kota ini pun tak main-main. Mempunyai banyak distro yang tersebar di kota, belum lagi dengan usaha kuliner yang baru-baru ini dirintisnya. Begitu pun dengan bisnis keluarga yang ia jalankan. Percayalah nyonya, pria muda itu cukup kaya dan pastinya tidak akan diam saja atas kasus penusukan yang menimpannya. Kita harus waspada, atau ..."


"Diam!! Berhenti menceramahiku atau korobek mulutmu." Arum bangkit dari posisinya, mendekat kearah beberapa pria yang ia tugaskan untuk mengawasi pergerakan Isabel.


Sejatinya ada dua pria yang ia utus untuk mengintai Isabel sewaktu di bandara. Akan tetapi hanya ada satu anak buah yang menjalankan aksinya, yang sayangnya justru kini tertangkap.


"Dan kau," tunjuk Arum pada seorang pria yang lolos dari kejaran polisi. "Bukankah aku hanya memerintahkan untuk bermain-main dengan nyawa Isabel, tetapi kenapa teman sialanmu itu justru berinisiatif untuk menghabisinya. Kau fikir semua akan beres jika gadis itu mati? Tentu tidak bodoh. Kalian justru membuatnya semakin rumit." Ingin Rasanya Arum berteriak ditelinga sang anak buah yang menurutnya tak becus bekerja.


"Maaf nyonya, kami kira.."


"Kira apa? Apa kau ingin nyawa keluargamu yang menjadi gantinya?"

__ADS_1


"Tidak nyonya! Demi tuhan, jangan lakukan itu. Jangan sakiti keluarga saya, jangan lukai anak dan istri saya, nyonya. Saya mohon." Pria itu bersimpuh di kaki Arum. Meminta belas kasih pada seorang wanita yang selama ini sudah memberinya pekerjaan, meski terkadang menyesatkan.


"Meng-iba pun percuma. Semua tak akan merubah keadaan. Isabel pasti sudah disembunyikan di tempat aman dan sulit dijangkau, dan kau tau apa artinya?"


Pria itu spontan menggeleng.


"Peluang bagiku untuku untuk menguasai harta Praja semakin tipis bahkan hilang Dan itu karna kecerobohan kalian. Dasar orang-orang bodoh! Seharusnya aku tak mempercayakan tugas ini begitu saja pada manusia tolol macam kalian." Arum benar-benar murka. Tak habis fikir dengan tindakan sang anak buah yang menerutnya amat beresiko, sebab bagaimana pun kedua suruhannya nyaris saja membunuh Isabel yang notabene adalah anak tirinya.


Aku memang membenci gadis itu karna parasnya, paras milik Laura yang selalu membuatku iri, hingga berujung sebuah ambisi untuk bisa melenyapkannya.


Arum tak lagi menghancurkan benda-benda saat dirinya tengah tersulut amarah. Sepeninggal Praja dan Isabel, Arum berangsur meninggalkan kebiasaan buruknya dengan melemparkan benda apa saja sebagai luapan kekesalannya. Arum mulai merenung. Ia memang berambisi untuk merebut apa pun yang mendiang Laura miliki, hanya saja kondisinya sudah berbeda saat ini. Laura sudah meninggal, dan Praja pun hanya memiliki dirinya sebagai Istri. Lalu apa masalahnya kini, justru ketamakannya lah yang membuatnya tak pernah puas hingga merencanakan sebuah kecelakaan Praja dan berakhir pada kelumpuhan kedua kaki suaminya itu. Memang tak permanen, hanya saja penyakit storke yang juga pria itu derita, semakin memperburuk kondisi tubuhnya. Belum lagi perbuatan serongnya dengan ayah Steven yang menjadi orang terdekat Praja kala itu. Arum menjerat pria beristri itu untuk berkhianat, saat Praja tak lagi mampu memberikannya nafkah batin. Katakanlah Arum Istri yang tak tau diuntung dan Arum sadar akan hal itu.


Perempuan yang mengenakan dres hitam selutut itu menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi ruang kerja. Otaknya benar-benar buntu saat ini. Tak bisa digunakan untuk berfikir jernih, walau untuk sekedar memikirkan masa depan hidupnya pasca trageni ini.


Kabar penusukan Erich telah sampai ditelinga keluarga besar Surya Atmadja dan tentunya membuat gempar di kediaman orang tuanya, Arka dan Zara. Zara bahkan menangis histeris begitu mendengarnya, namun selepas orang kepercayaan Erich menjelaskan jika hanya lengan putranyalah yang terluka dan langsung mendapatkan penanganan, Zara bisa bernafas lega. Setidaknya sang putra dalam keadaan baik-baik saja.


Akan tetapi berbeda halnya dengan Arka. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan awet muda itu tak terima jika sang putra diperlakukan demikian. Apakah putranya selama ini memiliki musuh? Hingga mendapatkan serangan tanpa diduga dari seorang pria asing di sekitarnya. Arka hanya bisa menduga-duga. Hingga seorang utusan dari Erich menjelaskan kronologi kejadian.


"Apa diam-diam putraku menyimpan seorang gadis di rumahnya?" Arka cukup terkejut, begitu mendengar jika sang putra coba melindungi seorang gadis yang baru saja bermalam di rumahnya.


"Em, lebih tepatnya bukan menyimpan tuan. Nona Isabel bermalam di kediaman tuan muda, tentunya atas keinginan tuan muda sendiri sebab sesuatu hal dan di sana pun bukan hanya ada nona Isabel tetapi juga Perempuan paruh baya dan putrinya yang selama ini tinggal di sana."

__ADS_1


Arka lagi-lagi tercengang. Penjelasan macam apa lagi ini. Bukan hanya seorang gadis, tetapi putranya menyimpan dua perempuan asing lagi di rumahnya tanpa sepengetahuannya.


"Kenapa Erich tidak pernah mengatakan ini pada kami. Dia tinggal bersama beberapa wanita di rumahnya, tentu itu bukanlah hal yang lumrah." Arka cukup tau kepribadian sang putra yang pendiam dan tak banyak tingkah. Hampir sebagian besar waktu sang putra dihabiskan untuk bekerja. Namun kenyataan yang ia dapat seakan menampar kesadarannya.


"Maaf sekali lagi tuan. Mungkin tuan salah faham, ini tidak seburuk yang anda kira." Kemudian mengalirlah sebuah cerita dari sang orang kepercayaan akan apa yang terjadi pada Erich selama beberapa bulan ini, mulai dari menolong Retno dan memboyongnya kerumah hingga bertemu dengan Isabel dan berujung pada tragedi penusukan beberapa jam lalu.


Arka dan Zara tertegun. Sejenak sepasang suami istri itu saling pandang. Putranya berniat menolong seseorang hingga mengorbankan dirinya. Terlebih yang sang putra lindungi adalah seorang gadis. Benarkah putranya sampai rela tertusuk demi melindungi seorang gadis? Lalu siapa gadis tersebut?


Baik Arka juga Zara dibuat penasaran akan sosok gadis yang diam-diam sudah bermalam di kediaman sang putra, sekaligus dilindungi nyawanya pula.


"Kita harus ke sana sekarang." Arka bangkit dan tak lupa menarik lembut tangan sang istri.


"Sam," panggil Arka pada Sam yang sedari tadi pun berdiri di sudut ruangan sembari mendengar penuturan orang kepercayaan Erich.


"Baik tuan."


"Perintahkan para pengawal terbaik untuk ikut bersamaku ke kota xx. Bawa juga putramu, Langit dan Ernest untuk berjaga-jaga."


"Baik tuan." Sam lekas menundukan kepala, memutar tumit lantas berlalu pergi.


Arka akan menjamin keselamatan sang putra. Jika Erich tak mampu menyelesaikan masalah yang terjadi, maka Arka pun harus turun tangan.

__ADS_1


Tbc.


Maaf lambat up😘


__ADS_2