CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Meminta Pertimbangan Pada Langit


__ADS_3

Dua kata yang patut Ernest sematkan pada seorang gadis yang kini sudah resmi menjadi sekretaris pribadinya. Cerdas dan menarik. Natasya Shaylendra, Ernest terlihat menarik sudut bibir saat pertemuannya demgan sang gadis beberawa waktu lalu kembali terbayang dalam ingatan.


Natasya datang memenuhi panggilannya untuk membahas kontrak kerja. Di ruangan Ernest tak sendiri, dirinya ditemani oleh Sam yang juga membantunya dan menjelaskan poin poin penting dalam kontrak kerja yang harus disepakati oleh kedua belah pihak. Ernest sebagai atasan dan juga Natasya yang kini bersatatus sebagai pekerja dalam perusahaan yang dinaunginya.


Natasya begitu tenang dan Elegan dalam bersikap. Penampilannya yang tak berlebihan dan justru terbilang sederhana, nyatanya semakin menambah nilai plus dalam penilaian Ernest terhadap Natasya.


Tak dapat dipungkiri jika diam-diam Ernest mulai memperhatikan gadis yang baru beberapa kali ini dilihatnya. Tak ada kesan mendalam, hanya saja sepertinya Natasya bisa menjadi rekan kerja yang baik untuk ke depannya, setara dengan Sekretaris sebelumnya, Sandara.


Natasya mulai resmi bergabung dengan Atmadja group pada esok hari. Cukup lama Ernest berfikir, kemudian pandangannya terjatuh pada meja kerja lain di dalam ruangannya yang merupakan meja kerja bekas Sandara dulu.


"Bagaimana ini, apa mungkin meja kerja kita berada di dalam ruangan yang sama?." Jika dulu meja kerja milik Sandara sengaja ia masukkan ke dalam ruang kerjanya, karna alasan tak ingin berjauhan, lalu bagaimana dengan Natasya?.


"Sepertinya aku harus membahasnya lebih dulu dengan Langit." Ernest lekas melakukan panggilan interkom dengan Langit, meminta Asisten pribadinya itu untuk masuk ke ruang kerjanya.


Tak berapa lama, sosok pria yang ditunggu itu pun menampakkan diri.


"Tuan memanggil saya?." Pria muda dengan stelan jas lengkap berwarna abu itu berucap selepas menghentikan langkah dan berdiri tegak di depan meja kerja sang Tuan.

__ADS_1


"Ya, Langit. Aku memanggilmu, duduklah," titah Ernest kemudian.


"Terimakasih, Tuan."


Ernest mengangguk, kepalanya pun menoleh ke arah meja kerja yang dulunya ditempati Sandara. Ada rasa sakit menyeruak saat kejadian manis semasa mereka bersama, seakan bergentayanyan dalam fikiran.


"Kau lihat meja kerja itu?." Ernest menunjuk meja kerja itu. Langit pun melihat lantas menganggukan kepala.


"Ya, Tuan. Itu meja kerja bekas Nona Sandara."


Langit, putra dari Sam itu terlihat berfikir. Sekretaris Tuannya pastilah orang baru, sedangkan Ernest sendiri sifatnya kini cukup berbeda dengan yang dulu. Tak begitu ramah dan mudah tersulut emosi, dan jika ia disatukan di dalam ruangan yang sama dengan sekretaris barunya, apakah sang tuan akan merasa nyaman dan baik-baik saja? Tentu kondisinya akan berbeda saat Ernest bersama Sandara dulu, mengingat keduanya adalah sepasang kekasih. Lalu bagaimana sekarang? Ah sepertinya akan lebih baik jika mereka dipisahkan saja.


"Maaf, Tuan. Bukankah lebih baik kita pindahkan saja mejanya. Bagaimana jika kita tempatkan di depan, di dekat pintu ruang kerja anda, sepertinya terlihat lebih nyaman."


Benarkah?. Jika dulu dirinyalah yang meminta disatukan sebab tak ingin berjauhan, lalu bagaimana sekarang?. Duh Ernest, sekretaris barumu saja bukan siapa-siapamu. Dia gadis baru yang butuh pekerjaan dan kau yang menggajinya.


Lagi pula berada dengan perempuan asing di dalam ruangan yang sama, cukup membuatnya risih dan tak nyaman.

__ADS_1


"Ya, kau benar. Lebih baik kau pindahkan saja meja itu. Aku sepertinya lebih nyaman sendiri dari pada terganggu dengan keberadaan orang lain di ruanganku."


"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan."


"Hem, terimakasih. Pergilah."


Langit bangkit kemudian menundukan kepala sebelum keluar dari ruangan. Beberapa menit kemudian beberapa pria ikut masuk bersama Langit untuk lekas memindahkan meja kerja bekas Sandara keluar ruangan yang nantinya akan ditempati oleh sekretaris baru Ernest, Natasya.


Ernest memandangi ruang kosong bekas meja kerja Sandara. Ya, mulai detik ini memang seharusnya ia membersihkan semua benda dan ingatannya tentang Sandara atau pun yang ada samgkut pautnya dengan Sandara.


Selamat tinggal, Sandara.


Luka dalam akibat pengkhianatan Sandara, membuat Ernest bertekat untuk pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Meski rasa cinta yang miliki untuk Sandara masih tersisa, namun dusta yang sengaja ditabur sang gadis membuat perasaan cinta itu lenyap dan berganti menjadi benci. Hah, untuk apa ia membenci. Biarlah semua berlalu, tanpa perlu disesali.


Ernest sempat mendapat kabar jika Sandara mengidap leukimia dan sedang melakukan kemo terapy di salah satu rumah sakit. Akan tetapi Pria itu pun tak memberi respon apa pun apalagi menjenguk sang mantan kekasih. Biarlah ia dikata kejam. Namun, satu yang pasti. Ia tak ingin melihat wajah Sandara lagi selepas pertemuan terakhirnya saat itu.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2